“sesaji” – pengantar sebuah kutipan

Posted on November 20, 2008. Filed under: islam indie |

artikel ini sangat menarik – minimal buat saya..

mengingatkan ketika dulu, ayah saya suka ngomel-ngomel pada ibu saya, yang dinilainya ga pake akal sehat tuk membeli banyak sesaji di meja dupa. belum lagi, begitu banyak makanan disajikan tuk mengundang saudara-saudara makan bersama di acara sembahyang abu keluarga itu. atau juga akan ngomel melihat ibu saya yang sangat antusias mengantarkan mertuanya –yang berarti ibunya ayah saya sendiri– ziarah ke gunung Kawi dsbnya.

kata ayah saya, – buat modal dagang aja deh.. lumayan tuh.
hehehe, dasar otak dagang ya? 😉
tapi jawab ibu saya,
– e… ini juga perlu dari sekedar dagang! hidup harus seimbang. berkerja dan berdoa itu berdampingan.

hehehe, kalau inget itu saya suka geli. karena besoknya, setelah acara –yang hanya– sembahyang itu selesai, atau setelah acara ziarah ini itu selesai, ibu dan ayah saya akan kembali bertengkar. kali ini soal biaya hidup yang tetap perlu diputar dan menipis setelah tuk ini itu demi acara sembahyang itu. maka ayah saya akan berkomentar gini..
– agama memang candu! dan perempuan terlalu emosional sama tuhan.
hehehehe… 😛

eeeits, tapi ayah saya itu diam-diam berdoa juga kok. katanya..
– kalau sudah dilayani seperti ini, ya tolong aja dibalas dengan yang lebih baik deh, tuhan.
hehehe… kok gitu doanya? 😀
maka saya kecil pernah bertanya padanya,
– manusia itungan banget ya sama tuhan?
jawabnya,
– ya berhitung itu memang sudah tugas kita sama tuhan, tuk kita bisa lebih dipandang bertuhan… dan maka juga yang kaya raya, banyak dari mereka yang tidak terlalu bertuhan.
hmm, mereka yang bertuhan tanpa candu kali yaa?? 😛
duh, tuhan… polosnya ayah saya atau saya? geli sendiri nih… hehehe 😀

begitulah ketika beragama masih seperti mimpi
bukan nyata bersama membangun di bumi
dan marah dibangunkan dari mimpi indahnya
tak terima mimpi berakhir sia-sia

selamat menikmati
semoga menginspirasi
terutama di tengah krisis yang yang terus mendera negeri ini

***

Demi Haji, Biaya Besar Pun Tak Jadi Soal
http://cetak.kompas.com

Kamis, 20 November 2008 | 03:00 WIB
Oleh Siwi Yunita Cahyaningrum dan Defri Werdiono

Niat mengalahkan segalanya. Demi menunaikan rukun Islam kelima, ibadah haji, banyak orang tak berhitung ongkos lagi. Jika tekad sudah bulat, selebihnya hanya Tuhan Yang Maha Tahu.

Bustoni, anggota jemaah haji asal Serang, Banten, misalnya. Semula ia mengira dana yang disiapkannya dalam tabungan sudah cukup, ternyata belum. ”Ongkos pergi haji (jemaah reguler) ternyata tidak hanya Rp 32 juta, tetapi bisa lebih dari Rp 50 juta per orang. Itu angka minimum,” kata Bustoni.

Bustoni yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang kelontong menghabiskan dana Rp 60 juta untuk berangkat naik haji. Hal itu karena, selain membayar ongkos naik haji sesuai yang ditetapkan pemerintah, biaya lain-lain juga ternyata tak sedikit.

Karena tekad sudah bulat, seekor sapi seharga Rp 5 juta dan sebagian sawahnya terpaksa dilego untuk mencukupi dana tunai yang sudah disiapkan. Ia berharap semua itu juga bisa diperolehnya lagi sepulang berhaji dengan kembali bekerja keras dan menabung. Pengharapan, ekspektasi, itulah yang memotivasi orang bekerja keras.

Syukuran atau sedekahan bagi jemaah di daerah tertentu adalah pos terbesar setelah biaya perjalanan ibadah haji. Jumlahnya sebenarnya bisa diatur, tetapi di kampung, tasyakuran bisa dihadiri 1.000 warga.

”Makan-makan tak hanya sekali, tetapi berkali-kali, mulai siang hari, malam hari saat pengajian, hingga bekal pulang, totalnya bisa Rp 20 juta dan uang itu tidak kembali artinya tanpa sumbangan,” kata Bustoni.

Salah satu anggota jemaah yang mengeluarkan dana cukup besar adalah Maqin (44) asal Rancaekek, Bandung, Jawa Barat. Maqin berangkat bersama istri dan ayah. ”Untuk syukuran paling tidak menghabiskan Rp 10 juta,” ujarnya di terminal haji Bandara Soekarno- Hatta.

Menurut dosen sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung yang tergabung dalam kelompok terbang 26 ini, tasyakuran memiliki arti penting.

Ini juga dirasakan jemaah haji lainnya. Mereka menganggap pada acara ini calon haji dan warga yang diundang bisa saling mendoakan. Yang berangkat berhaji didoakan agar mabrur hajinya dan selamat kembali ke Tanah Air. Sebaliknya, tamu undangan didoakan agar suatu saat bisa menyusul ke Tanah Suci.

Menurut Maqin makanan yang layak bagi tamu undangan perlu dihidangkan dengan harapan kegembiraan yang ia rasakan bisa dinikmati pula kerabat dan tetangganya.

Hal sama juga dilakukan Ahmad Effendi (41). Ahmad yang berprofesi pelaut dan pergi ke Tanah Suci bersama istrinya ini mengundang 300 orang untuk hadir dalam acara yang ia sebut sebagai ”selamatan terakhir” sebelum berangkat berhaji.

Biaya besar, tetapi penting dikeluarkan adalah biaya bimbingan haji. Perlengkapan haji, seperti baju ihram atau kaus kaki, ternyata juga menyita cukup biaya setidaknya butuh minimal tiga set, terutama perempuan.

Tentu saja yang tak boleh ”salah hitung” adalah biaya selama di Tanah Suci. Banyak anggota jemaah yang berupaya membawa uang banyak karena cemas kalau peristiwa terlambatnya katering jemaah terulang seperti sebelumnya. Bawa uang dan bawa makanan cadangan saat wukuf adalah tindakan arif.

Oleh-oleh

Niin Bin Udin, anggota jemaah asal Jakarta Utara, mengakali biaya hidup di Tanah Suci dengan membawa bekal dari rumah. Beras 10 kg dengan lauk ikan asin sudah dipak dalam kopernya. ”Tak bawa minyak goreng tidak masalah. Saya sudah bawa penanak nasi elektrik. Kalau sudah lapar, orang tak peduli bagaimana rasanya,” kata Niim.

Biasanya sepulang haji, ada lagi syukuran kalau kondisi keuangan masih memungkinkan. Tetapi, ada pula jemaah yang hanya membagi oleh-oleh. Oleh- oleh meski bagian yang tidak penting, tetapi tidak lengkap rasanya pulang dari beribadah haji tanpa membawa oleh-oleh, apalagi air zamzam dan kurma yang selalu dinanti keluarga, tetangga, hingga rekan kerja.

Tetapi, Ahmad Effendi, misalnya, dengan alasan ukuran bagasi kecil, menyiasatinya dengan membeli sebagian oleh-oleh di Tanah Air. ”Oleh-oleh sudah siap sebelum berangkat. Tinggal dibagikan saja,” katanya.

Prinsipnya, banyak oleh-oleh yang dibawa pulang jemaah haji, toh sama saja dengan yang dijual di Tanah Abang, misalnya. Toh semua itu juga berasal dari Madinah, Mekkah, Arab Saudi.

”Intinya biaya kecil-kecil itu kalau dikumpulkan bisa jadi besar sekali dan itu tidak terasa,” ujar Hapsari yang ditemui saat berbelanja oleh-oleh haji di pasar Tanah Abang.

Tak mengherankan jika Ahmad bin Kemen, calon anggota jemaah haji asal Pandeglang, Banten, menghabiskan dana Rp 200 juta untuk keperluan berangkat haji beserta kedua orangtuanya, Kemen (89) dan Abrah (75). Padahal, mereka jemaah reguler. Beruntung, Kemen punya tabungan yang cukup. Jika tidak, sapi atau sawah pun bisa dilego untuk memenuhi ”kebutuhan haji” atau ia harus menunggu bertahun-tahun lagi baru bisa berangkat.

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

4 Tanggapan to ““sesaji” – pengantar sebuah kutipan”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Emang engga bisa ya dibatasi hanya yang benar-benar perlu untuk pergi naik haji ?

untuk berperang saja Tuhan pernah melarangnya. padahal saat itu kondisi teramat tertindas, situasi sangat tertekan, dan posisi yang sangat diintimidasi. malah Tuhan melarang dan menyuruh tegakkan shalat dan tunaikan zakat.

hakikatnya, pelaksanaan dua hal penting ini harus bisa manjawab urusan hidup manusia. sehingga terpenuhi kebutuhan dasar dan fisik manusia. baru kemudian puasa yang bisa membawa manusia kepada kemuliaan ilmu. baru setelah itu berhaji.

mungkin kata mampu ini mesti disempatkan kepada ummat. apakah ummat ini sudah mampu mengambil syari’at berhaji? padahal ummat ini belum tegak shalatnya, belum tunai zakatnya.
artinya, belum tegak cara hidupnya (baik sudut pandangnya maupun kondisi realnya) dan belum tunai perekonoiannya (masih banyak pemenuhan kebutuhan dengan kredit, hehehe bercanda sedikit ya mba…)

mungkin kalau saya bahasakan maksud mba anis untuk hal ini adalah:
mba anis belum mampu berhaji, karena tidak mampu (berat hati) memandang permasalahan mendasar ummat ini, yakni kesejahteraan, sementara kita berlenggang berangkat ke sana.
duh kalau memang ternyata bisa mengumpulkan dana sampai 60 juta – 100 juta, berapa bisnis UKM yang bisa dimodalin???
mba anis, pemikiran ini sebaiknya ada yang memfollow-up di tataran teknis supaya menjadi berarti dan bekerja membawa kepada kebaikan hakikat hidup ini.

saya pikir Tuhan menentukan urutan rukun Islam itu juga sebagai syarat untuk ibadah berikutnya. dan kita harus mengambil syahadat, shalat, zakat dan puasa dalam esensinya bagi kehidupan ini. sehingga dengan empat rukun ini kita menjadi orang dan umat yang disebut mampu.

kemudian kata mampu ini menjadi password untuk masuk ke ibadah haji. karena bila kemampuan itu dipaksakan dengan berbagai jalan pintas, maka kesempurnaan ibadah haji ini berkurang.

saya yakin argumen mba anis tentang haji ini, bukan soal membuka perdebatan dan membuat mereka yang berangkat haji itu salah. tapi pemikiran ini BETUL-BETUL LAYAK DIPIKIRKAN oleh umat ini. sebagai sarana untuk keluar dari ibadah yang sekedar simbol dan masuk kepada ibadah yang esensi yang menyelesaikan masalah –yang juga kita ributkan terus– soal kesejahteraan.

mungkin perlu bikin paket ibadah alternatif. terjun langsung membantu rakyat yg sangat membutuhkan bantuan. plus iming-iming pahala luar biasa besar tentunya.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: