muara berketuhanan

Posted on November 21, 2008. Filed under: islam indie |

(jujur ya, boleh kan?)

kadang saya pikir, perlu sebuah pendekatan yang lebih mencerahkan, agar suasana beragama ini menjadi lebih indah dan nyata. tepatnya bisa menjawab persoalan lebih nyata tanpa kehilangan rasa akan keindahan kehidupan ini.

melulu habis di wacana ini itu, yang duh.. ga ada henti-hentinya, membuat saya sih.. kadang terasa kering dan meletihkan. karena masing-masing pihak, bahkan masing-masing agama, memiliki cara, ekspresi dan wacananya tersendiri. dan masing-masing akan bertahan dengan sikapnya masing-masing.

saya pribadi sih jujur, masih menginginkan pendekatan yang lebih mencerahkan dan indah itu. terlebih di kehidupan saat ini.

seorang teman menilai bahwa saya tidak hanya liberal dalam berpikir tapi juga liar. pikiran-pikiran saya seolah tak terbendung tembok apapun, selain keletihan..
hehehe.. geli mendengarnya..

mungkin yaa..
ga tahu deh..

yang pasti, sejauh saya mengolah diri saya atas berketuhanan ini, terlebih saya mengalami perjalanan pindah agama, maka hanya satu deh tujuan yang saya rasakan dari berketuhanan ini.
tak lain dan bukan, tuk menjadikan kita sebenar-benar manusia.

manusia yang manusia..

bahkan perjuangan terbesar manusia itu hanyalah mengalahkan dirinya sendiri. apapun agamanya. dengan media dunia sebagai soal-soal dan kertas ujiannya.

maka kadang saya suka tersenyum setiap mengenang PANCASILA.
loh kok Pancasila??

yup. muara berketuhanan kita hari ini, karena kita di bumi indonesia. ya pancasila.

berketuhanan membuat kita menjadi manusia yang manusia. manusia yang manusia sederhananya adalah manusia yang adil dan beradab. menghargai dan menghormati sesama manusia, dalam rasa hormat dan rasa menghargai itulah kemudian keadilan itu menjelma.
manusia setelah bisa saling menghargai ya bisa bersatu, bisa bermusyawarah, bisa saling membahagiakan dengan terus mendahulukan kepentingan bersama. karena tentu, sejatinya manusia bahagianya ga enak kalau sendirian..
setelahnya ya, adil makmur deh.. indah kan?

duh.. mimpi kali yaa.. 63 tahun Pancasila masih mimpi yaa?
gitu deh
.

tadi saya telpon teman lama, ah indahnya..
mengenang masa-masa sekolah. walau kenangan seperti terpisah. dia inget ketika duduk sebangku dengan saya, lah.. saya malah ingetnya ketika suka jalan bersama pulang sekolah. jadikita saling ngotot dengan ingetan masing-masing. hahahaha..

ah, tuhan..
aku memang tak pernah mengenalMu lewat begitu banyak ritual
aku bahkan memilihmu hanya karena Kau begitu sederhana diceritakan
semakin besar Kau digambarkan, semakin jauh Kau dariku
tapi ketika pada hal-hal kecil Kau boleh kurasakan, maka semakin dekat Kau di sisiku
dan semakin betah aku di sisiMu..

negeriku hari ini negeri sejuta ironi
tapi kutahu pasti negeriku ini
negeri yang terpilih
karena semua ujian adalah pelajaran
karena semua kenestapaan adalah teguran
dan karena manusia adalah makhluk pembelajar
kelak semua akan terkejar

tuhan
gerimis sore ini
ingin kunikmati
bertelanjang kaki
basahi hati
segarkan diri
tuk tak pernah letih

.

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

5 Tanggapan to “muara berketuhanan”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

hmm… sedaap…. aku mencium aroma indahnya nuansa paska gerimis sore hari.

konon muara pd umumnya bernuansa sungguh indah, hanya saja perjalanan dari hulu ke muara tak selamanya sewangi bunga mawar atau melati, dan tak selamanya bebas hambatan bak jalan tol.

hambatan yg tak indah dan tak nyata ada kalanya bisa mengasikkan juga lo, kalo asik menikmati perjalanan khan seberapapun jauhnya tak (begitu) terasa meletihkan

bukannya tujuan diturunkannya agama memang utk menyempurnakan akhlak, mbak?

@mas JM
yup. apalagi kalau jalannya beduaan, betigaan, berempatan, rameaan.. ga terasa tau-tau, nyampe.. horeee… 😀

@siti jenang
mas, itu bahasa agama. sederhananya manusia yang manusia biasanya mah sudah baik hati, ramah, suka menolong dan tidak sombong..
hehehe 😛

Muhammad SAW adalah seseorang yang telah membuktikan dapat berdiri di tengah2 perbedaan yang ada pada zamannya. Padahal sepak terjangnya –kalau kita ada pada saat itu– mungkin kita menilai beliau tidak ”nampak ngotot” membela Islam.

Ketika di intimidasi di Makkah memilih membiarkan tidak melakukan perlawanan atas argumen membela Islam. Tapi ternyata itu pembelaan yang sebenarnya. Pembelaan dengan kearifan sebagai nilai yang ingin dipesankan Tuhan.

Belum dengan momentum perjanjian Hudaibiyah, yang konon sangat merugikan kaum muslimin. Karena Muhammad SAW yakin, yang kemudian bernama Islam ini, lebih pada nilai-nilai sebuah posisi mengayomi perbedaan. Mengayomi berarti di atas dong, masa mengayomi dari samping. Dibandingkan sebagai pilihan agama yang dipersaingkan satu dengan yang lain.

Maka, perjalanan mba anis, menurut saya adalah keluar dari persaingan antar ”agama” kepada nilai universalitas yang pada saat itu juga dibawa oleh Muhammad SAW. Nilai2 ini yang akan membuat berbagai ideologi –yang berseberangan secara tajam sekalipun– menjadi bisa duduk berdampingan dengan tetap membawa warna ideologinya masing2.

Yang kapitalis dihargai, karena ia membangun persaingan, produktifitas, menjamin berjalannya logika alam sampai kepada pengakuan hak milik yang semua itu memang diakui Islam. Yang sosialis dihargai, karena ia membangun logika sosial yang menyeimbangkannya menjadi keberpihakan untuk menyeimbangkan hubungan antar status.

Untuk mempersatukan mereka yang berbeda ideologi saja bukan hal sulit. Apalagi Cuma mempersatukan mereka-mereka yang sudah sama ideologinya.

Kalau itu dinamakan liar, berarti untuk menemukan Tuhan kita perlu liar. Kalau itu harus menembus tembok, maka menemukan Tuhan harus menembus tembok2 yang ada. Mudah2an Tuhan menyampaikan perjalanan yang meletihkan ini sampai ke muara itu sebelum habis usia kita.

mohon ampun pada-MU dan maaf, kalau ada yang berlebihan pada komen saya ini.

tuhan tak minta untuk dikenal…
(dalem banget lho..ini..heheheh)


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: