perlambang

Posted on November 26, 2008. Filed under: islam indie |

(hehehe.. demi tak menjadi polemik nih…)

kemarin, saya bertemu dengan teman saya yang sudah haji lima tahun yang lalu. dia adalah senior saya deh, masih teman suami. kami bereuni dan seperti masa muda dulu, kami berdiskusi..
kami berdebat soal simbol-simbol agama, yang bahkan di UEA negara tempat dia di tugaskan saat ini, simbol-simbol beragama mulai tidak populer. bahkan konon di Iran sendiri, mulai pula di tinggalkan. entah mengapa..

sederhananya sih menurut saya, karena simbol-simbol itu mulai di rasa tidak menjawab persoalan realitas yang ada, bahkan juga realitas yang terus berkembang.

maka, sebagaimana semua di sini tahu, berdebat dengan saya soal simbol agama, ya akan seperti apa deh. dan buntutnya ya menyangkut soal haji juga.
teman itu bertanya, – kapan saya dan suami akan berhaji.
waduh, saya bingung menjawabnya. masalahnya bukan kapan saya akan berhaji, saya nih ga mampu memikirkan bahkan sekedar opsi haji.
wah, jelas teman itu bertanya, – kenapa?? menurutnya itu harus sudah diniatkan. semakin muda usia semakin baik.

maka juga tuk semua di sini, saya jawab yaa.

saya tidak menafikan haji sebagai rukun islam.
sangat tidak. sebagai muslim, saya menerima rukun islam.
ini memang persoalan mampu atau tidak mampu hati saya tuk berhaji, di tengah kondisi saat ini. terlebih di mata saya, haji telah menjelma sebagai aktivitas hati, ga lagi simbolik seperti itu.

sederhanakan, ka’bah simbol adalah hati.
maka thawaf adalah berkonsentrasi tuk selalu mengingatNya. dalam setiap aktivitas jangan sampai melupakan tuhan. baik niat, cara dan tujuan.

lalu jumroh adalah perlambang pengendalian nafsu. menahan, kalau perlu membunuh nafsu yang jelas-jelas kita sadari buruk. meski mungkin sekedar buang sampah sembarangan..

lalu sa’i adalah harap dan cemas dalam berikhtiar di kehidupan ini. antara yang kita perbuat dan kita inginkah tentu ya berada dalam harap cemas. antara di kabulkan atau belum, atau di tunda atau gagal sama sekali.

lalu wukuf adalah keberserahan. sadari saja deh, calam banyak hal, kita akhirnya memang berserah padaNya. mau merubah dunia? duh, kita berhadapan ga cuma dengannya, tapi juga dengan kuasaNya.

lalu jabal rahmah adalah perlambang pertemuan akan kesejatian diri. baik secara diri sendiri, atau jati diri. termasuk di dalamnya jodoh. pada dasarnya, manusia itu memang akan mencari jati dirinya, dan setelah pengenalan akan jati diri ini, maka dia juga akan mengenali apa-apa yang sesungguhnya dia inginkan, bahkan rindukan.

so…. thawaf, jumroh, sa’i, wukuf, dan jabal rahmah adalah konsentrasi, mengendalikan diri, harap cemas, berserah, dan jati diri. semuanya secara mikro adalah aktivitas seputar hati. yang disimbolkan secara makro dengan aktivitas tanah suci.

kalau sudah menyadari ini, maka secara batin, setiap hari dari melek mata hingga pejam kembali, kita sesungguhnya tengah berhaji. tentu haji dalam tanda kutip. haji yang hati..

saya bercerita pada teman itu, tentang pengalaman saya bermimpi tentang haji. ketika semua tempat di sana terasa sepi dan tidak ada siapa-siapa.

jelas saya sadari, walau ga cuma saya yang bermimpi tentang haji, tentu juga ga semua orang bermimpi haji. sehingga secara simbol, haji ya tetap sah tuk di laksanakan.
hanyaaaaa………

jika kita sudah pernah melakukan secara afdhol, makro,… maukah kita membawanya dan merefleksikannya secara mikro dalam jiwa kita sendiri ini?
atau tetap mempertahankannya sebagai simbol? maka haji – ya haji, korupsi ya tetap korupsi. maka haji – ya haji, dan siapa peduli hidup ini..

di sini nih, yang kemudian sebetulnya sangat harus disadari, bahwa beragama selain harus bisa membangkitkan kesadaran personal juga harus bisa memperbaiki kehidupan sosial. kan rahmatan lil alamin.. kehidupan yang merupakan kebersamaan kita. yang sudah haji tentu harusnya lebih baik.. karena sudah menjalani ‘materi pengenalan hati’ dengan berhaji seperti itu.

lah, kalau haji malah jadi berkali-kali, malah menjadi penuh seremoni, wah.. jauh dong dari esensi. ya ga?

kemudian, saya bertanya pada teman saya yang sudah berhaji itu. -apa yang dia dapat dari hajinya yang fisik itu?
secara jujur, dia mengakui kalau dia memiliki masalah ketika berhaji dan berharap di sana dia akan menemukan jawabannya. ternyata, akunya ya tidak ada jawaban apa-apa di sana..

hehehe, saya hargai kejujurannya.
lalu saya tanya, – setelah semua itu, di mana dong akhirnya jawaban dari masalahnya?
ya di sini, di indonesia. setelah tenang dan hatinya jernih.
hehehe, akhirnya memang hatinya yang menjawab toh?

setelah hatinya menyadari semua tentang dirinya. harapan dan kecemasan, pengendalian dan rencana-rencana, keberserahan dan kerinduan akan kesejatiannya, yang mungkin tak di temukannya selama ini. dan setelahnya, setelah guncangan besar dalam hidupnya, ya dia mulai menjawabnya seperti dari awal lagi.

ya itulah refleksinya haji..

bahwa, secara simbolik haji sangat bisa tanpa arti.
selain keletihan dan ziarah. tapi refleksinya, haji itu yang luar biasa. dan ini yang seharusnya dihayati. tentu bagi mereka yang mampu berhaji, maupun yang tidak mampu.
sehingga haji, sesungguhnya milik setiap diri yang menyadari.

eee… teman saya itu masih ngotot.
– tolong minta doa sama semua yang haji, agar anis mau ke tanah suci.

hahahahahaa…
tenang deh, jika mampu. pasti saya akan kesana.
mensyukuri haji yang di hati selama ini dengan haji di tanah suci suatu saat nanti.
jangan cemaskan saya, saya lebih suka tuk menyeimbangkan keadaan. kalau simbol telah begitu menguat, pencitraan begitu di kedepankan. ga salah toh.. kalau kita imbangi dengan nilai2nya yang sesungguhnya lebih tinggi? malah bukankah itu yang seharusnya di kedepankan?

mari cemaskan, doakan dan jawablah persoalan lain yang banyak dan prihatin di sekitar kita.

.

alkisah dari sebuah buku..
bahwa seorang cerdik pandai nan bijaksana juga mulia perangai dihadapkan pada seorang raksasa. sang cerdik pandai ini akan membuka lahan alas itu tuk kehidupan. memohon izin pada sang raksasa penunggu hutan, tuk berbagi kehidupan di sana, tak semua tapi seberapa saja.
hohohoho, raksasa malah ingin memakan sang cerdik pandai itu.
maka sang cerdik pandai itu bilang,
– kau tak akan mampu memakanku, wahai raksasa budiman.
– huah.. manusia kecil sepertimu tak bisa kumakan??? becanda kau…
di genggamnya tubuh kecil manusia itu dan diarahkannya ke wajahnya. raksasa menikmati keelokan penciptaan manusia sebelum dilahapnya.
pada saat itu, sang cerdik pandai meminta sang raksasa melihat ke arah mulutnya yang terngangah. wah! raksasa terkaget begitu melihat apa yang ada dalam mulut cerdik pandai itu. di taruhnya sang cerdik pandai dan raksasapun gemetar ketakutan.
– bagaimana mungkin… lautan, gunung, pepohonan, angkasa, bintang, bulan, dan semua itu ada dalam mulutmu?
begitu tanya sang raksasa
jawab sang cerdik pandai
– karena sesungguhnya aku di ciptakan tuk liputi kesemestaan dan kesemestaan di ciptakan tuk liputi aku. semua dalam hidup ini hanyalah perlambang.

hehehe, termasuk cerita itusendiri adalah perlambang.
dari mikrokosmos dan makrokosmos penciptaan manusia dan semesta
.

selamat berhaji
semoga mabrur
semampu rezeki
setulus hati
seindah syukur

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

5 Tanggapan to “perlambang”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

weleh2..sampe hrs di bongkar semua. Keknya msh byk muatannya Mbak Anis nih 🙂

Kek kantong doraemon aj 😀

*nih saya letak busur nya..cease fire* ^^

@aryf
wah, ga jadi deh..
di sumputin lagi kantong doraemonnya, hahaha 😀

apa yang saya bisa lakukan di dunia nyata atau di sektor riil yang sehari-hari saya tekuni? biar semua simbol itu berisi ruh lagi.

@kang trend
santai aja..
hehehe.. 🙂

bicara luas permukaan memang bikin sibuk kesana kemari.. wara-wiri..
tapi kalau bicara kedalaman, memang bikin serius dan konsentrasi..
dan bayangkan… jika ada membran tipis di langit2 air, lalu satu titik di atas membran menekan ke kedalaman, maka seluruh membran ikut mblesek ke dalam, di konsetrasi titik itu. hilanglah dan berganti dengan seluruh air yang tak lagi berlangit-langit…

lalu bayangkanlah, jika di luas permukaan yg tak terhingga banyak titik-titik konsentrasi tuk ke kedalaman, wah.. langit-langit tipis itu mudah dihilangkan kan? dari pada sekedar berlarian di permukaan terus menerus..?

kebayang ga?

tuk sebuah arti, ga mesti berlari-lari
cukup terus teliti, memberi dengan setulus hati
dan akan terlihat dengan sendiri
terlalu banyak ekspektasi beresiko mengaburkan diri

mba anis comment nya saya kutip yah…


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: