melanjutkan lukisan pagi bernama manusia

Posted on Desember 1, 2008. Filed under: islam indie |

(di terusin yaaa… izinkan saya meneruskannya, walau anda mungkin kurang dan bahkan tidak menyukainya πŸ˜€ )

setelah kita pahami, lukisan pagi bernama manusia itu.
bahwa manusia memiliki memiliki jasad dan jiwa, alam fisik dan alam metafisik, alam nyata dan alam ghoib..

maka, terkait perbuatan manusia dengan dunia sebagai media fisiknya, walhasil manusia itu memiliki alam dunia dan alam non dunia. ya alam fisik dan alam non fisik itu. juga memiliki pencapaian secara fisik atau jasad dan pencapaian secara non fisik atau jiwa.
yang dalam bahasa agama inilah yang sering di sebut dengan dunia dan akhirat .

dunia menjadi ukuran tuk pencapaian secara jasad/fisik. akhirat tuk lukiskan pencapaian secara jiwanya.

nah, kemudian….. pencapaian itu ada yang negatif dan ada yang positif.
secara dunia, tentu pencapaian bersifat fisik. dan secara jiwa, pencapaian bersifat rasa. kalau istilah kerennya, fisik bicara kuantitas dan jiwa bicara kualitas.
maka yang secara dunia, pencapaian itu kita kenal dengan istilah untung dan rugi, kalah dan menang, dsbnya.
yang secara jiwa, pencapaian itu kita kenal dengan istilah surga dan neraka, rasa bahagia atau nestapa.

maka berkali-kali di tegaskan dunia adalah ladangnya akhirat. perbuatan di dunia berkontribusi tuk kesehatan jiwa kita.

hehehe, sampai di sini, –buat saya– agama itu ternyata jadi nyata.
agama tidak sedang membawa saya tuk berangan-angan, tentang surga yang entah dimana, atau akhirat yang juga entah bagaimana. agama membawa saya akan surga dan neraka itu nyata, bahwa yang fisik dan non fisik itu nyata.

bahkan berjalan berdampingan sebagai sebuah proses tumbuh kembang itu sendiri.

agama justru berfungsi mengingatkan ini, maka karenanya agama itu ada. tuhan ga bosen-bosennya mengingatkan, lewat para messengernya, dalam setiap waktu dan kaum tertentu.
kenapa?
karena manusia itu pelupa.
hehehe πŸ˜€
ketika asyik dengan keindahan dunia, dia lupa bahwa jiwanya juga perlu tuk dihiasi dengan keindahan jiwa tersendiri. atau ketika dia asyik dengan keindahan jiwa, dia malah lupa dengan keindahan dunianya.

maka kita temui istilah kaya tapi merana, sebaliknya miskin tapi kok betah.
hehehe…
idealnya ini berdampingan dengan harmoni. atau kalaupun ini tetap memiliki gapnya, demi dinamika itu sendiri. tentu tidak terlalu kontras.

tapi kadang gab itu begitu besar, membuat semua itu berjalan terpisah, malah di terjemahkan sebagai sebuah sekuel atau lanjutan. akhirat hanya ada setelah kematian. surga hanya ada setelah kebangkitan..

padahal coba temui dalam istilah ini. katanya..
ada mati yang mati.
itu mati yang fisik itu. sudah mati ya sudah, di kubur dan sudah.
– lalu ada mati yang hidup.
ini yang dikenal dengan ayat apakah kamu menyangka mereka mati, padahal mereka hidup? sederhananya, itu seperti seseorang yang inspiratif bagi kehidupan, maka selama-lamanya pikiran dan perbuatannya selalu di kenang dan menginspirasi kehidupan berabad-abad lamanya. tak mati meski si pemiliknya sendiri telah mati.
– lalu ada hidup yang mati
ini yang dilukiskan sebagai mereka yang hidup tapi ga punya hati. tega dan bahkan sangat suka merugikan orang lain.
– nah, lalu hidup yang hidup
ini yang dikenal sebagai jasad yang hidup dan jiwa yang juga hidup, nurani bercahaya. bahkan konon cahayanya terlihat dari keseluruhan tubuhnya. auranya indah. sederhananya ini ya jasad dan jiwanya turut selalu tumbuh kembang dalam kehidupan bahkan berdampingan…

maka yang dikatakan akhirat ada setelah kematian dan kebangkitan ya setelah tumbuhnya kesadaran akan alam ghoib bernama jiwa atau non fisik manusia itu. yang berjalan berdampingan dan tumbuh kembang bersamaan.

itulah hidup dan hidup,
itulah hidup yang hidup..

maka hilanglah kekontrasan dan gab yang terlalu jauh antara kehidupan fisik ini dengan kehidupan non fisik yang jiwa itu.
hidup menjadi nyata.
satu kata dan perbuatan.
satu pikir dan perasaan.

kekontrasan atau gab penampilan fisik dan rasa di jiwa yang jika terus dipelihara bahkan diajarkan, adalah yang kemudian kita kenali sebagai bentuk-bentuk kemunafikan.
pura-pura ngemis pake baju robek, kaki di lipat seolah buntung dsbnya, padahal masih sehat dan bisa bekerja. atau perpakaian mewah dan jetset tapi modalnya utang di credit card. ini gejala.. yang sebetulnya pada batas-batas tertentu menjadi sangat berbahaya.. menjadi penyakit hati/jiwa tersendiri.

maka kita temui betapa miskinnya negeri kita akan sense of crisis dan empati.
manusia yang sukanya berpura-pura, memang tidak mengerti mengapa dia harus jujur..

pengertian yang saya tulis di atas, hanya sebagian dari proses berpikir saya yaa..
dan sesuatu yang harus menyentuh ke kesadaran personal. ga bisa diharapkan melulu besar sebagai kesadaran kolektif.
maka saya menyadari sekali bahwa agama harus menyentuh kesadaran personal, bukan ikut-ikutan.
karena sederhananya, persoalan keseimbangan jasad dan jiwa itu hanya pemiliknya yang bisa mengukurnya. maka pula dikatakan agama itu tidak bisa memaksa…
yang ada adalah yang kesadaran yang “terpanggil”.

.

huahhh…
sampai di sini, ini hanya bagian dari proses berpikir saya ya.. yang refleks.. dan alami-alami saja saya lakoni dalam perjalanan kehidupan saya.

entahlah, mungkin ini karena saya suka reflek berpikir dan merenung-renung. kebiasaan sejak saya kecil..
tapi saya merasa dan sadari sekali,
bahwa ternyata hidup ini memang nyata πŸ˜€

selebihnya, sangat boleh tuk dilupakan.. πŸ™‚

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “melanjutkan lukisan pagi bernama manusia”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

kita berbuat untuk masa dimana kita tidak bisa berbuat. kita membuat prestasi sewaktu kecil, maka menjadi kebanggaan pada saat sekarang. kita membuat kebaikan sekarang untuk mempengaruhi suasana hati kita nanti.

cuma kita harus pandai2 meneropong perbuatan apa yang kelak membuat kita bahagia.

good…

Allah membuat sesuatu itu indah pada saatnya.
Nah, itu sebenarnya kita sering lupakan.

Ada lagi yang extrime mbak…
Kita sering sekali menyepelekan sesuatu yang sudah menjadi kewajiban kita sebagai umat.

Tapi, kita rela diperbudak dunia…

“Bukannya bila kita taat, dunia akan tunduk terhadap kita ?”

hehehe…

pusing aku merasakan sendiri…

Yang pasti, pemikiran yang diikuti suatu kesadaran adalah suatu hal begitu indah.

Jadi, tetap lah sadar akan siapa diri ini…


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: