menjaga keseimbangan

Posted on Desember 4, 2008. Filed under: islam indie |

(di bagi yaa…)

saya dapet kiriman video dari Perjalanan Cinta-nya Kyai KanjengEmha Ainun Nadjib.
bisa di klik di sini nih..

duh, merindingg…
e, kalau ga bisa, cari aja sendiri ke yutub yaa…
atauuuuuuu…… mas JM deh, postingin di blog musiknya..
secara mas JM baik hati dan tidak sombong, hehehehe 😛

kembali..

rasanya rindu deh kedamaian beragama seperti itu di indonesia. dimana boleh berbeda-beda, tapi tetap satu juga. dimana boleh berbahasa ini-itu, tapi tetap satu juga. bahkan boleh bersuku ini itu, tapi tetap satu juga.

di sisinya, yang kristen bisa berbicara, yang budha bisa berbicara, yang hindu boleh bisa berbicara. semua boleh berbicara.. dalam kerangka sesama manusia, sesama pemilik kehidupan ini. saling menghargai dan menghormati..

sinkretismekah?
ketika shalawat itu berbahasa jawa
ketika shalawat itu bernada malam kudus
ah, tidakkk…. jangan suka meminjam istilah tapi tak benar tahu rasanya
ingetkah kita dulu, dari banyak buku-buku sejarah. bahwa para wali itu juga berdakwah berbahasa jawa, berdakwah dengan wayang, berdakwah bahkan dengan bentuk masjid yang sangat penuh ornamen hindu dan budha.
karena manusia tak bisa dicabut dari budayanya toh?
dan ingetkah kita bahwa karena itu pulalah yang telah menjadikan negeri ini mayoritas menganut agama islam. yang dulu datang dengan damai toh?

maka ketika islam berwajah garang, keras, fanatik dan penuh nuansa ‘alasan’ pemurnian berwarna arab..
hmm… setuju tidak setuju..
indonesia akan terus mencari jalan tuk tetap indonesia..

saya ga tahu..
bukan saya tak berusaha tuk sejatinya islam
tapi semakin usaha itu keras, ya inilah sejatinya saya yang islam
saya tidak bisa tuk tidak menghormati keberagaman ini
saya tidak bisa tuk tidak menghargai semua ekspresi tentang tuhan
saya tidak bisa tuk tidak bergenggaman dengan siapa saja
karena semakin saya tuju, sekuat kaki dan sejauh jangkauan tangan, saya hanya menjadi sejatinya manusia biasa.

islamkah saya?
ya itulah islam saya…

islam yang menjadikan saya manusia biasa
yang bisa bersama siapa saja
yang ingin bersama siapa saja
yang rindu damai bersama semua manusia
dan yang ingin merdeka dari dikuasai begitu banyak mau
termasuk mau saya sendiri

entahlah..
tapi itulah rasanya…

maka saya salut pada mas Emha Ainun Nadjib…
yang tetap berkarya dan berusaha berdiri di tengah kepincangan yang tengah terjadi ini.
hidup kadang memang seperti kutub-kutub. yang terus saling tarik menarik, tuk idealnya seimbang. namun apa daya, seimbang memang sebuah posisi yang sangat sejenak saja, bak timbangan tuk kembali diam dan miring sebelah.

salut tuk semua pihak, yang mau terus berusaha dan menjadi posisi sebagai titik tengah dan tumpuan tuk semua ini kembali seimbang. layak ada, layak bersama, layak bahagia

lega deh, melihat perjalanan cinta yg menembus banyak sekat. melintas suku, melintas agama, melintas mahzab, melintas warna & rupa. krn semua hanya manusia biasa

Allah berserta mereka yang bercahaya di kegelapan memekat
di kehidupan yang singkat dan penggap
karena Dia adalah cahaya

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

3 Tanggapan to “menjaga keseimbangan”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Salam kenal Bu Anis…beberapa kali berkunjung kemari tapi belum pernah komen…hehehe 😛

Saya pernah nonton sendiri konsernya Cak Nun ini. Dulu beliau manggung di gereja saya di Jogja, dan memang luar biasa. Selain karena memang suka dengan lagu beliau, saya kagum dengan semangat pluralismenya Cak Nun ini 🙂

Seperti di video, dulu juga beliau mengiringi lagu gereja dan bernyanyi lagu Islami dengan nada Malam Kudus. Sebaliknya, tim dari gereja memainkan lagu gereja dengan shalawat.
Waktu itu juga pertama kalinya saya mendengarkan lagu Arab secara langsung untuk pertama kalinya. Senang sekali, mengingat saya menyukai lagu Arab tradisional.

Bisa belajar banyak dari beliau ini 🙂

Dan pastornya senang bisa salaman dan bernyanyi bersama Novia Kolopaking :mrgreen:

Wah ada si “lambat” disini rupanya.
Susah bibirku menyebut namamu nak 😀

Ayo kita menabuh rapai dan gendang.
Mari berdendang selayang pandang.
Melangkah ringan ditanah lapang.
Hati riang, tertawa senang.

Jangan jadikan perbedaan sebagai penghadang.
Jangan paksakan persamaan dan bertukar ranjang.

Jadilah jembatan untuk memahami perbedaan dan saling memandang dengan lapang.
Jadilah jembatan yang bukan memaksakan untuk menyamakan sudut pandang.

Memahami perbedaan, kan tidak harus gonta ganti pasangan.
Merasakan persaman, kan tidak jauh beda dengan menjaga kehormatan.

Jadilah jembatan itu sendiri.
Dengan saling menghargai dan saling menghormati.

@lambrtz
hehehe, dibaca : lambat kan?
salam hangat ya. seneng loh dah mau meninggalkan jejak di sini… ‘cos semua jejak kan dikenang selalu.. 😀

emang salud bangedd.. bangga dan haru. terlebih ketika kita begitu merindukan kedamaian itu di bumi indonesia kita. ya kan?

ibarat matematika himpunan itu loh, butuh manusia-manusia yang bersedia beririsan. demi tetap mengikat dan merekatkan semua puzzle di kehidupan ini. ciee…
nah,lambrzt mau kan bersama-sama saya di irisan itu? bersama tanpa meninggalkan identitas diri masing-masing. dengan kesejatian yang berada dalam hati, bukan sekedar simbol-simbol ilusi. halahh.. 😀

sekali lagi, makasih yaa.. 😉

@mas aryf
wuihh, dalemm…
bahasanya aslinya keluar nih. kerennn mas.

dan setujuuuu…
mari kita jembatani begitu banyak kutub-kutub yang telah terlalu lama mengkutub. di setiap kutub pasti ada pemerannya. peran sesuai kapasitasnya sendiri-sendiri. dan peran menjembatani jangan sampai diabaikan. maka temui di sini, salah satu peran menjembatani yang bisa kita lakoni bersama-sama. cieee..

hari ini, bahasa saya jadi beda deh. ketularan semua di sini..
makasih… 😀


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: