kurban yang berbeda kali ini

Posted on Desember 9, 2008. Filed under: islam indie |

(dibagi yaa…)

teman saya tinggal di Jeddah. ini tahun ke duanya. tahun ini, dia tidak berhaji, setelah tahun sebelumnya dia sudah berhaji. lalu dia merasa sedih, mendengarkan talbiah dan melihat lautan manusia beribadah di tanah suci, secara dia yang sebetulnya sudah dekat di sana..
hehehe, terbawa suasana kali yaa…

maka saya berusaha menghiburnya. bercerita tentang lebaran haji di negeri sejuta warna-warni.. walau hanya dari satu sisi, tapi semoga tetap bisa menginspirasi..

mau tahu?
begini ceritanya…

wiken menyambut lebaran haji kemarin, saya habiskan bersama dengan ayah saya yang beda agama. sabtu pagi beliau sampai di bogor. huahh… segala di bawa dari lampung deh.

jujur, saya geli melihatnya sebelum makan mengheningkan cipta, berdoa dulu..
hihihi… πŸ˜›

asal tahu saja ayah saya dulu atheis.. ga jelas agamanya apa.
jadi kalau dulu, ayah saya keras menentang keislaman saya, itu sih semata egonya sebagai bapak. beda dengan sikap keras ibu saya, itu karena ibu saya lebih paham soal agama. tapi dua-duanya lumayan terasa abusif. selebihnya, ya bertahan di stereotype masing-masing tentang islam..

nah, ternyata beliau sekarang sudah di baptis!
huahhh… saya iseng tanya,
– jadi papa sekarang jadi tahu nabi adam, nabi sulaiman, nabi daud dsbnya dongg?
e, jawabnya…
– repot banget soal nabi sih? yang penting sekarang hati jadi lebih sabar dan hidup lebih tenang.
hahahahaha, agama emang soal implementasi nih.. cool.. πŸ˜€

ayah saya kristen protestan
maka, lagi-lagi saya isenggg… cerita kalau dulu saya di katolik bla-bla-bla. ehmmm… melihat ekspresinya sih, saya yakin! ayah saya dulu ga bener-bener sadar deh kalau saya beragama katolik.
hihihi.. kacau…πŸ˜€

tapi katanya,
– alhamdulillah deh, sekarang hidup papa tenang. itu yang utama..
cieee… pake alhamdulillah…
e, jawabnya…
– lah, keluarga kita kan keluarga pancasila.
o ya bener.. saya juga cinta pancasila! hehehe…

ah, agama…
kalau engkau bisa bikin manusia menjadi baik, silakan aja deh.
yang penting, jangan sampai beragama malah merusak kehidupan dan kebersamaan.gitu ga sih?

lebaran haji kali ini saya sih bersyukur.
sejak pertama nikah, suami saya selalu mengajari saya tuk berkurban. islami deh. πŸ˜› dari kurban domba seharga 250 ribu, terussss… sampai domba/sapi yang mendekati angka sejuta..
tapi baru kali ini, saya melihat suami saya bersedia dan mengajak saya berkurban tuk kepentingan yang lebih besar..

asal tahu saja, selama nikah.. baru kali ini ayah saya melihat kehidupan RT saya dan suami. bahkan sudah 5 tahun lamanya, saya ga ketemu dengan beliau. hehehe.. perlu waktu kali ya, tuk menerima bahwa keluarga saya yang beda agama adalah bagian dari RT saya dan suami.

maka lebaran haji saya kali ini, bener-bener refleksi dari sekian tahun belajar berkurban di negeri sendiri.. yang beragam, yang bhinneka..
secara sebelum-sebelumnya saya pasti harus menghabiskan lebaran haji di rumah mertua saya. hehehe πŸ˜›

kadang kita memang hanya mau sama-nya, ga mau beda-nya. malah apes, kadang kita malah mau beda-nya, ga mau melihat sama-nya. padahal, mengapa kita tidak saling menerima dan memberi apa adanya?

maka persoalan perbedaan dalam keberagaman kita, masih saja seperti jalan di tempat, bahkan malah –akhir-akhir ini– terlihat seperti mundur ke belakang. berbeda membuat kita berantem melulu. itu semua karena kita tak tau mengapa kita harus bhinneka dan bagaimana kita menjadi tunggal ika.

nah, kembali ke cerita saya..
serunya, ayah saya ngotot mentraktir kami sekeluarga
wah, asyikkkkkk…. saya sih ok-ok aja..
suami saya yang pasrah.
duh, kasiannnn deh suami saya… hihihi πŸ˜›

kata suami, kan kita yang tuan rumah, kan kita yang muda, kan….????
tenang… tenang….
begitulah keluarga saya. kalau ada rezeki, ayo kita makan-makan. kalau ga ada, ya ga akan ditawari. jadi santai aja. kalau bokap mau nraktir, kita terima aja. kalau bokap ga mau, ya kita yang bayarin. keluarga saya cenderung egaliter. maklum, memang begitulah kebiasaan kami dari kecil.. dulu di katolik sendiri saya terbiasa begitu.

lebaran kali ini, saya mengagumi Allah yang bisa-bisanya membuat hidup begini seru.. ga sekedar simbolis, tapi maknawis… *maksa* πŸ˜›

saya bersyukur suami saya akhirnya bisa juga membuka dan melintas sekat-sekat karena perbedaan ini. dan anak-anak? wah, itu sih pasti senang, karena mendapat angpau dari kakeknya.. itu loh, amplop berisi uang… bahagia deh, si mbak juga dapet loh… saya aja nih yang ga dapet angpau. hihihi πŸ˜‰

** special buat teman saya itu, saya menambahkan cerita. masih dari satu sisi saja sih. sekali lagi, buat menghibur aja…

dulu, ibu saya suka ke vihara banten ngaterin mertunya yang budha. tuk org cina budha, vihara banten ini terkenal. ada hari dan tanggal tertentu yang ibadahnya khusus. sampai larut malam dan desak-desakan, bahkan sampai tertidur di emper-emper vihara. ketika kecil, saya suka di ajak ke sana berkali-kali. suatu ketika, ibu saya cuma diam saja tuh, ga ikut desak-desakan ibadah. kali itu emang kroditttttt….. banget.
maka saya bertanya..
– kok dah jauh-jauh, mama malah diam aja..??
jawabnya
– kita kasih aja deh kesempatan sama yang lagi rindu tuhan. toh, tuhan ga kemana-mana.. mama kan bukan pertama kali ke sini..
dalam hati saya, yeee… saya sudah dibawa desak-desakan ke sini, nyokap kok malah cuma diem gini niatnya???

sejak itu ibu saya tidak lagi pernah ke vihara banten itu. kalau diajak sodara2nya, jawabnya..
– ya elu-elu aja deh yang pada kesana, gw udah pernah.. jadi gw udah hafal sambil merem nih..
hahahaha…
sejak itu saya yang anak-anak ga lagi pernah lagi tuh kesana..

***

beda itu mengasah empati
beda itu mengkayakan hati

beda itu menjadikan manusia
sebenar-benar manusia
yang bisa bersama dengan siapa saja
maka beda itu memang luar biasa
beda itu memang indah

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

3 Tanggapan to “kurban yang berbeda kali ini”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

sayangnya tidak semua manusia beda. karena kalau semuanya beda, ya sama lagi judulnya, ya ngga? hehehe

@kang trend
hahaha, maka saya bilang hidup ini seperti kutub2 yang saling tarik menarik. selalu akan ada negasi-negasinya deh. ini hukum alam… yang harus di jaga hanya keseimbangannya aja, bukan mlulu berati harus sama.. πŸ™‚

sebetulnya Tuhan sudah sampaikan, bahwa Dia terus meluaskan alam semesta ini. demi sebuah pertumbuhan makhlukNya. apalagi yang namanya manusia, banyak keinginannya dan ga ada abis2nya.

nah perbedaan ini diperlukan untuk menemukan wilayah-wilayah baru itu. kalau di kampung ini orang sudah sesek banget, karena sudah kebanyakan orang. maka perlu dicari kampung lain yang masih kosong.

yah berangkat deh ke sana. mereka yang berangkat ini tentu saja harus punya pikiran dan mental yang berbeda dengan yang tidak berangkat. ini diperlukan untuk merespon tempat yang baru itu nanti. karena di sana ada tantangan dsb.

kalau kemudian tempat baru itu bisa diadaptasi. baik lingkungannya yang lebih manusiawi maupun manusianya yang lebih lingkungani (maksa juga yah…) maka kemudian banyak orang ke sana dan akhirnya perpindahan itu menjadi tidak beda lagi.

maka beda itu dibutuhkan untuk menemukan wilayah baru yang Tuhan terus ciptakan. ya Allah lindungilah hamba ketika memasuki wilayah baru itu. Engkau yang memperjalankan Engkau yang menunjukkinya dan Engkau yang menyampaikannya kepada tujuan yang benar.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: