sesal yang tiada arti

Posted on Desember 9, 2008. Filed under: islam indie |

(di bagi yaa… ngaku dosa deh…)

saya pernah menangis sejadi-jadinya, merasa lebih baik mati, ketika menyadari begitu banyak ketidakadilan dalam hidup saya, tentu dalam kapasitas saya yaa.. 😉

bayangkan, pertama masuk islam saya langsung di beri pemahaman yang sangat fanatik, oleh mereka yang mengaku kaffah dalam berislam. pemahaman yang jelas sangat merugikan saya pribadi, terkait realitas perbedaan yang nyata dalam hidup saya, yakni keluarga saya sendiri

ketika menyadari begitu banyak waktu terbuang dengan penuh pertengkaran dan kebencian dalam diri saya pada keluarga, saya bener-bener kesakitan sendiri. bagaimanapun, saya memilih islam jelas tidak untuk bertengkar dengan siapapun.

berkali-kali saya ingin mundur dari islam, e… justru ibu saya yang nantang terus. katanya
– kalau sudah memilih, buktikan! jangan setengah jalan! demi jangan jadi pecundang!
haduhhhh….
pintu kembali seperti tertutup, maju juga seperti buntu dalam pemahaman yang fanatis itu. secara fantisme memang tidak pernah ada dalam jiwa raga dan pikir rasa saya sebelum itu..

maka ada masa saya sangat menyalahkan pihak-pihak yang mengajari saya penuh kefanatikan itu. psikosomatis deh saya sama mereka-mereka itu.

menikah dengan muslimpun sempat tak menolong keadaan. pihak keluarga bahkan suami sendiri juga perlu waktu lama tuk bisa menerima perbedaan.

saya sampai merasa -maaf- bullshit deh semua yang dikatakan tentang agama mulia ini. hehehe… maaf loh, esmosi deh. toh, semua itu hanya di batas literasi, jauh dari bukti..

membuat saya tak bisa mengandalkan siapapun, selain diri saya sendiri tuk mencari jawaban dari semua pilihan ini.

membuktikan diri bahwa hidup ini tak ada yang sia-sia.. menjalani pesan ibu saya sendiri, tuk buktikan kebenarannya, bukan terjebak dalam sikap terima begitu saja.

maka saya sendirilah yang menjebol penjara fanatisme yang terlanjur di dirikan oleh orang-orang yang merasa paham agama itu. sakit ga sakit.. saya lakoni..
pokoknya satu rasanya, – ga boleh begini kalau memang bener beragamanya. harus ada yang jalan keluarnya..

sampai harus terkapar di rumah sakit deh, menggigil dan ambrukk.. berkali-kali ICU di persiapkan, melihat saya yang sering kalah oleh tubuh saya sendiri. oksigen nyaris tak boleh lepas, sepertinya saat itu, saya akan mati deh.

teman saya sampai bilang, – jangan gitu dong.. kenapa harus sampai sejauh ini? dokter juga sampai wanti-wanti, – jangan korbankan badanmu..
hehehe… 😛

duh, saya juga ga tahu deh. tapi jiwa ini terlanjur sakit… maka cuma ada dua pilihan : sembuh atau mati?

ah, tuhan betapa mahalnya kebodohan itu harus di tebus yaa???

dan saya bisa!
meregang nyawa, menemukan jawaban..
melepas semua kebencian, mengapai kembali senyuman..
membunuh kemunafikan, mencapai kepasrahan..

ah, tuhan…
kalau saya bisa sampai hari ini, ini juga atas kebesaranMu
kalau saya bisa mencapai semua ini, ini juga atas kemuliaanMu
saya hanya menjalani apa-apa yang menjadi suratanMu

selebihnya, saya hanya sendiri dan tak memiliki apa-apa selain diri ini saja. semua yang ada adalah milikMu, yang Kau taklukan atasku. bukan karena aku, bukan pula untukku..

maka saya sering memilih sendiri saja
tak kesana, tak kemari…
islam indie..
demi tak banyak lupa diri
demi memberi arti tanpa pamrih
karena ternyata, semua yang sudah saya lakukan hanyalah untuk membunuh ego diri, menihilkan banyak keinginan duniawi..

teman saya yang naik haji cerita, kalau ada temannya yang memohon doa agar ortunya dapat hidayah dan bisa menerima iman islam. secara ortu temannya memang masih beda agama.
hehehe, jujur yaa…
saya tak pernah berdoa demikian. saya menghormati perjalanan iman orang tua dan keluarga saya.. bahkan siapa saja.

bahkan saya akan menangis jika mereka sampai memilih islam. kenapa?
karena sakit rasanya…
oops, maaf..
merdeka aja sih. tapi saya memang lebih ingin jika hal itu terjadi, hanya islam yang rahmatan lah yang mereka pilih. walau tentu setiap diri akan di uji atas apa-apa yang mereka niatkan sendiri…

saya bersyukur pada kemerdekaan ini. yang juga memberi kemerdekaan bagi ayah saya tuk menjadi dirinya sendiri. menemukan jembatan tuk menikmati perbedaan ini..
saya juga bersyukur, bisa memberi kemerdekaan bagi suami dan anak-anak saya, merasakan jembatan yang menghubungkan keragaman ini…

saya sendiri?
hehehe… saya lebih suka terdiam sendiri

menundukkan hati dari rasa ingin menguasai
ketika banyak hal sudah boleh saya nikmati
yang ada hanya rasa terimakasih
tuk gantikan sesal yang tiada arti….
😀

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

4 Tanggapan to “sesal yang tiada arti”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

beberapa hari yang lalu saya diundang malam amal sebuah lembaga dakwah. yang dulu juga saya kenal sangat fanatik. konon acaranya tidak terbuka untuk umum. hanya kalangan internal dan beberapa undangan.

ternyata suasana yang diciptakan di malam itu sungguh cozzy. diiringi live music dari 3 orang musisi. ditengah berbadan besar memeluk bas besar. dipojok seorang berkaca mata memainkan keyboard yang lebih berfungsi sebagai piano. ditengahnya seorang penggesek biola.

kebayang dong lagu yang mereka bawakan. dari lagu2 sweet memories, lagu2 kemerdekaan, lagu nasional perjuangan, atau lagu religi model lagunya afgan dll. dan kebayang dong suasana yang terbentuk dari sebuah lembaga dakwah yang dulu terkenal fanatik ini.

tapi yang menarik menjelang puncak acara, salah seorang pentolan mereka naik kepanggung nyanyikan lagu…
ebony…

hey…
ternyata mereka punya cerita menarik tentang masa lalu. tentang the beatles misalnya. tentu saja sebelum nyanyi beliau memberikan narasi yang intinya saatnya kita memulai tentang sebuah semangat persatuan dan kesatuan.
eh ternyata asyik juga lagu ebony. pas nyari ke toko kaset mas JM koq nggak nemu yah…

kalau K Anis menghormati perjalanan iman siapa saja, jadi setuju dong untuk menghormati “kebodohan” orang lain. Misalnya dengan menghormati pilihan orang lain untuk melarang penggunaan kata “Allah”. Seperti halnya kita juga ingin dihormati dengan pilihan kita, dan ngga mau terima kalau pilihan kita itu dibilang bodoh.
Sering, kalau saya ikut pengajian orang seperti saya ini juga dibilang bodoh, karena ngga mau mengaji dari ahli agama, dari golongan anu, bahkan kadang dibilang kafir. Tapi biar saja deh, kan yang bertanggung jawab atas pilihan saya, ya saya sendiri. Iya ga?

@kang trend
🙂

@iwal
haduh… kita ini kan makhluk sosial ya. ini juga termasuk misi penciptaan manusia kan? secara standar sebagai makhluk sosial kita akan terus berinteraksi. sbg makhluk yang berinteraksi maka wajar dalam kerangka saling menghormati dan menghargai perbedaanpun, sesungguhnya kita tetap akan saling ber-aksi dan reaksi. krn itulah interaksi…

berbeda jika kita ini makhluk egois yang hanya memikirkan diri sendiri.
bahkan mau egois seegois apapun, manusia tetap akan menemukan aksi reaksi sebagaimana sifat dari interaksi itu sendiri. dari aksi reaksi berupa wacana frontal atau mengkritisi langsung kepada ybs maupun sampai berupa nilai-nilai diri yang selalu kita contohkan,kerjakan atau kita negasikan… spt, minimal jadi kita enggan berkomunikasi dg orang bodoh misalnya. itu selalu terjadi toh?

nah, dalam segala aksi dan reaksi yang ada akibat interaksi kita, saya memilih tuk menghormati independensi manusia dalam beragama dan berkeyakinan. jadi independensi demikian juga lahir sebagai buah dari interaksi.

lah, saya mau paksakan juga orang ga ada yang mau di paksa toh? iwal juga ga mau toh? ya sudah, merdekakan saja. termasuk jika itu membodohi dirinya sendiri. kenapa juga saya sampai ekstrim begitu? krn manusia jika belum merasakan sendiri akibatnya, ya ga akan mau ngerti.

ini ciri manusia dalam taraf bebal. dia hanya mengerti jika azab itu di datangkan. ini ada dalam kitab sucikan? maka kadang di satu sisi tuhan itu baik, tapi di lain sisi tuhan jadi arogan, tega menghancurkan suatu kaum. ini ya akibat manusianya itu sendiri….

jadi ya sudah… selamat bertanggungjawab pada diri sendiri-sendiri.

tapi sebagai makhluk sosial tadi, ya kita tetap akan ber-aksi reaksi terhadap apapun dalam hidup ini. sekali lagi, tuhan selalu menang, pada konsepNya ttg manusia sebagai makhluk sosial. hehehe 😀

maka salud tuk indonesia yang bisa merumuskan hubungan luar negerinya yang bebas aktif. membebaskan apapun secara internal persoalan negara lain, tapi tetap ber-aksi reaksi aktif dalam rangka sejatinya sebuah negara yang hidup bersama di dunia ini. see? sederhananya itu krn indonesia mengenali bagaimana manusia itu sejatinya… bahkan sampai ketika manusia itu bernegara.

@iwal
potensi pembodohan dan kebodohan itu selalu ada yaaa.. dalam hal apapun, termasuk beragama dan bernegara. penjajahan hampir keseluruhannya di mulai dari pembodohan.
saya ga mau menjajah, maka saya membebaskan. hehehe 😛

tapi saya berwacana itu ya fungsi sosial sbg manusia pada umumnya juga, saling mengingatkan. selebihnya, merdeka.. 😀


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: