ketika langkah itu surut

Posted on Desember 11, 2008. Filed under: islam indie |

(di lepas ya.. tadi baca sesuatu di sebuah blog, membuat saya teringat ini..)

di tahun ketiga saya menjadi mualaf, kalau tidak salah, saya sempat mengeluh pada ibu saya.
mengeluhkan boikot ekonomi darinya, sikap-sikap kagok diantara kami selama itu, belum lagi sampai 5 tahun lamanya ayah saya menolak melihat wajah saya. juga mengeluhkan betapa letihnya saya beradaptasi di lingkungan muslim tempat saya berada, bingungnya saya dengan begitu banyak ibadah dalam islam, harus ini harus itu, juga bingungnya saya dengan begitu banyak polemik dalam islam yang perlahan-lahan mulai nampak nyata di mata saya..

hanya mengeluh sih..
walau sejujurnya ada juga rasa ingin berhenti. rasa ingin mundur atau murtad?
ah, padahal saya tak pernah terpikirkan kata itu ketika masuk ke dalam islam..

lah, ternyata ibu saya melarangnya!
katanya begini..
capai dulu kebenaran yang ingin di cari. jangan setengah-setengah. setengah jalan hanya akan melahirkan kebencian dan orang lainpun hanya akan memanfaatkan..

saya sempat kaget, bukankah seharusnya beliau bahagia jika saya kembali kepada agamanya?
ternyata tidak tuh. beliau tidak kenal kata murtad, jadi bukan itu yang ditakutinya.

beliau hanya takut jika saya hidup dalam kebencian…

maka hari ini, saya tidak pernah bisa membenci keduanya.. baik agama saya sebelumnya, maupun agama saya kini, yang penuh polemik ini..
dan sejujurnya, di setiap agama memiliki polemiknya tersendiri.

demikianlah saya dalam beragama. bukan di dalil-dalil.
karena waktu saya habis tuk melakukannya, merasakannya dan mengalami semuanya. maka kadang saya kehilangan kata tuk melukiskan rasanya.

dan jika di tanya apakah saya sudah menemukan kebenaran yang saya cari?
hmm, saya menundukkan kepala deh.
semua tulisan di sini, itulah saya…
hehehe..
dan saya bersyukur atas semua ini..
kepahitan yang ada telah menjawab banyak hal dalam hidup dan mendewasakan diri saya.
alhamdulillah… πŸ˜€

selebihnya, sederhana.. percayalah tuk menjadi indonesia yang bhinneka tunggal ika. mari isi hidup penuh kebersamaan ini dengan manfaat yang banyak. terus kritisi kehidupan tuk mencapai kebaikan yang lebih unggul dan unggul lagi.

semua sejarah kemajuan peradaban selalu di mulai dari pemikiran yang kritis dan realistis.
.

ketika langkah itu surut, saya selalu menemukan orang-orang yang menguatkan. seolah tuhan enggan saya jatuh. seolah tuhan enggan saya mengeluh. semata karena tuhan ingin saya maju dan mencapai kesejatian yang saya rindu..

.

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

9 Tanggapan to “ketika langkah itu surut”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Subhanallah…
bahkan orang yang sedari kecil udah muslim pun masih banyak yang belum berpikir sejauh itu.

Subhanallah… semoga kamu *aku juga* tetap di jalan yang benar.

amin..

Subhanallah, how touching πŸ˜₯
*epaluasi diri*

tetaplah berada di atas, dan ceritakan bagaimana keadaan kami yang masih di bawah ini…

Kesabaran yang baik adalah kesabaran tanpa keluhan,tanpa kegelisahan, tanpa tekanan, tanpa berpaling. Yaitu lisan dan hati sama-sama bersabar. Namun, kesabaran yang baik ini bukan berarti tidak sakit hati dan tanpa tetesan air mata, karena kita hanyalah manusia biasa.
Tuhan menguji kita hanyalah untuk meninggikan derajat kita. “Jika iman kita kuat, musibah pun ditambahkan atasnya.”
(Amru Khalid)

“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang seperti mereka dan seterusnya. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar keimanannya, jika iman mereka kuat, ujian pun ditambahkan baginya dan jika imannya tipis, ia pun diuji sesuai dengan tingakt keimanannya.” (HR. Tarmidzi)

Mbak Anis yang baik dan selalu bersabar, bertahan yak πŸ™‚

@roons
@lumiere
@arai
@trendi bandung
@darnia
aduh, aduh, aduh…. jangan serius banged donggg, itu cuma pelepasan aja kok..
seperti tarik nafas dalam-dalam trus hembus sekaligus, puufhhh… !
hehehe πŸ˜€
makasih, mohon doa aja yaa..
ditemani di sini aja sudah seneng kok rasanya.. makasiiiihhhhh πŸ™‚

Buk..saya lagi mikir…bu Anis ini menulis banyak banget, rajin dan isinya konsisten di jalan yang memang diinginkan.
kok gak capek ya…ada saja bahan ato idenya.
ngurus hobby saja saya gampang bosan.
saya sih tambah seneng kalo bu ANis rajin menulis..bisa memberi semangat, bisa membuat saya selalu ingat sama Beliau…

@mas datyo
haduhhh… mas datyo sampai kepikiran begitu, hehehe…
rajin? ga juga sih mas… ini karena senang aja bersama semua di sini. soal konsistensi, hmm…saya apa adanya aja mas. ga kepikir sejauh itu. soal ide, naaaahhhh… karena tuhan ada di hal-hal kecil, maka apa saja bisa jadi inspirasi mas.. hehehe, *maksa* πŸ˜›

@kang trend
mas datyo tidak sedang memuji kok, kang. malah sedang merayu… tuk tulis lagi donggg… ya kan mas yaa??? *masih maksa nih* hehehe… πŸ˜€

saya menulis tuh ya menulis aja. kadang perlu di paksa juga, kalau sudah terlalu malas. kadang di paksa e… malah makin malas. cewek banget deh, gimana mood.. πŸ˜› jadi santai aja yaa..

jangan terlalu memuji mba anis lho mas datyo (sama mba nya). kalo sudah dipuji nanti mogok nulis lho…
hehehe

ngga ya mba ya…


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: