jarak jiwa

Posted on Desember 17, 2008. Filed under: islam indie |

(di bagi yaa.. ada yang unik di sini.)

agama sering menghimbau agar manusia pemeluknya menjarak dari dunia. karena dunia itu katanya sering melenakan, menipu dan hanya permainan belaka. bahkan melupakan manusia dari tuhannya.

klise toh itu?
kita sering mendengar nasehat begitu, kita imani ajaran itu, tapi kadang kita tak bener-bener pahami bagaimana bisa begitu.

agama memberikan pola khusus agar manusianya bisa menjarak dengan dunia. sholat, puasa, zakat sampai haji. sholat tuk terus mengingat tuhan dari sekian kesibukan dunia yang padat dan rapat. puasa tuk menjarak nafsu dari segala yang biasa di lakukannya. zakat tuk terus menjarak manusia dari harta yang di perolehnya. bahkan haji menjadi sebuah “prosesi seolah-olah” tuk menjarak manusia dari dunia. meninggalkan harta benda dan semua yang di cintai tuk berangkat menjadi tamu Allah.

itulah agama, dia berusaha mengajari dan menumbuhkan semangat mencintai tuhan dan menjarak dari dunia. sehingga katanya, ambillah yang secukupnya saja.

tapi ga sampai situ, beberapa manusia malah menambah prosesi itu, demi lebih dan lebih baik di mataNya. sholat malam puluhan rakaat, puasa sunat daud, zakat melebihi 2,5%, dan haji berkali-kali.

tapi apa yang terjadi? semua itu berkali-kali masih menjadi sebagai sebuah prosesi. memang, ada rasa sholeh karena sudah sholat malam, sudah puasa daud, sudah zakat lebih dari 2,5% juga sudah haji dan hajikan si ini itu. tapi…….
tetap tidak memiliki banyak kontribusi secara sosial yang lebih dalam. korupsi jadi budaya, manipulasi hal biasa, empati barang langkah, sampai keterpurukan bangsa dan negara adalah wajah yang dipertahankan, bahkan oleh mereka-mereka yang mengaku “paham” agama dan yang nyaman dengan kesenangannya selama ini.

apakah manusia bisa mengira semua prosesi itu cukup? ya jelas tidak dongg… toh itu cuma simbol??

maka cermati ini..
apa yang di simbolkan dengan peribadatan demi menjaraknya jiwa dari dunia yang melenakan, sesungguhnya terjadi setiap saat bahkan dalam setiap tarikan nafas kita. juga dalam setiap inci dan senti garis wajah kita. hanya saja sering tak kita sadari.

mau tahu?
contoh, ketika kita sakit batuk aja. maka kita sejenak berpantang. bicara jadi berkurang, karena tenggorokan gatal minta ampun. maka jika kita suka bentak-bentak, sejenak kita istirahat dari bicara bentak-bentak. ini contoh fisik..

contoh agak dalam, ketika kita mengalami musibah kematian orang yang kita cintai. jelas ini menyadarkan kita akan hidup yang ada akhirnya. membuat sadari, rasa cinta saja tak akan pernah mampu memiliki semuanya. ini mulai bikin perasaan menjadi tak berlebihan deh.

contoh lebih dalam lagi, ketika setiap hari kita berbeda pendapat dalam rapat, dalam berbicara dst-dstnya. membuat kita sadar bahwa ada yang setuju juga ada yang tidak setuju. ada yang suka juga ada yang tidak suka. semua tidak akan seluruhnya berjalan spt mau kita. maka di sini, kita mulai belajar merasa jangan memaksakan kehendak, belajar mencari titik temu.

sampai contoh paling parah, kita mengalami abuse. mengalami teror jiwa, berupa rasa tidak nyaman, rasa selalu bersalah, rasa tak berarti, sampai membunuh karakter kita. di sini, kita di paksa menerima kenyataan pahit tentang diri sendiri dan sekitar. membuat kita harus mau banyak introspeksi diri, tetap mengkritisi kenyataan dan mengukur kapasitas terbaik kita pada hal tersebut. menemukan rasa cukup tuk semua pihak.

persoalannya kemudian, semua itu ga harus membuat hidup kita hancur berantakan.
sakit, itu memang iya.
hancur, itu juga iya.
tapi sadari dong, bahwa itulah proses sejati menjaraknya jiwa dari dunia

itu membuat kita mengenal kata tawakal (jiwa yg handal), mengenal kata qona’ah (jiwa yg cukup), istiqomah (jiwa yg kukuh) dsbnya.

menjadi sebuah refleksi peribadatan yang luar biasa..
bukan sekedar simbol-simbol lagi. malah simbol-simbol itu menjadi hanya pelengkap saja tuk lukiskan perjalanan jiwa yang sesungguhnya.

see?

naaa… indonesia apa ga juga gitu?
coba kita cermati..

dari sederhana di jajah pihak asing yang terlihat bentuk kasatnya, sampai hari ini terjajah oleh nafsu-nafsu manusia indonesia sendiri. dari kehilangan kekayaan alamnya, di klaim kekayaan budayanya, di curi pulaunya, di rendahkan ideologi negaranya bahkan lagi-lagi oleh bangsanya sendiri, dst-dst…
Indonesia terus mengalami kemunduran kualitas kehidupan sampai mengalami pembunuhan karater bangsa. di juluki negara korup, bangsa ga taat aturan, negara hukum berantakan, jorok, bebal, ga agamis, ini itu.. ah… lengkaplah sudah.

lantas, apakah itu akan membuat indonesia hilang dari muka bumi?

sekali lagi, itu adalah proses tuk menjarakkan jiwa manusia indonesia dari dunia. tuk menjarakkan manusia indonesia dari kemalasan akan begitu banyak nikmat kehidupan dari anugerah alamnya.
dan percayalah pada tuhan, yang memang membuat semua kepahitan itu untuk melahirkan kualitas terbaik dari manusia2 pilihanNya, sampai kemudian menjadi bangsa pilihanNya.

maka ayo menjadi bangsa yang handal, bangsa yang cukup, bangsa yang kuat bagai baja. karena jiwanya terlatih, karena jiwanya terdidik… bahkan terdidik langsung dari tuhannya.

bukan terus menerus berkutat di soal simbol-simbol itu..
karena seperti semua sadari, simbol itu hari ini -ketika dia di lebih-lebihkan, malah menjadi tanpa arti.

maka kalau hari ini bangsa indonesia mau menambah ibadah tuk semakin sholeh di mataNya, sepertinya lebih cocok kalau kembali bersatu, bahu membahu, jangan bertingkah dua wajah, jangan lagi egois dan pamrih tuk kelompok dan golongannya saja, tulus pada bangsa sendiri, bangkit dan jangan lagi pernah menyalahkan siapa-siapa, selain mari berkorban dan mari menuju kehidupan yang lebih baik di depan sana. kalau perlu tanggalkan semuanya, cukup satu nama yang di tuju : indonesia.

*

inilah agama yang sesungguhnya.
dari tuhan yang kuasa
tentang kitab yang nyata
kitab suci yang bernama hidup itu sendiri
tuk mereka yang berpikir
lagi-lagi tuk mereka yang berpikir
mereka yang selalu mengingat nilai hidup ini
dalam keadaan tegak dan berbaring

demikianlah bagaimana sebuah kehidupan itu bisa mencetak manusia-manusia yang berkualitas dalam nilai dan tercatat dengan tinta emas dalam sejarah..

maka dia dinamakan agama fitrah..
agama dalam bahasa seorang arab bernama Muhammad saw..
bukan tuk berlebihan tentang Muhammad saw, tapi tuk benar-benar memahami agamaNya. agama yang berarti hidup itu sendiri..

*

btw : maaf sebelumnya, di beberapa pengajian tertentu, dari yang berbau zikir panjang sampai sholat mantap, menjarak jiwa ini di pelajari. bahkan sampai apa yang di harapkan menjadi out of the body experience. demi jiwa menjarak dari dunia yang sangat luarbiasa, mencapai ukuran yang di pikir tinggi.

kalau menurut saya, –sederhananya– dari keseharian, jarak jiwa ini juga sudah terjadi senantiasa kok. hanay kurang bisa di maknai. dan karena juga ga semua hal harus selalu di maknai. boleh-boleh saja di nikmati dan di syukuri dengan tulus dan santai.

maka ga usah sampai harus segitunya deh, bahkan mengeluarkan biaya yang mahal sekali. agama jangan dijadikan barang konsumtif. toh, kalaupun mau di jadikan barang konsumtif, berhubung agama menyoal jiwa/spirit, maka bayarannya juga akan mahal sekali. kan wamahyaaya wamamaatii lillahi’rabbil’alamin… hidupku dan matiku untuk tuhan. sekali lagi, ini menurut saya. đŸ˜‰

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “jarak jiwa”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

mba anis, bangsa indonesia ini bukan hanya menjarak dari dunia. tapi menurut saya ia sedang ditinggalkan dunia, dan dijauhi akhirat.

wuih, koq mengerikan banget kesannya.

ngga deh, saya cuma berpendapat, kita cuma harus segera sadar saja. untuk mengurus dunia, berupa sandang, pangan, papan saja kita masih terlalu bodoh. bahkan terkadang sampai tidak tahu kalau itu perlu. atau yang lainnya merasa tidak mampu dan akhirnya tidak mau.

mari kita mulai dengan menyelesaikan urusan sederhana soal sandang, pangan, papan. supaya kita bisa mengisi simbol2 ibadah ritual itu dengan cita rasa kehidupan yang lebih baik.

@kang trend
menjarak dunia ini maksudnya, tidak di taruh dalam hati. tidak merasuk di jiwa.
cukup di tangan aja. dan secara fisik emang dunia akan selalu ada di tangan manusia.

persoalan kenapa distribusi kekayaan malah di kuasai kekuasaan, ya karena di taruh di hati. enggan di bagi sampai ke rakyat kecil. ini yg di kenal dengan yang kurleb berbunyi, jika gunung dan lautan di berikan di tanganku, tentu tak cukup mengganti tuhanku. gitu ga sih? ya pokoknya bukan dunia itu sendiri tujuan dari penghambaannya. jadi bukan dunia yang meninggalkan manusianya, tapi manusianya yang memenej dunia.
maka inilah yang harus dibiasakan dari bangsa ini. pengkavling-kavlingan kekayaan alam itu harusnya di atur tuk sebesar-besarnya membuat indonesia bangkit deh. bukan hanya tuk memperkaya segelintir orang. perlu semangat pengorbanan.

gitu deh…


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: