ketika cahaya meredup

Posted on Desember 18, 2008. Filed under: islam indie |

(maka karenanya saya menulis tentang cinta.. halahh.. hehehe)

menurunnya kualitas kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara, langsung atau tidak langsung turut membuat iklim kehidupan kita memburuk. tak melulu menyoal yang fisik ya, itu hanya sepersekian deh dari persoalan sebenarnya, –atau sebut saja– terlalu banyak variabel kalau menyoal fisik. yang lebih esensi, justru soal jiwa-jiwa yang ada di dalamnya.

maka di beberapa orang, agama menjadi dicari bahkan dibayar mahal sekali, tuk menyelamatkan jiwa manusianya. tak sampai di situ, ketika agama dicari-cari, agama malah dipolitisasi dan dimanipulasi tuk memenangkan pihak-pihak tertentu. agama digunakan tuk menguasai jiwa. fisik bernama simbol-simbol agama mengurung jiwa dan mengarahkan jiwa hanya tuk kepentingan-kepentingan fisik –bernama “agama”– itu sendiri.

prihatin…

padahal sesungguhnya, soal jiwa ini sederhana saja.
bak api, dia hanya terang saja.
atau bak air, dia hanya sejuk saja.
atau bak udara, dia hanya mengalir saja.

dan agama seharusnya bisa memerdekakan jiwa itu. menyadari siapa tuhannya dan menemukan jati dirinya..

maka saya sedih, jika fisik tempat jiwa ini bermukim di kuasai, dianiaya, dikebiri, dipaksa dsb-dsbnya, sampai di luar batas kemampuannya. karena setiap manusia memiliki kapasitasnya masing-masing. maka akhirnya jiwa ini akan membara, akan keruh, akan tersumbat dan siap meledak.

yang setelahnya kemudian meredup dan terasa ingin padam.

inilah yang terjadi di sekitar saya dalam beberapa hari terakhir ini.
jiwa-jiwa yang meredup. keletihan dan nyaris hancur berantakan. hiks..

maka mari kembali pada sumber segala sumber
sumber tempat jiwa diadakan, dibagi atau bahkan –katanya– dihembuskan.

adalah cinta sumber kehidupan,
adalah ilmu juga sumber kehidupan.

seperti air dan matahari bagi kehidupan yang fisik ini.
yang karenanya anak-anak terus menerus lahir ke dunia dan menjadi bagian dari rantai panjang kehidupan. dan yang karenanya kehidupan berdenyut, berdinamika, menjawab segala tantangannya dengan pengetahuan, bahkan melahirkan teknologi.

maka basuhlah kembali jiwa yang meredup itu dengan cinta. dan bimbinglah jiwa yang ingin padam itu dengan ilmu.

ajari dengan hikmah, bimbing dengan pencerahan.

bukan melulu dimarah, disalahkan, dibendung, dilarang, di kebiri. biarkan dia mengkritisi, itu tanda dia ingin jeli. biarkan dia protes, itu tanda dia ingin ada. biarkan dia berpendapat, itu tanda dia berpikir. biarkan dia bergerak, itu tanda dia bisa.
lalu ajari dia tuk instrospeksi, evaluasi, negosiasi dan kompromi. tanpa kehilangan cahaya sejatinya..

tak ada manusia yang sempurna, maka berjalan bersama, belajar bersama, bersinergi dan berkolaborasi, tentu bisa indah dan menyenangkan…

kualitas yang menurun di kehidupan kita, selayaknya bisa membuat jiwa ini tetap sehat tuk melahirkan pemikiran-pemikiran yang cemerlang. tuk melahirkan generasi-generasi yang berkualitas ke depan.

maka cinta, seandainya dia bisa membasuh keletihan
maka ilmu, seandainya dia bisa membimbing di perjalanan
bermurah hatilah mulai saat ini, pada jiwa-jiwa yang meredup di tengah perjuangan dan perjalanan panjang ini…

dalam apapun bentuknya,
semoga bisa mendapatkan refleksinya

jangan biarkan dia padam
dalam rindu penuh dendam

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

6 Tanggapan to “ketika cahaya meredup”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

cinta kan membawamu
kembali disini
menuai rindu
membasuh perih…

*betul ga teksnya mas JM?*

@kang trend
yup, tuh lagu dalem bangett.. 🙂

baca-baca tulisanmu mbak, jadi pengen ketemu, ngobrol, berbagi, belajar… kapan yaa?

@mbak indah
kapan yuk ketemu.. sudah di follow up di FB kan?

^-^ sweet..

@lumiere
makasih… ^-^


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: