saudara tua

Posted on Desember 24, 2008. Filed under: islam indie |

(di bagi yaa…)

beberapa hari yang lalu, saya dibawa oleh teman ke sekolah anaknya, sebuah sekolah islam milik yayasan dari yaman.
nah, cerita teman saya, di libur hari natal, sekolah tersebut hampir selalu mengadakan acara di sekolah. apa sajalah. karena katanya sebagai umat islam kita tidak mengakui natal. maka sebaiknya anak-anak tetap ke sekolah.

tapi dasar orang indonesia, walhasil.. jarang ada yang datang juga ke sekolah, karena kan tanggalannya merah. banyak yg izin.. dan kebanyakan juga memilih mengisi libur natal bersama keluarga, walau juga ga bilang-bilang kalau aslinya ya tetap ga turut merayakan natal.

jadi teman saya ini bertanya apa pendapat saya…
saya hanya bisa bilang…. jadi diri sendiri aja deh πŸ˜›

waktu saya kecil ketika masih kristen, teman-teman -yang muslim- biasa memberikan saya kartu natal. kadang datang ke rumah, jemput saya, trus kita jalan-jalan bareng… rame-rame. sama seperti kalau idul fitri, saya ke rumahnya. pastinya setelah acara keluarga selesai ya.. trus ikutan ngucapin met lebaran. trus kita main bareng. santai aja tuh.. itupun bersama teman-teman nasrani dan muslim yang lain..

bahkan pernah di suatu imlek, padahal saat itu imlek belum dibebaskan perayaannya seperti sekarang ini, saya bersama teman-teman ke rumah teman yang merayakannya.

rasanya dulu, kita ga menganggap agama adalah ancaman, sehingga harus dialihkan atau diisi dengan kegiatan lain yang ..gimana gitu.. agar ga terganggu oleh kegiatan agama lain.
justru semua terasa biasa-biasa aja deh..

ga tahu yaaa,
sebetulnya apa sih yang kita takuti dari perayaan agama orang lain?
kita hanya cukup menghormati, menghargai kesibukan mereka, turut gembira di hari besar mereka, selebihnya toh… kita akan sibuk dg urusan kita masing-masing..
hehehe..

entahlah,
indonesia emang suka jadi penyembah pemodal sih.. πŸ˜›

jadi inget sejarah waktu Jepang datang ke Indonesia deh..
mereka – para jepang itu – mengaku sebagai saudara tua indonesia, bahkan berjanji akan memerdekakan indonesia dari belanda dengan cara mereka. rakyat indonesia ikut jadi tentara jepang, PETA, ini dan itu ala jepang deh. tapi apa yang terjadi? alih-alih dimerdekakan, kita malah di jajah lebih parah. sangat parah malah..

sejarah indonesia menoreh kepahitan ini

alhamdulillah, bahwa ternyata para indonesia waktu itu sangat cerdas dan sangat memiliki prinsip yang luarbiasa sebagai indonesia, sehingga bisa mengambil celah tuk memerdekakan indonesia.

dan bagaimana dengan jepang sang saudara tua?
dia hancur bersama perang miliknya sendiri.

maka kadang saya pikir, sentimen2 keagamaan yang terjadi di timur tengah ga usah di bawa ke indonesialah.. indonesia ini punya PRnya sendiri… piss deh…
ini menurut saya loh.. πŸ˜›

teman saya bilang gini, suami salah seorang temannya di sekolah itu sedang naik haji. kata temannya, suaminya ke tanah suci tuk ke tanah leluhurnya. teman saya jadi bingung mendengar itu. komennya, eeee… suaminya kan asli orang minang, kok leluhurnya orang arab ya? apa ada keturunan arabnya?
hehehe… saya senyum-senyum saja, malas melebarkan pembicaraan..

ah, sudahlah…
temui saya bangga sebagai indonesia
menikmati kebersamaan khas indonesia
sebelum semua ini hilang tanpa bekas
meski saya bukan asli indonesia
‘cos saya indonesia keturunan cina nih.. πŸ˜›
boleh kan? πŸ˜‰

.

tadi saya ketemu dengan penjual dvd dan vcd original plus bajakan di sebuah toserba. dia sering melihat saya bersama suami belanja di toserba itu. maka dia bertanya..
– ndak sama suaminya bu?
– suami? kerja dong
– belum libur natal, bu?
– belum..
– ibu ini aslinya mana sih?
– saya? saya dari lampung.
– ada keturunan cinanya ya bu?
– iya..
– pantas.. biar pakai jilbab, kulit ibu putih sekali..
– hehehe.. mas ini asli minang ya?
– kok tahu?
– wajahnya wajah minang..
– hahaha, betul bu. saya dari bukit tinggi. asli, di kota bukit tingginya. ibu sendiri lampungnya di mana?
– tanjungkarang. kota juga.
– ah, bu. saya nih bangga dibilang minang sama ibu. dari dibilang padang. biasanya sih memang di bilang orang padang, tapi kalau bisa — kalau bisa nih dalam arti tidak maksa–, atau lebih sreg ya dibilang orang minang.. aslinya memang dari suku minangkabau.

lalu di jelaskannyalah saya tentang tiga kota tempat asalnya suku minang asli. selebihnya sudah bukan asli minang. seperti jawa barat itu bandung, tasik, garut, cianjur, selebihnya cirebon, bogor dsbnya sudah beda sundanya. mas itu sendiri menikah dengan orang sunda, asli lembang.

lalu katanya setelah semua itu..
– mainlah bu ke bukit tinggi. sejuk kotanya. istri saya dibawa ke sana, betah. masih lebih sejuk dari lembang sekarang.
– makasih uda, insyaAllah pengen banget. saya pengen keliling indonesia.
– hahaha.. betul itu. ndak usah keliling dunia, keliling indonesia sajalah.
bla-bla-bla… kamipun tertawa bersama, sampai diperhatiin karyawan uda itu yang menjaga dagangannya..

seru ya indonesia… πŸ˜€
saya kok sangat percaya pada jiwa indonesia kita..
entah kenapa…
intinya, realistis aja yuk dengan keindonesiaan kita
gitu ga sih?

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

8 Tanggapan to “saudara tua”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

emang dasar anak indie, tetap aj g mo disama-samain πŸ˜€

jika hendak konsisten dg perbedaan, perkuatlah perbatasan.
mencari kebenaran, tak akan didapatkan dari persamaan dg sesama insan.
dengan kewaspadaan dan kesabaran, jgn pernah berharap sedikitpun pada sesama ciptaan.

mengenal diri jalannya banyak tak terhingga.
tapi diri yg sebenar diri, hanya bisa diketahui melalui satu pintu.
tak akan munkin bisa dimasuki jika yg Haq dan Bathil msh disama-samakan, dicampuradukkan.

Tentu saja ini bukan ttg spiritualis, moralis, fundamentalis maupun liberalis.
Ini ttg individualis.
Jd kalo g siap di anggap berbeda, lbh baik jd sosialis aj.
Individualis seringnya dianggap keparat dan sesat..
Tp sapa yg tau, apa isi hatinya πŸ™‚

@mas aryf
hehehe.. makasih mas.. πŸ™‚

terlalu banyak definisi, mengaburkan diri
dengan manusia, saya hanya kompromi
selebihnya tahu diri, cukup Dia yang dihati

saya sendiri sedang menunggu hari
melawan jemu dan menahan diri
tentang dariNya tuk kembalikan pada Nya jua

saya hanya berusaha sabar dari rasa insani
mengerti tak untuk mencaci
memahami tak untuk menguasai

terkesan tak pasti?
saya memang baru di sini…
menahan diri, menunggu hari πŸ™‚

untuk tumbuh tinggi ke atas tidak harus mencabut akar. untuk berbuah lebat tidak harus mengganti akar.

kita hanya perlu faham, bahwa kita harus tinggi dan berbuah dengan tanaman kita ini. kita bisa tinggi dan berbuah bahkan lebih tinggi dan lebih lebat dari siapapun. hanya karena kita mengolah apa-apa yang menjadi potensi dalam tanaman kita ini.

mari kita cari dan lihat pada esensinya, tumbuh tinggi dan berbuah lebat. berkaitan cara mari kita lihat apa yang paling tepat untuk tanaman jenis kita ini.

eh maaf mba anis kalo ngelantur…

mmm, kata siapa ya mengenali diri itu hanya bisa diketahui dari satu pintu? (buat aryf)

@mas aryf
@iwal
hehehe…
hanya satu? maka dengannya yg hak dan bathil terlihat bedanya?
kapan-kapan kita bahas “satu” ini yuk… mau?!

kata saya..emang kenapa?
…..
saya bicara ma anak indie, kok sampeyan yg ngurusi?
kalo yg laen pd keki, sapa suruh g nyari sendiri?
kan udh dikasih tangan dan kaki?
msh juga g bisa mandiri?
kan udh dikasih mata dan telinga, knp g dipake utk hal2 yg berguna?
udah punya hati, kok bisa2nya percaya gitu aja.

jgn salahin sapa2, apalagi sampai berburuk sangka.
ini blognya si indie, kok nanya2 pula ma saya?

saya ini gelandangan, so dmn ada tmpt berteduh, pastilah menepi dan menyapa.
apa sampeyan pgn jd gelandangan juga?
ntar susah, so lbh baek terima aj apa yg sudah Allah berikan utk anda.

Akuuur.
Kebanyakan kita (termasuk saya) berusaha untuk mengaplikasikan sesuatu yang asing dengan cara/gaya orang asing.
Padahal kan sah2 aja kalo kita aplikasikan dengan gaya kita, selama prinsip dan GBHN nya sejalan.
Contoh kecil dalam Islam, saya paling bosen dengerin khotbah jumat di suatu mesjid dekat rumah saya yang selalu menggunakan bahasa arab dari awal sampai selesai sholat jumat. Lah, kitakan disuruh memperhatikan khotbah, apanya yang diperhatiin kalau yang diomongin aja gak jelas.
Sama halnya saat berdo’a. Saya disuruh Guru saya berdoa dalam bahasa ibu yang diperhalus dan dimesra2kan daripada pakai bahasa arab yang kita ragu benar-salah nya dalam pelafalan, apalagi doa2 bahasa arab yang kita ga hapal artinya (cuma ngafalin arabnya aja biar keliatan pinter bahasa arab :P)
Allah bukan orang arab, Allah tidak tinggal di Mekkah.

:Realistis aja yuk dengan keindonesiaan kita:

So be it πŸ˜›

@amanata
akur jugaaa…
mari realistis soal keindonesiaan kita..
e, saya kemarin dapat ole-ole cerita yang realistis dari teman yang pulang haji. mau tahu?


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: