tekanan eksakta

Posted on Desember 26, 2008. Filed under: islam indie |

(di lepas yaa…)

alkisah, saya memiliki seorang teman. anaknya pinter luar biasa dan menekuni dunia pendidikan tingkat tinggi. kapasitas otaknya memang ok punya deh.

saya mengenalnya sebagai adik angkatan di organisasi. jadi biar dia lebih pinter dari saya, hehehe… dia tetap pernah tercatat bekerja dalam team yang di pimpin saya. segitunya.. dooo…
catat : itu cuma organisasi suka-suka rela-rela gitu aja kok. jadi wajar aja dia bisa bekerja di bawah saya..

kita di penelitian dan pengembangan tuk organisasi tsb..

tahun berlalu, lama saya tak bertemu teman-teman. sampai sekitar 2 tahun yll, saya bertemu dengannya dalam keadaan yang sangat tidak saya inginkan. kebetulan saya saat itu baru keluar dari rumah sakit, dan dia lebih sakit lagi. jiwanya yang sakit.
jelas dalam keadaan diri sendiri sakit, saya sulit tuk membantunya.. maka semua berlalu dalam rasa prihatin yang dalam dari saya setiap mengingatnya…

sampai seminggu yll, saya menerima telpon darinya..
dia memanggil saya : kak anis
– kak anis, tolong saya dong. saya bisa sembuh ga yaa? kata psikiater saya bisa sembuh asal melakukan terapi yang tepat. saya menderita bipolar disorder…
bla-bla-bla.. dia menjelaskan kondisinya..
(catshadeeeeee….! saya inget catshade deh, teman kita di blog ini yg berlatar belakang psikologi 😉 )

awalnya saya yang panik mendengar curahan hatinya. gemetar sendiri. bukan apa-apa. saya pernah memimpikan apa-apa yang dia ceritakan!
haduhhh… saya nih orangnya suka cuek. saya suka berkata apa yang ingin saya katakan, termasuk jika saya bermimpi atau mengalami pengalaman yang seru-seru. lah, sudah itu ya sudah. giliran teringat gini, saya suka lupa, waktu itu persis mimpinya gimana yaa???

dan… ah, saya nih juga suka bereaksi yang gimana saya aja. ga mikir panjang. maka beberapa teman suka ngomel saya kaya anak kecil. padahal nih, segini tuh saya sudah menahan2 diri. sudah belajar dewasa nihhhh… 😛

walhasil.. –mungkin catshade secara psikologi tidak setuju–… saya bilang begini padanya..
– eee… udah-udah. jangan diinget-inget melulu nama sakitnya. ntar tambah sakit benaran kaya gitu. jeng (sebut saja begitu) hanya sedang tertekan, dan terlalu lama tak menemukan jalan keluar. itu bukan sakit, itu hanya sedang tertekan yaa… santai aja. ok? jiwa jangan terlalu di eksak-kan..

lah, jawab dia gini..
– tapi kak anis. semua gejala yang dituliskan itu sama dengan sakit itu. psikiater saya juga bilang itulah yang saya derita. saya sudah diberi obat ini itu… termasuk harus membatasi sosialisasi.
hmm.. berjenis anti depressan, obat penenang sampai stabilizer emosi.

pfuhh!
pada saat tenang, teman saya terasa biasa saja. saya membukakan akses padanya tuk kapan saja menghubungi saya. telpon kek, chating, imel apapun deh. saya ingin dia tetap keep in touch dengan saya.
memang sih, dulu pernah dia meng-sms saya dengan caci maki, seolah saya adalah stressor bagi hidupnya. saya ya menerima saja, tapi setelah itu konon dia dihalangi pihak keluarga tuk memiliki hp, kompi dsbnya..

naluri aja ya,
saya merasa teman saya butuh teman. dan saya bersedia menjadi temannya. apapun yang tengah dihadapi, tidak akan menghalangi pertemanan itukan? selama tentu tidak membahayakan secara fisik ya.. 😉
saya hanya ingin bilang, teman saya itu mengalami tekanan dan masih kesulitan mengatasinya. so plis.. beri waktu dan bantu dia mengatasi itu.. bukan malah terus di perlakukan sbg pesakitan..

hmm, kenapa kita jadi ragu akan teman kita sendiri?

dan sama, baru satu imel saya terima, tiba-tiba tak lagi berbalas. sampai kemarin, saya menerima telpon darinya lagi. kali ini dia seperti lebih lemas dari biasanya. pengaruh obat mungkin..

katanya
– kak anis, maaf saya tidak bisa membalas imelnya. komputer saya rusak.
– ooo, ya ga papa. tapi kabari ya kalau ada apa-apa. saya tetap di sini kok, selalu menunggu kabar dari jeng.
– iya kak..
lalu mengalirlah banyak keresahan.
– saya ingin hidup saya kembali kak. rasanya terlalu banyak yang hilang…

hmm…hmm..hmm…
saya ya santai aja bilang gini..
– dulu.. saya sampai nyanyi lagu slank yang liriknya gini : balikin.. o,o balikin. hidupku spt dulu lagi… tapi… tetep tuh ga kembali-kembali…
dia tertawa di ujung telpon..
– trus kak anis gimana?
– hidup kan ga bisa mundur. jadi sia-sia berharap semua itu kembali. maka saya merubah cara berpikir saya.
– berubah gimana?
– ya saya berpikir tuk lahir baru kembali aja..
– oya?
– iya…

seperti pohon teh di dataran tinggi itu. ada masa dia mengalami frost, karena udara terlalu dingin. ini terjadi justru di musim kemarau, biasanya dimalam hari udara mendingin dengan hebat, lalu pagi harinya pohon teh itu menghitam. nah, bagian pucuk teh yang menghitam itu kemudian di tebangin. dengan harapan kelak bisa tumbuh tunas baru dan tanaman menjadi sehat kembali. dan rasanya seolah lupa deh kalau kemarin mengalami forst ketika tunas-tunas tumbuh kembali. 😀

atau kalau yang berbau agama, ada di kisah sunan kalijogo tentang tanah. setelah mengalami panas hujan maka permukaan tanah akan keras dan bahkan rusak. maka secara berkala tanah harus di gemburkan kembali, di balikan permukaannya. sehingga yang dari dalam diangkat ke atas. memberi rongga, mengalirkan oksigen ke dalam tanah. yang kelak kalau di tanami, tanah berpotensi menghasilkan dengan lebih baik dari sekedar di biarkan keras dan mengering..

mungkin dalam hidup, kita juga mengalami hal demikian..

hidup terlalu lurus membuat kita mengeras. maka ada ujian, cobaan, musibah, dsbnya ya untuk kita senantiasa di perbaharui dan di gemburkan kembali. sehingga kita hidup dan “hidup”..

haduhhh…. kepanjangan ga tuh ya?

e.. katanya..
– iya kak anis. saya coba berpikir ke depan. berpikir lahir kembali. selama ini saya selalu ingin semua yang hilang kembali, dan memang sia-sia ya.
hehehe… ternyata masih bisa di simak? saya nih suka kebanyakan nulis atau bicara, suka jadi takut malah ga di dengerin.. hahaha 😛

– yup.. sudahlah. yang lalu biar berlalu. mari hidup baru.. 😀

di ujung telpon terdengar ucapan terimakasih, walau sangat pelan. saya pikir pengaruh obat kali ini cukup berdosis tinggi. secara fisik teman saya di lemahkan oleh obat-obatan itu. tapi saya yakin, secara jiwa dia tak akan bisa di tenangkan, sampai dia temukan jalan keluar bagi keresahannya.

maka jika masih bisa berbagi dan saling menginspirasi agar bisa tuk mengatasi diri, tentu itu lebih baik dari malah harus mengkonsumsi obat-obatan.. keluarkanlah semua keluh, jangan di simpan malah mengeruh.

biarkan jiwa itu bernafas dengan caranya sendiri..
karena seandainya dia api maka dia hanya hangat saja
atau seandainya dia air maka dia hanya sejuk saja
dan seandainya dia udara maka dia hanya mengalir saja

.

jeng..
bertahun-tahun gagal mengatasi diri dari perceraian yang dialaminya. semua menjadi tidak adil dalam hidupnya dalam kacamatanya. introspeksi, evaluasi, negosiasi sampai kompromi yang ada, di rasa sangat merugikan pihaknya. membuat beban jiwanya semakin menjadi-jadi..

maka tolonglah tuk adil dalam hidup ini. pernikahan dan perceraian akhirnya sama sakralnya. persiapkan sebaik-baiknya dan lakukan sebijaksana mungkin. demi jiwa tetap berjalan dan terkayakan. bukan melulu mandeg dan dihujatkan..
walau kalaupun tidak merasa perlu bercerai, kita tetap harus berpikir esok layak lebih baik dari hari kemarin toh? maka semangat memperbaiki diri harus selalu dihidupkan deh. ujian membuat kita inget tuk menghasilkan nilai yg lebih baik..

hidup tak untuk di miliki secara hakiki..

maka introspeksi, evaluasi, negosiasi dan kompromi sekiranya selalu bisa tuk mendahulukan kepentingan yang lebih besar.

kadang saya pikir, hidup bukan menyoal benar atau salah. tapi menyoal sebab dan akibat.

maka jika mungkin, lakukanlah kompensasi jika tak semua hal bisa termaktub dalam jangkauan. sebagai manusia kita terbatas dan bahkan suka lupa..

selebihnya, usahakanlah semua ini menjadi baik adanya..
maka setara-lah dalam menyelesaikan banyak hal yang terjadi sebagai sebab dan akibat dalam relasi dan interaksi kita… apapun namanya..

sederhananya begitu aja deh..

hahaha… maaf-maaf. akhir-akhir ini saya memang sukanya cari jalan tengah aja. ga tahu juga tuh kenapa? 😛

met liburrr panjang sekali yaaa… nikmati libur ini..

mohon doa juga, tuk jeng dan siapapun yang masih terbelenggu dalam permasalahannya, semoga bisa menemukan jalan terbaiknya, jalan tengah dari begitu banyak hal yang tentu tak semua bisa dipenuhi –darinya maupun untuknya– ..

salam sehat
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

6 Tanggapan to “tekanan eksakta”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

mba anis, thx u/ berbagi cerita ini.

kondisi ini saya pikir cukup menggejala. dan bisa terkuak lebih banyak. saya termasuk yang merasa lahir kembali setelah tulisan tentang kemerdekaan itu. saya kembali menemukan padang yang luas, segar, bergairah.

dan yang terpenting, merasakan semua hal bermanfaat, semua hal memiliki sisi benar, semua hal memiliki potensi bekerja sama mencipta manfaat, sampai merasakan betul makna, tidak ada yang sia-sia dari pencptaan Tuhan.

mari kita tebar pencerahan itu menjadi hawa harum semerbak aura kehidupan yang benar-benar menyentuh tombol on kehidupan ini. sehingga kita menjadi terang dan berkumpul sebagai benderang.

@kang trend
yup. ini menggejala. tapi mungkin teman-teman psikolog yang lebih memahaminya.
selebihnya, mari sama-sama…

@k’ iwal
hehehe.. dan memang begitulah adanya kak. lahir baru kembali itu lebih baik dari sekedar berkubang dalam lumpur penyesalan. malah jadi seperti pasir hisap, semakin menyesali semakin menenggelamkan..
belajar ikhlas deh..

@mas aryf
saya pernah berhadapan dengan karakter psikopat. saya tidak menyadarinya, sampai suatu ketika jiwa saya yang memberontak. saya ga bisa ikut-ikutan dengan caranya. saya ga kooperatif dengan kebohongan2nya. tapi juga ga bisa serta merta membuktikan semua itu, saya bak di manipulasi deh. saya bisa saja ga peduli, tapi ga tahu kenapa jiwa saya berontak. saya hanya sadar tuk jadi diri saya sendiri.. toh, siapapun saya, pasti ada yang suka dan ada yang tidak suka..
maka buat apa saya harus membuat semua orang suka pada saya dengan menipu mereka?
biarkan saja manusia itu menilai saya. toh, saya tidak akan pernah bisa mendikte bagaimana manusia menilai saya..

walau tuk itu saya ambrukkk… hehehe.. 😀

seorang yang saya hormati karena ketinggian ilmu agamanya hanya bilang gini sama saya,
– anis, itu orang yang ga ikhlas. sudahlah… maafkan saja.
ah, tuhan….
saya hanya tahu saya ingin membahagiakannya, tapi jika dia tidak menginginkannya, ya apa mesti saya paksa? maka saya selalu berdoa tuk kebahagiaannya. agar dia tak lagi terganggu oleh saya yang juga keras ini, indie ini.. duh, saya sendiri keras loh. kalau ga, ya ga mungkin melawannya.. 🙂

sekarang semuanya baik-baik saja, tapi saya tetap memiliki batas bahwa respek saya tidak akan mengurangi siapa diri saya ini… saya juga mohon maaf atas begitu banyak khilaf saya. selebihnya.. datang dan pergi, mengalir sajalah.

toh.. setelah saya pahami, maka apa lagi?
hidup ini bukan soal benar atau salah. hidup ini soal sebab dan akibat. sebuah keterkaitan, yg saya juga salah satu di dalamnya.. 🙂

Bagus tuh kata-katanya. Kalo kehidupan yang lalu ngga bisa kembali lagi, maka kembali lahir jadi manusia baru saja dengan kehidupan yang baru.

A.Syndrome psikopat, sifatnya hipokrit. pokoknya penyakit jiwa yg parah.
dibilang penyakit, bukan juga. pastinya karena tabiat buruk dan jelek yg dibiasakan. so setiap kesalahan yg dilakukan menjadi wajar bahkan jd pembenaran atas segala kebejatannya.

B.Selevel dibawahnya adalah MPD, multipersonal disorder. so bukan cuma bipolar.

MPD itu lazimnya dimasyarakat kita dikatakan kerasukan jin. Sebenarnya kejadian tsb bersumber dari jiwa manusia itu sendiri yg lemah, ragu2 dan suka ikut2an. Gampang diombang ambing/hanyut dan sering kebingungan sendiri. Belum bisa (walopun terkadang bisa) mengontrol diri. Bisa jadi juga karena trauma yg tdk bisa diselesaikan olh dirinya sendiri.
Dengan kata lain, lalai dg hawa nafsu dan belum (berusaha) dewasa. Blm bisa bedain benar dan salah serta sgt terpengaruh dg lingkungan sekitar yg seringnya salah arah dan salah kaprah.

Sedangkan psikopat ini sebenarnya manusia munafik. Lbh parah dr MPD, coz udh bisa mengontrol diri, tp memilih jalan keburukan sehingga jadi terbiasa & wajar. Dirinya telah menyatu dg segala sifat kebatilan dan silau pada kehebatan/keajaiban.
Susah utk membedakan psikopat dg org biasa, bahkan para pakar kejiwaan pun srg tertipu. Ini tipe manusia yg bnr2 memperturutkan hawa nafsunya. Manusia dg sifat2 setan bahkan g jauh beda dg iblis. Senjatanya adalah rayuan dan godaan, seakan2 dirinya adalah sumber segala kebenaran, padahal sejatinya menawarkan kesesatan.

Anyway, bnr2 dibutuhkan usaha2 sungguh2 utk terhindar dari keraguan maupun kesesatan.

Berhati-hati dan selalu dlm kesabaran.
Mohonlah perlindungan padaNya dari segala godaan.
Dengan menundukkan hawa nafsu kesesatan, mudah2an beroleh keselamatan.
Hanya dg pertolongan Allah, pastilah diberi kemudahan.
Silakan cari perbandingan, agar terang mana kebenaran.
Lalu yakinkan, hanya Allah yg jd sandaran.

Selebihnya, bertawakkal dan iklaskan segala upaya utk mencapai RidhaNya.
Dimulai dg berserah diri, diakhiri dg kerelaan hati.

Untuk lbh tepatnya, penyampaian anda tentu lbh menjelaskan.
Msg2 kita memiliki kelebihan.
Perbedaan itu lah yg merupakan RahmatNya pada setiap insan.
So persamaan apalagi yg mau disetarakan?
semuanya kan mahluk dan ciptaan.
Jika pun hendak dikaji, tundukkan dulu hawa nafsu, lalu gunakan akal dan pikiran.
Pedoman dan petunjuk sudah lengkap dan disempurnakan.
Masihkan kamu temui adanya kecacatan?
Maka nikmat yg mana lg yg kamu dustakan?

“hidup tak untuk di miliki secara hakiki..”

Mungkin msksudnya terinspirasi oleh ayat: Innalillahi wainna ilahi rojiun, asal (hidup) dan akhir (mati) berasal dari Nya, maka termasuk in between jugakah?

@mas kurt
hehehe, kesadaran saya itu ya dari life experience saja mas..
kalau itu mencermin ayat tsb, wah… ternyata memang bisa diamalkan secara nyata ya ayat-ayat itu? 😀
jujur, saya memang menemui bahwa ayat-ayat dalam kitab suci itu nyata kok.. kalau saja kita sadari..
bahkan anak, suami, ortu juga bukan milik kita loh… fisiknya bisa berada dekat dengan kita, jiwanya? wah.. sangat bukan kuasa kita. kita hanya bisa saling menginspirasi saja. dengan prilaku dan kesadaran kita. 😀


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: