mandi

Posted on Desember 27, 2008. Filed under: islam indie |

(isengg…)

kemarin saya mampir ke sebuah restoran dengan mode rumah tua. saya sih asyik-asyik aja. enjoy suasananya, enjoy makanannya. saya juga foto ini itu dan memperhatikan banyak hal di sana. khas banget deh…

awalnya memang sempat terasa agak aneh, melihat seorang bapak yang ketika saya sampai di sana, tengah duduk sendiri di beranda rumah tua itu. dia memandang saya lama, maka saya agak ge-er. tapi ga saya pikirkan..

nah, sepulang dari sana, ujan besar dan dinginnnn… brlll… lalu saya malas mandi, hihihi … 😛
sementara anak-anak dan suami sih sudah pada mandi. sementara mereka mandi dsbnya, saya malah asyik nulis ini itu.. sampai tertidurlah saya dalam keadaan belum mandi..

eeeee… saya ngimpi ga enak… tidurnya ga enak deh.
serasa badan ini ada yang nempelin. ga ganggu, tapi ga enak saja. terbangun dari tidur, yang saya inget rumah itu. hmm.. memang rumah tua sekali sih. tapi kenapa inget rumah itu ya? bukan inget makanannya.. 😉

begini..
prinsipnya, saya respek sama semua orang. ga semua orang seperti saya atau sekeyakinan dengan saya. maka adalah wajar jika ketika saya berinteraksi, saya bertemu orang yang tak seperti saya. dan bukan lantas saya harus memaksanya sama seperti saya. pokoknya tetap respek deh..

nah, maka jika rumah tua itu memang memiliki banyak hal ghoib yang “dikuatkan”, ya wajar-wajar saja. memang nampak cermin di atas setiap pintu. dengan jerami di gantung di pintu utama. dsb-dsbnya..

saya yang rasional begini, tetap mengakui energi itu bisa di fokuskan pada hal-hal tertentu. apapun alasannya. dari alasan budaya, tradisi sampai memang tuk pemujaan itu sendiri. di sini, memang bukti, bahwa manusia itu beragam sekali dalam mengekspresikan diri dan budayanya.

saya tidak terganggu dan saya tidak meremehkannya. saya hanya bisa merasakannya. itu saja.. selebihnya, saya malah suka makan ke sana.. 😀

dan ketika saya teringat rumah itu dengan segala atributnya yang demikian, disaat saya terbangun karena mimpi yang ga nyaman, semua yang terasa menempeli saya ya seperti lepas satu – persatu kembali mensemesta… seperti debu pecah di udara.. hilang dan baik-baik aja.

saya jadi teringat nasehat orang tua dulu. tuk segera mandi setiap pulang dari ziarah atau bahkan mana saja.
maklum, secara kasat kita terkena debu dan kotoran dan secara jiwa kita juga kena banyak debu dan kotoran dari banyak jiwa juga.

maka air suka identik dengan pensucian, tak cuma diri juga jiwa…

maka agak cukup larut malam tuh, saya bangun dan menyeka tubuh saya.. berniat membersihkan diri lahir batin 😛
dalam hati, – janji deh, ga akan malas mandi lagi, hihihi… sedingin apapun.. 😦

sesudahnya, saya tidur dengan nyenyak sampai bangun kesiangan.. kebetulan sedang halangan tidak sholat. 😀 suami dan anak-anak saya sih ga merasakan apa-apa. mereka tidur terlalu nyenyak bahkan.

selebihnya, saya merasa aneh juga.
kok bisa-bisanya yaa saya merasa begitu..
tapi saya memang respek aja kok.. hehehe 😀

saya menghormati begitu beragamnya laku manusia dalam kehidupan ini. begitu maha dayanya alam raya, begitu kuasanya tuhan…

saya menghargai kehidupan
selebihnya, saya memiliki diri saya sendiri

sungguh, tidak perlu kita takutkan hal-hal yang demikian.
saling menghargai saja. manusia memang memiliki banyak cara tuk mengekspresikan diri yang merupakan bagian dari budayanya juga. dan bagi kita –yang mengaku modern ini– semua itu juga bagian dari sejarah peradaban bangsa kita.

saya pernah datang ke sebuah tempat yang modern. ga ada berbau mistik-mistiknya deh. yang ada malah ego-ego yang begitu terasa tinggi dan memang semua orang tengah memamerkan diri dengan segala atributnya. ini lebih ga nyaman bagi saya yang modern loh. hehehe 😀

saya memang suka mengamati..
ga sengaja juga sih… sangat gimana mood saya, apalagi kalau sudah asyik dengan hal menarik. alami aja… 😛

nah, saya kok sedang menyadari, bahwa kita memang tengah berjalan dari alam tradisi –termasuk di dalamnya segala yang berbau mistik ala zamannya itu– kepada apa yang dinamakan modernisasi. kita perlu menemukan bentuk tersendiri yang paling enak dan elegan tuk mengekpresikannya di zaman kita ini. bukan melulu dengan ditiadakan dan dibi’ah-bid’ahkan..

saya pernah bertemu dengan seseorang yang masih sangat percaya dengan hal-hal demikian. saya sih malah suka-suka aja mendengarkannya. it’s oke deh. tapi otak saya ya muter, menterjemahkannya dalam logika saya hari ini. sehingga saya merasa seru aja.

dan ini wajar, generasi orangtua kita dulu termasuk yang mengenal budaya yang masih demikian. lalu kita tentu sudah melangkah modern di banding mereka. persoalannya ada pada bagaimana kita menghargai ortu-ortu kita. walau jamin, mereka juga mulai sadar tuk tidak menggunakan dan memaksakan kebiasaan mereka pada kita..

seperti tentang primbon. saya menyadari kalau primbon itu di buat bukan dari hal mistik. tapi dari statistik. itu bener-bener buku dari laku manusia dalam kurun yang panjang loh. hehehehe 😛
hanya orang suka berimajinasi mengingat zaman dulu ada ekspresi bahwa primbon identik dengan ramalan dukun2, maka pake kemenyan dsbnya. sikap spt itu malah menguatkan energi yang sebetulnya ga perlu-perlu amat deh. yang kemudian suka di tuduh sebagai syirik itu.

saya pribadi tidak tertarik pada primbonnya, saya lebih tertarik pada perjalanan peradaban manusia dalam menteorikan hidupnya, membangun peradabannya. tidak ada yang salah, hanya seru saja. saya menghargai budaya…

saya juga tertarik tuk melestarikan bagian dari banyak peradaban indonesia ini, tuk kelak anak cucu tahu. boleh mempelajarinya, boleh mengenalnya lebih dekat, tapi tentu dalam konteks kekiniannya.

banyak film barat –maaf karena barat inilah yang notabene lebih maju dan mudah di akses– yang menterjemahkan tradisi mereka dalam konteks kekinian. spt film lawas the Golden Compass. Nicole Kidman tuh yang mainnya. di sana, saya melihat bagian dari kebiasaan masa lalu manusia yang menganalogikan karakter (jiwa) manusia dengan hewan. dan percaya ga? hal tsb juga ada di salah satu “orde” tasawuf.

nah, seru kan kalau indonesia bisa menterjemahkan bagian dari perjalanan peradabannya dalam bahasa kekinian. ga melulu terjebak dan tarik menarik, lalu seolah harus terpisahkan dan bahkan ditiadakan antara tradisi dan modernisasi yang tengah kita jalani…

walah, saya kok seru sendiri yaa… 😀
udah ah, mo mandi dulu yaaa…
mo pergi ambil rapot anak saya..
sebelum liburan di mulai, hal-hal begini harus di bereskan terlebih dulu.
e, maaf… ini ga di edit, saya buru-buru… 😀

salam sampai nanti
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “mandi”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

o begitu ya mba anis.

pantesan istri saya yang terbiasa mandi, pikirannya lurus aja, tenang aja, bersih aja, menyejukkan aja, sederhana aja.

saya yang rada susah, malah suka punya pikiran ribet dan runyam. mungkin terlalu banyak pengaruh yang nempel.

kalau gitu, smangat mandi deh…
hehehe

@kang trend
ga tahu kang. saya sendiri kaget merasa begitu. dan teringat pesan ortu-ortu dulu.
sederhananya sih, emang bisa dimengerti… maka ya mengapa tak dilaksanakan juga?
toh, bersih, segar dan wanginya juga dapet.. ya ga? 🙂


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: