maafkan saya..

Posted on Januari 3, 2009. Filed under: islam indie |

(di lepas yaa, curhaaattt…)

di mana-mana, saya temui ajakan solidaritas tuk Palestina. berikut foto-foto anak-anak Palestina yg wafat karena serangan Isreal tersebut. walau sikap saya sih jelas seperti saya tulis di tulisan “baru-baru-baru” itu, tapi teteup… pemberitaan dan reaksi demikian, membuat semalam saya melepaskan rasa saya pada suami. rasa apa? rasa muak!
maaf, saya muak dengan Palestina!

so pasti suami saya ya kaget. walau dia sudah mulai terbiasa dengan begitu seringnya saya berbeda. katanya..
– tetap kan atas nama kemanusiaan Isreal itu memang layak di kutuk?

duh, tuhan.. maafkan saya ya.
saya hanya ingin jujur, saya muak sama sikap Palestina sendiri. entah kenapa?

kalau boleh saya analisa perasaan saya ini, kurleb begini..
hmm..
persoalan Isreal dan Palestina ini sudah terlalu lama. dari saya masuk islam juga sudah mencuat. saya sudah sering melihat foto-foto korban kekejian Israel yang di ekspos media. tapi jika sampai hari ini, persoalannya masih sama, saya jadi malah bertanya-tanya lebih dalam..
apa sih yg sesungguhnya terjadi di sana???
saya merasa tak sesederhana yang ditangkap mata kasat kita deh..

refleksi saja yaa..
saya hanya merasa, jika saya adalah seorang pemimpin.. maka saya akan terdorong sepenuhnya tuk melindungi rakyat saya. saya tidak akan menjadikan rakyat melulu sebagai pagar hidup, tuk idealisme dan arogansi saya. walau tentu sebagai pemimpin, akhirnya dalam sebagian hal, saya tetap harus mengorbankan rakyat saya. tapi itu di minimalislah.. di usahakan sedikit mungkin. karena buat apa saya jadi pemimpin jika melulu harus mengorbankan rakyat saya?!

toh, siapa yg bisa menghargai rakyat saya? kalau bukan saya sendiri sebagai pemimpinnya. dan siapa yang bisa menghargai saya sebagai pemimpin? kalau bukan rakyat saya sendiri juga..

sama saja.
siapa yang bisa menghargai negara dan bangsa indonesia hari ini, kalau bukan kita selaku bangsa indonesia sendiri? dan kalau prilaku pemimpin kita saat ini masih aja tidak bisa menghargai rakyatnya, ya emang kita lagi apes aja dengan krisis kepemimpinan yang terlalu panjang ini. dan lihat, siapa pula yg bisa menghargai pemimpin kita hari ini yg kaya gitu? rakyatnya sendiri ga bisa. apalagi mau dihargai bangsa lain??

begitupun dengan Palestina..
kalau Palestina memang menghargai bangsanya sendiri, tentu tidak akan melulu bersikap konfrontatif dengan Israel deh. bisalah lebih elegan sebagai sebuah bagian dari dunia yang saling terkait satu sama lain. kita ini ga sendirian di muka bumi, maka maulah berkompromi, berstrategi, yang tentu di usahakan sebanyak mungkin menguntungkan rakyat kita.

ah, tuhan..
maafkan saya…

saya muak sampai perut saya sakit nih… sama prilaku yang egois dan ngotot dengan kekakuan segelintir orang tapi mengorbankan banyak orang.
lalu di ekspos tuk minta simpati dunia?
pliiissss, solidaritas apapun yang di berikan pada Palestina, semua kembali pada sikap Palestina sendiri..

dan Israel?
hehehehe
standar deh, dimana-mana ketika seseorang atau suatu negara menjadi penjajah tuh ya emang begitu. mau mengharapkan apa dari penjajahan? belas kasihan? kesadarannya?
ya perlu sebuah strategi, komunikasi sampai kompromi tuk membuat penjajahan itu terhentikan. dan ga semua bangsa israel setuju dengan serangan itu toh?

sejarah kan sudah menorehkan banyak cerita tentang perang di muka bumi. dan apa yang ada di sela-sela peperangan itu?
perundingan kaan?
dan apa yang ada dalam perundingan itu?
ada pengkhianatan dan ada pula kemajuan…
itulah buah negosiasi-negosiasi dalam hidup dan dalam bernegara..
itu lumrah…
tapi sekali lagi, kepentingan siapa yang di bawa dalam negosiasi2 itu? kepentingan rakyat banyak? atau hanya kepentingan dan arogansi segelintir orang? itu pertanyaan mendasarnya..

lalu agama?
plis deh. jangan melulu di bawa ke sentimen berbau agama. ga ada hubungannya dengan masa lalu dari cerita agama deh. ini sudah terlalu larut dalam kegagalan Palestina bersatu menjadi sebuah bangsa yang berdaulat..
oops.. maaf, ini menurut saya..

dan sadari deh, dalam bentuk yang berbeda, ini tantangan kita juga. mampukah kita –indonesia– bersatu di tengah perubahan zaman yang membawa tantangannya tersendiri. akankah kita berhasil menjadi sebuah bangsa yang berdaulat dan mandiri lalu di hargai dunia? atau kita hanya berdiri dalam angan-angan kita? lalu melulu betah dalam keterpurukan dan persoalan yang tidak lagi menjawab tantangan kita hari ini?

banyak cerita, tentang pengorbanan seorang pemimpin. menanggalkan citra diri, demi menjaga bangsa dan negaranya dari kehancuran yang lebih parah lagi. walau untuk itu, mereka harus bak menelan dirinya sendiri..

begitulah sejarah mencatatkan tinta emas tentang manusia..
ketika tidak mencatat apa yang dia raih, tapi apa yang bisa dia beri..
membuat sejarah menangis, menyadari artinnya setelah dia pergi..
itulah sejati.. terbawa dalam hati sampai mati.

maafkan saya…
saya ga bisa bohong, saya ga bisa ikut-ikutan menghujat, mengutuk dsbnya.. meski saya adalah muslim. solidaritas saya, bukan lagi pada hal-hal seperti itu.

saya hanya ingin Palestina sadari dan terima kenyataannya hari ini,. belajar menghargai rakyatnya sendiri, menjadi lebih baik dan elegan ke depan. mewujudkan diri sebagai sebuah bangsa yang layak di hargai..

tentu doa saya lebih banyak tuk indonesia… jujur. ๐Ÿ˜€

saya ingin indonesia bersatu, bangkit, mandiri dan menginspirasi dunia ttg bagaimana bernegara itu seharusnya..
percaya ga? ke depan, menjajah itu bukan lagi perlu dengan pendudukan. cukup dengan inspirasi, dan –perlahan– di ikuti.. maka bersyukur banget kalau inspirasi kita itu penuh kebaikan. menjajah dengan kebaikan dan cara yang baik deh. gimana? hehehe ๐Ÿ˜›

seperti yang pernah terjadi di tahun 45, kemerdekaan indonesia menginspirasi banyak pihak. meski dalam pergulatan Indonesia membebaskan diri dari banyak rongrongan sebagai negara yang muda usia waktu itu, ternyata gagal dan harus berkorban demi tak menghancurkan kemerdekaan yang sudah susah payah ditegakkan itu. tapi pengorbanan itu di landasi satu keyakinan, akan sebuah bangsa yang akan besar jika belajar dari sejarahnya sendiri…

dan karena pengorbanan di takdirkan tak pernah sia-sia..

maafkan saya tuk kejujuran ini yaa..
ini pribadi, ga ngajak-ngajak meski pada suami sendiri
juga tak semata ingin beda dan indie
ini sungguh, karena hati saya memang begini..

tuhan..
maafkan saya..
bukan saya tidak simpati
bukan saya tidak empati
saya saja heran sendiri
saya yang biasanya mudah luluh hati
kini malah muak dan merasa basi
biarlah kesadaran itu mengisi
setelah banyak kebodohan di bawakan diri
oleh mereka yang belum paham arti
tentang pemimpin sejati
tentang negara yang layak di hargai

salam indonesia..!
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

6 Tanggapan to “maafkan saya..”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Wah, K’ Anis saya jadi tergelitik ngasih comment. Saya pribadi ingin mempunyai empati untuk bangsa Palestina, tapi jujur saya juga harus mengkritisi HAMAS. Tapi seperti layaknya bangsa yang sudah dihancur leburkan dalam sejarah yang panjang demi berdirinya negara Israel, yah mungkin mereka memang sulit untuk mempunyai satu kata. Paling tidak, berhentilah berperang di antara sesama mereka, itupun kayaknya sulit. Nah, belum lagi dengan maraknya bom bunuh diri, entah di Iraq, Pakistan, Afghanistan, bahkan Indonesia juga ada, dan anehnya itupun dianggap sebagai tindakan heroik oleh sebagaian orang, padahal jika memang dalam kondisi berperang ataupun ingin perang, kenapa tidak mengahadapi lawan perang di medan perang saja. Tapi yah, mungkin begitu, sebagian memang ingin menang perang dengan segala cara… Jadi kalo perlu hancur leburkan juga anak2, ibu2 dan semuanya yang dianggap mensupport… Nah…

melawan penindasan tentu saja tidak bisa hanya berpangku tangan. lawan, lawan dan terys lawan.
ditampar pipi kiri, balas tampar kembali.
diikat tanganmu, ludahkan saja ke muka si penindas.
dibekap mulutmu, sepak saja kepala tuh bajingan.
lawan sampai titik darah penghabisan.

melawan penindasan atas nama kehormatan, jgn disamakan dengan arogansi kekuasaan yg mengorbankan kemanusiaan.

kehormatan yes, penistaan no.
perbedaan yes, pemaksaan no.
pemerataan yes, keserakahan no.
kemanusiaan yes, kebiadaban no.

cek3..padahal syuhada itukan hidup matinya dijamin langsung oleh Allah.
jangan-jangan konsep syuhada dan martir, tidak seperti yang selama ini dibayangkan.
tolonglah saudari jelaskan, biar kami ini tidak salah jalan.
semoga dapat kami rasakan apa itu kemerdekaan.

@k’Eka
wah, makasih mau komen di sini k’Eka. hehehe..

yup, pada akhirnya, kondisi di sana memang harus lebih dikritisi. krn persoalan di sana ga sesederhana yang kita lihat. saya pikir, isreal sendiri sadar kok kalau tindakannya itu ga populis. sehingga, pertanyaan yang ada memang.. ada apa sih sebenarnya di sana?

nah, k’eka kan di UEA. boleh tanya yaa… gimana reaksi masyarakat UEA tuh dengan Palestina itu?

kalau mo di liat dari konteks agama, kata teman yang kemarin baru aja pulang haji, di arab-mekkah, ga ada reaksi apa-apa. biasa-biasa aja tuh. tak ada doa, tak ada solidaritas tuk Palestina. bahkan yang di angkat di mekkah hanya peringatan-peringatan tuk menjauhi jamaah dari iran, karena iran syiah, sesat dsbnya.
ga penting banget kan?? hehehe.. gimana menurut k’Eka? ๐Ÿ˜€

@Azyla
sederhana yaa. konflik di sana sudah berkembang hanya terbatas pada Isreal dan Hamas. bukan lagi Isreal dan Palestina secara keseluruhan. saya bahkan bertanya-tanya bagaimana sikap Palestina kubu Fatah atas insiden itu. sehingga ya saya harap bersatu deh Palestina. tentukan dengan jernih nasib negaranya sendiri..

agar support dari luar negeri juga ada hasil yang maksimal dan bukan melulu kembali mentah oleh sikap keras dari Palestina sendiri (dalam hal ini kubu Hamas).. jangan melulu mengorbankan rakyatnya deh. e, ini krn saya masih melihat dan menghargai Palestina itu sebagai satu negara ya. ga saya pecah menjadi hamas dan fatah. kecuali mereka sudah sepakat tuk menjadi dua negara berbeda.. hehehe ๐Ÿ˜€

secara umum, problem internal di jazirah itu adalah tarik menarik antara mereka yang konservatif dan mereka yang sadar modernitas. antara mereka yang militan dan mereka yang kompromis dengan zaman. di sebagian pihak disana, maaf.. bahkan agamapun sudah mulai ditinggalkan karena terasa sangat simbolis doang, membatasi dan ga realistis. maka di beberapa negara di sana, agama di selenggarakan dengan meminjam otoritas pemerintahnya. sekilas saya tangkap, agama di sana tidak di serap dan tidak di ajarkan pada valuenya, hanya pada bentuknya saja. maka wajar terasa ga mengakomodasi zaman, alias ga universal. itu problem internal mereka.. sejujurnya, kita turut merasakan dampaknya toh? terutama pada yang sangat suka dengan segala ekspresi “beragama yang afdhol”.

padahal menurut hemat saya, hidup itu dinamis sekali.
maka manusia harus dinamis juga tumbuh kembang dengan zaman. nah, yang abadi dalam hidup ini adalah nilai-nilai dan kearifan hidup, baik berupa nilai2 dan kearifan lokal maupun nilai2 dan kearifan dari agama-agama yg ada… di manapun dan dalam hal apapun deh..

Sulit menerima perbedaan. Karekter orang2 sana sepertinya sudah di plot untuk terus berkecamuk dengan bangsa lain termasuk beda agama. SEperti juga konflik dengan syaiah sendiri, saya pernah chatting dengan orang anti Syiah mengatakan bahwa Syiah dianggap Anjing…

Anehnya, pribadi2 seperti ini kemudian menggejala di seantero jagad termasuk di Indonesia. Buih2 itu sudah terasa di sini..

Kita sebagai muslim mestinya memang menjadi panutan bagi agama lain. Ini yang jarang disadari. Sikap Rasulullah saw kok rasanya jauh di negeri sana yah. Saya melihat sikap Mengalah, mengajak bersatu dan tidak mengedepankan kekerasan itu tidak ditemukan dan disuarakan oleh HAMAS.

Kalau masalah Israel dan pemerintah AS, itu sudsah jelas, bahkan tercetak dalam nash. Kita mestinya kan kalau sudah tahu begitu, benar strateginya diubah, bukan dilawan dengan caranya, tetapi lawanlah dengan cara santun… Bisakah?

Insya ALlah Indonesia yang akan memapu menajdi bangsa yang begitu.. semoga saja

@mas Kurtubi
yup mas. indonesia sudah terkena dampak dari prilaku demikian. ini yang saya khawatirkan sekali. indonesia sering kali tak mampu menyaring semua masukan dari luar dirinya!
maka saya sering menulis tuk semoga indonesia bisa menjadi dirinya sendiri. memiliki jati diri. sehingga masukan dari mana saja, kerja sama dengan siapa saja.. mau arab, amrik, cina, jepang dsbnya, indonesia adalah indonesia..
ini harapan terbesar hidup saya deh. dan saya yakin, indonesia bisa.. karakter asli indonesia sangat mendukung kesantunan dan martabat yang baik kok. hehehe ๐Ÿ˜€

hmm, mas kurtubi.. maaf ya.
saya belajar tidak terplot oleh karakter yang ada di kitab suci. termasuk jika itu menyoal yahudi dan israel atau siapa saja. saya merasa hidup di milenium ketiga, hidup dengan kesadaran global. saya membuka diri tuk segala bentuk perbaikan manusia agar diri dan golongannya menjadi lebih baik.

indonesia sendiri tidak di sebut dalam kitab suci manapun, tapi sangat berpotensi menjadi baik, hahahaha..
kenapa? karena indonesia, bahkan israel, amerika, jepang, cina, arab, korea, india dsbnya, semuanya manusia… berpotensi tuk baik. dan kita lihat toh, kini manusia di setiap negara itu berlomba tuk bisa bangkit menjadi bangsa yang besar dan layak di hargai dunia… dengan cara yang sesuai dengan bahasa zaman hari ini. pilihan amerika pada Obama juga mengindikasikan hal ingin perbaikan ke depan toh? bahkan melawan kebiasaan orang amerika sendiri… walau tuk sempurna, itu sulit dan relatif.. ๐Ÿ˜€

iya nis kalau ada sentimen keagamaan semuanya jadi lebih dramatis, padahal mah intinya kita ga setuju karena ” penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan peri keadilan”
contoh : di Zimbabwe lagi di landa bencana diare dan kolera tapi karena tidak ada sentimen keagamaan ya tidak ada yang mengekspose padahal sama saja korbannya kebanyakan wanita dan anak-anak dan sudah mencapai ribuan.
Yang koar-koar mengirim relawanjuga tidak realistis cuma ingin masuk TV/ Koran saja .. yang real -real saja kirim obat sama uang masa kalah sama uni eropa


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: