jangan bodoh

Posted on Januari 4, 2009. Filed under: islam indie |

(masih pengen nulis-nulis nih..)

teman saya yang baru pulang haji juga bercerita betapa di arab sana wanita memang harus sangat di jaga. lelaki arab, yang entah karena begitu di batasinya lelaki dan perempuan, juga entah karena begitu mahalnya mahar/mas kawin tuk menikahi wanita di sana, menjadi begitu “rakus” setiap memandang wanita.

bahkan beredar cerita, tentang seorang wanita indonesia yang baru saja turun dari hotel tempatnya menginap, lalu di tinggal sebentar oleh suaminya tuk mengambil barang yang tertinggal, e.. begitu suami kembali ke depan hotel, sang istri sudah raib. dua hari menghilang, dan kembali dalam keadaan stress. kekerasan sex dialaminya..

saya merinding mendengarnya..
entah benar entah tidak..

ah, tuhan…
mengapa fisik ini begitu disembah sampai sedemikiannya ingin dirajai?
sampai mengambil yang bukan miliknya dan menturuti nafsu yang mencelakakan jiwa di dalamnya?

saya suka memejamkan mata ketika tubuh saya terasa sakit. termasuk ketika saya melahirkan. merasakan dengan rinci sakitnya, saya bisa merasakan itu hanya fisik saya yang sakit. saya merasakan terpisahnya fisik dan jiwa saya, sehingga sakit itu terasa hanya di fisik dan tidak di jiwa saya. maka saya suka menyebut namaNya..
– ya Allah, tolong badan ini donggg… sakit nih..

bahkan ketika akan melahirkan, saya berkata dalam hati
– ya Allah, ini memang harus begini yaa? ayo, ini biasa dan akan baik-baik aja.
saya merasakan mules itu di seputar pinggang dan perut, lalu mendesak dan keluarlah bayi saya. setelahnya, fisik saya merasa letih. jiwa saya ya biasa saja..

wah, jangan di tanya mengapa saya bisa begitu.
saya suka pingsan waktu kecil. jadi saya menyadari sekali, ketika tubuh saya yang ga kuat, sementara terasa (jiwa) sayanya sih masih kuat-kuat aja.. ingin ga pingsan tapi tubuhnya…. bruk!! ambruk.

juga ketika saya hamil dan merasakan ada kehidupan di dalam fisik saya. wah, setiap janin dalam tubuh saya bergerak, saya merasakan sekali bahwa itu jiwa.. bahkan jelas jiwa itu belum hadir di muka bumi ini, masih di dalam rahim saya, dalam “alam” nya tersendiri..

saya belajar merasakan kehidupan yang sesungguhnya…

maka…
mendengar kisah begitu tak di hargainya fisik wanita, hanya dijadikan pemuas nafsu saja, saya suka merasa miris sendiri..

jiwa ini sesungguhnya butuh tempat yang baik dan dijaga dengan baik. tidakkah itu disadari?
jiwa ini yang membuat fisik itu hidup, jiwa inilah rasanya fisik itu. tidakkah itu juga disadari?
apa enaknya menggauli fisik yang mati? fisik yang terampas dari jiwanya. itu sama saja dengan bercinta dengan mayat! hiiiii….

maka manusia di katakan menikah karena cinta..
cinta menyatukan dan mengikat jiwa.. mengikat rasa kita..
tanpa cinta, tanpa rasa, jiwa itu tak (bener-bener) hadir disana..

lalu, kalau itu memang menyalurkan nafsu maumu, dan bisa jadi itu juga maunya, ya itu sekedar tempat sampah..
ga lebih..

maka saya suka memandangi suami dan anak-anak saya kalau mereka sedang tidur. menyetuhnya dan merasakan “hangat” tubuh mereka. hangat itu tanda mereka ada..
dan saya juga suka menempelkan tangan saya di pipi suami saya, bertanya-tanya, dia rasakan ga ya rasa saya dari sentuhan jemari ini di pipinya?
karena itu bukti saya mau ada..

maka dikatakan jika jiwa sudah sampai pada tataran rasa yang baik, yang ini bisa didapatkan dengan banyak belajar baik formal dan informal, dia akan sampai pada apa yang di kenal dengan etika dan estetika yang baik..
semua dengannya jadi indah…
indah di liat, indah di rasa..
konon beda deh rasanya…
sampai wanginya..

hehehe, saya ingin bisa sampai ke tataran jiwa seperti itu.. bisa ga ya..? 😛

jujur, jauh sebelum sampai tataran itu, saya merasa yang ada adalah rasa menghargai dan menghormati. menghormati pemilik dari fisik-fisik itu. menghargai semua yang telah membesarkan dan menjaga fisik-fisik itu. berharap fisik-fisik itu menjadi tempat dari jiwa-jiwa yang juga baik dan cantik/ganteng adanya…

membuat dekat dengannya, tidak hanya melihat fisiknya yang baik (terwujud dalam prilaku) tapi juga merasakan jiwanya yang baik..

sebaliknya, kadang dalam fisik yang baik, jiwanyalah yang buruk..
ini yang lebih repot..
jiwa yang buruk ini, bisa saja dengan mudah menggadaikan fisiknya. ga cuma tuk tindakkan kekerasan sexual tapi juga melakukan kejahatan2 sampai pengeboman bunuh diri.. jiwa itu tak lagi menghargai fisiknya..

maka pendidikan tak hanya menyoal kecerdasan pikir. tak hanya menyoal ketangkasan gerak dan prilaku. tapi juga menyoal kecerdasan hati dan rasa.. total, itulah dimensi manusia..

seru loh mengenali diri sendiri itu..
hehehe…
saya hanya merasa jangan bodoh dengan yang di permukaan saja deh

selebihnya, hidup memang tantangan tersendiri..
mengalahkan hati, melakukan pekerti terpuji
demi hidup yang bercahaya..
salah bukan berarti kalah..
tapi terus mencoba
dan tak kenal letih

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

6 Tanggapan to “jangan bodoh”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Hmm… baru saja komentar yang lalu, muncul tulsian lagi.. prdouktif amat nih. Untunya tidaka da “KB” dalam masalah menulis heheh 😀

Ssering kawan bercerita kalau di Arab sana berhati-hatilah kalau naik taksi, jika berpasangan. Jika suami turun duluan dan sang isteri masih di dalma taksi, ini bahaya. Kata cerita itu, di sang Supir akan membawa kabur dan entah bakal kembali atau tidak.

Padahal hukum di sana berlaku hukum Islam loh, jika berzina akan dicambuk dan potong tangan bagi pencuri.. namun setan sudah membuktikan kalau dia lebih pintar daripada manusia.

Tapi terlepas dari urusan seksualitas, karakter orang Arab seperti dikatakan oleh teman saya juga, mereka sangat menghargai tamu yang datang ke rumah.

Bahkan saking solidernya kepada kawan, petugas pabean yang bertugas menstempel pasport, jika ada kawannya datang maka akan diajak ngobrol disalami dengan cium pipi. Dia tidak pedulikan orang Indoensia yang antri mau naik pesawat.

@mas Kurtubi
wah, baru nulis dah ada yang komen nih.. makasih mas..
buat saya menulis itu seperti membuat sketsa. yang menggambarkan apa-apa yg saya lihat dan pikirkan, bahkan yang juga menggambarkan apa dan siapa saya. hehehe.. selebihnya terserah pembaca.. 😀

kata teman saya, beda daerah beda karakternya kok mas kurt. di medinah, daerahnya lebih sejuk, orang arabnya lebih ramah dan santun. di jedah, karena sudah menjadi kota internasional, orang arabnya juga lebih nice. nah, di mekkah itulah yang karakternya luarbiasa kasar. maka kata teman, sangat wajar kalau Rasulullah sampai hijrah ke medinah..

saya sih tetap menghormati mau bagaimanapun orang arab itu mas..
selama dia bisa menghargai dan menghormati manusia lain.
saya tidak sedang menyoal orang arabnya.. dimana saja, persoalan manusia nyaris sama, walau berbeda bentuknya.

refleksi saja, sikap-sikap penuh ketidak penghormatan terhadap manusia, terlebih secara fisik, sangat mencerminkan kebodohan di permukaan.. dan meski sudah diturunkan agama mulia, bahkan juga di jantungnya agama tersebut, sangat berpotensi melulu diingkari. karena manusia memang seringkali begitu dangkal, mas..

besok saya kutip sebuah tulisan tuk mas Kurtubi deh, yang saya rasa cukup menjawab, mengapa kedangkalan melulu terulang. sebetulnya agama mengajak manusia tuk mau lebih mendalami kehidupan dan dirinya sendiri mas. maka agama menawarkan refleksi dari surga dan neraka, buah dari perbuatan baik dan buruk..

sampai besok yaa.. insyaAllah, saya kutipkan..

rasa itu yah…

saya coba praktekkan sama istri saya deh…
hehehe

Kata orang itulah mengapa Islam turun di arab….itulah mengapa turun mengapa ada aturan poligami..coba kalo nggak ada…wah bisa 10 wanita diborong sendiri..
Tapi itu juga katanya…

@mas datyo
betul mas.. kata teman juga gitu, emang jadi kerasa rasulullah itu berlian dalam lumpur. kondisi yg di hadapinya luarbiasa berat. persoalannya kemudian, kita nih indonesia… nah loh? 🙂

terimakasih pembelajarannya


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: