belajar menjadi negarawan

Posted on Januari 5, 2009. Filed under: islam indie |

(tentang dua seri penampilan megawati di metro tivi nih…)

salut..!
itu satu kata dari saya tuk ibu Megawati Soekarno Putri..

butuh keberanian tuk ibu mega akhirnya berkata-kata. terlepas ini dalam rangka program kampanyenya, semua pernyataannya tetap sarat pembelajaran tuk menjadi negarawan di negeri ini.

ga bisa di pungkiri, ibu mega memang terdidik oleh ayah dan ibunya — yang notabene adalah tokoh besar negeri ini– di istana. itu sudah pengalaman yang luarbiasa yang ga dimiliki politisi manapun di negeri ini. ya toh? itu sudah point yang harus kita hargai dan pelajari..

selebihnya… maknai sendiri deh..
loh?
hehehe 😛

apa ya?
ada satu formulasi jelas yang di butuhkan negeri ini.
pertama, hal-hal praktis dan mendesak tuk di selesaikan. ini ga bisa ga.
kedua, hal-hal kenegaraan sampai menyoal ideologi yang juga harus terus diingatkan dan terus diperkuat. mengingat rong-rongan terhadap ideologi juga terus menguat.
maka…
butuh seorang praktisi dan seorang negarawan sejati yang satu visi tuk membawakan negeri ini.

seorang praktisi melek keadaan saat ini dan seorang negarawan sejati melek jati diri bangsa ini.
kalau formulasi yang ditawarkan adalah ibu Mega dan Sri Sultan, waduh.. hal praktisnya akan terbelengkalai deh. karena dua-duanya berbicara di tataran ideologi dan jati diri…

jatuhnya akan kaya SBY dan Kalla. keduanya menurut saya adalah praktisi. bukan negawaran sejati. maka ya gitu deh, tak terkendali.. tak bervisi..

mimpi sih punya seorang pemimpin yang multitasking.. melek keduanya.

tapi menguntungkan ibu Mega, bahwa beliau sudah sempat trial n error ketika gantiin Gus Dur jadi presiden waktu itu.
maka di penampilannya, beliau bilang dan sadari bahwa di politik itu sarat pengkhianatan! kalau tidak untuk menjatuhkan ya karena ga tahu.
hehehe.. ibu mega terlihat belajar sekali dari pengalaman itu. luamayan banget tuh.. 😉

sebagai wanita, saya bangga pada statement terakhir beliau yang menginginkan wanita indonesia tuh bangkit, memiliki kepemimpinan cermin harga diri dan martabat yang baik…
walau saya ga sampe menitikkan airmata, krn masih sadar bahwa acara itu termasuk dari sebuah kampanye.. 😛

sudah lama saya merasa indonesia butuh idola tuk mengangkat martabat wanitanya. saya sendiri ngenes liat wajah wanita indonesia yang secara umum identik dengan TKI dan gulali di mata masyarakat luarnegeri..

bangga pada ibu Menkeu? ehmm…
ibu Sri terlalu sarat muatan politis partainya SBY sih..
butuh wanita yang bersih lahir batin deh, terlalu pinter kaya ibu Menkeu kita, ga masuk juga di wanita indonesia pada umumnya. itu hanya menjangkau wanita perkotaan aja. hahahaha 😀

butuh sentuhan tersendiri buat wanita indonesia,
sentuhan kasih sayang kali yaa?? 😉
hmm, sulit di bilang, tapi memang butuh sebuah sentuhan penuh ketulusan. sentuhan khas wanita deh. krn wanita indonesia ini beragam sekali. dari sabang sampai merauke… tapi punya satu cita-cita dan satu jati diri sebagai indonesia. yang tidak menghinakan keterbelakangannya, keterpurukannya dan kenestapaannya selama ini. tapi mau tahu, mau peduli dan mau menerima apa adanya…
duh, saya sendiri juga rindu tokoh kaya gitu tuk wanita indonesia… 😦

kasihan wanita indonesia di pelosok-pelosok negeri dan nun jauh di rumah-rumah majikannya di luar negeri itu… mereka butuh sebuah kekuatan yang bisa membangkitkan harga dirinya sebagai bangsa dan sebagai wanita…

halah… saya feminis sekali nih..

tapi ini kenyataan wanita indonesia hari ini..
butuh dia yang jujur dan bener-bener mengenali kenyataan negerinya. yang menyayangi bangsanya..

lalu saya jadi mengkhawatirkan ibu Mega..
tapi kekhawatiran standar sih.. karena peduli aja.
ibu mega sudah membuka front, tuk berkampanye lebih aktif
walau beliau mengajak dan bahkan menyontohkan tuk memaafkan semua yang sudah terjadi demi menjaga pride sebagai sebuah bangsa, lalu mengajak kita berpikir ke depan, teteupppp… 2009 banyak kepentingan yang suka tak suka harus di hadapi toh? termasuk menghadapi konsekuensi2 atas pernyataan2nya itu.
di sini kembali, bahwa penampilannya itu tetap memiliki kepentingan tuk 2009…

ya semoga, dan semoga.. ada atau tidak ada ibu Mega, dua penampilan beliau itu sudah bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua… baik yang pro maupun yang tidak pro padanya.

dan saya lihat, suka atau tidak suka, penampilan ibu Mega juga tuk kepentingan PDIP keseluruhan. saya pikir PDIP bisa lebih belajar, solid dan bervisi yang kuat dengan kesediaan ibu Mega berbicara kemarin. di banyak kegagalan kepemimpinan partai selama ini, gebrakan ibu Mega yang paling utama yaa tuk partainya sendiri deh..

satu juga yang saya impresif dengan janji sembako murahnya PDIP.
hahaha.. buat saya, ini lelucon paling seger di pemilu 2009 ini. di tengah kebanyakan janji-janji surga partai selama ini, PDIP hanya satu. sembako murah..
biar mudah di inget ya? dan ga lupa sama janji..
hahahahaha 😀

selebihnya, mari berdemokrasi dengan baik..
semua boleh memiliki idealismenya sendiri-sendiri
tuk kepentingan rakyat, saya rasa, semua tetap akan memiliki titik temunya..
selalu hanya tuk golongan dan pribadi, ya tentu tidak pernah akan ada titik temunya… ya ga?

saya bangga kalau para politisi negeri ini semakin belajar dan semakin elegan.. sebagai seorang negarawan.

oya, penting nih. jangan tanya kenapa saya jadi begini tertariknya sama negeri ini.. sampai-sampai rajin menulis beginian. saya sampai sebel sama diri saya sendiri kok. sampe suka minta di ajak suami jalan-jalan biar ga keinget sama negeri ini mulu. maka semua di sini, cuma celoteh saya yaa.. tidak untuk di setujui.. saya hanya ingin menikmati rasa cinta negeri ini, di tengah begitu banyaknya ironi.. termasuk ironi tentang diri saya sendiri… 😦

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

9 Tanggapan to “belajar menjadi negarawan”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

ibu Megawati dan PDIP adalah sebuah ikon kebersamaan bangsa ini. disamping itu dia juga ikon nasionalisme yang luar biasa. juga sebuah ikon rakyat jelata dan kesederhanaan. disana juga tersedia kemampuan menggerakkan ekonomi yang berbasis dari bisnis rakyat dan riil. juga PDIP memiliki kepemimpinan yang baik. juga terjadi kaderisasi yang berjalan dengan baik.

PDIP adalah modal bagi persatuan dan kemajuan bangsa. partai lain sebenarnya hanya beda2 sedikit saja. tapi ada sisi2 yang bisa diharmonikan. sebagiannya lagi hanya beda karena emosional saja. apabila semua bisa membuka kelapangan hati, berusaha mempertemukan kesamaan, berkeinginan kuat untuk dengan tulus berbuat kebaikan, menyadari manusia tempatnya salah, maka kita semua bisa bersinergi.

PDIP bisa menjadi motor untuk itu.

@kang trend
jangan lupa kang..
pada akhirnya, di politik.. semua akan terlihat aslinya dan maunya.. 😀

Saya sih ngga suka Megawati dan PDIP, mungkin masih mending Gus Dur. Kepentingan rakyat mana yang benar-benar diperjuangkan Megawati? Apa cuma pidatonya aja? Yang penting bukan ngomongnya, tapi kerjanya.
Yang kerjanya memperjuangkan rakyat itu, orang seperti Yoni Haryadi yang siap turun ke desa tertinggal. Ngga cuma bicara di depan tipi saat kampanyeu. Atau ngga cuma nulis doang kayak sayah, tapi ada di dunia luar bukannya di Indonesia.
He he he.

@iwal
atas nama demokrasi, kang iwal.. suka atau ga suka itu sah-sah saja..

jangan gitu.., kalau soal memperjuangkan rakyat sih, sebetulnya banyak banget tuh yang ga bisa di sebut namanya satu persatu. dalam besar-besaran atau kecil-kecilan, dalam diam atau woro-woro.. mereka berjuang kok. langsung dan dekat dg rakyat. nah, agar perjuangan mereka ini terapresiasi dan berkelanjutan ya perlu pemerintahan yang mengakomodasi dan turut memperbaiki keadaan. sinergi deh… manunggaling pemimpin dan rakyatnya..

atau mau kak Yoni Hariyadi yang turun ke desa tertinggal yang jadi presiden? boleh aja, kalau memadai tuk ngurus negara segede ini dan membawakan negara ini di mata luar negeri.. 🙂

Saya setuju dengan bangkitnya wanita. Tapi maaf saya sudah tidak percaya dengan bu Megawati. Beda boleh kan bu ?

Dari sudut pandang saya (yang mungkin berbeda dengan orang lain), PDIP sudah tercemar hati nuraninya. Antara lain mesra dengan golkar yang dulu jelas membantainya. Bagaimana kabar oran orang
yang hilang di Peristiwa kuda tuli ?
Bu Mega juga cuek saja. (semoga sekarang sudah berubah).
Ini basic seorang negarawan saya kira….
hati nuraninya bagaimana ….

Btw Kalo sembako murah, petani jadi malah sedih dong buk…karena dibeli murah.

Dan lagi masalah murahnya sembako tidak mudah…orang Indonesia gak nguasain pasar kok..jadi itu cuma bunga bunga kampanye…

Hehehe boleh gak sama ya buk…

Sampe skr ayah dan ibu saya termasuk keluarga besar adalah PDIP sejati, pasti marah kalo saya sudah protes PDIP.

Ada sepupu yang masuk lingkar 1 PDIP. Dulu orang ini baik, tapi sekarang payah…
korupsi gila gilaan.
Kemarin beli Moge, bilangnya supaya kalo turne ke desa desa mudah bersama rekan rekannya.
aneh banget…ke desa naik moge
Apa gak lari semua orang desa itu
Saya pikir Hati nuraninya sudah terkontaminasi…

Kalo lingkar satu seperti ini, bagaimana lingkar lingkar di bawahnya.

Maaf memang tidak bisa di generalisasi.
Ini cuma asal mulut njeplak saja bu..
Bosan saya dengan politik…

Main lego aja buk..

@mas datyo..
hehehe… menulis ini, tidak lantas berarti saya memilih megawati kan mas? 😉
soal money politics sampe korupsi mah, partai yang mengklaim dirinya bersih juga ga bisa menghindari. semua sama saja. definisi korupsi saat ini juga sudah sangat relatif, mas.. hehehe.. sederhananya, butuh kesadaran dan kepedulian sosial aja deh. jangan melulu pribadi dan golongan.

persoalan partai dan hidup demokrasi kita emang masih buruk. dan merubahnya ga mungkin spt membalikkan telapak tangan. maka saya bilang, kesediaan ibu megawati berbicara itu, utamanya ya untuk partainya sendiri. mengenalnya lebih dalam. menggugah kesadaran baru para simpatisannya, dalam apapun bentuk hikmah yg bisa di peroleh. maka juga saya bilang, ada atau tidak ada ibu mega, semua harus belajar menjadi lebih baik. selebihnya, ya kita harus mau terus mendorong agar kepemimpinan negeri kita ini menjadi mumpuni. melulu membiarkannya akan makin hancur toh? menunggu ratu adil juga seperti mimpi..

soal sembako murah, barusan di berita tv, ttg PHK masal penenun tradisional (hand made) di beberapa daerah jateng. dari buruh 200an, tinggal 6 orang saja! krn sama sekali tidak adanya permintaan dari amerika dan eropa selaku pasar utamanya. seorang buruh bahkan sudah di phk 3 tahun yll. harapannya tuk bekerja lagi sudah tipis, skr jadi tukang bakso. maka maunya cuma satu, sembako murah. agar bisa tetap kebeli makan tuk anak2nya..
menurut saya, program sembako murah, selama mengakomodasi hasil tani rakyat sendiri, bukan melulu impor, bisa deh tetap memutar roda perekonomian rakyat. maka pertanian harus di support baik. negeri ini memang membutuhkan ketulusan. sudah lama saya menghindari konsumsi produk impor mas. termasuk tuk makanan dan buah2an.

teman saya ada yg jadi caleg. cewek, muda usia dan baru masuk dunia politik. di fb-nya selalu mengaku pusing tuh mas.. pas kampanye, yang di minta rakyat : cariin kerjaan, makan murah, rumah murah, kesehatan dan pendidikan gratis dsbnya. katanya, boro-boro bisa nerangin konsep partainya. hehehe… saya geli. maklum dia masih gress banget. dan memang masih begitulah sebagian besar rakyat kita. masih butuh yang standar bangettt… sehingga, wajar pula kalau demokrasi kita masih “primitif”, baik partainya maupun rakyatnya..

jujur, tulisan saya soal ini, hanya tuk merangsang berpikir aja. mengajak tuk ga sekedar melihat yg standar-standar saja. soal memilih sih, merdeka! saya sadar tuk memilih, walau juga tak menutup kemungkinan tuk (lagi-lagi) golput. masih terus mengamati deh mas. yang utama dalam pemilu kali ini tuh, kembalinya pendidikan dan kesadaran politik, setelah lama kita di kebiri dan terbuai janji-janji.. 😀

1. Kayaknya sih Mega jd presiden gak terlalu menonjol prestasinya-ingat nggak waktu pidato bilang “Jika Cut Nya’ jadi presiden tak saya biarkan setetes darahpun tumpah di Aceh. Nyatanya Aceh baru beres setelah negara dipegang pasangan SBY-Kalla.
2. Dalamm kampanye kemarin kalimat unggulannya adalah” memperjuangkan sembako murah”.Ini memang menyentuh hajat orang banyak. Tapi sembako murah itu tidak gampag karena keterkaitannya dengan masalah lain cukup banyak. Misal : harga beras murah. Trus petani gak akan makan jika harga pupuk tetap mahal, ongkos menyangkul,tanam padi juga masih mahal.
3. Permadi yg dulu jd anggota setianya juga hengkang kan dan malah bilang ” Ibu Mega jadi Ibu bangsa saja deh ” . Itu kan bahasa halusnya.
3.Selamat dan sukses.

@Abdul Cholik
hahaha… saya nih terpaku pada Puan dan Ibas. belum lagi banyaknya faktor keluarga dalam birokrasi kita. mertua, besan, ipar, sodara misan, sodara sepupu, adiknya adik ipar, kakaknya kakak sepupunya adik ipar… dstnya ga karu-karuan.
tiba-tiba merasa apa-apaan nih negeri???
lebih-lebih dari zaman pak Harto deh!

ibu Megawati adalah sosok yang selayaknya banyak bersyukur dengan ortu dan kenyataan dirinya pernah bersama ortunya yang adalah orang besar negeri ini. dalam lebih dan kurangnya, pak Karno adalah sosok yang patut di hargai. tapi memang sayang, kebesaran sering tak menjadi jaminan tuk terus menciptakan kebesarannya lagi, sebaliknya malah mengerdilkan diri bahkan anak turunannya.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: