manusia biasa

Posted on Januari 6, 2009. Filed under: islam indie |

(di bagi yaa… hanya tuk mengenang sebuah refleksi hidup..)

waktu saya kecil, saya suka bingung dengan beberapa sikap anti cina, yang sadar atau tidak sadar saya rasakan dari kehidupan sekitar saya. walau tak sering tapi cukup pernah terekam dalam ingatan. bingung.. asli, saya bingung sendiri.
seperti ucapan..
– dasar cina
– jangan mau! dia orang cina!
sampai pada..
– dasar cina makan babi!

hmm…
saya jadi suka merenung dan bertanya-tanya sendiri..

siapa sih yang mau terlahir jadi cina di negeri yang kebetulan sangat mendiskriminasi keturunan cina-nya?
dan dengan polos, saya akan membela diri dan bilang..
– saya juga punya darah jawanya kok. nenek saya dari ibu asli kroya – cilacap.
hehehe… ah, aneh rasanya pembelaan kaya itu ya??
toh, saya tetap… keturunan cina.

selebihnya, saya bersyukur memiliki teman-teman yang sangat berbaur dan seru-seru saja.. ga pandang ini itu.

sampai tiba kerusuhan 98.
banyak tragedi menimpa keturunan cina..

waktu itu jelas saya mengkhawatirkan keluarga saya. walau saya sudah menjadi muslim dari tahun 90 dan tahun 97-nya saya menikah dengan orang jawa.
sebaliknya, karena keluarga saya di lampung, mereka yang lebih mengkhawatirkan saya, yang saat itu tinggal di jakarta. tapi katanya gini..
– tapi untung deh, nis. lu sudah islam, sudah pake jilbab dan juga sudah nikah sama orang jawa. kalau ga, duh… serem deh ngebayanginnya…

hah??
waduh, padahal saya islam bukan karena semua itu.. dan saya ga kebayang akan ada kejadian begitu di setelah 8 tahun saya berislam..

membuat saya jadi geli sendiri..
islam bikin saya selamat? hehehe… padahal pernah kok saya di ragukan oleh orang islam. diejek sebagai mualaf ga tahu diri dan lemah iman. hanya karena saya ga bisa ikut-ikutan dan taklid seperti mau mereka. maka mereka berkata dan mensikapi saya..
– islam bukan sih lu?
– dasar cina, tetap cina..
hahaha..
duh, tuhan.. padahal saya sudah mati-matian belajar agar bisa jadi orang islam tuh.

lah, sementara ketika saya masuk islam. lalu saya tetap memilih bersilaturahmi dengan keluarga yang kristen. mereka anti pati! seolah saya nih hina sejak memilih islam.

nah, dalam islam, saya pun nyaris tak pernah bisa memberi apa-apa tuk keluarga saya yang kristen. karena mereka tak berhak atas doa sampai hartanya muslim. meski itu untuk orang tua sendiri.

waktu saya mau nikahpun, saya masih di tampar oleh ayah saya, karena tidak boleh nikah dengan orang islam! walah.. sudah jadi orang islam masa ga boleh nikah dengan orang islam??

e, nikah dengan muslim, saya juga harus sabar beradaptasi dengan begitu banyak aturan dan kebiasaan muslim. nyaris selalu terjaga agar tak salah…

haduh… saya bak bola yang di ping-pong ke sana kemari! rasanya habis deh umur saya terkikis secara psikis di lempar kesana-sini kaya gitu.. kebentur sana-sini, hancur deh rasanya jiwa saya. sementara kesadaran meminta saya tuk selalu kuat dan bertahan. tapi toh, akhirnya saya ambruk juga…

maka saya pernah membanting kitab suci.. menggugat tuhan!

bertanya keras padaNya!
– Kau ingin jadikan aku ini apa??

cina? jawa? arab? yahudi? madura? kalimantan? atau apa??
kristen? islam? budha? hindu? kejawen? atau apa??
atau oportunis..??
di yg mayoritas islam aku jadi islam?
di mayoritas kristen aku jadi kristen?
di amrik aku kawin sama amrik?
di jawa aku kawin sama jawa?
di afrika aku kawin sama afrika?

semata agar aku selamat???
ah tuhan, sayang.. aku ga bisa begitu

atau ingin Kau tempatkan aku dimana?
di tengah laut??
agar aku bebas dari klaim manusia?
tapi bukankah laut juga di klaim??
atau di udara??
tapi bukankah udarapun ada yang mengklaim??

maka di manakah aku?
siapakah aku?
apakah aku?

huahhh… saya pernah tuh sampai begitu.. 😛
.

maka saya memilih ga ke kiri ga ke kanan
maka saya memilih ga ke utara ga ke selatan
maka saya memilih ga ke barat ga ke timur
maka saya memilih ga ke atas ga ke bawah

menemui diri di ciptakan hanya sebagai manusia biasa
yang menghargai asal usul dan tanah tumpah darah
yang menghargai tuhan dalam bagaimana saya boleh menyebutnya

maka saya : indie

selebihnya, saya hanya harus bisa membawakan diri dengan baik
berbagi makan, minum, rezeki, dan ruang dengan semua sesama saya. mau itu sodara, tetangga, teman, bahkan musuh.

hidup tak untuk di kuasai sendiri..

ketika menemai anak saya belajar IPS, tentang demokrasi.
di katakan bahwa manusia itu makhluk sosial. tak bisa hidup sendirian. maka dia bersama yang lain. bermusyawarah dan bermufakat tuk kepentingan bersama. tidak semua kepentingan bisa di penuhi, maka azas persaudaraan dan kekeluargaan diutamakan dalam pelaksanaan keputusan bersama, untuk kepentingan bersama pula. itulah demokrasi. dan demokrasi di indonesia kita adalah Demokrasi Pancasila..

di dasari oleh sila-sila dalam Pancasila.
– ketuhanan YME
– kemanusiaan yang adil dan beradab
– persatuan indonesia
– kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
– keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia

maka saya pernah bercanda pada teman saya, kami berbeda agama dan suku bangsa.. tapi sama-sama indonesia..
– kalo pancasila itu agama, saya beragama pancasila aja deh..
hahahahahaha 😀
dan dia jawab..
– yup, pancasila lebih bebas tafsir, hehehe..

.

maka kalau saja hidup di dunia ini ga perlu atribut,
saya pasti sudah tak bersekat,
saya tak lagi beruang,
bahkan saya… hilang

saya hanya butuh raga agar terasa
saya hanya butuh tanah agar berada
saya hanya butuh bangsa agar nyata
saya hanya butuh negara agar berkarya

saya hanya butuh nama agar…….. ada

maka saya di sebut manusia
dan saya biasa-biasa saja
bisa bersama siapa saja

demikianlah hidup menempa dan mengajari…
maka nikmat mana yang kau ingkari?
dan haruskah diskriminasi terjadi dengan dalil kitab suci?

seandainya hidup bisa selalu di syukuri
dalam apapun manusia itu menyebut namaNya
mari kita masuki hidup penuh kedamaian di masa ke depan…

amin…

salam
anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

9 Tanggapan to “manusia biasa”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Saya melihat ibu seperti “kesepian”…maaf sok tahu..
Tapi saya yakin pasti sampeyan nemu teman sejati di dunia ini…teman yang tulus…
Selain suami dan anak anak…

cek3…bagusnya si indie ini diapain ya?

Dibilang jablai, g mungkin.
dikatain jomblo, ahh mana tahaan.

Tahan banting, mungkin.
selalu sendirian, karena punya pendirian.

@mas datyo
kesepian?
saya hanya jadi terbiasa merasa sepi di keramaian dan merasa ga sendiri di kesepian. kadang juga dalam dekat, terasa jauuuuhhh.. dan jauh malah terasa dekat. wah, seperti bermaind engan dimensi deh mas. ala bisa karena terbiasa. ga sengaja.. ga tahu juga kenapa..
hehehe.. makasih mas. mas datyo dan semua di sini juga teman2 yg tulus tuk saya.. makasih yaa😀

@mas aryf
duh, emang enaknya diapain yaa? hehehe…
wong di kuasai ga bisa, di biarkan juga sayang..😉
maka yaa.. nikmati selagi ada dan relakan bila tiada..
gitu ga sih mas?😀

saya selalu berpikir, mana sikap yang benar:

membenarkan semua yang ada, sehingga kita ada di mana-mana

menyalahkan semua yang ada, sehingga kita tidak di mana-mana

akhirnya saya hanya berdoa dan terus berdoa, agar saya selalu ditunjuki lagi, dan ditunjuki lagi jalan yang benar. sambil terus berbuat kebaikan diantara sesama manusia dengan lebih berarti dan semakin berarti.

mba anis, mari kita berdoa dan saling menjaga agar keselamatan itu Tuhan berikan kepada kita. amiin

@kang trend
pertanyaan yg bagus kang.
pertanyaan itu lahir ketika orientasi diri masih pada posisi benar atau salah. padahal benar atau salah itu relatif sekali. sementara saya beragama ya pada prilaku aja. beragama saya habis tuk dijalanin dari melulu di pelajari dalil-dalilnya. saya sudah merasa ga butuh soal benar atau salah. saya butuh : “apa yg seharusnya dilakukan”. krn sudah saya sadari kalau ternyata hidup tidak sedang menyoal benar atau salah. hidup itu fana. relatif. maka hidup hanya menyoal sebab akibat. itulah ukurannya, lengkap dg resiko2nya

ini kemudian yg saya pahami sbg “menempatkan segala sesuatu pada tempatnya dan memenuhi segala sesuatu sesuai haknya”. sayapun jadi terlatih terus mengukur dan sadar diri.

dan di sini pula, dalil berhadapan dengan fakta kang.. maka dalil mendapatkan pendalamannya. hidup jadi lebih realistis dan termaknai deh. ini dari pengalaman hidup yg saya lalui ya. emang sih saya jadi suka di pojokkan dengan apa dalilnya, apa hujjahnya, dstnya.. ah, pusing deh. kalau saja bisa dipahami bahwa dalil itu bisa jadi teori yang basi jika tidak dilakonin. di sinipun, saya cuma menuliskan pengalaman loh. berbagi. selebihnya saya ya menjalanin realitas keseharian, terbaik yg saya bisa dan melakukan yg seharusnya saya lakukan… siap dg segala resikonya😉

Mbak Anis, saya ikut nimbrung lagi ya. Ngasih comment.

Kelahiran seperti hanya kematian adalah “takdir”. Tak ada pilihan. Given. Kenapa terlahir sebagai anak bandit, anak pelacur, anak koruptor, anak tapol/pki, anak ulama atau anak presiden? Juga kenapa terlahir sebagai Cina? Pertanyaan (gugatan/hujatan) semacam itu bisa jadi, dan sah sah saja, jika mengarah pada pertanyaan eksistensial untuk menjawab kenapa Anda menjadi indie, juga dalam keislaman Anda.? Masa lalu memang turut menentukan jadi diri atau identitas seseorang.

Adakah pertanyaan Anda juga menjadi sebuah pertanyaan etis? Masalahnya, pertanyaan itu bisa menjadi semacam pembenaran diri, justifikasi atau malah kadang menjadi semacam ”mengasihani diri” dan ”permakluman”. Harap maklum, aku menjadi begini karena masa lalu saya, karena kelahiran saya, dsb. Saya melihat (lebih pas kalau dibilang curiga, hehehe) lebel indie pada keislaman Anda juga berkolerasi dengan label muallaf yang Anda usung. Harap maklum, karena saya muallaf. Secara psikologis mungkin akan meringankan beban secara etis dalam proses pencarian yang kadang keluar jalur dari pandangan yang dianut orang kebanyakan, tidak lazim, nyentrik atau malah kadang funky. (hehehe maaf jadi kepanjangan)

Oke, Mbak Anis, kita semua memang ”muallaf”, dalam proses ”menjadi” dengan selalu mencari. Jalur pendakian spiritual yang telah Mbak lalui memang sangat terjal. Tak semua orang bisa melaluinya. Kisah ”petualangan” memang selalu menawan. Jangan berhenti ya untuk selalu berbagi. Saya termasuk peminat dan penikmat ke-indie-an Mbak

@rozan
makasih mas rozan
saya sudah melewati segala jenis pembelaan-pembelaan seperti itu mas. semua itu hanya justifikasi di balik rasa mengasihani diri atau pemakluman spt kata mas. saya belajar keluar dari apa yang berpotensi melulu menjebak jiwa saya. saya membebaskan diri dg menjadi apa adanya saja. semua asal usul dan cerita ttg saya adalah bagian dari perjalan saya hari ini.. dan menjadi begini. itu yg harus selalu di syukuri. tanpa semua itu, saya tak akan ada di sini..

label indie, spt saya tulis di awal saya mengusungnya, bahwa indie adalah cermin cita-cita saya tuk mandiri dalam beragama dan bernegara. belajar menjadi diri sendiri… dan berjati diri.
kita semua sama-sama… mau kan menemani belajar saya di sini?

@tommy
hehehe… seorang kyai pernah bilang jangan lupakan cina dalam sejarah islam di indonesia.
saya bercanda, wah.. meski keturunan cina, saya tetap ga ada hubungannya dengan cheng ho.. hehehe.
suami saya melotot.. hush!😀
kita dan sejarah hanya seperti mata rantai kehidupan, mas tommy. kita tak melupakan sejarah, selebihnya kita adalah kita. ayo bikin sejarah baru yg gemilang.. bukti kita ada dan bagian dari mata rantai kehidupan..😀

wali sangapun juga orang cina kecuali Sunan Gunung Jati😀
bahkan Kalijaga sendiri yang dipuja sebagai Sunan yang betul2 njawani ternyata blesteran Jawa (ibunya anak Brawijaya) dengan ayah Cina yang diangkat sbg Bupati Tuban:mrgreen:

Agama & iman adalah ranah privat, suatu proses aktualisasi manusia dalam memaknai hidup. Tiada iman yang selesai, selalu berproses tiada akhir seiring proses pencapaian kepurnamaan manusia. Tuhan selayaknya tak boleh disterilkan dalam kebenaran metafisis, diberhalakan sebagai konsep yang baku, ditempatkan dalam kekosongan transedensi jauh diluar sana. Pemaknaan hidup boleh berbeda asal tidak dijadikan sebagai menara gading kebenaran, yang digunakan untuk mengebiri pencapaian hidup manusia lain.
Kebenaran sendiri terletak pada pemaknaan & bagaimana mengalami Tuhan dalam hidup sehari-hari. Tiada nilai yang mutlak, benar-salah dari Tuhan

saya sendiri tidak begitu peduli pada agama *sbg sebuah institusi*

salam kenal dg saya yang indie


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: