kita ke depan adalah bagaimana kita hari ini

Posted on Januari 9, 2009. Filed under: islam indie |

(ini terakhir saya komen soal palestina yaa.. di bagi di sini. ok?)

saya di tanya teman, apa kira-kira solusi yang nyata tuk palestina – israel?
wuihhh.. mungkin karena terkesan saya kurang berpihak ya? hehehe😀

sebagaimana kita semua sadari, persoalan di sana sudah begitu njlimet. kalau seorang teman yang lain malah bertanya pada saya, kok palestina terkesan tanpa perlawanan sih? apa ga ada strategi perangnya? selamatkan wanita dan anak2nya kek, ini kek, itu kek..
hehehe..
kalau menurut klaim-klaiman di berita, katanya karena hamas tuh menyimpan logistik perangnya emang di rumah rakyat kebanyakan, bahkan di masjid2, di sekolah, dan di rumah sakit. maka serangan israel ya memasuki wilayah sipil. sehingga kesannya rakyatnya jadi pager hidup gitu.

logistik perang memasuki wilayah sipil kaya gitu lumrah terjadi deh. bagian dari strategi kan?
perang memang menyoal membunuh atau dibunuh…

dan hidup memang menyoal sebab akibat…

tapi coba bayangkan..
kalau dunia memandang persoalan ini dengan lebih fair..
ga melulu di bawa ke sentimen ini itu, netral aja..
ga di bawa ke anggapan tanah perjanjianlah
ga di bawa ke anggapan yahudi adalah musuh yg nyatalah
ga di bawa ke anggapan yg engga-engga deh

saya rasa itu akan membawa mereka berdua (palestina dan israel) bisa memasuki solusi yg juga nyata. ga melulu sentimental spt sekian lama ini..

yg semoga bisa membuat mereka bisa berkomitmen dengan jernih dan jelas. selebihnya ya sikapi saja sebagaimana layaknya negara berdaulat..

spt..
– kalau soal segala akses ke gaza di blokir israel, itu ya menjadi sebagaimana persoalan perbatasan dua negara.
persoalan perbatasan kita dg malaysia dan singapura aja, meski dah jelas di atas hukum, tetep tuh.. bermasalah.. wilayah kita relatif melulu diintervensi kan?

– kalau soal kebiasaan bom bunuh diri palestina masuk ke israel ya itu kriminal.
uruslah dg kapasitas sbg sesama negara berdaulat..

– dan soal israel lebih maju karena bergandengan sama amrik, sementara palestina sengsara, itu sih soal gimana menej negara dan maunya bersekutu sama siapa…
itu juga kedaulatan masing2 deh.

lah, negara kita aja nih, yg sukanya menyembah investor , model negaranya jadi undlap-undlup.. ya itulah kita hari ini..

harus ada kesadaran baru tuk menyelesaikan persoalan di sana.
jangan melulu di bumbui dan di hembusi dg sentimen yg engga-engga..
analisa persoalan harus melepas semua atribut..

.

saya selalu bertanya-tanya di tengah riuh rendah teriakkan kemanusiaan tuk Palestina. bagaimana reaksi orang2 itu tuk korban dari sipil israel? masuk ke dalam agenda kemanusiaannya juga kah? atau melulu memihak krn pemberitaan melulu mengekspos korban dari pihak palestina?

dimata saya, kedua mereka itu manusia..
atas nama kemanusiaan, saya ga bisa memilah, maka saya ga mau ikut2an deh. karena sejujurnya, saya juga tak bisa banyak berbuat tuk mereka hari ini. maka saya mendukung segala upaya –dari pihak manapun– yang bisa mendamaikan mereka. selebihnya, saya ingin bersikap netral aja..

tak ingin menghembusi dan melulu memanas-manasi dengan aneka sentimen..

dan pastinya, saya punya harapan dan cita-cita tuk mereka ke depan.

saya hanya berharap dan bercita-cita agar ke depan semua kehidupan ini bisa damai.

ga cuma di jazirah arab, ga cuma di indonesia, tapi semua…
dunia memang ga akan serba sama, tapi minimal semua layak hidup dengan baik.

maka kesadaran kita dan cara berpikir kita hari ini tuh menentukan kedamaian di masa depan itu bisa terjadi atau tidak..

sudahilah segala bentuk legitimasi atas nama agama dsbnya. jangan melulu mewarisi permusuhan. mari berpikir tuk masa depan yg lebih baik..

persoalan palestina dan israel hari ini seharusnya bisa membangkitkan kesadaran baru..

tuk bisa mewujudkan dunia yg lebih damai secara keseluruhan, agar kita bisa memulai mengurusi dunia dg lebih baik. inget aja deh, es di kutub mencair setiap saat tuh, dan siap menenggelamkan sepersekian bumi ini secara perlahan tapi pasti. hehehe..
siapkah kita – sebagai mahluk hidup di atasnya?

itu harapan saya sesungguhnya
dan doa saya tuk kedua belah pihak
doa saya tuk mereka (palestina – israel) semua
semoga kelak akan ada masa dimana anak-anak mereka senang dan tenang bersekolah, mengapai cita-cintanya, bahagia berdampingan, dan bisa selalu bekerjasama tuk masa depannya yang gemilang..

kesimpulan :
semoga tragedi Gaza memberi kesadaran baru.
tentang damai yg boleh dinikmati semua pihak.
sudahi segala bentuk sentimen.
agar keadaan tak mlulu jadi sentimental.
mari bersikap netral..

selebihnya, saya milik indonesia
saya ingin bisa berkarya tuk negeri saya tercinta..
amini yaa…😀

ps : semoga kepedulian tanpa keberpihakkan ini, juga bisa bermanfaat tuk negeri saya yang luarbiasa beragam dan berwarna-warni ini ya. di sini, saya belajar obyektif, bahkan terhadap diri saya sendiri..

salam,
anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

17 Tanggapan to “kita ke depan adalah bagaimana kita hari ini”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Salam kenal mbak..
artikel yang bagus. saya pribadi terbantu untuk menjawab pertanyaan anak saya mengenai kasus Israel Palestina ini.
Tidak keberatan kalau nanti saya ingin menjadi teman mbak di facebook kan?🙂

@zaza
sama nih, maaf mbak Zaza.
komennya nyangkut di spam dan baru di bebaskan
add saya di facebook Luzie Megawati yaa
saya tunggu..😀

I COULD NOT AGREE WITH YOU MORE… Alias SETUJU BANGET…

Sebagai negara yang berdaulat, Indonesia juga tidak kalah bereaksi dengan negara lain kok. Coba apa yang nggak dikerjakan Indonesia? Tidak cuma mengutuk lho, tapi juga berdialog dengan PBB, mengirimkan pasukan perdamaian dan menenangkan rakyat yang mau jihad ke Palestina. Cuma usul aja, sebelum pergi sebaiknya bikin dulu tabel untung rugi. Jangan sampai keberangkatan kita justru merepotkan negara kita, negara mereka dan merepotkan diri sendiri.

Bener juga Mbak Anis, kepedulian tanpa keberpihakan ini bukan berarti kita tidak mendoakan yang terbaik untuk mereka. Ini bukan masalah hitam dan putih, tetapi memang ada hal-hal yang harus dibicarakan tanpa ditunggangi sentimen lain. Nggak bisa juga mencari siapa yang salah siapa yang benar, karena mereka berkontribusi positif di kedua sisi itu. Merekalah yang harus punya inisiatif untuk mencari akar masalah, duduk dan bicara untuk mencari penyelesaian. Kalau tidak bisa, berarti memang pemimpin mereka sendirilah yang tidak peduli dengan nasib rakyatnya…

Dengan selemah-lemahnya iman, aku berdoa dari hati yang paling dalam. Semoga pihak yang bertikai diberi kesadaran melakukan yang terbaik buat rakyat dan negara mereka sendiri.

@siti cinderella
maaf mbak cinderella..
komennya nyangkut di spam, dan baru di bebaskan.
sama-sama yaa…
kita justru harus lebih peduli dg bangsa kita, jangan sampai terjadi pertumpahan darah kaya gitu. ya kan?

Beneran mau sama dan menjadi manusia biasa?
Bikin penasaran kita-kita aja nih🙂

menurutku, penjajahan Israel atas tanah palestinalah yang menjadi sumber kekejaman ini. Dari tahun ke tahun Israel makin memperbesar area wilayah, sehingga Gaza jadi wilayah terkepung dan terpisah dari tepi barat. Perampasan ini sudah pasti sunnatullahnya membuat ketidakseimbangan kehidupan.

rasanya selama penjajahan masih terus dibiarkan, susah sekali kedamaian akan datang.

The Maps Tell the Ture Story :
http://musliminsuffer.wordpress.com/2009/01/05/the-maps-tell-the-true-story-2/

@mas ara
@tuansufi
@kang trend

ngalah bukan berarti kalah.
netral bukan berarti tidak memihak.
tapi demi keadaan bisa tenang.
dan damai memungkinkan.
korban diminimalkan.
maka….
api jangan melulu di siram bensin..

melulu menghembusi persoalan dengan sentimen ini itu , membuat persoalan di sana jadi berkembang ke mana-mana.

bisa-bisa…. seluruh jazirah itu terlibat perang. bisa-bisa.. seluruh jazirah itu hanya jadi ladang saling membantai dari dendam kesumat yang ga jelas. bisa-bisa… seluruh jazirah itu………………………………….. bak padang masyar, tempat semua manusia di kumpulkan, tempat amalan dan dosa di perhitungkan. dan yg selamat, ya tentu yang suci bersih hatinya..
kitab itupun menjadi nyata… tentang hidup sejati, yang ga sekedar simbol-simbol hati..

Muhammad saw (gpp saya bawa2 terus di sini mba ya), hadir ke tengah2 konflik berkepanjangan berdarah2 antara suku auz dan khajraj di yatsrib, menjadi pemersatu kedua suku ini. dan kemudian beliau mempersatukannya dengan kaum quraiys yang berhijrah.

kemudian terbentuklah madinah yang mengayomi semua perbedaan yang ada. termasuk bangsa yahudi ini. saya pikir ini referensi yang layak kita tengok kembali untuk diambil pelajaran, bagaimana menjadi seorang muslim yang bisa berdiri diatas semua kepentingan dan mengayomi semua ideologis seekstrim apapun.

gimana mba?

sbg manusia biasa, penjajahan emg bukan utk dibiarkan, tp utk dilawan.
memberikan perlawanan juga jgn membabi buta dan bawa2 stempel agama.

ngomong arab bole2 aj, sama juga kyk ngomong english. tapi kan g berarti hrs jd englishman or arabian. maka itu hrs dipahami dulu artinya, jgn bisanya cuma dimulut saja.

bahasa itu kan alat komunikasi. so biar g disalahartikan dan timbul kesalahpahaman, makanya ada terjemahan dalam bentuk tulisan.

bahasa juga merupakan komunikasi lisan dlm bentuk suara, utk menyampaikan pesan agar lebih jelas maksud dan tujuan.

ada juga bahasa dlm bentuk garis dan lukisan. kalo dlm kebudayaan islam mungkin dikenal dg istilah kaligrafi. ini sendiri sudah memasuki ranah estetis dan seni.

beda manusia pra sejarah dg manusia ber sejarah kan, tipis sekali. cuma ditandai oleh adanya bukti tertulis/ prasasti.

jika dikatakan bhw manusia pra sejarah adalah barbar dan biadab, bisanya cuma melukis di gua memakai batu dan tulang; maka apa bedanya dg manusia sekarang kalau begitu?

Menyaksikan tragedi pembantaian yang kerap terjadi, memang bisa membuat orang jadi apatis, nihilis, kehilangan emosi untuk sekedar empati. Biarlah itu urusan mereka, itu masalah orang lain, asal bukan kita yang ketiban misibah. Toh kita juga gak bisa berbuat apa apa. Ngurusin diri sendiri/negeri kita masih susah.

Itulah kesan yang saya tangkap dari tulisan Mbak kali ini. Siapa itu Israel dan kenapa Amerika membantu serta selalu membelanya? Tak ada sangsi bagi Amerika setelah membantai rakyat Irak dengan dalih yang ternyata salah/bohong tentang senjata pemusnah masal. Iran dicecar karena mengembangkan nuklir, sementrara Israel dibiarkan. Dia kampanye demokrasi, tapi ketika Hamas menang pemilu di Palestina, lalu marah. Demikian juga yang terjadi di Sudan. Karena perusahaan multi nationalnya mau mengembangkan sayap ke mancanegara, maka ekonomi pasar bebas dia kampanyekan, jika perlu pemerintahannya digulingkan. Tapi ketika perdagangannya defisit dengan Cina, dia melakukan deregulasi. Terlalu panjang menyebut sikap munafik, arogan dan kebiadaban Amerika untuk menguasai dunia demi kepentingan dan kedigjayaanya.

Perlawanan dengan hati, kata nabi, adalah selemah lemahnya iman. Harus ada sikap pemihakan bagi kalangan yang terdintas. Pemihakan pada nilai nilai kemanusiaan yang universal. Pembantaian, penjajahan atau penindasan apapun bentuknya harus dihentikan dari muka bumi. Itu pula yang menjadi amanat konstitusi negara kita. Sebuah pandangan yang lahir karena para founding father negeri kita merasakan pahit getirnya penjajahan dan penindasan kolonial, seperti kini dialami Palestina yang teruris dari tanah tumpah darahnya. Venezuela dengan tegas mengusir dubes Israel yang dituduh Hugo Chaves sebagai teroris dan barbar. Sementara para pemimpin negara negara Arab yang serumpun dan seagama dengan Palestina berdiam diri, seakan sudah mati rasa kemanusiaannya.

@rozan
mas, saya sangat bersimpati dengan persoalan kemanusiaan di sana. tapi jujur, saya merasa tak bisa banyak membantu. saya percaya, bahwa sebagian dari pajak dan penghasilan negeri kita sudah ada posnya tuk disalurkan ke sana via bantuan RI. saya percaya, pemerintah kita tetap kok menjadi representasi dari kepedulian kita.

justru, saya merasa kepedulian yang nyata, lebih di butuhkan tuk negeri kita sendiri…
badai penggangguran sudah melanda negeri kita, mas. kita justru harus bisa mencegah jangan sampai tragedi kemanusiaan juga terjadi di negeri kita. selebihnya, saya meyakini.. kadang “perang” adalah jalan tuk “kembali”🙂

@aryf
sikap saya masih sama mas aryf : netral..

sapa blg perlawanan dg hati menjadi sia-sia?🙂

perlu berapa bencana lagi, agar kita menginsafi bhw runtuhnya kebiadaban justru dimulai dari suara hati?

Mungkin aj hati manusia biasa, yg dikatakan selemah2 iman.
Maka menjadi manusia biasa, emg hrs berpihak.

*pilihan yg sulit*

hidup Indonesia😀
mari kita wujudkan cita2 bangsa : mewujudkan perdamaian dunia & Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasar kepada Pancasila
Nusantara Jaya

@rozan lagi..
@tomy juga..
saya sering berpikir, dunia perlu bukti ttg islam yang damai dan terpercaya. maaf, dunia islam saat ini sangat jauh dari kedua hal itu. akui saja deh. maka jika saja indonesia, yg notabene mayoritas islam dan islamnya damai bisa mewujudkan hal itu, ya semoga bisa merubah cara pandang dunia ttg islam.

saya baru membaca cerita di milis dari sahabat saya di jepang. ttg orang pakistan dan arab yg berebut tuk menjadi khatib sebuah masjid di jepang. begitu kerasnya mereka, sampai muslim jepangnya shock dan jatuh. maka yg di percaya tuk menjadi khatib adalah muslim dari indonesia. ini masalah sikap, manners.. dan saya percaya, jika memang indonesia bisa membawakan diri dg baik, handal, maju dan terpercaya, memperbaiki citra dan meleading dunia islam, why not? dari melulu diinjak-injak begitu dan itupun di biarkan oleh mayoritas masyarakat arab di sana toh?

selebihnya sih, jauh deh dari hal itu.. indonesia survive dulu, itu cita-cita saya.
saya sangat tidak suka mempolitisasi agama. saya lebih suka agama menjadi kesadaran personal. maka, sikap saya tetap : netral..
saya seorang nasionalis tanpa embel-embel.

dan saya dari dulu, setuju dg mas tomy, bahwa PANCASILA adalah tawaran ideologi tuk dunia ke depan. maka yukk bangun indonesianya! menjadi bukti tersendiri…😀

yang terjadi di palestina bukan peperangan, tapi “pembantaian”. seperti halnya yang terjadi di irak dan afganistan.
media massa memang bukan sekedar menyajikan berita, tapi juga membangun citra, merubah maindset pemirsanya. malah bisa meracuni (saya jadi ingat pemikiran habermas). israel jelas adalah penjajah, dan pembantai dan palestina pihak yang terampas dan terhempas.
intifadah dan roket hamas yang alakadarnya hanya sekedar untuk teriak, mereka minta diakui dan didengar oleh dunia. bahwa mereka ada dan minta hak atas tanah airnya yang terampas dan membuat mereka terhempas. untuk kesekian kalinya israel membantai. teriakan pbb pun berulang kali diabaikan atau diveto amerika. 60 tahun sudah palestina dalam nestapa.
atas nama apapun peperangan harus dihentikan. terlalu besar biaya kemanusiaannya jika kita bersikap memaklumi tragedi pembantaian karena dalih untuk mengail hikmah sebagai jalan untuk “kembali” seperti yang Mbak bilang. gelobang protes di berbagai belahan dunia yang mengutuk israel (juga sewaktu irak dibantai amerika) adalah wujud dari nurani dunia yang peduli dan terusik oleh masalah kemanusiaan yang bersifat universal. menggugah semua orang yang masih memiliki nurani.
ada sudut pandang kita yang mungkin berbeda. ya biasa aja. cuma terus terang, saya menulis comment ini dengan emosi yang miris dan bahkan teriris.
bagaimana mungkin dalam konteks ini kita bisa bersikap netral?
sanksi moral memang tidak selalu mengikuti hukum sebab akibat. tidak selalu kebenaran dan kebaikan menang. ada saatnya tercampakkan di sudut gelap penuh derita. lewat agama kita memaknai semua itu sebagai bukan kesia siaan dan tidak terjadi secara kebetulan. tuhan pu menjanjikan sanksi akhirat yang lebih hakiki dan abadi.
hidup memang hanya permainan (lahwun,kata al-qur’an). permainan yang mengasyikkan, kadang mendebarkan, dan juga seringkali menyebalkan. perjalanan memang masih panjang. tragisnya, tragedi kemanusiaan selalu menjadi bagian dari permainan ini.

@rozan
jika gerombolan srigala begitu gemas ingin memakan domba
lalu domba sudah dalam genggamannya, apa harus kita lempari batu tuk menggusir srigalanya? alih-alih pergi, kita malah bisa dimakannya juga. melulu di lempari juga membuatnya semakin buas mencabik-cabik sang domba.
maka… rayulah gerombolan srigala dengan umpan di sisi lain. sikap netral, sikap yg kooporatif, saya pikir mungkin bisa sejenak mengalihkan kebuasan srigala pada sang domba. sederhananya demikian..

gimana mas rozan?

Mbak Anis, saya lebih melihat kasus Palestina dari sisi kemanusiaannya. Peperangan atau pembantaian adalah masalah kemanusiaan. Kebetulan saja mereka Islam. Andaikan saya orang Papua yang teraniaya, mungkin saya juga akan ikut OPM. Buat apa gabung ke Indonesia jika keadilan tak didapat. Bernegara tak lebih dari sekedar alat untuk meraih cita cita bersama sebagai kontrak sosial yang diantaranya karena adanya kepentingan bersama dan kesamaan pandangan. Buat apa mempertahankan NKRI jika hanya menghasilkan para koruptor dan ketidakadilan. Seperti Sovyet, jangan-jangan kalau dipecah pecah dalam bentuk negara kecil berdasarkan pulau atau kepulauan mungkin lebih baik dan lebih menyejahterakan. Tapi memang bisa juga sebaliknya. Pancasila saya kira bagian dari bentuk kesepakatan dari kesamaan pandangan yang bisa menyatukan keragaman/kebhinekaan dalam keikaan Indonesia.

Ya… kita bisa membedakan Islam ajaran (idealita nilai ajaran) dan Islam sejarah (yang dipraktikkan, dijalankan atau dilembagakan). Saya teringat pada pandangan seorang cendekiawan Muslim ketika diminta pendapatnya tentang penerapan syari’at Islam dalam perda di suatu daerah. Dia bilang setuju dengan perda syari’ah Islam jika yang dimaksud adalah pemberantasan korupsi, penanganan kemiskinan dan kebodohan. Jika yang dimaksud dengan perda syariah adalah harus berjilbab, saya hanya bisa menyodorkan dua ayat al-Quran (yang biasa dipakai kalangan yang mewajibkannya), tapi jika tentang pemberantasan kemiskinan saya bisa memberikan ratusan ayat. Begitu kira kira ungkapan dia. Saya kira ini yang dimaksud Kuntowijoyo sebagai obyektifasi ajaran Islam. Menggali ajaran Islam yang universal dalam “kekinian” dan “kedisinian”. Bukan Islam simbolik yang artifisial dan asesoris semata, seperti memelihara janggut atau celana ngatung di atas lutut dengan gamis ala india atau afgan.

hmmm kepanjangan.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: