mengaku rasul itu..

Posted on Januari 16, 2009. Filed under: islam indie |

love-tender-from-flickr (akhirnya ditulis… maaf, baru sempat… :D)

berawal ketika semalam saya membuka blog ini dan menemukan sebuah undangan tuk mampir ke blog salah seorang sahabat yang meninggalkan komennya di sini. seperti biasa, kalau lagi enak buat blogwalking, maka sayapun menyambangi banyak blog, termasuk memenuhi undangan itu.

dan tertegunlah saya, membaca halaman muka dan perihal pemilik blog tersebut. sebuah blog yang bertajuk : Manusia biasa yang dijadikan Tuhan sebagai utusanNya. dengan berandanya berisi surat kepada presiden SBY tuk memenuhi panggilan takwa kepadaNya.
(untuk jelasnya, cari dan baca aja sendiri yaaa…. tanya pada om google deh😛 )

hmm, saya ga heran..
malah bener-bener tersadarkan, bahwa ternyata fenomena ini memang tengah banyak terjadi dan akan terus bermunculan.

*kepada sahabat yang saya maksud, semoga tidak keberatan tuk kita berbagi di sini yaaa..*

bagi saya, ini sekelas dengan yang namanya “Fenomena Alam”.

seperti pernah saya tulis, hidup seperti berdiri diantara dua kutub. baik dan buruk, positif dan negatif. ketika salah satu kutub menguat, mencipta kekosongan di kutub lainnya. kekosongan di satu kutub, akan meminta diisi, begitupun jika terjadi kekosongan di kutub lainnya.

hidup akan terus mencari keseimbangannya..

maka kadang saya pikir, hidup tidak sedang menyoal benar atau salah, tapi menyoal sebab akibat.

baik kita buat, maka energi positif akan menguat. dan buruk kita lakukan, negatif pula hasilnya. persoalannya kemudian, bagaimana jika terlalu banyak keburukan yang dilakukan? ya seperti saat ini.. potensi negatif menguat dengan luarbiasa, membuat kualitas hidup menurun. drastis..

sehingga fenomena pencerahan tuk kondisi yang serba negatif ini banyak terjadi.

merujuk pada hukum kekekalan energi, maka meski energi menguat tertarik disatu kutub, dia tidak akan meluap di sisi itu, dia akan terus mensetarakan diri.

menjadikan ada kebutuhannya dan ada alirannya.

maka dikatakan oleh mereka yang mengalami pencerahan itu, bahwa mereka mengalami pengalaman spiritual yang luarbiasa. bahkan di blog tersebut, sahabat kita mengaku mengalami “induksi energi”.

terasa ada kekuatan dari luar yang masuk, mengisi kedalam fisiknya –yang sesungguhnya sangat tidak memadai tuk menampung energi sebesar itu–. maka kemudian sahabat kita itu mengaku mengalami guncangan, diikuti dengan mengigil dsbnya. sebuah keletihan tersendiri, secara lahir dan batin.

lalu….
energi itu menjadi dorongan –dari dalam dirinya– tuk mempositifkan kondisi yang negatif ini.
menjadi pencerahan,
berusaha memberi petunjuk.

naaaaah, dari kebanyakan referensi yang kita tahu ,lalu terendapkan dalam benak kita, bahwa orang yang mengalami hal demikian adalah orang-orang yang kemudian di sebut sebagai rasulullah. utusan. the messenger. maka kemudian yang ada adalah ekspresi yang berusaha menyerupai apa-apa yang diketahui ybs.

contohnya nyata soal ini adalah ibu Lia Eden. beliau -kurleb- menurut saya, mengalami hal ini. lalu karena beliau seorang perempuan, maka beliau mengaku sebagai bunda Maria. atau yang lelaki, mengaku sebagai rasul Allah atau sang Iman Mahdi.
sekali lagi, anggapan ini terjadi didasarkan oleh referensinya –dan referensi pada umumnya– ttg “Utusan Tuhan”. bahkan tentang ramalan-ramalan dan pesan-pesan yang dibawa oleh sejarah sebelumnya, menjadi Ratu Adil atau Satria Pininggit.

pertanyaannya kemudian,
betul-betul rasul Allahkah hal yang demikian itu?
hehehe…

saya mencoba keluar dari anggapan yang selama ini ada. keluar dari referensi yang selama ini mengendap di kepala kita. bagi saya, Imam Mahdi bukan menyoal person. Iman Mahdi adalah sebuah spirit. rasanya, pikiran ini menjadi tidak salah, mengingat hal-hal spiritual memang menyoal spirit/energi.

dan mengapa juga tidak person? ya terbukti secara nyata dari mereka yang mengalami hal demikian : banyak sekali. tidak cuma satu orang. tidak cuma ibu Lia eden, tidak cuma sahabat kita itu. bahkan mungkin masih banyak lagi.

menjadi bukti juga, bahwa spirit itu tertangkap tidak pada satu orang.
ini menjadi membenarkan ayat bahwa setiap kaum ada “petunjuknya” sendiri. walalhu’alam, saya ga dalam kapasitas mengukur ini dengan dalil.

saya hanya mencoba mengemukakan solusi nyatanya saja dari fenomena ini.

karena betapa sangat disayangkan, jika pencerahan demikian luarbiasa berkah itu, harus berakhir dengan anggapan sesat atau bahkan berakhir pada apa yang di sinyalir pak Jalaluddin sebagai soul snacther, yang UUD dan UUS. ujung-ujungnya duit dan ujung-ujungnya seks.

menjadi jauh dari misi dari pencerahan itu sendiri.

ini pula yang ingin saya sampaikan di sini. baik bagi sahabat yang mengalami pencerahan demikian, maupun kepada masyarakat luas.

saya sangat mengerti, di menurunnya kualitas kehidupan kita, terlebih di tengah ekspresi politisasi agama yang menguat, kegersangan iman tak bisa dihindarkan. agama hanya simbol-simbol arogansi saja. di banyak sejarah, dibutuhkan semacam teologi pembebasan tuk keluar dari kondisi yang pengap dan gelap seperti ini.

maka ada jaringan islam liberal kali yaa..?? atau bahkan komunitas sufi kota? hehehe. padahal intinya manusia mencari ventilasi tuk kondisi pengap ini.

tapi jelas, kebutuhan itu tidak harus membuat kita jadi kehilangan akal sehat. dan melulu saling membenturkannya satu sama lain.

lalu tuk sahabat saya itu, bahkan tuk seorang ibu Lia Eden yang sudah diketahui khalayak banyak, saya sangat berempati dengan apa yang dialami. saya paham, pasti sangat sulit, sangat berat dan sangat luarbiasa. dengan seluruh empati saya pada perjalanan hidup Muhammad saw, saya dapat berempati pada hal spiritual demikian.

tapi sebagaimana pesan mulia dari mereka –para nabi dan orang 2 sholeh– yang kita juga muliakan, tuk menebar kasih, tuk menolong sesama, tuk menjadikan damai di muka bumi ini, tuk rahmatan lil alamin, dalam….. bahasa kaumnya. sebagaimana pesan universal itupun pernah dibahasakan sesuai kebutuhan masa oleh mereka yang kita muliakan dan telah mendahului kita itu. maka cobalah membahasakannya sesuai kebutuhan yang ada saat ini.

kuncinya ada pada iqra’
bacalah apa yang menjadi realitas saat ini.

dari kejadian yang dialami ibu Lia Eden, adalah fakta bahwa yang dibutuhkan saat ini bukan nabi. tapi solusi nyata dari realitas yang ada. maka segala bentuk pecerahan, selayaknya bisa diarahkan ke sana. bukan melulu membangun angan-angan sebagaimana simbol-simbol telah mencipta kepengapan ini juga. juga bukan dengan malah mencipta simbol baru, ritual baru, kitab baru yang –maaf–… ga penting.

kalau mengutip ucapan mas Emha Ainun Najib : rahasiakanlah kenabianmu. mari berbuat yang nyata saja tuk sekitar kita.

di sini, kita bermain skala. bermain kapasitas.
karenanya perlu waktu tuk mengenali diri, kemampuan, juga kenyataan yang ada dari yang terdekat. saya percaya, jika selalu diluruskan hati, ini akan menemukan kodifikasinya tersendiri. memang butuh waktu tuk melewati kebutuhan pengakuan akan kenabian itu.

dan pesan keuniversalan itu tidak melulu harus di terjemahkan sebagai sesuatu yang harus diterima seluruh dunia. ada scoopnya. ada ruangnya. ada yang lewat seni, lewat tulisan2, lewat harta benda, lewat menjadi relawan, dan apa saja.

di sini, maka sesungguhnya seluruh manusia berpotensi tuk menjadi perpanjangan tangan tuhan di muka bumi. berpotensi menjadi “utusanNya tersendiri”. menolong sesama dan menebar damai kepada siapapun, tanpa perlu disebut nabi atau rasul Allah.

dan saya pikir, tidaklah perlu nama tuk –sebut saja– teologi pembebasan atas kepengapan saat ini. jika nama hanya melulu bak pinggiran yang berpotensi ditudingkan.

saya pernah bilang pada seorang teman, ibarat kolam, nama atau kelompok itu, hanya seperti membuat pegangan di pinggiran. yang kemudian masing-masing akan saling tuding. padahal yang dibutuhkan adalah mereka yang siap nyemplung dan berenang di air kolam.

merasakan sejuknya air sampai menjadi air itu sendiri.
menikmati lautan ilmu dan menjadi ilmu itu sendiri
merasakan degub cinta dan menjadi cinta itu sendiri

maka katanya tuhan ada di hal-hal kecil,
cukup berbagi inspirasi
dengannya kita bangun hidup ini

so, bahasakanlah diri kita, rasa kita
dari hal biasa maupun yang istimewa
bernama pengalaman faktual maupun spiritual
menjadikannya sebagai karya dan manfaat nyata bagi semua..

sederhananya saya mau bilang itu..😀
jangan buat pengalaman spiritual itu menjadi sesuatu yang dihinakan. tapi coba bahasakan dengan indah dan menjadi berkah bagi siapa saja.

saya pribadi, dalam bukan apa-apa, lebih suka menyimpan kemesraan dengan tuhan di sudut-sudut hati. ciee… selebihnya, saya siap bersama siapa saja bahkan ke koperasi tuk bayar ini itu dari melulu memanfaatkan layanan canggih. hehehe… walau kadang saya suka juga menyatakan rasanya lewat puisi, itupun kalau menjelang menstruasi.. hahaha…😀 maklum, butuh sedikit emosi tuk kontemplasi.. hihihi😛
*halahhh*
mulai kacau nih. saya sulit tuk nulis serius lama-lama..😛

selamat berkarya!

salam
anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

10 Tanggapan to “mengaku rasul itu..”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Ah, padahal kita semua memang utusanNya ya bu? Mengapa harus melebih-lebihkan hal terebut ya?

Tapi saya maklum kok, betapa berat merahasiakan sesuatu itu. Apalagi kita yakin sesuatu itu adalah solusi untuk seluruh umat manusia.

@mas dana
secara makro begitu, secara mikro –dlm diri kita sendiri– jg selalu terjadi proses pensetaraan kaya gitu mas. merasa mendapat wahyu atau kesadaran positif, pastinya akan mengundang negatif dari nafsu jasad yg juga gede banget. ini yg harus diwaspadai.
maka Muhammad saw di gambarkan suka menangis dan banyak beribadah, krn mengatasi diri sendiri itu yg paling sulit. menghindari tenar, UUD dan UUS, karena potensi ke sananya kan juga gede.

seimbang-seimbang aja deh.

dan inget, yg dicari bukan soal benar atau salah. ini relatif banget. one man one universe. keburu mati, ga ada jawaban idealnya. tapi coba lebih concern sama persoalan sebab akibat. berbuat baik, warisannya jg baik. selebihnya… bukan hidup kalau ga ada ujian dan godaan. romantika deh. ya ga mas?

selebihnya, mari sama-sama berbagi pencerahan dengan saling menginspirasi.
kita semua sama-sama manusia kok. bisa lupa juga bisa berjaya..😀

kalau mendengar argumen para pengikut orang yang mbak maksud, atau tokoh2 sejenis di seluruh dunia yang mengusung hal yang sama, saya kadang menemukan hal yang ga logis di sana. tapi herannya, sebagian dari mereka bukan orang2 bodoh, paling ga kalau dilihat dari pendidikan akademiknya. kalau saya lebih suka menelaah agama dengan hati dan logika. takutnya kalau pencarian ventilasi versi saya menjadi salah arah kalau hanya menggunakan hati.

@mbak wyd
apa kabar mbak?
yup, seperti saya bilang, jangan sampai kehilangan akal sehat.

kadang kita temui “keletihan” dalam beragama mbak wyd. malas dengan dalil, jenuh dg harus ini itu, pusing dg ga boleh ini itu, merasa down dg ancaman surga neraka mulu, dan ya inginnya yang “afdhol” dengan cerita penuh keajaiban.
sementara bagi saya, hidup ini sudah keajaiban itu sendiri, hehehe….
saya tuliskan yg lucu soal ini yaa. judulnya “Kebetulan”.

Cerita pengalaman spiritual Rasul temuan Mbak Anis, tampaknya sama dengan cerita Lia seperti yang saya baca.

Saya kira, sebenarnya pengalaman keagamaan yang “menggetarkan”, mimpi bertemu atau mendapat petunjuk Rasulullah, bahkan “bertemu” dengan Allah banyak kita jumpai dalam dunia sufi. Mereka pun kesulitan menceritakan pengalaman ectase mereka ketika “menyatu” dengan Allah (hulul, wihdatul wujud, atau ma’rifat), sehingga kebanyakan melukiskannya dalam puisi. Dalam beberapa hadits juga diceritakan keadaan Rasulullah ketika menerima wahyu, tubuhnya bergetar, berkeringat, menggigil, dan terkesan berat sekali. Pengalaman spiritual model para sufi ini bisa diterima dalam pandangan Islam,dan agama lainnya juga, seperti yang diamalkan para pengikut tharikat denan aliran yang yang beragam (meskipun ada juga yang menolaknya).

Dalam psikologi agama (yang saya tahu) ada yang disebut “spiritual emergency” dari. “konflik moral” yang dialami seseorang . Jadi semacam “katup pelepas” dari kepengapan problem psikologis/spiritual (seperti yang Mbak Anis bilang) yang mencari kepuasan untuk keseimbangan diri (self-sufficiency). Pengalaman spiritual Al-Ghazali, saya kira agak mirip dengan pendekatan ini. Dia gelisah di puncak karirnya, lalu uzlah (menyepi) sampai ketemu jalan hidup sufinya yang menentramkan dirinya. Atau juga perjalanan hidup Sidarta Ghautama yang “lari” dari singgsana menuju moksa? Gua hira juga saya kira semacam tempat Nabi uzlah untuk berkontemplasi, sampai dapat wahyu pertama yang membuatnya “menggigil”.

Jadi memang yang dipermasalahkan adalah, kenapa harus sampai mewartakan diri sebagai Rasulullah pendatang baru.

@rozan
betul mas. saya tidak menafikkan pengalaman spiritual demikian, termasuk dalam apapun teori yang mencoba mengungkapkannya secara ilmiah. persoalannya kemudian memang apakah hal itu lantas harus diwartakan sbg nabi baru?

dalam tulisan itu, saya mengajak agar kita –baik yg mengalaminya juga masyarakat pada umumnya– jangan terjebak dan turut menjebak dalam kedangkalan atas referensi kita ttg hal demikian. maafkan kalau saya tidak cukup memadai tuk menuliskan harapan dan ajakan saya itu yaa.

saya sedih kalau melulu agama menjadi semacam keterjebakan, beban dan paksaan. saya merasa dan percaya, beragama justru memerdekakan jiwa. entahlah.. pokoknya saya percaya itu. walau saya –lagi-lagi– sangat terbatas tuk membahasakannya..

kita secara iman lebih tergetar oleh Tuhan yang membangkitkan orang mati, Tuhan yang membuat mukjizat, bukan oleh Tuhan yang menghendaki kita untuk solider & berbagi kepada sesama.😥
Rasul adalah utusan Allah, utusan Sang Hidup untuk saling berbagi & menghidupi.
dalam diri sesama kitalah Tuhan sungguh2 kita temukan namun juga sungguh2 kita tolak
suka banget ma tulisan ini :

merasakan sejuknya air sampai menjadi air itu sendiri.
menikmati lautan ilmu dan menjadi ilmu itu sendiri
merasakan degub cinta dan menjadi cinta itu sendiri
maka katanya tuhan ada di hal-hal kecil,
cukup berbagi inspirasi
dengannya kita bangun hidup ini

@mas tomy
bener mas.
makasih…

ini tulisan anda yang kedua yang sy baca hari ini.. sy suka terhadap cara anda berpikir🙂

salam kenal

@mbak ulvie
salam kenal mbak ulvie
makasih sudah sampai di sini..🙂


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: