kutipan : sumur dan bak mandi

Posted on Januari 17, 2009. Filed under: islam indie |

boat_of_leaves_on_water belum lama saya mengenalnya, tapi langsung klop deh. berawal dari teman katolik saya, yang suka memberi tulisan-tulisannya pada saya diantara diskusi-diskusi kami. agak aneh juga sih, mengenalnya malah lewat teman itu… tapi saya senang, kalau ternyata dalam beda-beda, kita bisa bersama dan itu indah..

padahal sebelumnya, saya suka bertanya-tanya, siapa sih orang itu? apa sih yang diusungnya? karena biasanya, jika saya protes di pengajian atau berbeda pendapat dengan teman-teman saya yang muslimpun, saya suka dituduh bagian dari apa yang diusungnya.

padahal, kenal dia dan yang di usungnya juga ga tuh. πŸ˜›

sampai di facebook, saya mengenalnya “lebih dekat”…

saya hanya ga bisa bohong kalau saya suka dengan beberapa pemikirannya. bahkan tulisannya yang saya kutip ini, sangat mewakili apa yang saya pikirkan dan rasakan tentang agama selama ini. yang kadang bikin saya suka ga terlalu ngoyo soal beragama. tetap belajar, tetap mengkaji, tapi lebih ke pendalaman personal. selebihnya, saya belajar bertoleransi dan merefleksikan pendalaman personal itu dalam hal-hal kecil keseharian..

naaaaah, dia adalah mas Ulil Abshar Abdalla

cuma itu yang saya tahu kok
ga lebih… πŸ˜€

oops, saya bukan islam liberal loh, ga kapasitas saya deh bergabung dengannya. saya islam indie aja, dan saya suka bersamanya juga siapa saja.. πŸ˜€

selamat menikmati
semoga menginspirasi

***

SUMUR DAN BAK MANDI
Ulil Abshar Abdalla
.

sumur yang baik tak henti-hentinya memberikan air
kepada orang-orang yang haus. engkau boleh menimba air
sepuasmu, dan ia tak akan kerontang. sebab di
dasarnya, ada mata air yang terus memancar

.

tetapi, engkau boleh mempunyai bak mandi yang besar
meski bak itu penuh dengan air hingga meluap, cepat
atau lambat ia akan kering, ketika engkau berkali-kali
menimba air dari sana. sebab, bak mandi tidak memiliki
mata air. air yang engkau jumpai di sana datang dari
luar, bukan bersumber dari dirinya sendiri

.

hendaklah engkau, dalam beragama, seperti sumur,
jangan seperti bak mandi. hendaklah agama datang dari
dalam dirimu sendiri, sehingga agama bagimu adalah
seperti sumur yang tak pernah kerontang. agama akan
menjadi roh yang membuatmu hidup terus, tak pernah
lunglai

.

jika agama tidak terbit dari dalam hatimu, dari dalam
dirimu sendiri, cepat atau lambat, agama itu akan
mengering, seperti bak mandi yang engkau timba airnya
berulang-ulang

.

sebab pohon yang baik adalah yang memiliki akar. jika
akar agamamu kokoh dan kuat, engkau seperti terhubung
dengan sumber kehidupan, dengan Dia yang tak pernah
kering sumurNya. engkau akan hidup abadi

.

biarlah orang-orang memenuhi bak mandinya dengan air
yang warna-warni. jangan terkecoh. galilah sumur
dalam-dalam, dan temukan mata air dalam dirimu sendiri

.

bukankah nabi agung itu pernah berkata
“mintalah fatwa pada nuranimu sendiri”*)
sungguh benar kata-kata bijaksana itu
sebab fatwa hanya bisa engkau temukan dalam dirimu
sendiri. fatwa yang engkau minta dari orang lain sama
dengan air yang engkau tuangkan ke bak mandimu. ia
akan kering suatu ketika.

.

o, gembala yang haus dan lingsut
jumpailah agama dalam sumurmu sendiri
orang bijak dari fansur itu**) pernah bertutur
engkau keliling ke mana-mana mencari ka’bah
sementara ka’bah ada dalam dirimu sendiri
mereka yang menjumpai agama di dalam dirinya
tak merasa hirau dengan arah mata angin
semua mata angin adalah sama baginya
sebab Dia Yang Mencipta Sumur itu tak ada di mana-mana
tetapi juga ada di mana-mana

.

kenapa engkau bertengkar tentang arah mata angin?

.

mereka yang berjalan menuju dirinya sendiri
akan berjumpa di ka’bah yang sama
mereka yang hiruk-pikuk berjalan menuju mata angin
yang berbeda, akan cerai-berai dan tunggang-langgang
mereka cekcok dan saling menyalahkan
sebab mereka lupa pada sumur mereka sendiri
sebab mereka terjerat dalam bak mandi yang sempit
sebab mereka tak memiliki mata air

.

sebab mereka adalah jasad yang tanpa roh
seperti pohon yang dikerat
cepat atau lambat mereka akan tumbang

.

boston, 6/12/2006

*) teks arabnya, “istafti qalbaka”.
**) maksudnya hamzah fansuri

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

9 Tanggapan to “kutipan : sumur dan bak mandi”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

kena jebakanku ya nis.. hahaha..

@dan
yeeey… ternyata jebakan ya?
biarin deh, yang penting saya jadi kenal mas Ulil. ga cuma mas daniel.. weeee… πŸ˜›

Beberapa kali saya ikut diskusi (cuma jadi penggembira) dan menyaksikan β€œdebat” keagamaan di tv. Saya suka heran dan gak habis pikir, ada kalangan yang suka sekali menyemangati jagoannya yang sedang bicara dengan teriakan Allahu Akbar. Sementara kalau pihak β€œlawannya” yang bicara, kadang diteriakin. Seorang teman berkomentar, β€œKaya mau perang aja.”

Dalam diskusi juga kadang pembicaraan jadi ngelantur gak fokus kepada substansi masalah yang dibahas, lebih pada tuduhan dengan penuh semangat untuk menjatuhkan. Seakan pihak lawan bicara pasti salah. Sudah apriori, dan berakhir dengan menghukumi. Maaf mas Dan, saya mau menyebut Anda sebagai contoh. Anda langsung menghukumi Anis sudah kena jebakan, tanpa merinci apa kesalahan dan yang menjebak dari tulisan atau pandangan Anis atau Ulil dalam postingannya yang kali ini. Tak ada dialog dan diskusi atau pertukaran pendapat/fikiran.

Saya juga mengenal dan bergaul dengan aktifis atau pemikiran mereka yang bergabung di JIL, tanpa harus setuju dengan pemikiran mereka. Demikian juga dalam pergaulan dengan aktifis atau pemikiran yang bersembarangan dengan JIL. Enak sekali kalau kita beragama dengan rilek dan santun, tanpa harus mengklaim paling benar, paling baik, atau seakan sebagai hanya dia pemilik kunci sorga. Kita bisa menimba ilmu dan pemikiran dari berbagai sumber. Sekalipun dari dubur ayam, kalau telor, toh bermanfaat juga kan.

Ya… dengan pendekatan sufistik seperti yang Ulil sampaikan dalam tulisannya di atas, semua bisa ketemu, karena memang semua menuju Tuhan.

@mas ary
@mas rozan
maaf…
saya dan mas Daniel itu suka becanda. seumuran lagi, jadi ya seru.
kami sama isengnya. diskusi juga ga yang gimanaaaaaa gitu, sambil lalu aja. santai. jadi jangan dimasukin ke dalam hati yaa. ga ada jebak-jebakkan kok. itu becanda..

kebetulan dalam diskusi2 kami, saya suka berpikir dan berpendapat tapi tanpa dalil. ya seadanya dan senalurinya saya aja. nah, mas Daniel itu memberi tulisan2 mas Ulil, yang lengkap dengan dalil, yang ternyata sama dengan pikiran dan pendapat saya. jadi saya ya semakin merasa kalau saya ga sendiri aja. ternyata ada dalilnya kok. gitu…

dan ga semua tulisan mas Ulil itu saya pahami loh. duh… kemampuan agama saya ga sejauh itu. saya tuh relatif naluri aja, tapi jadi seneng tahu dalil-dalil. dan ga ada klaim-klaiman kok diantara kami. malah seneng, bisa beda-beda dengan tetap indah.

bersiul-siul

*makin seru nih*

Hati-hati mbak, nama itu sudah menjadi tabu di kalangan tertentu.

*cemas*

@mas dana
hmm.. pertama kali saya add mas Ulil di FBnya, lalu (terimakasih) di respon.. kesan saya ttg mas Ulil positif kok. ini saya kopas jawaban mas Ulil dari FB saya, di perkenalan pertama kami.

Mbak Luzi, senang sekali membaca komentar anda. Saya kira apa yang anda lakukan sudah benar, yaitu memakai akal sehat dalam menilai segala bentuk tafsiran yang ada tentang Islam. Sudah tentu, berdasarkan akal sehatnya masing-masing, tiap orang mempunyai pandangan dan penilaian yang berbeda-beda. Hal itu tentu lumrah saja asal masing-masing orang menghormati pendapat orang lain yang berbeda. Tuhan tak memaksa seluruh manusia untuk sepakat dalam satu pendapat untuk semua hal. –Ulil–

tuh, mas Ulil malah mengajak dan mengajari saya tuk terus menghormati perbedaan yg adalah lumrah terjadi. dan mengingatkan kalau tuhan tidak memaksa manusia tuk sepakat dalam satu pendapat untuk semua hal.

maka mengapa seorang seperti mas Ulil dianggap tabu? seorang yang mengaku Rasul saja, saya bisa menghargainya. apalagi seorang mas ulil??

mas dana jangan cemas yaa..
saya emang indie. jauh dari berpikir sesuatu itu tabu dan sesat, selama tidak menyalahi norma-norma umum, saya lebih lega jika itu tidak membohongi diri saya sendiri. mari kita tetap saling mengingatkan.. makasih, mas dana. πŸ˜€

@Mas Daniel,
hehehe mohon maaf dan ampun ya. salam kenal.
ini gara-gara mbak anis lho, hahaha.

@mbak anis
hmmmm saya ngirim sample salah alamat, tapi isinya bener lho.

ya saya maafkan, hehehe.

@mas azyla
selamat bersiul, blog mbak anis emang seru,
warna warni.

@rozan
santai aja mas rozan..
makasih tuk selalu berpendapat di sini.
kita sama-sama belajar yaa…
salam hangat


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: