kutipan : matematika dan kehidupan

Posted on Januari 19, 2009. Filed under: islam indie |

kehidupan1 saya berteman dengan siapa saja.
karena bagi saya, ilmu itu ada di mana-mana, tepatnya di ketulusan jiwa. kalau ga mau di bilang, tanpa hidden agenda.
hehehe..😀

ini saya kutip dari blog mas Daniel.

persahabatan saya dan mas Daniel, nyaris sepanjang blog ini. terlebih beliau lebih dulu jadi blogger dari saya. menjadi saksi tumbuh kembang deh. dan sebagaimana persahabatan, meski di dunia maya, ya pastinya kita memiliki persamaan dan. …….. perbedaan.

ga cuma dengan mas Daniel. dg mas Dana, dg mas Jenang, dg mbak Daniar, mbak Selvy, mbak Siska, bang RM, bang Jephman, so pasti.. bang Toga Nesia, trus.. kang Trend, kang Dani, dg mas Datyo, mas JM.. dst-dstnya ga bisa di sebut satu-satu, yang sering meninggalkan jejak maupun yang berlalu begitu saja, ya sama saja.

kita belajar berbagi dan bertoleransi di sini…

sebagaimana kita butuh cermin tuk berkaca, di sini semua belajar menemukan diri sendiri dari kebersamaan penuh keberagaman yg ada. so far menjadi kodifikasi tersendiri dari masing-masing pribadi. terlebih menjadi teman dari tumbuh kembang saya.

sungguh, Islam Indie bisa dibilang lahir dari kebersamaan di sini. setelah sebelumnya, blog ini hanya bertajuk Mualaf Menggugat.

terimakasih ya semuaaaaa..

selamat menikmati
semoga menginspirasi

***

Matematika dan Kehidupan
Daniel!
http://binajaya.blogspot.com

.
Apakah logika matematika mampu menjawab seluruh problematika hidup?

Siang itu sekitar jam satu, anak saya yang belum genap berumur lima tahun baru pulang dari sekolah TK A. Setelah salin baju, segera ia membuka tasnya, mengambil buku, lalu duduk serius di meja belajarnya. Saya yang kebetulan hari itu sedang bekerja di rumah, bertanya apa yang ia kerjakan. Dan saya sungguh terkagum-kagum: anak itu tak sabar ingin mengerjakan PR matematika.

Ibunya menjelaskan, memang anak saya sering terlihat sangat menikmati belajar matematika, melebihi pelajaran-pelajaran lain. Saya tersenyum bangga. Semoga anak ini akan jauh lebih hebat dari orangtuanya.

“Dua ditambah tiga berapa Pak?”
“Eee.. Sebelas!”
“Hahaha.. salah! Lima!”
“Masa sih? Oo.. iya ya..”

“Kalo enam ditambah tiga?”
“Hmm.. Dua belas?”
“Hahahaha.. salah lagi! Sembilan dong yang bener..”
“Bentaaar.. Tujuh.. Delapan.. Sembilan.. Oo iya sembilan.. Hehehe..”
“Hahaha..”

Sewaktu kecil, saya juga termasuk penggemar pelajaran matematika diantara rata-rata teman sekelas. Saya memang menikmati belajar matematika. Mulai dari pelajaran sekolah, sampai buku-buku kakak tentang teka-teki angka dan logika, metode-metode untuk menghitung cepat, game-game tentang matematika, dan lain-lain. Hasilnya juga lumayan. Nilai Ebtanas Murni saya untuk mata pelajaran matematika sepuluh koma nol nol. Meski masih jauh dari level luar biasa, saya sependapat dengan jawaban Will Hunting dalam film Good Will Hunting ketika ia ditanya pacarnya mengapa ia suka memecahkan penurunan rumus-rumus rumit. Jawabnya — mengambil contoh dari kegemaran sang pacar bermain piano — ia beranalogi bahwa meski bagi sebagian orang piano hanyalah deretan kayu-kayu berwarna putih dan hitam, bagi pianis dan pemusik ia tampak seperti benda yang merangsang, menggelitik, dan menantang untuk memainkan atau membuat komposisi musik yang indah.

Saya mengalami bahwa kegemaran pada matematika mampu membangkitkan percaya diri. Bahkan waktu itu saya yakin, hidup akan lebih mudah dengan kemampuan logika matematika yang tinggi. Meski hal itu ada benarnya, namun perjalanan waktu menyadarkan bahwa itu hanyalah sebagian kecil dari ilmu kehidupan yang harus dipelajari. Logika matematika belum juga mampu menjelaskan hal-hal seperti sifat-sifat manusia yang begitu beragam, sejarah dan masa depan yang tak pernah terang benderang, keindahan alam semesta, puisi, dan lukisan, atau rasa jatuh cinta dan cemburu yang seringkali tak masuk akal.

Logika matematika tak juga sanggup menjabarkan dengan gamblang tentang Tuhan. Tuhan yang berwujud Dewa-Dewa, Tuhan yang beranak maupun tak beranak, Tuhan yang menjadi awal dan akhir dari segala hal. Semua tak ada yang masuk akal jika dibandingkan dengan logika matematika. Kecuali hanya didekati dengan asumsi, kesepakatan bersama, dan terkadang dengan kekuasaan. Entahlah jika nanti akan tiba suatu masa dimana segala aspek kehidupan dan keterkaitannya bisa diuraikan dengan rumus-rumus matematika yang super kompleks. Namun hari ini dan beberapa tahun mendatang, hal itu barulah sekedar imaginasi yang melampaui logika matematika termutakhir.

“Pak, tujuh ditambah tiga berapa? Tahu nggak?”
“Gampaaang.. Dua belas kaaan..”
“Salah! Sepuluh dong! Bapak ini iseng atau beneran nggak tahu sih??”

Hahahaha… Saya benar-benar tertawa geli. Bisa jadi bapakmu ini memang iseng. Tapi jawaban itu bisa benar bila menggunakan sistem bilangan tertentu. Kamu tak akan pernah tahu pikiranku. Masih banyak yang harus kamu pelajari nak. Dan jika nanti logika matematika tak juga mampu menjawab dan memuaskan persoalan-persoalanmu, beri sedikit waktu untuk merenung, meresapi, dan berempati. Hingga muncul jawaban dari hatimu — entah benar atau salah, entah logis atau tidak, entah permanen atau sementara — yang akan menuntun perjalanan hidupmu menjadi manusia yang sebenar manusia. Yang konon katanya berbudi, selain berakal.

Posted by DANIEL!
.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

4 Tanggapan to “kutipan : matematika dan kehidupan”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Mbak, sebenarnya saya lagi mau belajar nulis di blog. Karena gatek, lalu dibikinin sama temen. E… gak ada tulisan yang jadi. Atas saran si temen, kemudian saya coba nulis comment di blog orang… Dan enggak tahu kenapa, kok saya jadi betah untuk ikutan kongkow di “islam indie”. Hehehe.

(Untuk kasus saya, rupanya kalau nulis harus dipancing dulu. Kaya pompa air yang udah aus, atau sumber mata airnya udah mengering, hehehe).

Ada masalah lain, ternyata kalo ngasih comment (spontan) suka kebablasan. Kepanjangan. Dan pasti bikin pembaca mual. Atas saran teman lagi, comment itu saya edit seperlunya, jidilah dua tulisan. Lalu setelah saya baca ulang, halah isinya kok cuma begitu aja. Gak mutu.

(Jadi mohon maaf, kalau blog Mbak saya jadiin arena latihan untuk mancing/ belajar nulis di blog).

Beberapa minggu kemudian saya lihat lagi blog saya. E…. ternyata ada juga yang mampir. Saya lapor ke si teman. Sebagai “blogger senior”, dia ngasih wejangan, “Itu mungkin fans nya blog Islam Indie. Dia penasaran sama orang yang namanya rozan, yang suka ngasih comment kepanjangan. Jadi, sebenarnya kamu cuma numpang beken. Dalam dunia blogger itu namanya bukan mampir, tapi kesasar. Jadi jangan geeran dulu.”
Hahaha. Parah.

Salam hangat untuk semua fans Islam Indie.

@rozan
hehehe… selamat menikmati kebersamaan di sini mas rozan
senang kalau ternyata betah dan jadi lancar tuk mengeksplorasi diri
semoga bisa jadi jalan tuk mengenali diri lebih dekat lagi…
jangan terpaku soal panjang pendeknya, yg penting isinya..😀

waduh..
soal fanz…
saya nih menulis ya nulis aja…
ga mikir apa-apa..
dan islam indie milik semua…😀

bang rozan keknya ngomongin saya nih mba anis.
*ge er mode on*

Ralat: Salam hangat untuk semua fans Islam Indie.
, kecuali Kang Tren, hahaha.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: