liberal

Posted on Januari 19, 2009. Filed under: islam indie |

kuda-indie (di lepas yaa…)

saya memang kerap dijuluki anak liberal. maklum, cara berpikir saya sangat bebas dan merdeka. nyaris ga berpakem, ga berbatas selain moralitas aja.
ini dari kecil deh kayanya…

maka saya bisa pindah agama, tentu karena kebebasan saya itu. trus saya juga bukan orang yang suka dengan status quo. saya suka segala yang tumbuh kembang. isi kepala saya ini seperti ga pernah berhenti, padahal saya bukan anak yg panjang karir pendidikan formalnya..
entah kenapa deh..

naaaah, herannya nih.. saya tuh ga pernah mau dibilang sebagai orang liberal. apalagi kalau disangkut pautkan oleh segala yg menamakan dirinya liberal.
mas daniel itu tahu banget. baginya saya ini liberal walau dia juga paham tuk ga menyebut saya liberal.. hehehe 😛

kenapa saya ga mau di bilang liberal?
karena saya ga merasa liberal seperti yg dibayangkan orang pada umumnya.
saya ini anak rumahan banget. hehehe.. mungkin ini karena saya terbiasa di pinggit dari kecil kali yaa. ruang saya tuh terbatas banget, sampai-sampai naik KRL aja, saya baru cobain kemarin.

maka kalau liberal itu identik dengan kehidupan bebas, meninggalkan norma-norma baik itu secara umum dan terlebih agama, saya sangat tidak termasuk di dalamnya. secara keseharian saya biasa saja. kalau ga mau dibilang cenderung alim. hehehe…

maka apa sih liberal itu?

alami aja ya, saya menyadari sekali kalau kebebasan saya ini dibatasi oleh kebebasan orang lain. kebebasan saya ini bukan berarti blas.

contoh sederhana, jika saya merasa boleh bebas berpikir, maka itu dibatasi oleh mereka yang –sebut saja– sangat ilmiah. maka karenanya, dalam berpikirpun saya tetap memiliki dan harus memenuhi kaidah ilmiah pada umumnya. kasarnya, tetap masuk akal.

trus, kebebasan saya berpikir juga dibatasi oleh mereka yang sangat rigid dan sesuai pakem banget. maka saya belajar toleransi. pikiran saya tidak lantas membuat saya jadi seenake dewe dan maunya menang sendiri.

apalagi jika itu menyangkut ekspresi diri.
wah, kebebasan itu sangat dibatasi oleh kebebasan orang lain. saya memang berjilbab, itu hak saya dan bagian dari kebebasan saya. tapi saya sadari sekali bahwa manusia lain boleh tetap memiliki kebebasannya. termasuk bebas tuk tak berjilbab. tentu di sini, dengan banyak agumentasi darinya dan dari saya, yg memang juga cermin kebebasan itu.

bukan lantas saya bisa memaksakan orang lain tuk berjilbab atau orang lain malah jadi bisa melarang-larang saya tuk berjilbab.
see..
kebebasan saya dibatasi oleh kebebasan orang lain, dan kebebasan orang lain dibatasi oleh kebebasan saya..

atau yang lebih sensitif deh, saya jelas memiliki kebebasan tuk ekspresi sexual saya. hehehe… e, jangan salah.. ingin cantik itu bagian dari ekspresi sexual loh😛
nah, ini juga dibatasi oleh kebebasan orang lain. tidak semua orang seperti saya. maka saya harus tahu diri, agar ekspresi itu tidak mengganggu kenyamanan orang lain. saya ga yg bisa lantas buka-bukaan didepan umum toh?
hahahaha 😀

ini sebetulnya mengomentari ekspresi pornografi yg sampai-sampai harus di UUkan segala itu. padahal, kalau saja kita sama-sama sadari bahwa kebebasan kita dibatasi oleh kebebasan orang lain, dan kebebasan orang lain di batasi oleh kebebasan kita, tentu kita semua bisa bijak bersikap tanpa kehilangan kebebasan itu sendiri.
gitu ga sih?

tapi kenapa ya liberal di identikkan dengan kebebasan tanpa batas?

hmm, saya sering berpikir bahwa itu hanya euforia aja. liberalisme sederhananya menjadi sebuah upaya dan ekspresi melawan sebuah keadaan yang serba melarang dan terasa menjajah. konservatif, militan, kuno, dsbnya. maka ketika perlawanan terhadap hal ini dimulai, dia terasa sangat mengebu dan membara. liberal menjadi semacam pembebasan diri.

padahal, lihat saja.. setelahnya ya akan mereda dan mencari batasan2nya kembali.

begitupun dengan segala yg berbau penjajahan. baik fisik dan jiwa. awalnya juga seperti euforia. semangat 45. seolah inilah yg benar. strict dan rigid. kalau perlu negok ke kiri dan ke kanannya diatur harus seragam deh.

dan lihat saja…. setelah lama berselang, hal itu akan terasa kering dan mencari pembebasannya tersendiri. maka mulailah terjadi bentuk kelonggaran-kelonggarannya, yang kalau ga mau dibilang, jadi kaya ga konsisten.
hehehe😀

begitu terus menerus deh.
kita seperti berada di dua kutub yang tarik menarik.

maka sadari lah keadaan ini..
seimbanglah di tengahnya
tempatkan segala sesuatu pada tempatnya
dan penuhi segala sesuatu sesuai haknya

jadi kesimpulannya apa yaaa?
hehehe…
yang pasti, dengan berpikir liberal, membuat saya menemukan batasan-batasan “ideal” ini dengan sangat jelas dan bening. menemukannya dengan tanggungjawab karena didasari kesadaran yang utuh, ga sekedar ikut-ikutan.
dalam serba dogma, saya merasa pekat dan gelap.

selebihnya temui saya, biasa-biasa saja.
terlalu sederhana dan seadanya, malah iya..

maka sebut saja saya : indie
islam saya : islam indie
cermin cita-cita saya tuk mandiri dalam beragama dan bernegara.. di tengah ekspresi intoleransi dari simbol beragama yang menguat di ruang publik negara ini. sederhana, saya ingin indonesia mencapai harmoni dalam bhinneka tunggal ika..

ini juga cuma upaya tuk berpikir dan berpendapat
cermin kebebasan saya dalam kejujuran yang ada

.

salam
anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

14 Tanggapan to “liberal”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Tuhan memulai semuanya dari kebebasan. kemudian Dia membuat segala aturan agar manusia tetap berada dalam kebebbasan itu. maka sebuah indikator untuk mengukur apakah kita taat kepada aturan itu adalah kebebasan yang kita rasakan.

menurut mba anis gimana?

@kang trend
pertanyaannya kemudian adalah tuhan yg mana yang dimaksud?
mampukah kita berdiri atas aturan tuhan yang universal dan menghargai semua pihak?
kebanyakan kita, memaksakan aturan “tuhan” kita pada banyak orang…

sejujurnya tuhan itu ada dalam kejujuran dan kesadaran kita..
selebihnya, sadari saja keadaan ini…

maka saya sering bilang, orientasinya jangan pada benar atau salah. itu bisa jadi klaim.. tapi coba lebih pada sebab dan akibat..
ini menurut saya…😀

Yang beragama memang manusia, maka di samping ada sederet doktrik (ketentuan baku) dalam beragama, keberagamaan pun sangat manusiawi.
Dalam beragama, ada sudut yang sangat pribadi/ruang privat. Lalu ketika kita beragama di ranah publik dalam konteks sosial, memang kita berhadapan dengan berbagai pandangan dan kepentingan, sehingga kita “dipaksa” untuk kompromi (negosiasi) sesuai dengan sistuasi dan kondisi (dalam kekinian dan kedisinian) yang ada/berkembang.
Di ranah pribadi dalam beragama, saya kira Tuhan memberi kita kebebasan untuk mendekatiNya dengan keunikan pribadi setiap pemeluk. Dalam hadits Qudsi Allah pun berfirman, “Aku adalah seperti dugaan (imajinasi) hambaKu terhadap Aku.”. Orientasi dalam beragama memang sangat beragam.
Di ranah pribadi inilah para sufi bermunajat dengan caranya masing2. Di sini kita temukan zikir yang sunyi sampai yang gemuruh, malah Rumi bikin tarian sufi dengan musikalisasi yang mitis. Dunia sufi memang sangat indah dengan warna warni pemikiran, juga ekspresi dan variasi dalam zikir, doa, puisi, musik, dari orang2 yang dimabuk cinta pada Sang Kekasih. Penampilan/ekspresi sufi memang beragam sekali, ada sufi nyentrik dan konserfatif, ada yang humoris yang memproduk humor sufi.
Di blog ini kita sedang menyaksikan penampakan “sufi indie” dengan renungan dan puisi sufistiknya yang kadang menggugat. hehehe.

Nah ketika memasuki ranah publik, agama pun jadi riuh. Lalu….halah kepanjangan.

saya lagi numpang di komputer temen.
lagi sama2 belajar blog blogan.
lalu nengok blog mbak. pas ngasih comment,kok yang muncul nama teman saya are.
hehehe jadi ketahuan deh gateknya.

@rozan
hehehe… jadi are ini mas rozan ya?
makasih… yuk sama-sama jadi “sufi indie”.. hehehe😀
karena saya rasa menjadi indie, nyaris kebutuhan banyak orang masa kini kok.. ga cuma saya..

Apa bisa kita lepas dari orientasi benar salah? Bagaimanapun untuk tertib sosial diperlukan aturan hukum yang bicara benar salah serta dilengkapi dengan sanksi dan otoritasnya untuk “memaksa”. Masalahnya, karena tidak semua orang berprilaku baik seperti Mbak Anis. Ada juga koruptor dan kriminal. Kalau dalam dunia wacana, ya mungkin bisa, sebatas pemikiran. Lain halnya kalau pikiran itu diaktualkan dalam prilaku/tindakan. Penilaian baik dan buruk, benar dan salah pun tentunya diperlukan.
Orientasi pada sebab akibat, saya kira lebih pada penilaian/perhitungan pragmatis dalam arti untung rugi bagi pelakunya. Lebih dari itu ya adalah aspek normatifnya yang tidak lain adalah penilaian benar dan salah (haq dan bathil).

Dalam bersikap liberal pun saya kira perlu dirumuskan, bebas dari apa dan untuk apa. Kadang saya melihat dalam tema tema tertentu ada yang bersikap liberal dalam arti hanya asal beda/waton suloyo, tanpa melihat aspek nilai gunanya bagi kemaslahatan bersama, juga dalam konteks skala prioritasnya dari sekian persoalan kemanusiaan yang gentayangan di depan mata kita.

Maaf lho, saya gak menyimak/membaca tulisan/pemikiran Mbak yang menjelaskan hal ini. Seperti biasa, ini hanya igauan spontan aja.

kita akan terus mengembara menemukan Tuhan itu. bersamaan dengan itu pula segala sesuatu yang mendominasi kita luntur dan terlepaskan. kemudian berubah menjadi kita yang bebas dari dominasi itu.

sepakat dengan mas rozan, ternyata di alam nyata, di alam kontak berbagai kepentingan, di alam bersitegangnya haq dan batil, perlu ada yang sekedar menjaga dari kehancuran yang terlalu luar biasa. sehingga suasana lebih kondusif. dengan demikian situasi terbentuk dan suasana ruhiyah tercipta dan kita bisa lebih baik untuk mengembara menemukan kebebasan kita.

entahlah, bisa demikian, bisa juga tidak

weleh-weleh ada paham en aliran baru neh..sufi indie.
udh ngedaftar ke direktorat HAKI blm?
kira2 royalti nya brp?
ntar kalo dibajak en diduplikasi scr cuma2 gmn?

*sambil memandang dg sinis en curiga*

@tren
Kang, menurut saya, melalui syahadat sebenarnya kita mengikatkan diri (bahkan menghambakan diri) hanya kepada Allah, dan melepaskan diri segala jenis ilah (tuhan) lain yang palsu. Jadi sebenarnya fitrah manusia itu tidak bisa lepas dari sikap mengikatkan diri atau menghamba pada sesuatu. Di sini masalahnya cuma pilihan (pilihan bebas), mau menghamba pada apa atau siapa? Mau ke Allah atau ke selainNya. Hanya dua pilihan. Tidak ada pilihan lain. Iman atau kufur.

Sedikit lagi Kang. Dengan beriman kita percaya dan dengan berislam kita pasrah pada aturannya-Nya. Kita membebaskan diri dari bentuk penghambaan kepada yang selain Allah. Sosalnya, bisa saja kita menghamba pada ideologi, ilmu, harta atau tahta. Bahkan aqur’an mengingatkan, ada orang yang meng-ilah-kan (mempertuhankan) hawa nafsunya (ayatnya nanti saya cari ya. Lupa.). Saya jadi ingat tulisan mang imad, almarhum, di bukunya risalah tauhid. Buku kecil yang membuat saya sedikit melek untuk bertauhid dalam segala aspek kehidupan.
(Dan ternyata sampai sekarang saya gak melek2 juga.).

Masalahnya, berilsam yang bagaimana yang bisa membebaskan (liberasi/liberate, bukan libelarism) seperti yang Kang Trend bilang. (yang jelas bukan yang model islam-indie kan. hehehe)

Terima kasih.

@azyla
Mbak Anis emang kayanya perlu dicurigai tuh. Harus digugat terus. Dan kayanya dia akan suka kalau digugat, daripada dicuekin. Biar tambah keren ke-indian-nya. Tapi jangan sambil sinis lah ya. Rilek aja.
(hehehe jangan2 azyla ini konconya anis juga kaya mas dan.
hahaha jadi trauma aku).

@rozan
@kang trend
@azyla

sebelumnya, saya memang relatif dekat dg mas Daniel. dan dengan yg lainnya…. juga dekat donggg…
dekat di blog maksudnya. hehehehe😀
santai aja yaa..

– pertama, soal benar atau salah..
awalnya mungkin manusia maunya yg praktis aja ya. kaya cewek, inginnya penuh kepastian. maka spt anak kecil, sukanya tom dan jerry. tapi perhatikan, tom dan jerry aja ga selalu tom yg nakal. jerry juga suka jahil. see.. semua terjadi sebagai sebab akibat. lebih ekstrim, meski anggapannya pastinya kucing itu makan tikus, disana malah dianekdotkan, si kucing lah yg lebih sering jadi korban. bahkan di lain sisi, mereka di persahabatkan..

maka sederhananya hidup ga kaya belajar matematika…
dan dg beberapa asumsi, 1 + 1 tidak selalu sama dengan 2 toh?

saya kutip tulisan manis dari mas daniel yaa… judulnya “Matematika dan Kehidupan”. mungkin bisa menjawab.

– soal sebab akibat.
sesungguhnya manusia itu suka ga jujur sama dirinya sendiri.
sebut saja adalah benar bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. ini perkataan mulia toh? diimani dan merupakan kebenaran. tapi lihat kelakukan dari para pengiman kalimat itu? jauh sekalikan? negara dg mayoritas penduduk beragama islam justru jorok banget. padahal apa yg kurang? itu perkataan benar, dan disampaikan oleh yg dimani sbg kebenaran.

ya karena kebutuhannya hanya tuk dibenarkan. kebutuhan sbg klaim. sebagai benar trus sudah.
coba kalau dipahami dg pendekatan sebab akibat. kalimat itu menjadi aktif, menjadi action.
maka jangan buang sampah sembarang itu akan menjadi kebiasaan. karena akibatnya akan bersih dan rapi.

renungi baik-baik soal ini deh. kita bukan anak kecil lagi yg melulu maunya di jejali. kita justru harus menyadari bahwa kita adalah pelaku dalam beragama. kita adalah subyek. bukan melulu obyek.. maka saya menolak bentuk2 dogma, menjadikan manusia itu pasif dan terima saja dilabeli..

– ketiga soal indie
halahh… tanyakan saja sama diri sendiri… ini hanya masalah bahasa. kebetulan istilah populer tuk saat ini, ya indie. ga perlu didaftarkan segala, indie itu punya siapa saja. krn sesungguhnya, pesan : kenali diri sendiri maka kau akan mengenali tuhanmu adalah salah satu pelajaran ttg independensi… kalau saja disadari.
dan kalau ga mau memakai nama indie ya juga ga papa. cari saja nama lain. santai toh?

islam indie juga hanya sebuah tajuk, selebihnya sikap mandiri itu yg harus terus dibiasakan. terlebih tuk saya yg memlilih tajuk itu🙂

mas azyla mau sinis dan curiga, itu haknya. saya tidak mewakili siapa-siapa selain diri saya sendiri. dan saya bisa bersahabat dg siapa saja. termasuk dg yg curiga dan sinis… hahaha😀

o… begitu toh mbak anis yang dimaksud sebab akibat tea. dalam konteks sosialisasi/internalisasi ajaran. metode berdakwah. jadi tidak doktriner.

ya mas azyla, dicurigainya dalam arti dikritisi, lalu ada diskusi, tukar fikiran, untuk nambah wawasan. lumayan kan, sambil silaturahmi lewat media blog yang gratis.

@rozan
makasih..
e, itu tuk mas ary/azyla adalah becanda… supaya ga curiga dan sinis lagi.. hehehe😀

Ada sedikit catatan untuk beragama dengan pendekatan “sebab akibat”:
1.Pada akhirnya akan mengarah ke sikap pragmatis dalam arti: asas manfaat, untung rugi, atau nilai gunanya dari suatu aturan/ketentuan agama. Lalu yang jadi masalah:
2.Tidak semua ketentuan/aturan agama bisa diketahui dari sudut sebab akibat (nilai gunanya). Terutama dalam hal ketentuan aqidah dan ubudiyah. (contoh: tentang waktu dan bilangan rakaat shalat, ketentuan pembagian warits, keberadaan malaikat, adanya sorga neraka, hari kebangkitan dsb.). Paling2 kita hanya bisa meraba hikmah dan faedahnya. Atau dalam ushul fiqih ada yang disebut “illat” hukum (sebab munculnya hukum) yang melibatkan pemikiran/ra’yu. (contoh: karena memabukkan, maka khamar/arak diharamkan). Menggali hikmah atau ‘illat hukum seperti ini dalam beberapa kasus tentunya sangat debatable, relatif dan serba mungkin.
3.Allah mengingatkan, “Apa yang kamu anggap baik/buruk belum tentu dimata Allah baik/buruk.” Jadi untuk hal tertentu, dalam beragama, kita diminta untuk menjalani saja perintahnya, tanpa perlu tahu sebab akibatnya. Sekedar contoh: Umar bin khatab pernah bilang, kira kira begini, “kalau bukan karena perintah Rasulullah, tak akan sudi aku mencium batu hitam ini (dalam berhaji).
4.Dalam pandangan sufi (setahu saya) beragama dengan pendekatan sebab akibat dipandang belum total keislaman (kepasrahan) nya, belum ikhlas atau ridha. Masih berfikir untung rugi, karena asas manfaat atau nilai guna.
5.Jadi, setiap agama memang punya doktrin yang “menuntut” pemeluknya untuk percaya dan patuh menjalaninya.
Selanjutnya: saya mohon maaf, catatannya ternyata tidak sedkit.. seperti biasa, kepanjangan.
Bagaimana. Betul enggak?


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: