maka dahulu, api dituhankan

Posted on Januari 22, 2009. Filed under: islam indie |

fire_01 (mari kita cermati lebih teliti…)

tadi ngomongin filosofi api dengan teman saya, via YM. tapi tiba-tiba dia harus buru-buru pergi dengan temannya. hehehe.. jadi disini aja ya saya ngomonginnya..

sebelumnya, ini hanyalah sebuah pendekatan — menurut pikiran saya..

alkisah, adalah hidup kita ini diliputi oleh energi. yang selama ini kita kenali dengan sebutan umum : udara.
pada proses memantik, yang di zaman dahulu kala berupa mengadu dua batu, lalu saat ini banyak mode dan ragamnya, maka energi ini ditarik atau diletupkan oleh proses memantik itu, yang kemudian diikat pada media tertentu.

dahulu kala media itu berupa ranting-ranting kecil, saat ini medianya adalah LPG, minyak tanah dsbnya, yang merupakan media/benda yang mudah terbakar.
catat : bukan media/benda itu yang menghasilkan api loh, itu adalah media/benda yang mudah terbakar. bedakan yaa.. toh dalam keadaan tidak ada apa-apa, LPG, minyak, bensin dsbnya itu ya tidak menjadi api.

lalu…
perhatikan, proses pemantikan api, tidak bisa jauh dari medianya. bahkan proses itu terjadi diatas atau didekat medianya. maka korek api ada batangnya atau geretan ada gasnya.
hal ini yang suka membuat kita terkecoh, bahwa media-media itulah yang menghasilkan api. padahal media-media itu hanya bahan yang mudah terbakar, maka dia bisa menangkap api. api sendiri tetap membutuhkan energi di luar, yg kita kenal sebagai O2 tuk terus bertahan nyala.

membuat api senantiasa terhubung dg energi yang meliputinya.

nah, api yang telah tertangkap oleh media –apapun itu– menjadi sangat bisa dimanfaatkan untuk ini-itu dan begini dan begitu. secara kontekstual, api digunakan sesuai kebutuhan. besar kecilnya berbeda tuk setiap keadaan.

sebut saja tuk merebus air sepanci ukuran diameter 20 cm volume 500 cc, akan berbeda dengan mendidihkan air dalam tong diameter 1 m, volume 2000 liter. atau tuk membakar sate maringgi yg sudah dimatangkan sebelumnya, dengan sate kambing yang dari daging mentah itu juga beda. belum lagi api dg media minyak tanah, LPG, kertas, kayu bakar, dst-dstnya juga beda.

wah, dimensi tuk sebuah proses pembakaran ini luarbiasa kompleksnya deh. menjadi sangat kontekstual sekali dengan keadaan, kebutuhan dst-dstnya.

di sini, amati juga bahwa api yang membesar tak terkendali, atau tak sesuai kebutuhan, tak bener-bener sesuai kondisi, maka akan merugikan. membakar yg tak perlu.

lalu, api itu bisa bertahan selama media itu bisa bertahan. idealnya demikian. maka api padam seiring habis medianya.

hmm, kemudian perhatikan ini..
kadang, ada kondisi yang tidak ideal. seperti api padam karena energi (O2) di luar itu berkurang. atau ketika angin bertiup kencang. atau ketika disiram air, dsb. faktor tidak ideal ini juga bisa disengaja, dalam arti ada faktor yg tidak terkendali. bisa juga disengaja, alias terkendali.

lalu kemana api ketika dia padam?
hehehe… ya hilang.
kembali menjadi energi yang setara dengan energi sekitarnya. walau kadang masih tersisa rasa hangatnya, atau bahkan tersisa bekas pembakarannya, berupa asap dan abu.

wow..
luarbiasa ya api itu?

nah, begitupun kehidupan ini.
konon bumi ini tercipta oleh Big Bang itu. sebuah ledakan luarbiasa dahsyatnya, yang menangkap energi/semesta menjadi kehidupan bernama bimasakti. termasuk di dalamnya bernama bumi dan isinya.

nah, manusia.. saya cut di bagian kelahiran aja deh, bukan asal muasal adam dan hawa itu, atau teori darwin itu, atau apapun itu.

alkisah, ketika karena proses bertemunya sel sperma dan ovum, maka terjadi kehamilan. maka orang berpikir itu telah terjadi kehidupan. lalu janin tumbuh dalam rahim. tumbuh, bergerak dan berdetak. ciri dari sebuah tanda kehidupan. dengan teknologi saat ini, bisa menangkap semua itu, bahkan semakin canggih bisa mengambil imej atau pencitraannya, lewat USG sampai foto 3 atau 4D itu.

namun demikian, kehidupan dalam rahim yang kini bisa kita nikmati lewat layar USG dan 4D itu, masih sangat terbatas tuk kita pelajari. maka dalam agama itu disebut kehidupan Alam Rahim.

tapi, apakah itu telah menjadi kehidupan nyata? jelas belum. namanya juga masih di alam rahim.
maka kemudian terjadilah proses kelahiran.
buat saya yg pernah melahirkan normal, proses kelahiran menjadi seperti “ledakan tersendiri”. disana energi yang meliputi seolah tertangkap dalam tubuh sang bayi. membuatnya mampu bernafas utuh dengan parunya. terhubung dengan energi nyata ini. tak lagi berada dalam alam rahim.

kehidupan nyatapun terjadilah…

energi itu seolah “terpantik” dalam media manusia munggil, bernama bayi..
energi itu adalah jiwa,
media itu adalah jasad.
semua diikat dengan nafas.
padam tidaknya, terindikasi dari nafasnya.
bukan melulu pada gerak refleknya.
dan media berupa jasad ini memiliki instrumen. nafsu dan syahwat. yang harus senantiasa tumbuh kembang dan dikendalikan.

selebihnya, berlakulah sebagaimana pembakaran api itu. sangat luarbiasa dimensinya, dan sangat-sangat kontekstual. selebihnya pula, berlaku kondisi ideal atau tidak ideal sebagaimana api itu. intinya demikianlah kehidupan itu. yang bahkan, selebihnya juga, kemudian padam/wafat kembali kepada tuhannya, sebagaimana api itu padam kembali ke semesta.

perhatikan pula, pada saat api padam dan menyisa abu. untuk sejenak rasa hangatnya masih tersisa. begitu pula ketika kematian menjemput, meski sudah jasad susah kaku dan dikuburkan, rasa hangat hadirnya masih terasa dan malah tuk selamanya terekam dalam kenangan dan mungkin sejarah.

itulah hidup..
maka saya bisa memahami bahwa dahulu kala api bisa begitu dituhankan.

padahal dia hanya ekspresi yang mengikat tuhan dalam media tertentu dan kemudian menyala, bercahaya dan bermanfaat.

begitupun manusia.
sangat tidak beralasan tuk mentuhankan manusia toh?
maka dikatakan nabi adalah utusanNya, nabi adalah wujud tuhan di muka bumi, sampai nabi adalah cahayaNya. intinya adalah Nabi atau apapun kita menyebutnya, adalah media yang bagus apinya, pas cahayanya, termasuk pembakaran yang sesuai tuk kondisinya. maka menghasilkan banyak manfaat, melebihi yang biasanya.

selanjutnya ya berlaku hukum alam pada umumnya ttg hidup, meski dia seorang nabi.. atau meski di sebut sebagai tuhan yang ada di muka bumi. dia hidup, bermasyarakat sesuai keadaannya, lalu diapun wafat, kembali kepada tuhannya.

maka pula, dikatakan di hati setiap manusia ada tuhan. atau manusia adalah perpanjangan tuhan, atau apapun bentuk pembahasaannya, yang karena sesungguhnya –terlepas dari media jasadnya– manusia memang bagian dari kesemestaan, bagian dari tuhan..

hanya memang media yang mengikat kehidupan yang bernama jasad ini, memiliki instrumennya tersendiri, berupa nafsu dan syahwat, yang kadang manusia biasa lebih suka kalah mengendalikan instrumennya itu. tapi bukan berarti tidak bisa sama sekali tuk menjadi pas cahayanya, pas panasnya, pas terangnya dan pas konteksnya..

sederhananya, dalam tradisi, agama dan kemampuan akalnya, manusia berjalan terus tuk memahami tuhan dan kehidupan.

.

lalu coba renungi..
maka kemudian bisa dimengerti pula mengapa Iblis di umpamakan berasal dari api. yang konon dalam kisah-kisah kitab suci, iblis katanya adalah makhluk tuhan yg dulu sangat taat beribadah. satu saja kedurhakaan iblis, yakni menolak menghormati Adam. manusia yang hanya berasal dari tanah yang memiliki akal sebagai anugerah dariNya.

maka pahamilah dan berempatilah pada lika-liku perjalanan pikiran manusia..

banyak hal yg ga bisa dilukiskan manusia dengan bahasanya yang terbatas, dan kemampuan pendengarnya yang terbatas pula. menurut banyak faktor deh.
maka manusia menggunakan perumpamaan. mengunakan metafora, dsbnya. agar bisa menjangkau lebih luas dan lebih indah. termasuk wajar saya pikir, kalau manusia digambarkan tercipta dari tanah –mungkin spt manusia di zaman itu membuat tembikar patung dari tanah liat– lalu berpikir dihembuskan ruh ke dalamnya. menjadi perumpamaan yang semakin indah, karena ternyata kematian di sana, selalu berarti di kubur, memberi arti seolah dari tanah kembali ke tanah..

namun berempatilah pula, bahwa ternyata ga semua manusia membaca kitab suci yang sama. seperti ga semua mayat di kuburkan ke dalam tanah. di daerah sodara kita di Toraja saja, mayat di letakkan di gua-gua di tebing2 tinggi.

selebihnya, berlaku apa yang sudah saya ungkap di komen soal siksa kubur dan sebagian besar tulisan ini…

hmm.. seru yaa…

ayo berpikirlah..
dan menjadi bijaksanalah pada kehidupan..
saya semakin suka beragama, meminjam sebuah ekspresi dari banyak ekspresi manusia tentang tuhan dan kehidupan. hanya saja, saya ga mau dan ga bisa harfiah. karena ternyata indah sekali jika bisa memahami agama lebih dalam..

saya merasa larut dalam ilmu..
walau hanya sederhana kemampuan logika saya, yang S1-nya pun tak tamat… dengan satu dan lain hal. hehehe..🙂

.

salam
anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: