tak ada tuhan di Gaza

Posted on Januari 23, 2009. Filed under: islam indie |

peaceful_bliss (dibagi yaa…
dari awal hingga hari ini,
sikap saya soal Gaza : netral. )

.

tak ada Tuhan di Gaza
karena bagaimana Dia bisa ada
jika semua melulu bersengketa
semua penuh murka

yang satu merasa perkasa
yang satu selalu mencari cara
yang satu tak mau mengalah
yang satu juga terus memaksa

.
maka dimana Tuhan bisa ada?
.

sabda hilang oleh amarah
tak ada yang bisa menahan pecah
semua hanya bisa ikutan bicara
meminta simpati siapa saja
atas darah yang tumpah sia-sia

.
maka bagaimana tuhan bisa ada?
.

Dia hadir di rasa cinta
menjaga dan mau kerjasama
mencari temu dan terus berusaha
tak letih apalagi mengorbankan jiwa

tak ada tuhan di Gaza
hanya kebencian yang dipelihara
agama ditunggangi dendam membara
dari rasa gagal mengolah negara

tak ada Tuhan di Gaza
hanya keperkasaan berbalut senjata
kekuasaan dipaksakan bagai neraka
dari rasa kesal tak kunjung sirna

keduanya tak benar-benar sabar
keduanya tak benar-benar sadar

maka jangan kau teriakan namaNya
jika Dia tengah tak benar-benar ada di hatimu
maka jangan kau gadaikan namaNya
jika Dia tengah tak benar-benar kau inginkan utuh

maka kelak Tuhan tiba di Gaza
berbalur cahaya dan kata yang menggugah
menghentikan nestapa yang sia-sia
merujukkan mereka yang melulu sengketa

maka kelak Tuhan tiba di Gaza
tak membawa apa-apa
selain cinta
tak membawa ayat-ayat
selain rasa

agar mereka tahu sebenarnya Dia
dari melulu di tafsirkan penuh angkara
seolah Tuhan tak bisa untuk semua
padahal Dia mencipta manusia
tanpa membeda siapa

.

maka biarlah reda
semua dendam bara
simpan semua sejarah
yang berbalut duka

mari raih ke depan
tentang hari yang menjanjikan
manusia hidup berdampingan
damai dan pengertian

.

tak ada Tuhan di Gaza
sampai kesadaran menjelma

.

*terinspirasi dari surat At Taubah
surat ke 9 dari al Qu’ran
yang tak di buka dengan Basmallah
karena berisi tentang perintah perang di masa itu

.

salam
anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

15 Tanggapan to “tak ada tuhan di Gaza”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Tuhan bersama orang-orang yang tertindas (mustadh’afin) dan mengutuk para penindas.

@rozan
ada komen teman saya atas tulisan yg sama di fb saya. tulisan ini lumayan mengundang protes di gb saya

nih di kopas yaa.. siapa tahu, cukup membantu menyampaikan maksud saya..
ini dari mas Gatot, pernah juga kok masuk ke blog saya.

…..Saya kok gak melihat Anis sedang memperdebatkan keberadaan Tuhan karena tanpa ada sebab apapun dan event apapun Tuhan itu telah ada. Tapi Anis cuma mau bilang, Tuhan terlalu Agung kalau untuk menjadi sebuah ikon kebencian, kemarahan, kejahatan dan angkara murka.

Jauh atau dekat Tuhan, ada atau tiada Tuhan ada pada representasi diri kita saat menjalani peran kita sebagai khalifah.
Kalau itu angkara murka yang ditampilkan, saya yakin apakah itu Tuhannya orang Islam, atau Tuhannya orang Yahudi atau Tuhannya siapa saja pasti tidak akan hadir, yang pasti itu representasi iblis. TUhan adalah kasih, Tuhan adalah cinta, Tuhan adalah damai dan Tuhan adalah cahaya. Karena itu semua tidak ada di Gaza, maka Anis mengumpamakan bahwa TUhan tidak hadir di sana…. Gak usah jauh2 ke Gaza, apakah ketika wanita dan anak2 dipukuli di monas oleh kelompok yang membawa bendera agama menghadirkan Tuhan di sana ?

Barusan di TVONE ada tayangan menarik tentang kehidupan masyarakat Palestina, masyarakat dengan tingkat kepemilikan senjata yang sangat tinggi. Bagaimana setiap orang selalu terancam hidup dan kehidupannya. Bisa karena kedatangan pasukan Israel, bisa karena perang antara fattah dan hamas, bahkan bisa hanya karena perselisihan keluarga. Sungguh, secara mental bangsa itu perlu dipulihkan…. Kasihan anak – anak tak berdosa itu yang harus menanggungnya.
Kita harus berupaya keras menghadirkan Tuhan di sana. Menghadirkan dalam arti mengupayakan situasi damai, tidak saja dengan menyuruh Israel keluar, tetapi juga meminta mereka menata kehidupan bernegara yang saling menghormati antar kelompok, saling bersinergi, karena sesungguhnya masalahnya ada di diri mereka sendiri…..

bagaimana kalau ternyata Tuhan juga yang menginginkan perang untuk menunjukkan mana yang memiliki hati nurani dan mana yang tidak.

wah ngga tau juga yah???

Konflik Gaza ini masalah kemanusiaan. Dan memang ada pemeluk agama yang selalu mencari dalil dalam kitab suci untuk saling berperang. Sementara itu kapitalisme industri senjata menghembus menjadi perang di kalangan umat beragama.

Jadi saatnya agama dan kesukuan jangan jadi penghalang perdamaian. Tuhan mungkin murka dengan konflik Gaza ini. Sehingga Dia berkehendak menunjukkan sesuatu. Apakah kita cukup peka? cukup peka? dengan dentuman bom? dengan darah? dengan derita anak dan wanita?

Muhammad saw, menunjukkan berperang untuk menghindari perang. kalaupun terpaksa harus ada, menghindari korban, kalau terpaksa lagi menghindari korban yang banyak, kalau terpaksa lagi berperang dengan tetap menghormati musuh dan tidak menghancurleburkan.

Tuhan kembalilah ke Gaza, ke timur tengah, dan ke dunia bagian lainnya. dan tentu ke indonesia ini, ya Tuhan. negeri yang manis ini lagi asem dan kecut. apalagi menjelang pesta pora pemilu ini.

Mbak Anies, kita bisa “melihat” Tuhan dalam arti; (1) Tuhan sebagai konsep ajaran agama, dengan segala FirmanNya. (2) Tuhan dalam persepsi pribadi pemeluknya. (Tuhan yang hadir dalam diri personal). Lalu, (3) Tuhan sebagaimana dihayati dalam bingkai komunalitas (kondisional dan situasional), Juga (4) Tuhan yang diidealkan dalam diri personal atau komunal. (Mungkin juga ada katagori lainnya). Dalam konteks inilah Allah dlm hadits Qudsi bilang, “Aku adalah sebagaimana dugaan (imajinasi) hambaKu terhadap Aku”. Religiusitas manusia dalam menghayati dan mempersepsi Tuhannya memang beragam. Demikian juga kita bisa bedakan antara agama sebagai ajaran (ideal) dan agama sebagai sejarah (agama yan hadir dlm realitas, yang dipraktikkan). Selalu ada jarak antara yang ideal dan realitas yang aktual.

“Tak Ada Tuhan di Gaza”, adalah dalam konteks Tuhan pada 2 dan 4 sesuai persepsi Mbak. Di sini ada yang perlu saya “luruskan” (hehehe, ungkapan ini udah kaya Tuhan aja ya). Selain Maha Kasih dan Sayang, Tuhan juga Maha Menghukumi dan Maha Adil. Ya… menghukum mereka yang melanggar aturanNya dan melampaui batas. Dengan kata lain, Tuhan juga memihak dan kita tidak bisa melepas kacamata nurani dan moral/ norma dalam beragama, bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan sebagai warga dunia. Ada yang hak dan yang bathil, salah dan benar. Lalu perlu aturan hukum dan pelaksananya untuk menegakkan kebenaran dan keadilan dengan otoritas dan kekuatan “memaksa

Teman yang pernah meliput perang disana berturur, Palestina memang tanah harapan yang tercabik. Konfliknya multi dimensional. Senjata ada di mana mana. Sopir taksi yang dia tumpangi bawa AK. Tembakan ke udara, kaya petasan aja, sebagai ungkapan amarah atau kalau lagi pesta ”. Ketika semua pihak menganasnamakan agama atau Tuhan dalam berperang, kita bisa menengok para nilai nilai kemanusiaan sebagai patokan. Karena Tuhan manapun memerintahkan untuk ber Prikemanusiaan yang adil dan beradab.

Iya Kang Tren, dalam berperang pun harus berprikemanusiaan. Gak bener kalau sampai pake pospor putih dan membantai warga sipil, anak anak dan menututp akses relawan bantuan kemanusiaan. .Kalau Kang Tren dalam soal Gaza bersikap netral juga, ya: “terlalu”.
(ini saya dg sadar udh berusaha nulis comment yg pendek. . maaf).

@ rozan
malam ini saya baru pulang dari malam amal PALESTINA MEMANGGIL. saya bersama perusahaan menyumbang 100juta untuk KNRP.

saya hanya ingin mengajak untuk menjadikan tragedi gaza ini betul2 menjadi bahan introspeksi tentang eksistensi kita. jangan sampai tahun depan masih merespon dengan sebegini juga.

dan yang penting adalah kita mulai membangun eksistensi untuk menjadi muslim yang mendamaikan. yahudi adalh seorang yang ngotot. 50 tahun berazam ingin memiliki sebuah negeri. dan itu terwujud dengan tepat 50 tahun.

apakah kita tidak bisa berazam, bahwa tahun depan Indonesia bisa mendamaikan bumi Palestina. dengan power, bargaining position, diplomatik, opini umum dunia ini, dll. sehingga harga seribu syuhada dan sejuta derita ini terbayarkan sudah.

oiya, mas rozan yang sangat bersemangat membela palestina atas dasar kemanusiaan, boleh main ke blog ku. ada beberapa artikel tentang tragedi gaza ini.
http://trendibandung.wordpress.com/2009/01/11/persaudaraan-untuk-perdamaian/
http://trendibandung.wordpress.com/2009/01/08/tiga-barak/
http://trendibandung.wordpress.com/2009/01/04/kado-tahun-baru-hijriyah-dari-israel/

salam kompakan buat bang rozan
salam manis buat mba anis

@tren
Kang, blognya udah saya tengok tuh. Beberapa postingannya saya intip juga. Walah, bikin saya harus posisioning dulu di antara visi, kapasitas, eksistensi dan aksi.
Saya belum berani ngundang Kang Tren ke blog saya. Jadi minder, hehehe.
Salam kompak juga. Menyenangkan bisa kenal orang macam Kang Tren. Ini berkat blognya Islam Indie. Pasti blognya Mbak Anis ini dapat pahala.

@Mbak Anis, untuk sekedar ngisi blog saya yang sepi tulisan, comment saya tentang gaza di blog Mbak, saya posting di blog saya. Sekalian mohon izin hak ciptanya, karena ada bagian yang saya kutip untuk nambah redaksinya, biar kelihatan panjang.

Silaturahmi yang menyenangkan. Semoga saja bermakna. Harap maklum saja kalau penyakit bawaan saya kambuh: suka mood2an.

Terima kasih.

@rozan
silakan..
jangan sungkan😀

malah indah dan tantangan tersendiri kalau komen itu dijadikan satu tulisan… gimana?

secara tauhid Tuhan adalah esa tiada entitas lainnya yang menyamainya
jadi tuhan tidak selalu hanya maha kasih namun ia maha kasih sekaligus maha jahat seperti yang ada di gaza
tinggal kita meng-alam-i tuhan yang bagaimana

@tomy
mas tomy…
saya kok impresif dg komen ini
hmm… sulit bagi saya tuk menerima Dia adalah jahat.. selain bahwa Dia tengah tak bener-bener Dia.

@tomy

Bukannya Tuhan itu melampaui baik dan jahat?

kejahatan Tuhan adalah kebaikan terbaik yang paling baik.

makna jahat dan baik manusia sangatlah terbatas. perjalanan 2 orang nabi itu bisa menjadi pelajaran. ketika sang nabi membunuh seorang anak, ketika sang nabi membocorkan perahu, dst. kejahatan jadi bermakna relatif setelah ada dimensi lain mempengaruhi.

iya ngga sih mba?

@kang trend
apakah itu berlaku pada kejahatan israel, jika itu menyangkut suatu dimensi yg lain?
yg kita tak mengerti hari ini?

ya, masih ada dimensi yang tidak kita mengerti.

saya hanya yakin:
Tuhan tidak mungkin salah perhitungan dan
Tuhan itu tidak mungkin berniat merusak.

jadi kehancuran ini adalah kehendak-Nya
dan bermaksud baik.

jadi mari kita perhatikan point kaum yahudi ini;

mereka tercipta sebagai manusia yang super cerdas.
lihat saja hasil karya mereka untuk dunia ini.
tapi mereka ada sesuatu kelemahan.
ngga usah diceritakan panjang lebar di sini soal itu.

sekarang tinggal kita merenungkan apa maksud Tuhan?
inilah dimensi yang harus kita ciptakan dalam paradigma kita.

kalau saya,
ada ciptaan Tuhan yang tercipta langsung jadi, kerbau, kuda, dsb.
ada yang tercipta dengan proses pembentukan yang panjang, manusia.
asalnya seperti hewan ternak, tapi diujung penciptaan
bisa lebih mulia atau lebih hancur dari hewan ternak.

Tuhan menciptakan setidaknya manusia dengan 2 jenis modal.
modal kepintaran dan satu lagi modal ketaatan.

nah, Tuhan ingin proses penciptaan yang interaktif
dengan makhluk yang sedang dalam proses penciptaannya ini.
maka si makhluk bisa memilih arah hidupnya sendiri.

yang modalnya ketaatan, bisa ngga jadi taat dan pintar.
yang modalnya kepintaran, bisa ngga jadi pintar dan taat.

jadi ngga usah pusing dengan orang yahudi yang bertingkah sedemikian.
jadi ngga usah pusing dengan orang palestina yang bersikap sedemikian.
mereka sudah memilih jati dirinya masing2
dan mereka sudah memiliki nilai masing2 di mata Tuhan.

tinggal kita mau menjadi apa di mata Tuhan?

apakah kita jadi orang taat yang pintar?
atau jadi orang pembangkang yang bodoh?
atau hanya jadi sekedar komentator?

yang taat dan pintar, insya Allah, pasti ke Surga
yang pembangkang dan bodoh, ke neraka
yang pembangkang dan pintar, ke neraka (?)kayaknya
yang taat dan bodoh, ke surga (?)kayaknya

mari kita buat kepastian masa depan kita.
dengan menetapkan eksistensi yang ingin kita raih.

saya jadi ingat ungkapan iqbal, penyair india:
“ajaklah tuhamnu berdialog untuk menentukan takdirmu”.

ikhtiar adalah dialog kita dengan tuhan.
hasil akhirnya hanya dia yang tahu dan menentukan.
itulah yang saya masud dan saya hayati sebagai takdir.

mudah2an lumayan bener.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: