rahasia dibalik petuah

Posted on Januari 28, 2009. Filed under: islam indie |

republik_indonesia_by_pistonbroke (belajar bikin cerpen…)

.

alkisah, di sebuah daerah tandus memiliki seorang pemimpin yang bijaksana. mengerti dan memahami kaumnya. sebagaimana masa waktu itu, seorang pemimpin memang dituankan dan dituhankan. perkataannya adalah petuah, perintahnya adalah pasti dan aturannya adalah hukum.

syahdan, kaum negeri gersang itu berdagang dan mengenal banyak manusia lain dari seberang lautan. sampai terbetik sebuah berita, tentang binatang ternak yang kaya dagingnya dan dikonsumsi di banyak negeri di seberang sana.

ah, tuan yang bijaksana tersenyum mendengar berita itu. dia memahami betapa sulit wilayahnya, tuk memelihara binatang itu. karena jika binatang itu diternakkan, harus di kandangkan. tak bisa sekedar digembalakan. kaumnya tentu tak akan sabar. binatang itu juga bau dan suka sesuatu yang lembab, ah.. betapa tak cocok tuk negerinya.

maka dia melarang kaumnya dalam bahasanya.

dia begitu berilmu, dia begitu memahami kehidupan. maka meski binatang itu diternakan di belahan bumi lainnya, tapi tidak dengan di daerahnya. dan itu tak apa.

maka pesannya, BACA lah.. BACA lah..

waktu berlalu, tuanpun wafat.
karena siapa bisa menahan waktu. meski dia tuan dan dituhankan, demi waktu, dia wafat juga.

dia pun abadi dalam kenangan bahasa kaumnya. semua perkataannya adalah petuah, perintahnya adalah pasti dan aturannya adalah hukum.
cerita tentangnyapun berkeliling benua.

.

sampailah suatu ketika kaum negeri gersang itu tiba di sebuah tempat bernama swarga. air mengalir sepanjang waktu. tanaman berbuah sepajang musim silih berganti. tanahnya berkilau mengandung emas, sumurnya dangkal mengandung minyak, gunungnya bahkan menyimpan berlian, lautnya menghasilkan mutiara. semua jenis binatang banyak disana. semua yang bisa dimakan, dimakan. penduduknya santun dan terlalu baik.

maka mereka bercerita kepada penduduk swarga itu, tentang surga yang diceritakan oleh tuannya. surga yang sepertinya, mirip negeri penduduk swarga itu.
ah, penduduk swarga itu beda bahasa… sodara-sodara..
maka mereka tak menyadari bahwa sesungguhnya mereka itu sudah di surga yang diceritakan tuan yang mulia itu.

walhasil, penduduk swarga jadi memimpikan surga. mereka bahkan melupakan swarganya sendiri. mereka bermimpi dan terus bermimpi tentang surga tuan yang mulia.

angan-angan itu kosong di terik matahari siang bolong

.

hingga tibalah mereka yang pintar dari negeri salju. mencari kenang-kenangan tuk dibawa pulang. melihat penduduk swarga yang pemimpi, maka tergiurlah penduduk negeri salju. penduduk swargapun dikelabui. swarganya dieksploitasi.

penduduk negeri bersalju hangat dan makmur dari swarga. namum lagi-lagi, kaum swarga masih saja memimpikan surga. menturuti petuah tuan kaum negeri gersang, tanpa memandang lingkungannya. semua yang tak boleh disana, juga tak boleh disini. semua yang hukum disana, jadi hukum di sini. semua.. semua.. semua…
membuat penduduk negeri salju tertawa terbahak-bahak. terkekeh-kekeh menguncang tubuh. mereka yang menyadari ditawari materi tuk terus mengelabui sodaranya sendiri.

negeri kaum swargapun lama-lama celaka. gunungnya gundul, banjir dimana-mana. lautnya kotor, racun dimana-mana. emasnya hilang, berliannya berlubang. buahnya tak lagi sepanjang musim, airnya mengering. bahkan banyak larangan yang mengancam komoditas negerinya. menjadi swarga yang di lupakan.

dan bagaimana dengan penduduk negeri gersang itu?

mereka pun lalai akan perintah tuannya yang sudah wafat itu. bidadari dari swarga diperkosa. dijadikan budak dan dianiaya. padahal tak pernah henti, penduduk swarga diundang bertandang ke rumah tuan yang mulia, mengorbankan harta benda dan diberi gelar kehormatan. mereka juga tak memperhatikan nasib penduduk swarga, apalagi kelangsungan negeri swarga.
negeri swarga benar-benar dilupakan.. dan disia-sia bahkan oleh penduduk swarga sendiri.

ah, penduduk swarga seperti buta oleh surga impian tuan yang mulia.

.

suatu ketika, lahir dari negeri swarga seorang yang senang membaca. dia membaca petuah2 tuan negeri gersang. empatinya pun mengunung. merasakan kerinduan akan surga dari negeri yang gersang. mengerti larangan tuk jangan kepanasan oleh teriknya matahari negeri itu. yang membakar wajah sampai nafsu manusianya.

maka ketika ditutupnya kitab petuah, dia menyadari keadaan. katanya dalam hati,
– tuan… akulah penduduk negeri swarga. akulah manusia impianmu. seandainya aku bisa, tentu akan kubangunkan swarga untuk negerimu dan kaummu. membuat kaummu boleh turut tahu rasanya sejuk swargaku. beberapa tanaman disini akan kubagi untukmu. tanam disana, dan hijaukan tanahmu.

– tapi tuan… negeri swarga hari ini merana. tak mampu berjaya, apalagi menjadi impianmu. padahal penduduk negeri swarga telah banyak yang menjadi seperti kaummu. tapi mengapa surgamu tak juga disadarinya?
aku tak berdaya, tuan. maafkan aku..

air matanya tumpah diatas kitab petuah. ini berkali-kali..

.

jarum di dinding seolah berhenti berdetak. semua bagai dalam jeda tak mampu bergerak. hanya cahaya berkelebat. menyambar serentak, menguncang benak.

akulah tuan
janjiku benar, surgaku nyata
ketika kau menyadarinya, akupun ada
jangan berduka
gembiralah
kaulah penduduk surgaku yang pertama

satu syaratku,
janganlah kau mau dibeli dengan materi
abadilah bersamaku disini
mampukah kamu?

jika saja kau dan penduduk swarga mampu
maka surga itu nyata dalam kejapan mata
surga itu nyata dalam usaha, bersama
tak pandang beda dan setia

bersatu kalian teguh
bercerai kalian runtuh

semua hening
semua bening

cerita itu berakhir dalam dingin..

.
salam
anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “rahasia dibalik petuah”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

ck ck ck ck ck, wuih mantab mantab…


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: