fatwa haram

Posted on Januari 29, 2009. Filed under: islam indie |

no20smoking_p623123 (kita omongin yukk…)

sebagai umat biasa nan tak berilmu, saya tetap boleh memiliki pendapat sendiri tentang ini kan?

sejujurnya, saya kurang paham bagaimana metodologi mengambilan sebuah fatwa itu, sampai bagaimana implementasinya dan sanksinya. asli buta.

maka sangat ga kapasitas bagi saya tuk mengulas sejauh itu. dan secara naluri, saya menangkap persoalan halal-haram sebagai “bahasa” hukum saat itu, sebagaimana saya kiaskan di tulisan saya “Rahasia di Balik Petuah”

nah, soal merokok itu haram di muka umum.
secara materi saya setuju sekali.
tapi sampai harus sekelas fatwa haram, ini saya ga sampe rasanya alias ga ngeh.
apalagi di tivi, disebutkan sanksinya hanya sebatas sanksi moral bahwa itu dosa. sehingga pertanggungjawabannya pada Allah.

hmm.. hehehe…
betapa tak terukurnya ya produk hukum bernama fatwa seperti itu?
apalagi di masyarakat kita yang masih memiliki “penyakit” aturan di buat tuk dilanggar.
ini menunjukkan bahwa penyakit masyarakat kita pada produk hukum, yg demikian, ya karena begitu sering tidak terukur dengan jelas dan tidak konsistennya produk hukum itu sendiri. ini belum sampai pada menyoal penyelenggaraan hukumnya loh. yg kita tahu, lebih acak-acakan lagi..

hehehe…
buat teman-teman yg menekuni Hukum, sebaiknya lebih di teliti nih fenomena ini. kali-kali butuh formulasi tersendiri. 😀

belum lagi, karena sanksi moralnya adalah dosa, buat mereka yang peduli dan memiliki kepentingan dg rokok, malah jadi kikuk. sebut saja petani tembakau di Kudus itu. walah, ya ga mungkin mau dong disebut menanam sesuatu yg haram penggunaannya. juga mengancam secara finansial terhadap kelangsungan hidup di sana. walhasil, MUI Kudus menolak fatwa MUI pusat.

haduhh.. nih agama kok jadi kaya dagelan gini sih. sudahkah politiknya kaya dagelan, masa agama juga dijadikan dagelan sih?
atau agama ditunggangi kepentingan politik?

saya menghargai bahwa setiap agama memiliki aturan bagi umatnya. it’s ok deh. asal jangan kaya main-mainan dongg..

bagi saya sih cukup makruh hukum merokok itu di mata agama islam. sebaiknya tidak dilakukan, walau kalau dilakukan pun tidak apa-apa. artinya kan jelas, ada kondisi yang memungkinkan sampai memaksa tuk sebaiknya tidak merokok. walau mungkin di tempat lain boleh.

lalu, untuk persoalan merokok di tempat umum dan di tempat2 vital yang mana merokok jadi membahayakan dan merugikan banyak pihak, negara bisa membuat peraturan dengan sanksi yang terukur.

ah, saya jadi inget pak Sutiyoso dulu..
doi pernah kan membuat aturan itu di Jakarta. tapi pada pelaksanaannya masih sangat jauh dari yg diharapkan kalau ga mau dibilang menghilang begitu saja.

tapi bukan mustahil, tuk ditegaskan kembali aturan itu.
dan agamapun menjadi mendukung dg hukum makruhnya itu.
di sini saya melihat, manusia memang di minta sekali tuk bisa bertanggungjawab penuh terhadap apa-apa yg dilakukannya, terlebih jika itu sudah menyangkut orang banyak, spt merokok di depan umum itu.

maka mengapa harus sekelas haram?

menjadi pertanyaan, apakah memang bangsa indonesia ini begitu bebal sampai harus diancam dg dosa tuk sesuatu yang semestinya di tataran manusiapun bisa kita atur dengan baik?
lah, fatwa haram pastinya hanya mengikat pada umat islam saja. umat lain tetap bebas tuk merokok di depan umum kan? masa kita mau menuduhnya haram-haram-haram?

walau saya percaya, teman-teman saya yang beda agama dengan moralitas tinggi akan sadar tuk tidak merokok di depan umum, tanpa mesti ada fatwa haram segala.
hehehe..

karena moralitas yang dibangun oleh pendidikan yang membuahkan kesadaran personal yg dalam, bukan dengan sekedar larang melarang saja.

saya pikir, kita perlu produk hukum yang lebih memiliki nilai mendidik dan kebersamaan yang indah di indonesia deh. yang tidak memilah. apalagi melebihkan satu dari yang lain.

dan sanksi dosa…
emang apa sih dosa itu?
toh perbuatan dosa masih dan sangat banyak dilakukan karena manusia sering berpikir dosa itu urusan nanti. urusan kiamat.
yg konon wallahu’alam.
hehehe..
maka kadang manusia menjadi lebih ngeh dengan konsep Karma. relatif lebih jelas ukurannya, karena dirasa didunia juga kok balasannya.

dan saya mau bilang, memang dosa itu di dunia kok hitungannya.
hehehe.. kapan-kapan kita bahas soal ini yukk..🙂

saya masih sangat percaya pada bangsa Indonesia ini, siapapun dia… terlebih umat islamnya sebagai mayoritas penduduk di Indonesia. masih bisa kok dididik dan memiliki moralitas tinggi. bukan melulu dikebiri dengan larang-larangan yang malah mengancam kelangsungan mereka yang memiliki kepentingan dengan yang dilarang itu.

saya percaya bangsa Indonesia bisa lebih dan lebih baik lagi..
memproduksi hukum yang baik dan melaksanakannya dengan baik lagi. saya sangat percaya.
karena bangsa indonesia ini bukan pendosa, hanya perlu dan perlu tuk belajar dan belaajr lagi, juga saling menginspirasi..

selebihnya, betapa saya sangat terbatas ya membahas soal beginian. saya sangat abangan. pendapat ini sekedar menuruti kata hati, menuruti naluri saja…
cukup jernihkah?

maafkan keterbatasan saya..
.

salam
anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

3 Tanggapan to “fatwa haram”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Kenapa rokok haram ?
Karena memang yang enak-enak itu yang dilarang (RH Oma Irama)
sebentar lagi Face book, black berry, handphone berkamera, juga Haram
Fatwa…fatwa…. siapa mau tinggal pilih….tinggal pilih sarebuan- sarebuan
BTW Fatwa ini berlaku surut ngga? maksud saya yang meninggal sebelum fatwa keluar ini kena juga ga ya?
hehhhh dunia yang aneh

eh ini ada satu lagi
maap ya mba anis kalo kepanjangan

baliho Wali Kota Depok
http://www.korantem po.com/korantempo/koran/2009/ 01/28/Opini/ krn.20090128. 155042.\id.html

Semalam, ketika saya melintas di Jalan Margonda, Depok (pertigaan
menuju Sawangan), saya melihat baliho berukuran besar “mengiklankan”
satu kampanye Wali Kota Depok yang saya betul-betul tidak mengerti apa
maksud dan tujuannya. Gambar baliho itu berupa foto sang Wali Kota
dengan latar belakang foto para bapak-bapak yang sedang makan memakai
sendok-garpu, dengan tulisan besar yang intinya “kembalikan jati diri
bangsa, mari budayakan makan dan minum dengan tangan kanan”.

Saya hanya orang biasa yang tidak sengaja lewat dan membaca tulisan di
baliho tersebut. Tapi apakah tidak ada hal lain yang lebih penting
untuk dikampanyekan daripada sekadar menyuruh rakyat makan dan minum
dengan tangan kanan (yang notabene rakyat Indonesia pun kecuali yang
kidal sudah melakukannya) ? Ajakan untuk membuang sampah di tempat
sampah, tertib berlalu-lintas, menjaga kebersihan, atau ajakan untuk
tertib antre lebih berarti untuk terus didengungkan. Mahal untuk
beriklan sebesar itu, di tempat yang sestrategis itu, sehingga
seharusnya hal yang dikampanyekan pun merupakan hal-hal yang sifatnya
penting.

Ini hanya pendapat saya. Tapi kalau saya boleh menyarankan, jangan
buang- buang uang “if it’s not worth the money”. Rakyat masih banyak
yang hidup kekurangan, dan pemerintah malah mengurusi apakah rakyatnya
makan dan minum dengan tangan kanan. Tolonglah untuk lebih punya
sensitivitas terhadap apa yang benar-benar dibutuhkan rakyat.

Dewi
Depok

@mbak dewi
hehehe..
saya juga pernah ndumel tuh sama suami
kenapa ga kampanye simpatik ya?
bersihin pasar kek, bersihin terminal, stasiun dsbnya, benerin gedung sekolah, yg ada bekasnya dikit deh. dari tempelan2 ga guna kaya gitu doang…
konon 40x40cm harga print-an kampanye gitu 40-50 ribu mbak, itung aja deh… hehehe😀

MUI?
sayang ya, lembaga itu disikapi seperti anjing menggonggong kafilah berlalu…
tapi ya itu pilihan sikapnya, kita bisa apa?

Mbak Dewi, untung saya bukan warga depok.
Karena saya kidal….
eh..jangan jangan bentar lagi keluar fatwa
kidal itu haram….?
aduhhh…jadi saya dilahirkan untuk menjadi
calon penghuni neraka neeehhh..
Hayo Tuhan…gimana nehhh. ane protes…
kenapa dilahirin kidal…


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: