kutipan : Marcelina Hanya Satu Contoh

Posted on Januari 31, 2009. Filed under: islam indie |

bendera-merah-putihl emosi jiwa nih…. teraduk2 deh rasanya.😦

cerita yaa…
berhari-hari dalam diskusi di sebuah milis, saya menjadi spt “pendosa” karena saya ga peduli dengan rakyat Palestina. dan jujur, seperti semua tahu, saya emang netral dari awal tuk soal Gaza itu.

saya pikir, kepedulian saya pada Palestina sudah terwakili dalam pos bantuan pemerintah RI ke sana. selebihnya, saya lebih merasa satu darah dengan bangsa indonesia. jujur, buat saya, menaikkan rezeki si mbak yang bantu di rumah itu lebih utama dari bantu Palestina!

jangan semut di sebrang lautan nampak, gajah di pelupuk mata ga nampak.

maka, saya lebih menangis dan sakit hati baca tulisan abang saya ini😦

Marcelina sodara saya. bukan mereka yang disana. sudah lama saya sedih merasani sodara2 saya di Indonesia sebelah timur, walau sadar di barat Indonesia juga banyak masalahnya.

di seluruh penjuru dunia boleh ada sodara seiman, tapi indonesia sodara sedarah saya. yang ga akan kering selamanya. cinta saya ga jauh kemana-mana.

maka saya akan mencari dan memilih dia yang bisa dengan sungguh-sungguh menyayangi negeri ini.. menyayangi Indonesia!
.

Tuhan, Kau tahu aku mencintaiMu
aku sudah berjalan terlalu jauh tuk mendekatiMu
dan aku percaya Kaupun menyayangiku
maka kalau aku boleh meminta padaMu,
Kau harus juga bisa mencintai bangsa dan negaraku
karena aku dan Indonesiaku adalah : satu
Kau bisa… aku percaya Kau selalu bisa untukku dan bangsaku
kumohon…

yukk, kita cintai negeri kita, sodara-sodara sebangsa kita, dari hal-hal kecil yang nyata, yang kita bisa sejak hari ini.. dan kita pasti bisa. karena siapa lagi yg bisa menyayangi Indonesia, kalau bukan kita?
hiks..😦

selamat menikmati
semoga menginspirasi

***

Marcelina Hanya Satu Contoh
Suhunan Situmorang

.

DULU, di alam pikiran bocah saya, sering membayangkan: orang kaya itu pada umumnya kikir, sombong, pemeras tenaga orang lemah, dan kejam. Tak ada kasih yang tulus, tak ada keramahan tanpa pamrih, tak suka kedamaian karena kerap bersaing, dan acap memandang sebelah mata pada kaum miskin.

Begitupun, saya tetap ingin jadi orang kaya, sebab selain enak, juga agar tak sering merasa terhina dan dihina. Suratan nasib kemudian membuktikan bahwa hingga usia selanjut ini, saya tak juga jadi orang kaya. Entahlah hari esok, meski tak lagi setergiur dulu memandang kemilaunya. Bila Yang Maha Baik itu membolehkan saya kaya, jelas tak akan saya tolak.

Semakin banyak makan asam garam kehidupan (walau belum sampai menderita hipertensi dan semoga saja tak pernah ), anggapan minor terhadap orang kaya itu mencair perlahan-lahan. Kekejaman, keangkuhan, kekikiran, penghisapan, perselisihan, ternyata terjadi dan dilakukan oleh semua lapisan manusia.

Kerabat-kerabat saya yang berdiam di kampung asal orangtua, yang untuk makan sehari-hari pun susah, sering kali bertengkar dan bahkan kejar-kejaran sembari membawa parang hanya disebabkan rebutan sawah warisan orangtua, ketidaksepakatan perbatasan ladang, karena kerbaunya si Anu mengacak-acak sawah-ladangnya si Polan, atau cuma dipicu soal-soal yang terbilang “sepele” macam pembagian “jambar” dalam suatu acara adat.

Para perempuan pekerja yang selama 17 tahun ini menangani urusan rumah dan keperluan anak di kediaman kami, sepanjang yang kuamati, tak selalu bisa menikmati upah mereka seutuhnya. Suami, orangtua, sanak-saudara, bahkan kerabat, kerap kali memoroti upah mereka—yang dikumpulkan dengan kucuran keringat itu. Walau uang tersebut milik mereka, beberapa kali saya terpaksa ikut campur dengan cara mengingatkan mereka agar tak usah menuruti permintaan keluarga mereka, kecuali untuk keperluan anak (bagi yang sudah punya anak). Saya jelaskan bahwa uang tersebut akan sangat diperlukan untuk masa depan mereka, yang sebaiknya ditabung, dibelikan emas atau sawah di kampung mereka.

Yang mengharukan sekaligus menjengkelkan, mereka tetap memberi atau mengirim gaji mereka kepada orang-orang, yang menurut saya, tak layak ikut menikmati upah itu dengan alasan ingin berbuat kebaikan atau berbakti.

Seorang wanita muda asal Ponorogo pengasuh putri bungsu kami (tinggal di rumah kami kurang lebih enam tahun), bahkan pernah memberi hampir semua upahnya yang dikumpulkan selama setahun untuk abang sulungnya yang kebelet memiliki sepeda motor. Si Mbak yang lain, pernah harus mengijon gajinya beberapa bulan demi membeli handphone ayahnya dan kakak iparnya yang tinggal di pedalaman Banten—dan tiap bulan seolah diwajibkan membeli pulsa telepon mereka.

Sebulan lalu, kami terima Marcelina, perempuan muda dari pelosok NTT, bekerja di rumah. Ia bekas TKW di Malaysia, dan pengakuannya tak ingin lagi kembali ke sana karena pekerjaannya amat berat di sebuah pabrik besi. Tubuhnya kurus, rambut dan kulitnya kusam, dan sepanjang hari (apalagi malam) batuk-batuk. Satu kakak perempuannya masih tergolek di penampungan sebuah perusahaan pengerah TKW, di bilangan Jakarta Timur, karena sakit.

Sikap Marcelina mengesankan bahwa dirinya orang baik. Walau pekerjaannya tak begitu rapi—mungkin karena tak biasa pekerjaan rumah—ia tak sulit diajari, dan yang menarik: selalu riang dan gampang senyum. Beberapa hari di rumah, ibunya anak-anak mulai khawatir karena batuk Marcelina tak jua sembuh meski sudah diberi obat batuk, dan akhirnya diperiksakan ke sebuah klinik. Hasil diagnosa dokter, Marcelina menderita anemia disebabkan kelelahan hingga memengaruhi kesehatan paru-parunya, namun akan bisa cepat pulih bila makanannya terjamin dan cukup istirahat.

Marcelina beberapa kali berkata: kapok kembali ke Malaysia. Jam kerjanya, katanya, mulai pukul 6 pagi hingga pukul 10 malam. Ia bekerja setiap hari selama tiga tahun. Kelihatannya ia senang tinggal di rumah kami, cocok bermain sama si bontot kami, Ayu, dan amat suka menonton sinetron. Sampai hari ini pun ia masih jujur. Uang 1000 Rupiah yang ia temukan di kantong celana, misalnya, selalu diserahkan kepada kami. Tanpa ditanya, ia ceritakan susahnya kehidupan di kampungnya, hingga kematian anak-anak akibat didera busung lapar bukan lagi berita yang menggemparkan.

Tapi, batuknya itu, khususnya malam, tak kunjung sembuh. Kembali ia kami periksakan ke dokter, hasilnya sama, dan kata dokter tak menular. Seusai berobat, ia minta izin menelepon orangtuanya di NTT sana, yang katanya, memakan waktu enam jam bila naik bus dari Kupang. Pulangnya, wajahnya terlihat murung. Usut punya usut, ternyata karena ibunya (sekali lagi ibunya) menyuruh ia harus kembali ke Malaysia. Pengakuan Marcelina, ia sudah berkata tak sanggup lagi bekerja di sana dan sekarang pun masih kurang sehat. Ibunya ngotot dan berkata akan menelepon anaknya yang lain (juga TKW di Singapura) untuk mengirim uang agar ada ongkos Marcelina berangkat ke Malaysia.

Sejak itu Marcelina jadi murung dan tak doyan lagi menonton sinetron. Emosi saya lantas melunjak, semata-mata bukan karena kami membutuhkan dirinya. Bersemburat amarah, saya katakan pada istri, “Benar kan apa yang pernah saya katakan? Sekarang ini, kekejaman justru lebih banyak terjadi di kalangan orang susah. Bukannya prihatin dan kasihan sama Marcelina, malah dipaksa kerja di Malaysia hanya karena di sana upah lebih besar. Gila! Tega betul ibunya itu. Anak sudah sakit kok masih…”
Istriku menimpali, “Itulah, karena desakan kemiskinan jadi…”
“Ini bukan lagi masalah kemiskinan, tapi soal kekejaman manusia. Si Mar, si Nur, si Ati, dulu juga begitu. Uang mereka habis diporoti orangtua dan saudara mereka. Gila, kok tak ada lagi rasa kasihan sama anak sendiri, saudara sendiri…”

Sampai hari ini Marcelina masih kerja di rumah dan tak lagi menelepon orangtuanya. Demikian pun, saya dan istri sudah membayangkan: suatu saat ia akan pergi, menyisakan perasaan sedih dan kehilangan karena ia begitu periang dan kian lengket dengan si bungsu kami. Tetapi, pengalaman atau penderitaannya—dan juga orang-orang yang pernah kerja di rumah serta ulah kerabat kami di kampung—semakin menipiskan keyakinan saya bahwa (hanya) di kalangan orang-orang yang secara sosial-ekonomi terpuruklah ikatan kasih-sayang itu masih kuat.

Cukup sering memang saya membuat kesimpulan, pandangan, asumsi, premis, mengenai sesuatu hal, yang ternyata kemudian keliru.***

.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

4 Tanggapan to “kutipan : Marcelina Hanya Satu Contoh”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

betul sekali nih mbak, di kota kota rawan macam singkawang bahkan lebih sadis, biar orang tuanya jadi kaya mendadak, atau lebih kaya sedikit, anaknya dipaksa kawin ama orang taiwan. waktu BLT digeber dulu aja ada sodara saya yang juga terbilang kurang berada tapi jadi lurah,jadi oknum yang motong BLT, padahal salah satu penerima nya adalah ibunya sendiri yang sudah tua renta.

kyaknya orang indonesia harus berhenti baca dongeng2 dan sinetron basi orang kaya jahat orang miskin selalu dizalimi, perilaku orang baik miskin atau nggak kalau di otaknya materi doang,ya ujung ujungnya begitu juga…

@rajawalimuda
sama orang yg satu ini, saya ga butuh komen ini itu selain, kemana aja selama iniiiiiiii….. ?😀
blognya sudah di up date lagi belum?
ditunggu kabarnya yaaa….

hehehe..blognya belom di update mba
aku tiarap sementara ini mba, sekalian introspeksi diri, beberapa bulan ini banyak kejadian yang cukup mengguncang jadi berhenti dulu deh…heheh..

lagi pula saya pindah rumah,jadi repot sana sini.

btw makin produktif aja mba, hehehe..

@rajawali
rasanya dah lama tiarapnya deh..
ayo dong kasih analisa ekonomi nih, krisis ini.. ciee

hehehe, ok deh, semoga lancar semua yang dicita-citakan yaa😀


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: