kutipan : Nabi-nabi baru — nabi-nabi “palsu”?

Posted on Februari 3, 2009. Filed under: islam indie |

together emang beda ya kalau bergaul sama orang pinter.. padahal cuma kenal gitu doang di facebook.
dan pinternya mencengangkan…! hehehe…

seperti dalam gelap ada pijar
seperti dalam penggap ada udara sejenak lewat
seperti dalam haus ada air, melegakan kerongkongan
walau ga sampai seperti dalam lapar ada menu lengkap.
hehehe…
masa’ gratisan mulu gitu sih maunya?!
yeee..😀

dan karena selebihnya, setiap diri memang harus bisa menemukan jalannya tersendiri tuk menuju semua yang dicita-citakannya, termasuk menemukan rasa tuhannya. agar tak kehilangan privacy bersamaNya, yang indahnya tak terkira.. merasakan setiap diri adalah unik.

kemudian berjalan bersama dalam keunikan masing-masing diri, itu keindahan yang tak terjamah oleh pikir dan lukisan. saya ga bisa membayangkannya, tapi saya bisa merasakan betapa indahnya.

semalam, di tengah kebiasaan mencari minum hangat jika badan sedang terasa dingin, maka saya menemukan tulisan ini.
membacanya, membuat saya ingin bilang…
Tuhan, lindungi mereka yang Kau beri rasa ingin tahu, maka Kau titipkan ilmu.. lindungi mereka yang Kau beri rasa ingin maju, maka Kau titipkan usaha.. lindungi mereka yang Kau beri rasa ingin bersama maka Kau titipkan lapang jiwa.. dan lindungi mereka yang Kau beri rasa ingin bijaksana maka Kau titipkan cahaya…

dan karena mereka yang demikian, tak cuma penulis artikel ini, tak juga cuma saya yang mengutip artikel ini, tapi juga semua disini dan dimanapun..
maka tuhan.. lindungilah kami semua…

mari berbagi
mari bangun hidup ini

selamat menikmati
semoga menginspirasi

***

Nabi-nabi baru — nabi-nabi “palsu”?
Ulil Abshar Abdalla

.

Gejala munculnya orang-orang yg mengaku “nabi” akhir-akhir ini membuat saya bertanya-tanya: ada apa sebetulnya dengan masyarakat kita?

Apakah ini sekedar eksentrisitas dan “idiosinkrasi” yang lumrah saja? Ataukah simptom dari suatu perubahan sosial yang lebih luas?

Dilihat dari sudut pandang agama yg sudah mapan, tentu kleim-kleim para nabi baru itu sangat menggelikan, selain meresahkan. Nabi-nabi itu mereka pandang sebagai “nabi palsu”, atau minimal orang yang mengaku-ngaku saja menjadi nabi (“mutanabbi”). Tetapi orang-orang yang sekarang menikmati agama-mapan itu lupa bahwa pada masa lampau, nabi-nabi yang dulu “mendirikan” agama yang sekarang menjadi mapan itu juga pernah mengalami apa yang ingin saya sebut “moment of tribulation” — masa-masa diuji, diejek, dilecehkan, dicemooh, ditertawakan, dituduh sebagai orang gila, sinting, penyihir, “impostor”, dsb.

Dilihat dari sudut pengalaman orang yang mengaku nabi itu, tentu kleim mereka adalah otentik, seotentik pengalaman yang pernah dirasakan oleh Nabi Muhammad dulu waktu menerima wahyu.

Akan tetapi dipandang dari segi kalkulasi untung-rugi, mengaku sebagai nabi itu sangat tidak menguntungkan. Setiap orang yang mengaku nabi umumnya diejek dan dimusuhi. Nabi yang sukses mendirikan agama yang mapan hanya sedikit. Jika sebuah hadis yang menegaskan bahwa jumlah nabi ada sekitar 124 ribu orang betul pernah disabdakan oleh Nabi Muhammad, maka kita bisa menghitung sendiri berapa dari mereka yang sukses membangun ajaran yang mapan. Sebagaimana kita tahu, dari jumlah itu, yang berhasil mendirikan agama yang bisa lihat hingga saat ini sangat sedikit jumlahnya.

Dengan kata lain, sebagian besar nabi “gagal” melakukan institusionalisasi atas “inspirasi ilahiah” yang mereka perjuangkan. En toch demikian, tetap saja ada orang-orang yang muncul ke permukaan bumi yang fana ini dan mengaku sebagai nabi, padahal resiko yang mereka tanggung sangatlah berat?

Kenapakah gerangan? Adakah insentif buat mereka?

Jika “nabi” bisa kita sebut secara metaforis sebagai “pedagang grosir” yang menjual “dagangan” dalam partai besar, dan ulama yang mendakwahkan ajaran nabi itu secara metaforis pula boleh kita anggap sebagai “pedagang eceran”, tentu lebih menguntungkan bekerja dalam lingkup agama yang sudah ada dan mapan sebagai “pedagang eceran”, ketimbang mengaku sebagai nabi baru, mendirikan “supermarket baru”, sebab akan menghadapi banyak tantangan dari “supermarket lama” yang sudah mapan.

En toch demikian, tetap saja ada orang-orang yang ingin membuka “toko grosir” besar, menjadi nabi baru, dan mendakwahkan ajaran baru? Kenapakah gerangan?

Saya suka sekali dengan istilah teolog pos-modernis dari Perancis yang sekarang mengajar di Universitas Chicago, Jean Luc-Marion, “excess of meaning” — makna yang membuncah hingga meluber ke mana-mana. Saya akan memakai istilah untuk menjelaskan sebagian gejala munculnya nabi-nabi “baru” ini. Orang-orang yang mengaku nabi itu tampaknya mengalami semacam “surplus pengalaman”, atau “ekses makna” dalam istilah Marion, yang tentu di mata dia sangat otentik. Setiap pengalaman subyektif yang “eksesif” (sehingga menimbulkan “surplus pengalaman”) biasanya tidak bisa disimpan sendiri. Orang yang bersangkutan merasakan suatu dorongan yang kuat dalam dirinya untuk “membagi” pengalaman itu dengan orang lain.

Secara empiris, hal ini sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Saat kita mendapatkan suatu kegembiraan, ada dorongan dari dalam yang susah ditolak untuk mengabarkan kegembiraan itu ke orang-orang lain. Ini terjadi karena suatu pengalaman yang menggembirakan mirip dengan sebuah air yang meluap. Pengalaman itu susah untuk kita pendam sendiri. Ia minta untuk disalurkan keluar. Setiap pengalaman eksesif selalu cenderung mengarah keluar.

Dengan kata lain, pengalaman yang eksesif biasanya tak bisa disimpan sebagai pengalaman soliter, tetapi mendesakkan diri untuk membuncah ke luar. Jika memakai skema teori pembentukan realitas sosial yang sudah klasik dari Alfred Schutz yang kemudian “dirapikan” dan dipopulerkan oleh Peter Berger, dalam setiap surplus-pengalaman terdapat kecenderungan untuk eksternalisasi dan objektifikasi atas pengalaman subyektif itu. Setiap orang yang mengaku sebagai nabi itu tampaknya merasakan pula pengalaman eksesif semacam itu serta, dengan sendirinya, dorongan ke arah eksternalisasi dan objektivikasi yang sangat kuat.

Para nabi semitik cenderung menyebut “misi kenabian” mereka sebagai “berita gembira”, “busyra” (بشرى) atau “evangelium” (dari sana muncul istilah injil). Berita gembira tentu, dalam pandangan saya, mula-mula berawal dari “pengalaman eksesif” yang subjektif dan susah dibendung, sehingga harus diwartakan ke luar.

Pengalaman ini tampaknya mirip dengan momen-momen “puitis” yang dialami oleh setiap penyair atau seniman. Penjelasan psikologis fenomena kenabian dalam profetologi Sinian (maksudnya teori kenabian dalam pandangan Ibn Sina, seorang filosof besar Muslim yang hidup pada penghujung abad 10 dan awal abad 11 Masehi), misalnya, tepat sekali jika diterapkan untuk menjelaskan proses kreatif dalam dunia artisitik atau kesenian.

Menurut Ibn Sina, informasi, wahyu atau gagasan yang diterima oleh para nabi sebetulnya sama dengan proposisi (qadiyyah) dalam sistem logika Aristotelian. Bedanya, jika dalam logika Aristotelian, seseorang meraih informasi melalui proses bertahap yang gradual, melalui hukum logika Aristotelian yang kita kenal selama ini, dalam konteks pengalaman kenabian, informasi itu muncul di benak seorang nabi seperti sebuah kilatan cahaya (“ka lamh al-bashar”, istilah Ibn Sina). Informasi itu seperti muncul mendadak tanpa melalui proses logis yang gradual. Informasi atau wahyu diperoleh secara mendadak oleh seorang nabi dalam bentuk “gumpalan” (Ibn Sina memakai istilah “terma tengah” atau “al-hadd al-wasath”) yang pada gilirannya bisa diurai dalam bentuk proposisi logis dalam sistem logika Aristotelian.

Bukankah ini semacam pengalaman puitik yang dialami oleh seorang artis, i.e. seniman?

Dorongan dari dalam yang tak terbendung itulah yang tampaknya mendorong para nabi “baru” itu untuk tetap mengabarkan secara publik pengalaman eksesifnya, padahal dia tahu resiko sosial yang ia tanggung sangatlah besar, dan resiko gagal sebagai nabi juga sangat besar. Sebab dia tak bisa membendung “kabar gembira” yang bergejolak hebat dalam dirinya.

Ignaz Goldziher, seorang orientalis besar dan ahli Islam dari Hungaria itu, pernah mengemukakan sebuah observasi yang sangat baik (termuat dalam bukunya “Introduction to Islamic Theology and Law”) — bahwa sorang nabi, di manapun, biasanya bukanlah seseorang teolog. Nabi mengalami sebuah surplus pengalaman, terdorong oleh impuls yang tak terbendung untuk mengabarkan pengalaman itu, dan merasakan sebuah “sense of mission” untuk menyusun kembali dunia. Dengan kata lain, profil nabi di manapun lebih dekat ke citra seorang “ideolog revolusioner” yang tidak ingin sekedar (meminjam ucapan Karl Marx yang masyhur) “menjelaskan dunia, tetapi juga mengubahnya”, ketimbang seorang sarjana yang berpikir sistematis. Teolog biasanya datang belakangan untuk melakukan sistematisasi atas “kabar gembira” dan “pengalaman eksesif” yang dialami oleh seorang nabi itu.

Menurut saya, penjelasan psikologis dan politis fenomena kenabian yang pernah ditulis Ibn Sina masih tetap menarik dan relevan hingga sekarang, meskipun penjelasan psikologis dan politis bukanlah satu-satunya model.

Yang masih misteri bagi saya hingga sekarang adalah kenapa ada nabi yang sukses, dan kenapa ada yang gagal atau “miskram”. Dilihat dari segi isi “kabar gembira” yang diterima semua nabi, sebetulnya semuanya sama. Isinya sangat baik. Tentu, karena eksesifnya pengalaman yang mereka punyai itu, masing-masing nabi mengaku bahwa pengalamannya adalah “the last experience”, pengalaman besar terakhir yang muncul dalam sejarah manusia, dan karena itu paling benar. Saya kira kleim semacam ini sangat bisa dimaklumi. Setiap penyair yang merasa sukses dengan artikulasi artistiknya tentu merasa bahwa karyanya sangat otentik, mungkin paling otentik. Pengalaman ini juga terjadi pada seorang nabi.

Jadi, kebenaran isi kabar gembira yang didakwahkan seorang nabi tidaklah bisa menjelaskan sepenuhnya kesuksesannya melembagakan sebuah pranata baru bernama agama. Di mata seorang “true believer” yang mengimani dakwah nabi itu, sudah tentu mereka cenderung menjelaskan kesuksesan itu dari kerangka “sejarah suci” dan intervensi Tuhan. Penjelasan subyektif ini tentu relevan dalam konteks pengalaman umat beragama tertentu, meskipun kurang membantu dari sudut analisis oleh seseorang yang berada di luar lingkaran pengalaman mereka.

Jika agama Kristen, misalnya, lahir lebih cepat atau lebih lambat dari masa ketika ia lahir, atau ia lahir di tempat yang berbeda dengan konteks yang berbeda, apakah ia akan sesukses saat ini? Pertanyaan serupa juga berlaku pada agama-agama lain, termasuk Islam.

Jika kita telaah sejarah nabi-nabi atau orang-orang bijak di dunia ini, ada suatu “motif” yang tampaknya muncul dalam setiap gejala kenabian. Para nabi atau orang bijak itu tampaknya muncul dengan membawa misi untuk “menyelamatkan” dunia yang sudah mendekati masa keruntuhan. Dalam banyak hadis, Nabi Muhammad sendiri menyatakan bahwa dirinya muncul sebagai nabi pada saat dunia telah mendekati kiamat. Motif ini tampaknya muncul pada setiap gejala kenabian. Sebagian besar para nabi dan orang bijak seperti membawa misi penyelamatan atas dunia yang mengalami zaman kegelapan.

Apakah dengan demikian kita bisa menyimpulkan bahwa secara sosiologis, zaman yang sedang kisruh dan keadaan yang serba tak menentu akan menjadi bumi subur untuk munculnya para “nabi-nabi baru”?

.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

7 Tanggapan to “kutipan : Nabi-nabi baru — nabi-nabi “palsu”?”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

setiap institusi alam ini ada perannya. sebaik-baiknya kita adalah yang paling agresif menemukan peran itu bagi kebaikan diri kita.

dan alangkah dahsyatnya ketika ada orang yang bisa menyisir dan mengumpulkan segenap manfaat yang tersebar di setiap institusi pembentuk alam ini.

dan alangkah ruginya ketika ada orang yang hanya mengumpulkan dan merasa tertekan dengan segala kekurangan yang menyertai manfaat yang tersebar itu. sampai2 kemudian dia bertindak yang membuat kerugian bagi dirinya.

selalu ada fenomena melencengnya sebuah referensi berhamba kepada Tuhan oleh suatu kaum ketika menjauh dari inspiratornya. maka kehadiran nabi palsu adalah otokritik buat pelaksanaan kemapanan ibadah saat ini. apakah tetap bisa menyentuh esensi seperti ketika inspiratornya amsih ada?

maaf mba anis kalau pendapat saya so tahu, yah.

@kang trend
@rozan
makasih ya tuk komennya.
ehmm.. saya agak sulit nih tuk mengikuti mau mas dan kang berdua. maklum baru pulang dari gramedia, cari yg kerennnnn…😛

tapi intinya gini..
saya kan pernah menulis soal Mengaku Rasul, inget?
nah, di tulisan mas Ulil ini saya takjub, krn ternyata konsep ini sudah ada dari zaman Ibnu Sina, beliau sudah menjabarkannya dengan sangat baik. maka fenomena ini seharusnya ga diabaikan. lalu asyik lagi, kalau mas Ulil itu bisa membandingkannya dg referensi dari barat, wah… saya kok senang ya dengan keberanian membandingkan ini. di sini, islam menjadi bisa sejajar dg ilmu dari lainnya. obyektifitas teruji dan terasa progresif, bukan melulu mandeg dg persoalan khilafiah.

duh, saya memang suka dg segala yg merangsang pemikiran ke depan.
mandeg bikin saya sakit. inginnya mengalir dan nikmat..😛

selebihnya ini sebuah pendekatan yg asyikk..
buat saya.
tuk yg lainnya, ntar yaa
mandi dulu, hehehe..😀

Pertanyaan terakhir Ulil diantaranya bisa dilacak dari beberapa hasil studi sejarawan wong cilik, Sartono Kartodirdjo. Pemberontakan wong cilik di Indonesia, seperti petani Banten, muncul di tengah penderitaan akan harapan datangnya ratu adil untuk menyongsong masa keemasan, millenium, negeri impian yang toto tentrem kerto rahardjo. Gerakan mereka bertemu dan tubuh subur di tengah konsep eskatologis keagamaan semacam akan kedatangan Imam Mahdi, Juru Selamat atau Ratu Adil dalam ramalan Joyoboyo. Pimpinan pemberontak ada yang menyatakan dirinya, atau diyakini pengikutnya sebagai Mahdi/Ratu Adil/Sang Juru Selamat. Bahkan tokoh semacam Kartosuwiryo, juga ada yang meyakininya sebagai Imam Mahdi. (katanya sih sekarang memang zamane zaman edan. coba tanya Pak Permadi PDIP dulu)
Tulisan Ulil tidak mengulas kemungkinan lain dari apa yang dialami Sang Nabi Baru sebagai halusinasi atau waham yang juga biasa terjadi pada orang yang tengah terhimpir derita, dan menjadi salah satu kajian dalam psikologi. Bukankah ada orientalis yang menyimpulkan kalau Nabi Muhammad yang dalam beberapa hadits diceritakan suka “menggigil” (ketika menerima wahyu) sebagai berpenyakit ayan (ini bisa bermotiv studi beneran yang obyektif dan rasional semata, atau ada maksud lain).
Ulil juga tidak melihat jenis model penyelamatan “Sang Nabi Baru” yang ada kalanya berakhir dengan bunuh diri massal atau menebar racun di stasiun. Jenis penyelamatan dalam bentuk keputusasaan dengan menghukum diri sendiri. Hal yang juga sering terjadi di saat putus asa.
Karena postingan Mbak Anis model kutipan, saya juga gak mau kalah, akan menutup komen ini dengan mengutip senandung Gunawan Muhammad:
“Keadilan adalah sesuatu yang ada justru karena tak hadir. Ia ibarat akanan. Kita melihatnya ketika kita berdiri di tepi laut dan memandang nun jauh disana, tanpa tahu bagaimana wujudnya. Ia kosong selaik kolong – kosong yang dapat diberi nama dan ditunjuk. Ia absensi yang mengimbau, tandanya luka pedih yang terjadi ketika ketidak-adilan menguasai ruang.
Mungkin itulah sebabnya riwayat pergolakan sosial di Indonesia adalah riwayat orang-orang tertindas yang menantikan yang tak ada: Ratu Adil. Semakin absen keadilan, semakin yakin orang-orang ia akan muncul secara dramatis di hari akhir”.
(Maaf Mbak, kepanjangan lagi dan lagi).

Mbak, ternyata comment saya kurang panjang. Ini sekedar catatan saja: di sini kita bicara Sang Nabi Baru sebagai fenomena sosial keagaamaan, tidak/belum bicara dari sudut moralitas/normatif: baik buruk/benar salah. Soalnya Mbak Anis, katanya, gak suka bermain hakim-hakiman atau dokter-dokteran yang langsung main vonis hitam putih. Sebagai “tamu” yang baik saya harus ikut selera Mbak Anis dong, biar nyambung. Tapi sekedar catatan dan juga peringatan bagi yang masih berilsam, ada baiknya kita simak ayat Qur’an, surat al-An’am, 6, ayat 121. Allah mengingatkan bahwa syetan itu suka memberikan wahyu (dalam arti membisikkan) kepada teman teman setianya yang akan mengakibatkan musyrik: dosa paling dahsyat. Jadi: waspadalah.

@ Kang tren
selalu ada fenomena melencengnya sebuah referensi berhamba kepada Tuhan oleh suatu kaum ketika menjauh dari inspiratornya. maka kehadiran nabi palsu adalah otokritik buat pelaksanaan kemapanan ibadah saat ini. apakah tetap bisa menyentuh esensi seperti ketika inspiratornya amsih ada?
Renungan Kang tren kayanya sejalan dengan igauan saya di sini (maaf ini bukan promosi, hehehe): http://rozan-mf.blogspot.com/2008/12/ketika-agama-mandul-tak-mampu-mengatasi.html.
Hatur nuhun.

wah mba anis temenan ama mas ulil ya, wah harusnya nge link ke saya juga tuh, tulisanya mas ulil yang ini kata aku biasa aja ah, kurang bersemangat, dan gak begitu baru..heheeh, sotoy..aku cari mba anis ah di facebook namanya sapa mba?

@rajawalimuda
jujur, saya ingin mas Ulil tetap eksist.
saya bangga memilikinya. terlepas apapun julukan yang diberikan padanya,
ilmu itu akan obyektif di hati yang mau turut jernih memandangnya.
dan ilmu dalam kejernihan, tidak akan jadi bahaya.. selain adalah cahaya..

semoga mas Ulil tetap mau menuliskan pikiran2nya…
saya bangga indonesia memiliki banyak orang2 pinter.
itu bagian dari jati diri bangsa bagi saya

nama saya??
ada deeeeehhhh, hehehe..🙂
add aja luzie megawati


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: