witing tresno jalaran soko kulino

Posted on Februari 4, 2009. Filed under: islam indie |

binary-wave
(di lepas ya…)

saya mengenal kata ini pertama kali dari ayah ketika saya masih kecil. meski beliau bukan orang jawa, beliau fasih berbahasa jawa dan dekat dg budaya jawa.
entah apa yang membuatnya mengenal kata ini pada saya, seinget saya bahwa semua agar saya jangan melulu menarik diri dari belajar mengenali dan menyukai sesuatu.

sesuatu yang mematahkan kebiasaan pada umumnya saat itu, yang sukanya dengan love at first sight.

ayah saya tidak menolak love at first sight itu. katanya itu lumrah. semua manusia punya rasa, dalam pertama melihat bisa saja langsung merasakan bedanya. apalagi sebagai chinese, keluarga juga masih yang memperhatikan soal energi gituan.

dikit-dikit kalau melihat sesuatu, langsung suka berkomentar
o.. ini bagus
a.. ini jangan
i.. ini apalagi
u.. ini bolehlah
dan saya bagian bilang, e… masa sih???
hehehe…
ayah saya suka cembetut. katanya
– anak ini di bilangin kok ngeyel.. protes aja.
πŸ˜›

abis..
lagi-lagi..
ayah lebih suka dengan witing tresno jalarane soko kulino

katanya
dalam witing tresno jalarane soko kulino, ada yang namanya nelateni.
catat : ne la ten i
sebuah konsistensi yang tinggi
ada mau, ada usaha dan ada waktu.

batu berlubang karena tetes-tetes air
es mencair karena panas yang kontinu

maka ayah menyuruh ibu mengajari saya ketelanenan.
mau tahu bagaimana?
di tradisi cina, kami biasa merayakan suatu hari dengan makan kue bacang. tau kan kue bacang? yang seperti lontong isi hanya saja dia berbungkus daun bambu dan berbentuk limas.

dari jauh hari, ibu saya akan membeli beras ketan.
dan saya ditugasi memisahkan satu demi satu butir beras ketan dari beras atau menir yang ada. dan saya –mau ga mau melakukannya– dengan jari jemari saya yang kemudian sibuk memisahkan satu demi satu. walau di rumah ada pembantu, tetap harus saya yang melakukannya…

dan…..
ternyata, saya bisa!
dan saya suka..
saya akan asyik dan menikmati
bahkan saya terangsang tuk terus memisahkannya satu demi satu. tak mudah menyerah meski itu larut malam.

ulet memang bulet..
kata ayah saya itulah bentuk keuletan..
dan saya mana peduli dengan ulet, selain saya ya jadi terbiasa saja.

maka ga cuma cinta
bijaksana itu juga butuh usaha, butuh waktu
ga mudah menyerah alias ulet bulet

hidup ga langsung ujug-ujug…

tapiiiiiii….
saya lama-lama sakit
karena mandeg

kebayangkan di era serba instan seperti saat ini, dimana anak-anak maunya serba cepet, wah… witing tresno jalarane soko kulino ini beneran di tinggalin.

saya yang terbiasa begitu juga menjadi agak tertinggal. atau tepatnya melewati banyak proses diantaranya.
skip-skip-skip..

mungkin hasil memang jadi lebih cepat
mungkin hasil langsung jadi lebih terlihat
tapi..
maaf-maaf saja
rasanya seperti hilang…

bayangkan..
tetas-tetes air di atas batu, pelan melantunkan iramanya
bayangkan..
panas teratur di bawah es itu, membuat gemerengseng tersendiri

maka itulah indahnya
maka itulah rasanya
yang terekam dalam setiap sentuhannya
aduh, adakah yang lebih indah dari itu?

hasil boleh gemerlap
tapi kesan….. tak boleh sesaat

itulah
itulah witing tresno jalarane soko kulino..

dan mengapa saya menuliskan ini?
karena saya melihat sesorang yang berusaha membahasakannya ulang di masa kini. tentu semata agar disadari, semua di kehidupan ini ada prosesnya. sebagaimana yang saya uraikan di atas.
walau teteuuuuup….. semua juga kembali pada personalnya.
saya inget rumusnya yang unik,

E= mc2 ==> E =~ W ==> W=Pxt

dimana:

E = energi
m = merasa
c = cepat tanggap
W = Wise
P = VxI = Power, dimana: V= Voltage (beda potensial), I=Ikhtiar
t = terasanya

hehehe…
ga cuma kitab suci yang perlu di up date sesuai zamannya ya
kearifan lokal ini juga harus di up date agar tetap menjawab kehidupan ini..

dan dalam hal apapun deh
termasuk dalam mencintai tuhan
terlebih tuhan ada di hal-hal kecil
maka….
(lagi-lagi)

witing tresno jalaran soko kulino

bikin terasa, apalah hasil yang diingini,
bahkan mengapa diperebutkan
jika setiap detiknya,
sudah terasa berarti..

walau tentu, yakini saja bahwa tuhan tak pernah lupa
memberi hasil dari setiap usaha, meski sekecil apapun
sehingga kadang ketika hasil itu tiba, dia terasa ga make sense bangetttt..

tuhan memang luarbiasa

πŸ˜€

salam
anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

3 Tanggapan to “witing tresno jalaran soko kulino”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

iya mba,
kita sering ambil point2 pentingnya saja
padahal mungkin hal lain
yang tampaknya hanya seperti melengkapi
itupun adalah bagian penting
untuk mendapatkan cita rasa yang lengkap

ya, akhirnya memang keadaan sekarang ini
semua orang menjadi serba segala
tapi tidak sempurna
atau rasanya tidak “lekoh”
kata orang sunda lekoh itu kopi
yang rasanya gimanaaa gituh

@kang trend
setuju..πŸ˜€

kenapa kitab suci harus di update?


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: