haruskah setinggi langit?

Posted on Februari 6, 2009. Filed under: islam indie |

star14 (mikir aaahh.. hmm.. kerenyit, mingkem, micing-micing, sambil liat langit-langit..)

konon dahulu kala, tepatnya di bumi bagian timur saat ini, orang beragama dengan merasakan dan memperhatikan alamnya. mengurainya menjadi air, api, tanah dan udara. mereka menterjemahkan spirit alam pada keteraturan dan hukum alam yang “sunatullah”. menghasilkan banyak statistik kuno, dari sekedar primbon, feng shui, sampai horoskop ini itu. semua bermuara pada satu tujuan, satu harapan yakni : keseimbangan.

mereka mengenal tuhan tak dari namanya, tapi dari rasanya di alam semesta ini.

lalu, karena terasa sekali.. alam seperti hidup dan berbicara pada manusia dalam setiap saatnya, dari matahari yang terbit sampai tenggelam, dari tanah yang subur gembur sampai tanah yang kering kerontang, bahkan sampai air yang sekedar menumpuk di danau sampai yang terjun di tebing-tebing dsb. maka lahirlah mitologi. semua terpersonifikasi menjadi dewa-dewi, mewakili musim yang ada, mewaliki ekpresi alam yang terasa.
alam berbicara seolah dia manusia.

lalu lagi, entah karena takdir, terpilih atau di pilih, juga bisa karena waktu luang, kebanyakan mikir dsbnya, adalah beberapa manusia memiliki kemampuan tuk membaca alam dan merumuskannya dengan lebih baik dalam bahasanya. menjadi yang mengajari manusia di masanya, tentang hidup dan kehidupan ini.
mereka ini yang kemudian kita kenal dari yang diistilahkan zamannya sebagai empu, dukun, filsuf, wali sampai nabi..

naaah, rumusan dari mereka ini kemudian hidup mewarnai peradaban masanya dan di ajarkan secara turun temurun, baik dari budaya tutur sampai budaya tulis yang direkam di mana saja. seiring waktu, dengan kesadaran pentingnya mendokumentasi, maka ajaran ini dibakukan sebagai kitab. maka ditemukan deh kitab-kitab aneka ajaran itu. dari sekedar kitab mahabarata sampai kitab suci lainnya. tak hanya sampai disitu, kemudian ini pun dilengkapi dengan cerita-cerita seputar masa itu, sebagaimana sebuah sejarah atau bahkan biografi dari sang manusia terpilih itu tercatat.

mulai deh kitab-kitab ini mewarnai kehidupan bahkan sampai masa kini..

tapi intinya, semua berawal dari perenungan dan pemikiran tentang kehidupan dan semestanya. menawarkan keseimbangan sebagaimana alam yang penuh keteraturan.

semua ingin keserasian…

lalu….

di sebuah tempat, di belahan lain bumi ini, beragama seperti bintang yang jatuh dari langit. wahyu dianggap turun lewat utusan. maka adalah dia — manusia terpilih– menjadi sentral dari segala sesuatu.

kata-katanya bak nujum, benar dan kebenaran tuk masa itu. maka kadang dia juga tak jauh berbeda dengan mpu, dukun, filsuf, dsbnya di belahan bumi lainnya. mereka menjadi manusia-manusia yang merumuskan keseimbangan dan keserasian hidup dari sering memandangi langit.

maka mereka menamakan apa yang mereka yakini sebagai beragama dari langit. bukan karena tak ada air yang mengalir, bukan tak ada api yang hangat, bukan tak ada udara yang bertiup, bukan tak ada tanah yang subur, bukan…
semua hanya karena mereka lebih suka memandang ke langit lebih lama dari yang lain…

maka tuhan adalah sesuatu yang tinggi dan tinggi sekali…

hanya… lagi-lagi hanya disana, ini terjadi seperti raja di raja, alias turun temurun! ah, bibit bobot bebet…
see.. mereka di sana sama saja dengan di belahan bumi yang lain, mengenal bibit, bobot, bebet. tapi bukan tuk mendapatkan benih lebih baik, eee.. malah yang diakui hanya yang menurut bibit, bobot dan bebet. diluar itu, di khianati dan ditolak.
sehingga, berdarah-darahlah mereka…. berebut bibit, bobot dan bebet. seolah bintang jatuh melulu tuk diperebutkan. alih-alih bendanya, malah berebut cerita tentangnya, berebut klaimnya.

alih-alih tuhan di langit, malah ego yang melangit. terus dan terus melangit. beragama setelah tercatat dalam kitab dan berjarak jauh dari sang empu, hanya menjadi benturan dari tembok-tembok ego pengikutnya. melulu benturan ego..

naaaaah, sebetulnya ga perlu deh begitu.
kalau memang Hanya Ada Satu Tuhan.
maka seharusnya di sana dan di sini padu, serasi dan harmoni.
bukti Tuhan bisa tuk semua.

pak Gede Prama dalam sebuah tulisannya, bercerita tentang Nur dari Timur.

heheeh, sebuah kerinduan akan agama yang berakar dan mengakar di bumi. memaknai bintang jatuh sebagai langit sebagai berkah tuk bumi. bukan mencipta derita yang panjang.

padahal bintang selalu berjatuhan. memasuki atmosfir bumi senantiasa setiap detik dan waktunya. walau tak terasa dan seolah tak sampai. padahal rasanya tetap mengetarkan udara..
dan lubang ozone itu?
diakah yang dibuka tuk kejatuhan bintang terakhir?

Nur dari Timur…
seandainya hijaunya hutannya masih bisa menahan dari lubang besar di langit itu. seandainya coklat tanahnya masih bisa tuk panganan sehat, seandainya biru airnya masih bisa buat denyut kehidupan dan seandainya merah apinya masih bisa jadi semangat tuk bangkit kembali..

mari menserasikan diri lagi
serasinya langit dan bumi

.

jadi inget gepetto tua dan pinokio
ketika bintang jatuh dia berdoa
ingin pinokio hidup menjadi manusia
dan cahaya itupun masuk pada tubuh pinokio

bak keris masuk dalam sarung

berlalu waktu dan ujian
pinokio pun beneran jadi anak manusia
yang berbakti dan baik budi
serasi dan abadi di muka bumi

.

maka haruskah egomu melambung setinggi langit?
padahal bintang saja selalu ingin jatuh ke bumi

.

salam
anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: