payung itu

Posted on Februari 15, 2009. Filed under: islam indie |

yellow-umbrella-501537-ga (coba dibagi yaa… agak sulit menuliskan ini…)

akhirnya… jumat kemarin, saya dan teman-teman sesama ortu murid datang ke sebuah sekolah dasar negeri yang sangat berprestasi di wilayah kami, beberapa karyanya malah di liput oleh tivi lokal dan nasional, diakui deh pencapaiannya.
sebuah sekolah negeri yang berdiri sejak tahun 1974…

sangat disayangkan, saat itu tidak ada yang bisa melayani kami, maka kami di minta hadir lagi jam 10an. kebetulan pula, saat itu ada tamu dari diknas.

nah, entah kenapa.. sambil berjalan meninggalkan sekolah itu, saya kok tiba-tiba kepikir soal uang. sampai-sampai, saya minta teman mampir ambil atm. rasanya, ini menyoal uang deh. tanpa mengerti kenapa…

lalu, saya dan teman menghabiskan waktu menunggu sampai jam 10 itu dengan asyik bersms-an dan ber-facebook-ria di depan sekolah anaknya. maklum, pembicaraan ibu-ibu seputar sekolah yang awalnya kami ikuti, malah membuat kepala pusing dan rasa ga karu-karuan. dari isu sekolah yang swasta begini-begitu, sampai yang negeri juga begini dan begitu..
duh, cape deh…
jam 10 tepat, anaknya keluar sekolah, kamipun langsung kembali ke sekolah dasar negeri yang tadi, memenuhi janji..

seorang kepala sekolah yang berbadan besar menyambut kami dan mempersilakan duduk. lalu pembicaraanpun di mulai.. di saksikan oleh beberapa guru yang duduk di meja guru, yang mengelilingi kursi tamu di ruang itu.

tanpa menatap wajah kami, sang kepala sekolah memberikan bukti-bukti berupa sertifikat tanda sekolah dasar negeri itu telah cukup berprestasi.
hmm, haru juga.. membanggakan kok membacanya..

lalu, masih tanpa berani bertemu pandang dengan saya dan teman, beliau mulai bercerita…

alkisah, hanya satu di daerah kami yang mendapatkan kualitas tuk menyelenggarakan sekolah dasar dengan sistem SBI. maka dipastikan sisanya harus menyelenggarakan sistem gratisan, dimana biaya operasional dan spp ditanggung pemerintah. sekolah dasar tersebut, secara bangunan, lingkungan dan prestasi tergolong mampu tuk menyelenggarakan sistem SBI. hanya dipersoalan bahasa inggris guru saja yang kepsek itu tidak menyanggupi.

katanya, atuh da kita biasa berbahasa sunda nyak bu…
hehehe… becanda tapi kok miris..
lalu serius tambahnya,
– saya tidak berani memaksakan sistem SBI jika SDM gurunya tidak memadai. realitis saja. butuh guru dengan kemampuan yang cukup tuk SBI. ada beberapa guru kita yang sudah mulai di kirim ke pelatihan2, itu untuk nantinya kita arahkan ke sana. tapi tuk saat ini , jelas… tidak mungkin SBI.

bapak itu bilang lagi,
– memang maksud pemerintah ini baik sekali dan harus didukung. tapi alangkah disayangkan, bahwa faktanya biaya yang diberikan pemerintah tuk menggratiskan sekolah negeri di daerah sampai yang perkotaan : sama.

makin ke sasaran nih pembicaraannya, dan semakin beliau tak berani memberikan wajahnya tuk dipandang…

katanya..
– tapi bu, disini ada 4 orang satpam yang kami bayar secara swadaya sekolah. lalu di sini juga ada 11 guru honorer yang kami ambil dari hasil praktek yang memuaskan. itu semua kami bayar sendiri.
nah, bagaimana mereka dengan sistem gratis ini?

teman saya bertanya..
– apakah dengan sistem gratis ini, maka akan banyak kegiatan yang dikurangi?

jawabnya
– pastinya bu. kita harus menghitung lagi semuanya.

lalu kepsek itu bertanya berapa uang masuk anak saya ketika TK dan SPPnya saat ini.
ya saya jawab seapa adanya.
katanya, disini.. uang masuk biasanya kurang lebih 1 juta gak sampai 2 juta, bu. SPP juga hanya 40 ribu sebulan. itu biasanya, dan itu sudah untuk semuanya bu. ekskul dsbnya sudah tidak dipunggut bayaran lagi kok.

duh, berat ya beliau tuk menyatakan maksudnya..

walhasil, saya deh ambil pembicaraan…
secara teman saya juga sudah nyenggol-nyenggol saya.
saya bilang..
– pak, apapun namanya. seandainya sekolah membutuhkan banyak hal tuk mendukung kegiatannya, saya bersedia berpartisipasi. bapak jangan sungkan…

haduhhh… mata itu akhirnya bertemu dengan mata saya…

membuat saya sampai berkata..
– seandainya hari inipun bapak membutuhkan kepastiannya, saya bersedia membantu.

dan dengan santun beliau berkata
– o tidak, biar nanti kita lewati beberapa tes tuk anak-anak ibu. ibu akan dihubungi kami menjelang dekat pendaftaran nanti.

suaranya sudah tak lagi sekaku dan sebingung tadi..
maka kamipun diminta memberikan nama dan alamat yang bisa dihubungi. dan asal tahu saja, dengan sistem gratis ini, kami sudah menjadi tamu ke 274 – 275.

saya mengerti kesulitan ini…
yang telah membuat beliau secara sangat tidak etis meminta kepada kami yang demikian, tapi juga merasa secara sangat wajib tuk tetap bisa memberikan pelayanan gratis tuk pendidikan anak-anak sesuai peraturan pemerintah. pendekatan personal seperti tadi, tentu sangat terbatas demi reputasi sekolah juga..

meski sayapun tetap merdeka sebagai ortu murid tuk menentukan pilihantapi rasanya, ngenes deh…

melihat seorang kepsek yang tiba-tiba bingung dengan keputusan pemerintah mengenai penyelenggaraan sekolah, sementara di lapangan betapa banyak hal yang tidak semudah yang dibayangkan mereka yang membuat kebijakan itu.

tak ada satupun yang tidak ingin turut mencerdaskan rakyat, tapi… harusnya ada formulasi lebih baik untuk ini…

lah, teman saya masih penasaran, setelah dari sana dia masih ingin mencoba sebuah sekolah negeri lain di dekat daerah kami.

kali ini lebih ngenes lagi.
kepsek-nya nyaris belum siap apa-apa tuk menyelengarakan keputusan sistem gratisan di sekolahnya.
kata-katanya mengambang..
– pemerintah tidak lagi mau mendengar jika sekolah mengambil pungutan ini itu. dan semua biaya yang akan diberikan sama semua. kalau wc itu rusak, kelas bocor, itu entah bagaimana… semua jadinya dikembalikan ke komite ortu murid. kita –sekolah– tidak boleh ikut campur pengolahan uangnya. pokoknya sekolah tidak boleh nguruskan uang seperti itu lagi.

haduhh..
jangankan kepikir tuk melobi kami, tuk melihat apa yang mesti dilakukan pun beliau belum sepertinya belum ada bayangan apa-apa deh..

….

saya ngenes sekali dengan keputusan kaya gini..
tapi saya dah muak tuk melulu ngoreksi pemerintah kudu gini-gitu. bosennn… ga guna banget..

sehingga saat ini, saya sedang timbang-timbang dan timbang-timbang..
secara saya bisa saja (tetap) memilih sekolah swasta tuk pendidikan anak-anak saya, tapi saya justru sedang merasa “terpanggil” sekali..

kalau bukan saya dkk yang peduli nasib sekolah negeri ini, maka siapa lagi??
mereka tidak mungkin tuk bener-bener gratisan…

walau bisa jadi, memang siapa juga yang ga tergiur juga dengan gratisan itu, meski bisa saja tuk tetap membayar..

tapi saya merasa, saya sebaiknya mensupport ini… menjadi sebagaian kecil yang turut mensupport ini. apapun bentuk dan namanya.
saya merasa harus membantu…
bahkan di sebuah sekolah gratisan, soal-soal ulangan tidak lagi bisa diperbanyak, tapi di tulis satu-satu. mengingat tidak ada dana lagi tuk perbanyakan soal.

saya tidak sedang menyoal pendidikan anak saya sendiri, tapi juga pendidikan teman-teman sebayanya, yang kelak akan menjadi sodara-sodaranya tuk bersama hidup layak di indonesia…

duh, tuhan…
tuhan…
tuhan…

bagaimana aku tak banyak menyebut namaMu???
aku bisa saja menutup mata tuk tak perduli
tapi bagaimana aku bisa lari dari mataMu?? dari namaMu??
jika saja cukup Engkau untukku
beri rasa cukup itu
agar aku bisa banyak memberi
agar aku bisa banyak mengasihi
agar aku bisa banyak memahami

ah, tuhan….
tolonggg….

ke depan tidak boleh ada guru dan kepsek yang harus merendahkan dirinya tuk kelangsungan sekolahnya seperti itu. izinkan mereka mulia dengan semua pengabdiannya. jangan kotori pengabdian mereka dengan kenyataan yang semakin menjepit ini..

coba lah kita sama-sama mulai belajar menempatkan segala sesuatu sesuai tempatnya dan memenuhi segala sesuatu sesuai haknya deh…
plisss…

duh, bingung deh menuliskan ini
maaf…

.

jadi inget pesan ibu saya,
bahwa peduli itu seperti payung
melindungi dari sengatan matahari juga dari deras air hujan..

.

salam
anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: