jika masih ada hujan di sepanjang tahun

Posted on Februari 19, 2009. Filed under: islam indie |

embun2 (dilepas yaa…)

setelah sekian lama tidak turut berkomentar atas segala yang terjadi di realitas kita, yang berkejar-kejaran terus menerus. saya ditodong teman..
katanya,
– ngomong o…
– ngomong apa?
– halahh… kok mbungkam??
hehehe…
– ayo.. ngomong o… buat warna-warni seperti dulu. jangan egois.
– loh? kok egois?
– lah, iya… dulu bebas, sekarang kok ati-ati banget…?

ati-ati banget??
hehehe…

adalah manusia biasa, dia memiliki cita-cita dan cinta.
itu wajar.
terlebih, jika cita-cita dan cintanya ditujukan tuk manfaat yang banyak. tidak hanya menyoal dirinya, tentu juga menyoal nasib banyak orang. maka kemudian manusia itu menjadi sangat penuh perhitungan dengan prioritas-prioritas yang mendasar.

kekhasan seperti ini bisa banyak didapat di para profesional. bidang apa saja.

lantas perhatikan ini..
cita-cita dan cinta

cita-cita..
ini bisa dan biasa sangat mudah dideskripsikan secara nyata dan terukur.

lah, cinta??
ini diaaaa….
konon.. gampang-gampang susah,
susah-susah gampang..
hehehe…

.

agama..
apa saja,
nyaris semua mewacanakan cinta.
dari dia dinamakan kasih sampai mahabbah..
sama saja…

mengapa?
cinta menjadi tali
cinta menjadi penghubung
cinta menjadi jembatannya
cinta menjadi rasanya…

ketika semua cita-cita –dari sekedar harapan ini itu sampai yang muluk-muluk– menguasai kehidupan manusia, hidup menjadi sekedar dari satu target ke target berikutnya.
sepintas, tidak ada yang salah.
sepintas, keberhasilan terukur dan nyata terlihat.

tapi di relung paling dalam.. kegersangan menyerang.

agama-pun dibawakan hanya seperti mengejar satu target ke target berikutnya. dia menjadi bak gerbong kereta, yang sekali angkut atau tidak sama sekali. sekali trayek atau berhenti sama sekali. tak lagi membicarakan cinta, sebagaimana sebelumnya agama membicarakan cinta.

naaaaahh,
sederhananya… hal inilah yang tengah terjadi di sekitar kita. kita tengah melihat praktek-praktek –baik umum dan agama– yang hanya seperti mengejar satu target ke target berikutnya. tak memberi ruang bagi pertanyaan apalagi bagi interupsi.

bikin tersenyum-senyum geli, seolah beragama telah menjadi tuhan itu sendiri..

alih-alih agama membicarakan rasa cinta..
agama menjadi hanya dasarnya keinginan dan keinginan belaka.
dinamakan keinginan tuhan?
tuhan yang mana?
tuhan untuk semuakah?
atau tuhan anda saja?
hehehe….

.

harusnya ada cinta…

menyentuh rasanya
mengenapkan ukuran-ukurannya
menjadi tak sekedar kejar target atau kejar tayang
tapi mendasar, membumi dan mensahajakan dari segala impian…

menjadi ga sekedar gerbong-gerbong sekali angkut
tapi memperlihatkan ketika dalam gerbong ada para pejual asongan, ada mereka yang tertidur pulas, ada juga yang bergelayut berdesakan. memperlihatkan kipas anginnya yang mati tak terawat dan jendelanya pecah karena timpukkan para bonek. juga memperlihatkan debu-debu yang tebal di tepian gerbong, juga wc-wcnya yang bau dan hitam legam. memperlihatkan mereka yang tak mau bayar apalagi tak mau ngantri.

menjadi ga sekedar gerbong-gerbong sekali angkut
tapi cinta memperlihatkan sesuatu yang menjalin antara gerbong dengan kehidupan di dalamnya, di sekitarnya..

memperlihatkan tuk diberi kesadaran

.

orang suka bilang ada hampa di hati
cermin jiwa tak utuh terisi
maka lelaki yang duduk disamping rasa cintanya
akan mendapati rasa cinta seperti cermin bagi jiwa
memperlihatkan, apa-apa yang tak pernah terlihat sebelumnya
membuatnya merasa, aku tak pernah begini sebelum ini
membuatnya menemukan, ternyata aku… utuh dan berseri-semi lagi
di kejernihan, bersih tanpa pamrih

maka
dibagian mana lagi harus dibicarakan?
ketika semua orang hanya seperti sekedar mengejar gerbong tuk diangkut. berdesakkan tak memberi ruang. taunya terangkut, tak peduli dibalik maksud-maksud .

mereka membicarakan surga seolah kemilaunya terasa
membuat mereka berkejaran menuju pintunya
yang entah di mana..
seolah itulah kejayaan
seolah itulah kemenangan

maka biarlah aku di sini,
aku tak tengah bicara soal kejayaan dan kemenangan yang demikian
aku sedang mengamati anak kecil yang menyemir sepatu bapak didepanku. tadi dia diberi sepuluh ribu.
dalam hati, – aku ingin mimpi melihatmu kelak menjadi yang bermurah hati dengan sepuluh ribu itu…

cinta
di kebeningan
dia seperti air yang membersihkan
memperlihatkan apa-apa yang tak terlihat

.

nah, masih minta saya bicara soal realitas???

satu aja yaa…
ini Indonesia, bung
bukan gurun!
mengapa harus gersang jika masih ada hujan di sepanjang tahun??

hehehe….

.

salam
anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “jika masih ada hujan di sepanjang tahun”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

…memperlihatkan apa-apa yang tak terlihat..

itu kan cara saya mendefinisikan filsafat😕 Jadi, cinta itu jg berfilsafat?

@lumiere
hehehe… cinta itu rasa
ketika dibicarakan memang meminjam banyak kata
jadinya ya spt filsafat bahkan spt apapun yg di bicarakan
padahal… sekali lagi, cinta itu rasa…😀


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: