kusut dan kelabu

Posted on Maret 1, 2009. Filed under: islam indie |

kelabu (di bagi yaa…)

dari hari jumat, saya mulai merasa sakit kepala. rasanya butek..
lah, bagaimana tidak butek? saya sedang menyoal sekolah anak-anak saya. satu mo masuk SD, satu lagi mo masuk SMP, seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya

di saat TK sibuk mengadakan acara persiapan masuk SD tuh, supir jemputan malah menaikkan biaya secara sepihak tanpa melalui sekolah. lalu sekolah memilih tuk menyerahkan begitu saja kepada supir dan menyatakan –kepada ortu murid– kalau tidak bisa banyak membantu persoalan ini.

beberapa rekan ibu jadi ribut. pro dan kontra.
bertanya-tanya, – kok di tengah BBM turun, ongkos jemputan malah naik? atau bahkan ada yang meras, – jangan-jangan karena sekolah yang ga bayar gaji supir angkutan.

duh, saya egois deh.
anak saya tinggal beberapa bulan lagi di sana, saya malas mempermasalahkan yang ga penting. karena persoalan ini perlu pembicaraan dua pihak, ga bisa ndumel aja di belakang.
maka mual deh saya seharian itu…

bari sabtunya, pagi-pagi saya harus sudah ke sekolah SD anak saya tuk acara persiapan masuk SMP. di sini saya sempat merasa sedikit cerah walau tetap banyak buteknya.
bayangkan, anak saya yang diikuti kelas akselerasi, yang di awal ditawari akan mendapat penanganan yang baik bahkan oleh guru2 berkualitas, e… malah jadi asal-asalan. bahkan guru matematika kelas 6 yang konon juga wali kelasnya, januari ini mutasi jadi PNS. sementara gantinya harus mengejar 2 bulan lagi menjelang UN.

gusti…

padahal nih total hasil rata-rata seluruh kelas 6 di sekolah itu hanya mencapai 6, 67! ga nyampe rata-rata 7!
haduhhh…. padahal tahu dong berapa standar UN???

pengajaran matematika di sekolah ini sudah saya kritik dari anak saya masih duduk di kelas 4. tapi tetap aja ga ada tanggapan berarti. secara saya perhatikan pelajaran matematika yang ada tidak membentuk logika matematika si anak. walhasil ketika soal di rubah sedikit, anak sudah ga bisa jawab, ga ngeh maksud soal..

duh.. saya les-kan di sebuah les matematika ternama, sama saja. yang dibentuk hanya ketrampilan dan tip2 berhitung, bukan logika matematika.

lah, kalau saya protes, katanya semua materi pelajaran juga gitu sekarang…

atau saya ga cuma jadi mualaf menggugat tapi juga jadi ortu murid menggugat…??? dimana-mana menggugat???
hehehe..
cape deh rasanya hidup saat ini..

eeee…,
giliran anak-anak dihadapankan dengan UN, dengan santun dan penuh pesona, guru menjabarkan ayat-ayat tuk ikhlas dan sabar.

aaaaaaaaaahhhhhhhhh……. pengen nangis deh. giliran tuk lari dari tanggungjawab, ayat tinggal di turunkan. dijadikan legitimasi. sekolah anak saya ini adalah sekolah islam “terkemuka” deh.

sedikit rasa cerah itu karena saya respek dengan guru matematika penggantinya. so far, saya tangkap ketika dia menjelaskan kisi-kisi matematika, cukup memotivasi dan cukup jelas tuk anak-anak. walau saya khawatir mampukah kemampuannya itu tuk mengejar pemahaman matematika anak-anak dalam 2 bulan ini? atau akhirnya hanya di drill saja?

ga sampe di situ, ajaib.
kisi-kisi yang diterbitkan diknas tuh sudah jelas langsung per-nomor soal. jadi kemarin kita di beri tahu, kalau yg tahun lalu jadi soal di nomor 3 besok jadi nomor 5. yang soal model nomor 6 jdi nomor 8. dst-dstnya. walahhh… segitunya yaa???
konon katanya itulah indikator soalnya. entah deh apa namanya.
cuma apakah kita jadi ortu sampai harus dijelaskan dan dilibatkan sejauh itu???

saya kembali mual…..😦

walhasil saya hanya bisa memandang anak saya dengan getir… sambil berpikir apa yang bisa saya lakukan tuk membantu anak saya melewati UN ini dengan percaya diri..

sepulang dari acara tersebut.
saya mengajak anak saya yang akan masuk SD ke sebuah SD dengan program SBI. agak melegakan karena SBI di sini, cukup manusiawi. konon nanti ortu dari anak-anak yang diterima akan di beri perincian kebutuhan sekolah lalu di bagi rata, flat tuk jadi biaya masuk dan SPP murid.
karena di beberapa SMP dan SMA yang SBI, ortu main banting-bantingan harga. bisa masuknya 20 juta dengan SPP 750 ribu perbulan hanya tuk SMP. siapa kaya, dia yang sekolah deh.

kadang mendingan swasta, yang tetap flat biayanya. walau jelas juga selangit..

persoalannya, sekolah dengan SBI ini adalah sekolah2 negeri unggulan.

jadi geli, dulu sekolah yang bagus itu malah yang murah. SMP saya dulu favorit SPP masih 1200 perak saja, SMA juga favorit 5000perak saja. dengan BP3 kurleb 60.000 sajah.
sehingga sodara-sodara saya yang ga mampu asal pinter dan memiliki nilai yang baik, tetap bisa menikmati sekolah-sekolah favorit.
lah, sekarang???

entah apa yg tengah menyerang negeri ini deh.. saya ga ngerti!

lalu sore harinya, saya ke rumah sakit menengok tetangga yang melahirkan bersama suami. lah, ketemu dengan temannya teman yang anaknya sudah masuk SD SBI itu. walah…
mengalirlah cerita yang bikin saya makin butek. katanya setelah anak di seleksi via tes IQ, anak akan di tes tertulis. dan sebagaimana anak yang sudah dewasa, anak-anak lulusan TK itu akan di beri kertas ujian masuk berikut lembar jawabannya. lalu disuruh mengerjakan tanpa bimbingan dsbnya. maka katanya, beberapa hari anaknya diam dan ga mau berbicara.

ketika setelah 3 hari lewat di tanya, barulah si anak bisa menjelaskan tes apa yang dia alami. salah satunya menulis halus nama, alamat, nama bapak dan ibu secara lengkap.

huahhhh….
pengen nangis deh. itu anak lulusan TK loh… taman kanak-kanak…

saya mual deh.. belum bisa mikir apa-apa.

lalu malam harinya setelah dari rumah sakit, saya diajak suami nengok bayi teman sekantornya. kali ini sudah sebulan lahir jadi kita ke rumahnya.

teman suami dari bagian bisnis plan – nya kantor.
lah, ya jadi tanya-tanya deh, gimana kantor di tengah krisis ini.
jawabnya….. minus! no bonus, no opo-opo.. malah penghematan di mana-mana deh.
ok fine, saya bisa ngertiin.

lah, saya tanya gimana prediksi ke depan, bisa ga lewatin krisis ini?
jawabnya, ga ada yang tahu. gelap..
kalau 98 itu krisis regional, kali ini global. nyaris semua ibunya perusahaan2 besar tuh rugi. kolaps dsbnya. waktu 98, ibunya perusahaan2 besar masih aman sehingga masih bisa nolong kita-kita tuk survive.

hehehe…
lengkap deh kemarin menjadi sabtu saya yang kelabu…

saya harus realistis dengan semua anggaran pendidikan anak-anak saya. karena ini ga menyoal hari ini saja. tapi juga jangka panjang.

saya beneran jadi mentertawakan diri saya sendiri
jadi bertanya dalam hati
siapa sih saya?

realitasnya memang butek
tapi rasanya sih tetap jernih
saya jadi berkaca diri

siapa sih saya ini??
di tengah krisis ini?
di tengah kenyataan ini?

maka berpeganglah pada tali agama Allah
jangan cuma ngaji aja yaa.. hehehe🙂
tapi pake kesadaran penuh tuk menjawab realita
setidaknya, mengatur diri dan pembiayaan dengan lebih bijaksana

hari ini, saya akan survey SMP-SMP tuk anak saya. diajak teman – sesama ortu murid.

hehehe…
hayukk membumi
liat kenyataan disini
di negeri yang masih kaya gini

selebihnya, saya ya harus memberi laporan dan kalkulasi yang paling ideal –setidaknya tuk kapasitas kami–, secara saya adalah bendahara nih..
hahahaha…
kebayang bu sri mulyani menkeu itu yaa..
segini aja udah butekk..

nah, maka saya salut mendapatkan berita di Kompas minggu(?)
bahwa Obama sendiri akan melakukan perang terhadap para pelobi dalam hal ini perusahaan2 yang diuntungkan oleh kebijakan Bush sebelum ini.

yup, banyak yang mesti di rombak deh,
seperti mengurai kekusutan dalam kelabu
dan maaf…
(lagi-lagi.. lagi-lagi.. lagi-lagi..)
adakah Obama tuk indonesia????

pastikan saya mendukung langkah Obama menyelamatkan krisis negerinya, dan berharap smoga ada yang juga bisa demikian dengan negeri ini.

.

salam
anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “kusut dan kelabu”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Tulisan Mbak Anis kok selalu bikin saya makin membumi ya.

@mbak zaza
sama-sama mbak zaza..
kita sama-sama membumi yukk…
sama-sama menjadi nyata ..🙂


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: