kutipan : buddha bar sudah salah dari awal berdiri

Posted on Maret 9, 2009. Filed under: islam indie |

central_jakarta-jakarta akhirnyaaa…. baru sampe rumah nih. selesai juga deh long “wara-wiri” wiken ini. padahal hanya di seputaran bogor, tapi berasa lebih dari yang keluar kota deh…

trus.. buka kompi, buka blog, buka imel, buka facebook
nah, ada tulisan ini di fb teman, namanya mas Adit.
Arief Adityawan
alumni seni grafis FSRD ITB ‘ 84

gini-gini… (duh!)
saya pernah loh jadi murid bimbingannya di bimbel masjid Salman ketika masih bercita-cita masuk FSRD ITB dulu. tapi gagal tuh.. keburu sibuk sama urusan agama beragama, hehehe…

apapun deh, tulisannya ini tetap sebuah sudut yang menarik tuk di cermati..

selamat menikmati
semoga menginspirasi

***

Budda Bar sudah salah dari awal berdiri
oleh Arief Adityawan

.

Bangunan tua yang dibangun tahun 1912 oleh arsitek Pieter Adriaan Jacobus Moojen dari Belanda ini sangat indah. Terletak diujung jalan Teuku Umar di bilangan Menteng, sebuah daerah yang dahulu dinamakan Weltevreden. Daerah ini pada akhir abad 18 memang dirancang sebagai pemukiman warga belanda kelas menengah-atas.

Bangunan ini awalnya adalah sebuah balai kesenian (Bataviasche Kunstkring) bagi warga Belanda, dimana para seniman Belanda berpameran. Pernah juga dipamerkan di gedung ini karya karya seni rupa moderen dunia yang terkenal, karya Picasso dan lain-lain. Kemudian bangunan ini lama digunakan oleh dirjen Imigrasi RI, sehingga lebih terkenal dengan sebutan “gedung Imigrasi”.

Bangunan ini sempat pula ditukargulingkan oleh kelompok usaha keluarga Cendana, milik Tommy Soeharto. Setelah reformasi, tepatnya tahun 2002 Pemda DKI membeli kembali bangunan ini dari kelompok usaha Tommy, dengan menghabiskan dana sebesar Rp.28 milyar. Dilanjutkan tahun 2005 Pemda DKI merenovasi bangunan ini dengan biaya Rp. 6.1 milyar. hasilnya sangat mengagumkan, bangunan tampak indah kembali. Upaya mengagumkan Pemda DKI tersebut bahkan dilakukan dengan melibatkan partisipasi warga, dengan mengadakan sebuah lomba utk menjaring ide pemanfaatan bangunan tua ini.

Lomba diadakan Pemda DKI pada tahun 2002 bekerjasama dengan sebuah organisasi berbentuk jaringan kerja yang menamakan dirinya Warga Peduli Bangunan Tua (Walibatu). pada saat itu terpilih sebagai pemenang adalah Dastin Hillery (Gedung Perikatan Seni Jakarta) sebagai juara I, Pada dasarnya ide ini berupaya mengembalikan fungsi eks-gedung Imigrasi sebagai sebuah bangunan yang menyelenggarakan berbagai kegiatan kesenian. Menurut rencana, proposal pemenang lomba akan direalisasi oleh pemda DKI.

Upaya Pemda DKI yang terlihat sangat demokratis dan menunjukkan kepedulian tinggi terhadap bangunan cagar budaya, tiba tiba berhenti setelah banguna ini selesai direnovasi. Tiba-tiba akhir 2008 bangunan ini dibuka sebagai lokasi Budda Bar, dimana salah satu pemegang sahamnya adalah puteri mantan Gubernur DKI, Sutiyoso. Perkembangan terakhir yang hangat adalah ketika umat Budda Indonesia melakukan protes dan menuntut agar pengelola Budda Bar mencopot seluruh elemen yang memanfaatkan simbol simbol agama Budha.

Bila dilihat dari sudut pandang cagar budaya, betul bahwa bangunan ini tetap dipelihara dengan baik oleh pengelola Budda Bar, namun masalahnya warga kebanyakan sangat kesulitan untuk dapat menikmati keindahan Bangunan Cagar Budaya ini – selain memandanginya dari luar pagar kayu yang tinggi. Padahal telah milyaran rupiah uang rakyat dihabiskan untuk menyelamatkan Bangunan Cagar Budaya ini. Oleh karena itu idealnya saat ini para pecinta bangunan tua, para arsitek yang peduli, para mahasiswa Arsitektur dari berbagai perguruan tinggi mengkritisi isu ini, bersuara serta berupaya – bahkan bila perlu turut berdiri di muka gedung Kunstrking bersama-sama dengan umat Budda, untuk mengembalikan fungsi bangunan ini sesuai rencana awal pemda DKI pada 2002 – melaksanakan proposal pemenang lomba, Dastin Hillery, menjadikan bangunan Cagar Budaya kembali seperti semula, Gedung Perikatan Kesenian Jakarta.

Sumber:
http://aikon2.com/tuing/?p=281
http://bataviart.blogspot.com/2007/09/bataviasche-kunstkring.html
http://www.arsitekturindis.com/?p=109
Kurniasari, Triwik., THE JAKARTA POST Tue, 03/03/2009

.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: