pagi yang polos

Posted on Maret 20, 2009. Filed under: islam indie |

morning1 (ga papa ya bilang ini… hehehe…)

.

berkali-kali, saya mendengar ucapan dan himbauan maupun pembicaraaan yang mengatakan bahwa umat islam akan maju jika semua umat islam sholat subuh. atau jika masjidnya penuh di sholat subuh.
kurleb gitu..
hehehe….

maafkan saya kalau saya polos menanggapi ini yaa
saya setuju kok dengan hadist itu. setuju bangett..
tapiiiiii….. bukan pada sholat subuhnya.
lebih pada bangun paginya…

maaf…

begini..
di mata saya, syariat itu –sebut saja– semacam olah fisik. olah raga.
manusia pada skala besar membutuhkan olah fisik/raga tuk keseragaman gerak. maka di zaman penjajahan jepang ada upacara pagi memuja matahari..
hehehe — sebut aja gitu.

so pasti, bisa juga di tarik kesamaannya dengan upacara bendera pagi hari.. dimana disana, kita juga belajar ideologi negara kita. kasarnya gitu.

tapi kembali ke sholat subuh itu tadi..
yang kemudian menjadi persoalan tuh bukan pada pengkultusan sholat subuh itu. walhasil, bisa jadi pulang sholat subuh ya tidur lagi.

dalam bayangan saya sholat subuh seperti beker pagi.

bangun lalu kerja. inget petani deh. pagi-pagi, ayam kukuruyuk lalu ke sawah, ngurus ini itu juga memberi makan sapi ke kandang.

lalu jam 9 pagi, sapi bisa di perah. susu pun bisa di jual ke koperasi. lalu jam 11 siang, petani biasa tiduran, istirahat, tuk kembali kerja lagi bada sholat dzuhur, ngontrol pengairan sawah, ngusir hama dsnya. termasuk berbagi air irigasi.

dinamis dan penuh interaksi…

ini contoh ritme yang ada di komunitas tertentu.
tentu agak berbeda dengan komunitas2 lainnya di masa kini. sebut saja saat ini dengan kehidupan pekerja yang mendapat shift malam, tentu ritmenya beda. tapi secara garis besar adalah demikian.

makaaaaa…..

pengertian yang harus di capai, menurut saya bukan pada sekedar sholat subuhnya. yang maka karenanya masjid di bangun di sebelah rumah. setiap cluster kecil harus ada masjidnya. padahal sejuta masjid, belum tentu menjadi cermin kebangkitan umat. karena kemudian kosong menjadi monumen ego manusia saja.
hehehehe…

masjidil haram dan medinah aja yang konon ayat-ayat tuhan bertalu-talu sepanjang hari, ga menjadi cermin kebangkitan umat toh?
so, ada apa sih ini??

maka pengertian yang penting tuk di capai adalah pola hidup lebih sehat..

selebihnya, soal bentuk dan gimana-gimananya ya atur sendiri… tapi semoga bisa meningkatkan ga cuma rasa sehat tapi juga produktivitas hidup itu sendiri…

wah, maaafff…
polosnya saya sih mikirnya gitu
bahkan bagi saya sholat sendiri adalah olah raga, atur pernafasan. menenangkan jiwa.
hehehe..

ok, saya ga mau banyak bicara, tapi intinya… plis deh, agama itu mengatur manusia tuk hidup sehat lahir dan batin. bukan mengkebiri dan memenjara manusia dengan atribut-atribut ritualnya.

gitu ga sih??

.

salam
anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

7 Tanggapan to “pagi yang polos”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Kalau saya mungkin mempunyai pembacaan agak lain, Mbak Anis. Berdasarkan pengamatan yang saya lakukan 3 bulan yang dibeberapa “komunitas merah” (istilah orang yang nggak nggak terlalu tau tentang agama sekaligus nggak mengamalkannya) saya dapat menyimpulkan bahwa memang shalat adalah kunci dari segalanya. Setelah pengamatan saya itu saya dapat menjadikan shalat sebagai standard etika seseorang. Saya bisa mengetahui orang itu baik dan tidaknya (melalui hukum general, loh) tercermin dari sejauh mana dia melakukan Shalat 5 waktu, lebih-lebih shalat shubuh.

Hal itu juga saya sampaikan kepada beberapa teman saya (kebetulah teman saya juga berada di lokasi sedari pertama) dan dia ikut mengamati sampai pada akhirnya dia juga setuju dengan pendapatku. Hehehe…

Tapi bukan berarti saya tidak setuju dengan pendapat Mbak Anis. Menurut saya pembacaan Mbak Anis dengan pembacaan substansial dari sebuah nashsedangkan saya menggunakan pembacaan literal. Menurut saya sama-sama benarnya. Thank’s analis-nya Mbak Anis.😀

@mas Ehza
seperti saya bilang di tulisan itu. manusia butuh keseragaman fisik tuk gerak. bahkan identitas. sholat adalah salah satunya.. tapi bukan sholat point utama dari beragama. tapi bagaimana manusia itu menjadi sehat lahir dan batin, kemudian hidup proporsional dengan semau aktivitasnya, termasuk aktivitas beragamanya.

buat saya sholat itu cara mengingat Tuhan. didalamnya ada olah fisik. menyatuan diri dg semesta. sehat hati dan sehat lahir. ini basic. lalu mengingatNya bisa kapan saja, dimana saja, gimana saja. ga berarti kalau ga sholat ga inget tuhan.
kan disebutkan … mereka yg mengingatKu dalam keadaan jaga, berbaring, dst-dstnya …
artinya sholat hanya satu aspek kecil. belum merupakan keseluruhan dari indahnya mengingat Tuhan.

maka… yg saya soroti adalah bagaimana jangan terjebak di ritual dan melupakan yg esensial.
buktinya banyak toh yg sholatnya rajin tapi tetap bermasalah hidupNya. coz kita sedang menyoal mengingatNya dalam setiap keadaan… bukan sekedar pada saat sholat….

nah, kalau menyoal komunitas merah yg dimaksud mas Ehza. menurut saya, maka kita harus bisa membuat semua sodara2 kita mengingat Tuhan dalam keadaan apapun. ga melulu dengan sholat dengan ritual.
berbagi, menjaga kebersihan, tertib mengantri, tidak menyakiti, jujur dsbnya, juga bentuk dari mengingat Allah. koz kita menghormati manusia lain. cermin taat, cermin ihsan. bahwa kita measa diawasi oleh sang maha.. oleh diri kita sendiri..

Correcting

* 3 bulan yang lalu..
** thank’s analisis-nya…

Hem, kok bisa postingannya hampir senada dengan mas aris ini ya bu?

http://esensi.wordpress.com/2009/03/21/downpour-rhapsody/

Jangan-jangan…😆

@mas dana
hehehe… saya dah baca tulisan mas aris..
geli sendiri…😀
hmm, jangan-jangan…., jangan-jangan….???

Pada dasarnya saya setuju bahwa jangan sekali-kali kita terjebak dalam sebuah ritual. Saya rasa semua tau bahwa Islam itu kolaborasi 3 unsure skaligus. Islam, Iman dan Ihsan, seperti yang disampaikan nabi. Itulah Islam yang sesungguhnya.

Kemudian untuk memahami apa yang saya sampaikan mungkin dengan menggunakan pendekatan analogi sebagai berikut:

Mengapa nabi menggunakan standarisasi shalat, lebih-lebih shalat subuh?? ada dua hal penting yang ditimbulkan dari ritual ini:
1. Unsure psikis. Shalat ===> menciptakan ruang sadar akan tanggungjawab, berlatih disiplin, menghargai waktu dan berlatih memberikan hak semisal hak Tuhan dah hak Hambanya.

Dr. Bahar Azwar, SpB-Onk, seorang dokter spesialis bedah-onkologi ( bedah tumor ) lulusan FK UI dalam bukunya “Ketika Dokter Memaknai Sholat“ mampu menjabarkan makna gerakan sholat. Selama ini sholat yang kita lakukan lima kali sehari, sebenarnya telah memberikan investasi kesehatan yang cukup besar bagi kehidupan kita. Mulai dari berwudlu ( bersuci ), gerakan sholat sampai dengan salam memiliki makna yang luar biasa hebatnya baik untuk kesehatan fisik, mental bahkan keseimbangan spiritual dan emosional.

2. Unsure fisik. Shalat ===> memberikan spirit untuk melakukan hal-hal positif sebagai sebagai konskwensi point 1. Orang akan cenderung lebih mempunyai tanggungjawab tinggi, tepat waktu dalam beraktifitas dan akan konsisten memberikan hak dirinya sendiri, orang lain dan Tuhan-nya. Dia (mestinya) dapat berinteraksi dan bersosialisasi dengan baik terhadap orang-orang di sekitar-nya sebagai another expression ritual yang selama itu ia jalani.

Yang jadi pertanyaan kenapa masih saja terdapat orang yang rajin dalam menjalankan shalat 5 waktu tapi di sisilain sering bermasalah?? Menurut saya pertanyaan ini kurang tepat karena mengangkat realita yang bersifat kasuistik. Dari awal saya menggunakan Hukum General dalam berpendapat tanpa melupakan oknum-oknum tertentu sebagai Mustatsnayat (pengecualian) yang keluar dari hukum tersebut. Jadi standarisasi yang saya kemukakan kemarin bukan dari sebuah asumsi tapi telah melewati pengamatan yang (mungkin) intensif.

Kepanjangan ya??? Hehehe… anyway suka banget diskusi dengan Bu Anis.😀

@ehza
makasih mas ehza, seneng juga diskusi dg mas ehza.

gini mas, ada hal yg dialami baru kemudian ketika akan diceritakan kembali maka di dihubung2an. segala teori tiba-tiba menjadi tepat alias ditepat2in.
maka saya ga gandrung ma analisa yg dihubung2an. saya lebih suka pada obyektivitas yg mandiri. dalam arti nalar, hati, rasa dan pikir nyatu menerima. sreg. tapiiii… saya maklum, manusia butuh kerangka tuk menjelaskan banyak hal. yg kadang meminjam banyak kata, teori sampai apapun deh.

maka mas.. saya lebih tertarik pada cahaya yang nyata, bukan melulu teori tentang cahaya. baik secara fisik maupun secara non fisiknya. bla-bla-bla. sudahlah. saya ingin yg terasa, ada dan nyata. berjalan ditengah2 kehidupan. bukan krn sholatnya, bukan krn agamanya, bukan krn ini itunya, tapi karena kebaikan dalam dirinya itu memang memancar bagai cahaya
manusia yg utuh.. insan kamil ya kalau dalam bahasa agama?
hehehe….

gimana mas?


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: