life begins at forty

Posted on Maret 30, 2009. Filed under: islam indie |

life-begins-at-forty (di bagi yaa…)

.

saya agak menyimpan geli, ketika seorang teman mengingatkan saya akan ucapan yang mulia dari Rasulullah Muhammad saw, yang bunyinya kurleb begini,
– bahwa merugi jika seseorang sampai usia 40 tahun belum mengerti agama.

saya respek banget kok dengan pesan mulia itu. walau agak kebingungan ketika teman itu bilang bahwa mari mengenal agama sejak dini. jangan tunggu mo mati baru inget agama. maka katanya mari sholat, ngaji, perbaiki hafalan, dsb-dsbnya deh. dan maka lagi katanya, jangan heran jika pengajian lebih banyak didominasi oleh orang-orang tua, karena ya telat mengenal agama. walau kembali katanya, biar telat asal selamat…

hehehe…
begitukah maksud ucapan beliau?
saya kok merasa ga gitu ya??
duh, saya lemottt nih…

coz bikoz, sederhana dalam benak saya,
jika beliau dijuluki sebagai Qur’an Berjalan, maka ya mengerti agama disana bukan pada hafalan ini itu, bahkan bukan pada hafalan qur’an sekalipun. tapi pada bagaimana mengerti kehidupan itu sendiri…

saya juga mau memasuki usia 40 nih.. wuuih… masih 2-3 tahunan lagi sih, tapi ya menjelang masuk kepala 4 deh.
nah, sejauh ini, saya minim hafalan qur’an dan praktek2 agama yang sebagaimana umumnya dan afdhol itu. sampai-sampai semalam saya di ejek sama anak saya sendiri.

alkisah,
anak saya sedang mempersiapkan diri menjelang kelulusan SD. termasuk diantaranya ujian praktek agama. dari praktek sholat sampai hafalan ayat, konon surat al baqoroh. tapi doi ga hafal ayat mana aja yang harus dihafal.
duh, al baqoroh bo! puanjang rek. ayat yang mana nih???
maka dengan santai saya bilang padanya, kalau ga lima ayat di awal, ya ayat terakhir yang ngetopnya tuh…
laa yukallifullahu nafsan ilaa’ wus’ahaaa…

kita ga diuji dari yang kita mampu. kita ga dapet dari yang kita ga kita usahakan. kita ya sebagaimana yang kita perbuat deh. maka jangan mimpi. see? somekind like.. ada budi ada balas toh?

ee… langsung tuh komennya,
– tumben mami kaya gitu??
– tumben???
– iya, tumben tahu ayat gituan
hahaha, suami saya senyum-senyum tuh.
– eee.. gini-gini mami religius lagi. religius dalam tanda kutip.
saya bilang itu sambil becanda, hehehe, ga tega mengaku religius.
yee, suami malah menambahkan,
– mbak.. mami tuh memang religius lagi.
huahahaha… muka anak saya ya muka ga percaya. hihihišŸ˜€

wuiih… ya gitu deh. saya lebih ingin beragama itu pada persoalan praktek — built in– dari sekedar dihafalin. jadinya dibilang ga religius deh. hihihi… tapi itu no problem buat saya. ga penting-penting amat semua julukan dan atribut keagamaan itu kok.

saya ingin jika lebih bisa memahami pengertian yang dimaksud, dari melulu hafalan tok. mungkin krn kemampuan hafalan saya minim kali yaa?? ga tahu juga deh.

tapi saya mo bilang gini..

sesungguhnya, sejauh hidup boleh saya lalui hingga di usia hari ini, saya merasa dan bisa menerima bahwa alam ini memiliki mekanismenya tersendiri. sunatullah gitu kerennya ya?
walau kadang saya merasa kata sunatullah juga ga bisa merangkum semua pengertian yang dimaksud dari hidup memiliki mekanismenya tersendiri.

intinya hidup memiliki siklusnya, memiliki irama atau ritmenya, memiliki polanya tersendiri, dst-dstnya.

yang ga minta apa-apa dari manusia selain mengikuti siklus itu, menikmati iramanya, dan membuat pola yang merujuk pada pola alaminya, dsbnya. bukan melulu membenturkan diri dengan sunatullah itu, atau malah mencoba tuk merusaknya.

walau kemudian di sini, wacana yang diberikan oleh alam adalah siapa berbuat siapa bertanggungjawab. sejarah ga akan melupakan, tuhan ga tidur, bangkai pasti tercium juga. maka sampai dibilang, niat baik itu walau ga dilakukan sudah dapet pahala. sementara niat jelek selama belum dilakukan ya ga papa.
artinya, alam memang menghitung segala yang nyata-nyata saja.

result oriented??
hehehe, apapun istilahnya..

sehingga seharusnya jika makin banyak manusia “beragama” — dalam tanda kutip loh– dalam sebuah komunitas/negara, maka seharusnya makin baik pula kehidupannya dan sekitarnya.

ini indikator yang ga bisa dipungkiri sebetulnya.
kalau aja kita mo jujur.

sudah lama sebenarnya –dari saya masuk islam deh– saya menyadari ada yang ga sreg di hati saya pada pengajaran agama islam yang ada. tapi ya sebagai nyubi, masa’ sih saya protes aja?? dan masa sih saya sok tahu?? walau ga tahan juga, akhirnya di usia 18 tahun saya masuk islam, saya menggugat… seperti di blog ini.
pissss… šŸ˜€

ya karena dari awal saya merasa alam ini memiliki mekanisme yang seharusnya kita bisa menserasikan diri, bukan beragama malah merusak keserasian alam ini..

nah, indonesia sebagai negeri dengan kesadaran beragama terbesar di dunia. CMIIW.. adalah janggal jika indonesia masih aja terpuruk kaya gini. ada yang salah deh di set-an bangsa ini. harus di reset apa yaa???
hahahaha….

padahal kalau saya perhatikan ini hanya masalah pembahasaan aja.

nah, pesan rasul bahwa merugi jika seseorang sampai usia 40 belum paham agama, yang kalau saja dimaknai secara alami, bahwa jika sudah usia segitu belum juga ngerti gimana hidup ini, melulu mengulang kesalahan2, ya wajar hasilnya ga ada bijak-bijaknya deh hidupnya dan hidup ini.

nah lagi, bukankah itu sama dan sebangun dengan pengertian istilah life begins at forty? toh, dengan sudah mengerti seluk beluk hidup di usia segitu, kita akan lebih antusias bagaimana menjawab hidup. gitu ga sih? atau lebih harfiah, Muhammad eksplisit menyebut besaran usia. nyambung banget ma istilah itu, secara fisik besaran umurnya.

bahkan maaf, kalau usia 40 diidentikkan dengan puber kedua, saya pikir itu hanya masalah pembahasaan. bahwa setelah mengerti hidup maka ya akan menemukan gairah tersendiri lagi tuk kehidupan ke depannya. yg tentu diharapkan lebih baik..
sugesti saja kalau selalu diidentikkan dengan gairah berbau sexual, walau saya pikir bisa jadi secara sexual mengalami kesegaran baru itu juga iya.

intinya bukan pada puber keduanya, itu efek secara fisik aja kok. pengertian mendasar ttg mengerti ritme kehidupan itu yang harus lebih dipahami. di sini total hasil ya kematangan lahir batin. mature gitu loh.. lepas dalam bagaimanapun warna ekspresi personalnya.

so… sama aja dengan pengertian di maksud dalam laa yukallifullahu nafsan ilaa’ wus’ahaaa dengan ada budi ada balas.
hehehe… maksa ya??

tapi saya memahaminya begitu..

so.. saya ga bilang ga boleh belajar agama secara afdhol yaa.
saya juga sebelum ini, –dari awal islam sampai setidaknya sebelum menikah– mempelajari agama dengan saangat afdhol. saya mempraktekkan syariat islam dengan sangat luarbiasa tuk ukuran mualaf deh.
tapi yang pasti, semua praktek beragama dengan syariat yang afdhol itu, membuat saya sampe pada kesadaran, bahwa agama justru bukan ada pada semua yang berbau praktek afdhol itu.
tapi pada ada yang lebih mendalam tuk diketahui dan dijalani.

.

agama adalah laku hidup,
bukan tempelan atau assesories wujud

sederhananya begitu…

so.. sudahkah anda “40 tahun”?
hehehe….di kutipppp…
enjoy…

šŸ˜€
.

salam
anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “life begins at forty”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

byk yg udh tua, tp pengennya daun muda.
byk yg msh muda, tp pengennya selalu dipuja.

usia tdk menjamin apa2, dan bukan pula penanda kedewasaan.
usia hanya bukti terjadinya pergerakan waktu.

tergantung manusianya, apakah mau meyelaraskan diri dg waktu ato malah lupa dan diombang ambing oleh waktu?

@aryf
akur mas…šŸ˜€


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: