kuali-nya koalisi

Posted on April 28, 2009. Filed under: islam indie |

warna-warni (mmm…mmm…mmm…)

mo ikutan ngomongin pulitik ah. tapi membicarakan pulitik dari sudut yang bukan pulitik. 😀

asam di gunung, garam di laut, bertemu di kuali.

..

alkisah, maka manusia itu makhluk sosial. dia tak akan pernah bisa hidup sendiri tanpa orang lain. tapi, sebagai manusia, dia juga memiliki kepentingan-kepentingannya sendiri. ini lazim sekali deh. ya ga?

nah… maka dalam sebuah kebersamaan, manusia belajar menyamakan langkah, menata kepentingan masing-masing agar terwujud kepentingan bersama yang lebih luas. teorinya begini.

oleh karenanya ada yang namanya musyawarah untuk mufakat..
so, dasar demokrasi itu sangat gimana tabiatnya manusia kok… tapi kenapa ini sulit ya??

sederhananya karena manusia tuh berpikirnya masih aja hitam putih. sufi sih, suka film. taunya kebaikan melawan kejahatan maka kebaikan akan menang. manusia melulu membutuhkan super hero. baik itu bernama superman sampai itu bernama nabi…
hehehe…

bicara soal kepentingan, maka ini banyak ragamnya.. ada kepentingan yang bisa berdiri di atas kepentingan lain, ada kepentingan yang bisa sejajar dengan kepentingan lain, dan ada pula kepentingan yang bisa diletakkan terakhir dibanding kepentingan lain. ini masalah menejemen deh. maka manusia diminta jadi Kholifah.

sederhananya agar manusia bisa mengatur dan menata banyak kepentingan, termasuk bagaimana merunutkan banyak kepentingan itu.

di sinilah kemudian, agama menawarkan solusi-solusi, baik rumit maupun praktis, tentang bagaimana manusia bisa bersama manusia lain.

ga percaya?
hehehe, seperti contohnya, mengapa berpuasa? konon katanya agar bisa merasakan laparnya mereka yang tak punya. sampai konon katanya melatih diri dari nafsu yang berlebihan.
jelas toh, semua itu adalah latihan tuk manusia bisa berdiri bersama manusia lain.

maka katanya diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana umat terdahulu, agar kamu bertakwa.

total hasil yang diharapkan dari latihan puasa tersebut agar manusia itu bisa hidup bersama manusia lain dg baik.

ga sampai situ, konsep Tuhan pun, memiliki maksud agar manusia bisa bersama manusia lain. sebut saja, Qul Huwallahu Ahad. ketika kita menyatakan Tuhan itu Esa, maka kita belajar tidak mentuhankan hal-hal lain yang bisa merusak harmoni kita dengan semesta terlebih dg manusia lain.

lah, ya iyalah.. maka katanya jangan sampai mentuhankan hawa nafsu. konsep Tuhan ga lagi menyoal hal-hal di luar diri, ga lagi menyoal simbol agama maupun tata cara ibadah. konsep Tuhan telah masuk sebagai pengenalan terhadap diri sendiri, agar bisa merdeka bersama manusia yang lain.

karenanya, kita temui kitab Ihya nya Ghazali, begitu mengupas masalah bagaimana menata diri sendiri. huaaaahhh… bener-bener sibuk deh sebetulnya kita dengan diri kita sendiri, dari mata, telinga, dsb sampai menyoal hati yang bersih. maka katanya jihad akbar adalah melawan diri sendiri.

see..?!

lantas bagaimana sih sejatinya manusia itu berbagi dengan manusia lain? ya salah satunya dengan Koalisi…
ketika kepentingan telah menjadi besar dan menyangkut orang banyak, dibutuhkan sebuah koalisi berarti, demi tercapainya tujuan dari kebersamaan itu sendiri…

ya buat apa toh melulu mendahulukan kepentingan sendiri atau kelompok kalau sudah bicara dalam tataran kebersamaan yang lebih luas, itu sih di rumah aja deh. hehehe…

kita sudah buktikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana ketika kepentingan umum kalah oleh kepentingan segelintir orang, negeri yang gemah ripah loh jinawih ini menjadi neraka bagi rakyatnya sendiri. hanya menjadi warna dari kebuntuan hidup. si kaya makin kaya, si miskin makin miskin.

hidup tak menemukan siklus idealnya. keseimbangan alam terganggu dengan sangat mendasar.

contoh, ketika semua hanya memperkaya diri sendiri, mengabaikan janji mensejahterakan dan melulu mengabaikan pendidikan, walhasil wajah yang kita lihat adalah kejorokkan di mana-mana, pola hidup jauh di bawah standar sampai prilaku yang tidak terpuji.
ini alami terjadi kok.

dari zaman dulu, persoalan kegagalan menempatkan banyak kepentingan akan menimbulkan masalah sosial yang besar.
sekali lagi, karena manusia itu makhluk sosial.
ketika manusia itu gagal melakukan misi kekhalifahan, misi penataan di muka bumi, ya masalah sosial lah yang terjadi. sejatinya karena manusia itu telah melalaikan dirinya sebagai makhluk sosial.

demikianlah, bahwa agama itu mengandung misi yang ga jauh-jauh dari fitrah manusia itu sendiri, maka islam dinamakan agama fitrah...

nah, ketika melihat dengung koalisi, yang marak saat ini, terbersit dalam benak saya ya adalah bagaimana para penghulu negeri ini, yang terpilih sebagai pihak yang mewakili begitu banyak kepentingan, termasuk kepentingan dirinya sendiri : (belajar) menata kepentingan-kepentingan itu.

manusia indonesia dari atas sampai bawah, dari samping kiri sampai samping kanan, akhirnya harus mau sama-sama belajar jika memang ingin memperbaiki kehidupan sosial atau kebersamaan di negeri ini. belajarlah menempatkan banyak kepentingan.. termasuk menempatkan kepentingan pribadi.

maka kemudian pula agama sampai extrim berkata : “dunia adalah godaan. cukup ambil bekal secukupnya” ya sederhanannya, kalau sudah menyangkut kepentingan, bisa ga ada abis-abisnya.
ya ga?

nah, sehingga aneh kan kalau agama malah dijadikan alat untuk merusak kehidupan sosial??
di mata saya, kalau demikian, agama justru malah menyalahi visi dan misinya. agama apapun..

maka kemudian pula, jika manusia bisa mencapai pengenalan diri sebaik-baiknya dalam agamanya, yang kemudian bisa membuat manusia itu menjadi agen sosial yang baik, ya sederhana, berhasillah agama itu mewujudkan misinya. lalu jika secara signifikan, komunitas beragama bisa menjadi agen sosial yang baik, maka kehidupan seimbang itu semakin mungkin terwujud. apapun agamanya…

kebersamaan manusia2 beragama, apapun agama/keyakinannya, setelah mencapai kesadaran sosial yang baik, membuat para manusia ini bisa menjawab masalah dan tantangan zamannya dengan caranya tersendiri. bisa secara bersama melahirkan produk2 sosial, –baik dari produk hukum sampai tata cara kehidupan sosial– yang sesuai ekspresi zamannya.

karena ketika bersama dalam kehidupan sosial, ya seperti di awal, ini bukan persaingan antar kepentingan. ini justru perlombaan tuk menata dan menempatkan kepentingan secara proporsional. maka wacana yang ditawarkan adalah Fastaghbiqul Khoirot. berlomba dalam kebaikan.

di mana kemudian agama?
hahaha… agama ya tetap di sisi Tuhannya, abadi di hati manusianya.
konon yang begini tuh, ga usah sebut apa agamanya, dia adalah manusia yang berkilau dengan sendirinya. seperti surat an nuur itu deh. pelita dari minyak yang belum ada api-nya pun sudah berkilau dan bercahaya.

cahaya di atas cahaya…

kuali-nya koalisi..

bisakah manusia menjadi sejatinya manusia?
menjadi makhluk sosial dengan penataan kepentingan yang baik dan menjawab banyak masalah di masanya?

kuali-nya koalisi

seperti berada di atas tungku api. membuat manusia itu belajar menata kepentingan bersama kepentingan yang lain. bahkan menemukan banyak kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan. tuk kemudian manusia itu menjadi matang, membuat teori ga melulu sekedar wacana, tapi mewujud dalam pribadi-pribadi yang handal.. yang tahu tujuan kebersamaan dan bisa memperjuangkannya dengan sebaik2 perjuangan…

..

telat kali yaa… kalau lihat para elite kita itu belajar berkoalisi dengan ideal saat ini. hihihi… tapi tak ada kata terlambat deh.

dengan Indoensia yang Bhinneka –sungguh– di butuhkan manusia-manusia yang handal tuk menata banyak kepentingan… bukan melulu yang membuat negeri ini merana dan nestapa.

demikianlah koalisi menurut saya.
islam saya : islam indie.
cermin keinginan tuk mandiri dalam beragama dan bernegara. dari melulu ikut-ikutan dan tidak bisa menjadi diri sendiri…
islam agama saya, islam bukan negara saya.

negeri ini sudah lama terpuruk dan hancur oleh banyak kepentingan bersifat materialistis, apa masih harus dibuat runyam dg kepentingan mengatasnamakan Tuhan? hehehe…. Tuhan kan sudah bilang Dia tak butuh apa-apa. apalagi butuh negara? sudahlah, negeri ini lahan untuk kita menjadi makhluk sosial — sebenar-benar manusia sejati…

yuk, dewasa dalam beragama dan bernegara

.

ps : biarin deh Jerusalem dah menjadi Kerajaan Tuhan, di perebutkan oleh tiga agama langit, yang mpe sekarang ga juga-juga damai. Indonesia cukup menjadi Surga-nya Tuhan. Bhinneka Tunggal Ika, Gemah Ripah Loh Jinawi, Tata Tentrem Kertaraharja..
amin… 😀

.

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “kuali-nya koalisi”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

indah.. indah sekali koalisi yang diajukan ceu Anis..
Sayang koalisi elite politik mah koalisi gimana caranya ga kalah.. kalo memang mau koalisi kenapa ga bersatu aja kaya jaman pak Harto jadi kertas suaranya ga lebar-lebar

@ayadila
hehehe, semata karena ga ingin di bilang bisanya cuma ngritik doang, mas.. dan sejujurnya, emang itu aja yg ada dalam benak saya 😀


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: