dalam status quo bernama “kurowo”

Posted on April 30, 2009. Filed under: islam indie |

gununganku4
(menembus ke kedalaman….)

.

Saya mengenal kisah wayang Mahabarata dari kelas 3 SD. Saat itu, kisah ini menjadi bonus di majalah anak Kawanku,secara saya berlangganan majalah itu. Kebayang, betapa saya harus konsisten mengumpulkan bonus kisah itu, agar bisa mengikutinya secara lengkap. Sebuah keasyikan tersendiri. Dan entah kenapa, di begitu banyak versi kisah itu, saya paling suka versi yang di majalan itu. kebetulan saya penggemar ilustrasi karya Jan Mintraraga.

Nah, setelah seumur gini, setelah lumayan makan garamnya hidup ciee.., setelah belajar menjadi bagian dari kehidupan, dari sekedar anak, pelajar, istri, ibu, dan anggota masyarakat, juga sampai setelah bisa mengikuti problematika berbangsa dan bertanah air di Indonesia tercinta ini, saya teringat kisah Mahabarata itu.

Mohon maaf bagi yang tidak menyukai wayang yaa. Tapi semoga masih bisa sama-sama mengikuti yang ingin saya sampaikan di sini.

Kisah ini terkenal dalam sederhananya pertarungan Pandawa dan Kurawa. Diibaratkan secara saklek sebagai symbol kebaikan melawan kejahatan. Begitulah yang ada dalam benak kanak-kanak saya.

Dan setelah besar, setelah bisa melihat hidup itu ga cuma hitam putih, maka kisah kebaikan melawan kejahatan ini, menjadi tidak lagi sekaku itu. tapi malah lucu, ironi dan tantangan tersendiri. Mengajak saya memaklumi hidup dan akhirnya sabar dalam arti tekun/telaten saja menjalaninya. Duh, segitunyaaaa….😀

Sungguh, saya belajar berkompromi dalam batasan tersendiri yang tak menghilangkan jati diri.

.

Adalah Astinapura, sentral segala dari hal yang dipermasalahkan. Dan Kurawa bertengger sebagai sistem yang resmi dari Astina. Sebagai penguasa Astina, dalam bagaimanapun awal yang melatarbelakanginya. Menarik sekali jika Kurawa ini digambarkan terlahir ribuan hanya seperti “cloning dari kuping”.

Saya geli membayangkan betapa memang sebagai sebuah sistem, maka segala sesuatu itu, –apapun namanya akan mudah sekali ditularkan, dibentuk dan membesar. Seperti “cloning dari kuping” itu.

Sebut saja korupsi, manipulasi dsbnya, sebagai sebuah sistem sangat mudah ditularkan sampai level terbawah. Dan tidak mustahil, kebaikan seperti jujur, sportif, tertib, professional dll juga mudah ditularkan sekali lagi jika itu merupakan sebuah sistem. Walau tentu, apapun sebagai sebuah sistem, menjadi sulit pula tuk dirubah. Membutuhkan waktu lama dan panjang. Sebut saja, sistem itu memiliki resistensinya tersendiri.

Maka karenanya seorang Resi sakti bernama Durna ada dikubu Kurowo? Mencoba mengendalikan sistem?

Dan bagaimana Pandawa?
wooow.. bukan Pandawa jika bukan sakti. Dan yang sakti hanya sedikit. Loh? lah, iya toh?
Maka bagaimana mungkin mengharapkan Pandawa menjadi sistem? Selain melulu sebagai oposan. tapi Pandawa memang keren. Saya sendiri sangat menyukai Pandawa. Pandawa adalah pahlawan di siang hari bolong. Seperti juga Superman, Spiderman, Batman dll, bahkan mungkin juga para Nabi itu. Mereka sedikit, sakti dan terjadi hanya sekali dalam periode tertentu di muka bumi.
Selebihnya?
Yang ada adalah Kurowo… atau Sistem – sesuatu yang beranak pinak dan selalu ingin tegak.

Tapi tolong perhatikan ini
Ketika di setiap waktu, ada nabi datang ke muka bumi, sebagai si kecil yang melawan “sistem” saat itu, lalu sang Nabi memang sakti, mampu mengendalikan sistem dan membuat keadaan membaik. Tapi lihat bagaimana ketika sang nabi wafat? Perlahan apa-apa yang ditinggalkannya menguat menjelma menjadi sistem kembali. Meng-kurowo.

Heiii…?? Dan apa jadinya setelah meng-kurowo? hehehehe…. Menjadi butuh nabi lagi, butuh Pandawa lagi. Coz bicoz ketika men-sistem, kekuatan itu sering menjadi alpa. Menjadi “status quo” yang harus dipertahankan selamanya.

Menjadi status quo bernama “Kurowo”…

mm… saya sedang salut banget ma kisah Mahabarata itu. Dengan padang Kuruseta-nya, dengan perang Batarayudha-nya. Kadang saya melihat Mahabarata sebagai sebuah “Kitab Suci” tersendiri. Mencatat kehidupan dengan epik yang sangat luarbiasa kompleksnya. Subhanallah…

Eeits.. bukankah sebelum kehadiran Islam, peradaban telah berkembang pesat, temasuk menghasilkan sebuah epik bernama Mahabarata? Jangan sempit ya, dunia ga cuma jazirah arab. Pisss…

Kemudian mari coba cermati lebih teliti.
Di perang Kurusetra itu, apakah Pandawa adalah pahlawan?
Setelah Pandawa juga membunuh dan bermuslihat?
Bahkan ketika Yudhistira — sang kakak tertua — yang konon selalu jujur, di akhir perang juga “berbohong” yang menyebabkan keretanya menyentuh tanah? Padahal konon karena tak pernah berbohongnya maka kereta Yudistira di lukiskan bagai terbang tak di atas tanah?😀

Sesungguhnya dalam peperangan itu memang sudah ga ada yang baik. Yang ada hanya menang atau kalah. Membunuh atau terbunuh.

Maka islam menjadi bak dua mata pisau? Disatu sisi agama damai tapi di lain sisi adalah kekerasan karena nabinya pernah berperang?
hohoho …. begitulah perang, bro…
maka saya pernah bilang tak ada Tuhan di Gaza. Atau bahkan di pengantar Qur’an versi Depag, dikatakan bahwa di surat At Taubah tidak diawali dengan bismillah krn banyak berisi perintah perang?

Memang ga ada Tuhan pada saat perang. Sehingga perang adalah sesuatu yang seharusnya dihindari banyak pihak.

Sebagaimana dipesankan oleh nabi, kalau perang akbar itu katanya melawan diri sendiri. Karena pada perang yang kasat itu, tak lagi ada kebenaran yang dituju. Jangan sok bicara kebenaran. Toh, jika tanpa memahami konteks, Tuhanpun tak mampu membuat nabiNya tak dipandang dari dua sisi. Ya ga? Begitulah perang…

Yang menarik adalah bahwa mengapa Stastus Quo itu adalah Kurowo? Status Quo itu adalah sistem, yang terus beranak pinak dan terus ingin tegak. Memiliki resistensi tersendiri, bahkan bukan hanya dari pihak yang diuntungkan. Tapi dari kebanyakan orang yang sudah ga mau repot tuk belajar dan berubah lagi.

Dalam status quo demikian, dimanakah Tuhan memihak??
Jauh dari menyoal keberpihakan, justru inilah soal penciptaan. Tentang sistem yang selalu harus diimbangi, merangsang manusia tuk senantiasa memiliki keinginan-keingian baik.
Baik sebagai Pandawa, coz ini mah jelas sebagai pihak yang sedikit. Terlebih ketika menjadi Korowo, ketika menjadi sistem itu sendiri. Maka disini, di setiap masa melahirkan peradabannya tersendiri. Yang megah dan besar. Tapi pada klimaksnya, peradaban menyisakan sisi gelap.

melulu tentang system harus terus diimbangi..

See..?
walhasil, Pandawa dan Kurawa adalah hanya menyoal perimbangan saja.
Bukan melulu menyoal siapa yang baik dan siapa yang buruk. siapa yang benar siapa yang salah. relatif. Kurowo adalah status quo, Pandawa adalah anti status quo.
Apapun bentuknya…

.

Ke refleksinya pada hidup yang nyata yuk..

Suami saya bercerita tentang teman Singapura-nya yang begitu bangga dengan negeri singa itu. Terutama menyoal masalah MRT, menyoal transportasi massal. Well, Singapura mang canggih soal ini.

Konon katanya Singapura memiliki perancanaan jangka panjang yang selalu diingatkan dan di sosialisasikan. Sebut saja, jika Singapura akan membangun 10 stasiun, sesungguhnya mereka sudah tahu akan ada 80 stasiun ke depan. Sehingga benar-benar diperhitungkan dimana dan bagaimana stasiun itu dibangun dsb, karena akan merupakan bagian dari sistem tranportasi singapura secara keseluruhan.

Bahkan dengan bangga, teman itu bilang kalau jika sudah jadwalnya sebuah jalan harus di perbaiki, sebagai bagian dari perawatan, ya rusak atau tidak, tetap akan diperbaiki. Dan akan diperhitungkan bagaimana pengalihan transportasi karena perbaikan itu. Terencana dan terjadwal rapi deh.

Nah, itulah Sistem. Itulah Kurowo. Pastinya Singapura akan terus mempertahankan Status Quo-nya itu. Termasuk jika perlu tuk melulu mengkadali negeri tetangganya. mm.. siapakah tetangganya yang mudah dikadali ya???😉

Lah, bagaimana dengan Indonesia?

Hehehe… jujur, saya geli mendengar cerita Singapura itu. Singapura itu apa sih? Pasir tuk mereka bikin negerinya sejaya itu aja diselundupkan dari Indonesia.
Salahkah Singapura?
Sampe-sampe seorang ustad dulu menyebutnya Singapura sarang Kafir. hahahahaha… Plis sodara-sodara… ini bukan soal kafir atau bukan kafir. Ini soal sistem.

Ini soal kebodohan Indonesia yang tersistem!

Atau sebut saja ketika saya ke sebuah pengajian yang menjelek-jelekkan seorang anak kecil bernama Ponari. Di sebut syirik, musyrik, haram dsbnya? Hoalahhhh…. Plis deh. Jangan beraninya ma anak kecil dongg…
Ini menyoal kemiskinan dan pendidikan. Menyoal tradisi menghadapi modernisasi.
maka, mengapa mencipta masalah baru dengan sebutan syirik, musyrik dsbnya? Mau melulu manambah2 kebodohan dan mempertahankan kebodohan itu? Tapi ya begitulah, jika kebodohan yang tersistem! Masalahnya apa, jawabnya apa. Centang perentang bak buih di lautan. Dan menular dengan pesat, menguat, dan meng-kurowo!

So…?

Jangan berharap ada Pandawa. Jangan berharap ada Nabi.
Kisahnya sudah selesai, kenabiannya telah usai.
Manusia harus Iqra’. Mencari yang sesuai.

.

Dalam Status Qou bernama “Kurowo”.
Dalam Status Quo bernama Sistem, yang beranak pinak dan selalu ingin tegak.

Mau yang bagaimana yang dipertahankan?

.

salam
anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “dalam status quo bernama “kurowo””

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Thanks artikelnya yang cukup panjang.Ada beberapa hal perlu saya komentari.
1. Soal Puntadewo berbohong itu tidak sepenuhnya benar. Memang yang didengar oleh Begawan Durno adalah kalimat : “ASwatama mati ” sehingga akhirnya dia linglung dan tewas dibabat. Padahal sesungguhnya yang mati adalah binatang ( saya lupa apakah kuda atau gajah). Puntadewo sesungguhnya berkata “Gajah Aswatama mati”. Tetapi kata “gajah”diucapkan pelan sekali sehingga Durna tidak mendengarnya.Yang terdengar hanya kata ” Aswatama” yang merupakan anak Durna.
Puntadewo memang tidak ingin berbohong. Satu-satunya kejelekan Puntadewo adalah ” berjudi” sampai-sampai dia rela menjadikan Drupadi sang isteri sebagai taruhannya setelah semua harta bendanya habis.Itu membuktikan bahwa manusia tidak luput dari lupa dan salah, bukan ?
2.Soal Ponari-kebetulan rumahnya tidak jauh dari rumah saya. Sebenarnya Ponari tidak salah, bukan dia yang musryik_-dia masih belum akil balig. Yang musryik adalah orang2 yang mempeercayai bahwa batu dan air yang dicelupi batu itulah yang menjadikan sembuh. Makanya niatnya harus dibetulkan bahwa ” Ponari dan batunya hanyalah perantara” sedangkan sang Penyembuh adalah Allah Swt.Sama dengan kalo kita ngemplok pil atau kapsul. itu hanya sebagai perantara tetapi yg menyembuhkan adalah Allah Swt.
Niat ini penting agar kita tidak sesat.
3. Mahabharata dan Ramayana hanyalah cerita bukan kejadian yang sebenarnya. nah pengarang cerita pasti dalam benaknya sudah tertanam bahwa ” yang batil akan kalah oleh kebenaran”.Dalam Mahabharata-Korawa pada akhirnya habis sedangkan sebagian Pandawa ada yang moksa-naik sorga.Demikian juga dalam Ramayana-Dasamuka juga hancur bersama pasukannya yang serakah wal angkara murka.

@Abdul Cholik
makasih tuk sudah melengkapi cerita ini mas.
jauh dari menyoal persis bagaimana ceritanya kok. cuma sedang melihat di kedalamannya.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: