dalam rasa yang (ternyata) sama

Posted on Mei 9, 2009. Filed under: islam indie |

hijau daun kelapa (cuma liputan…)

.

bangun istirahat siang kemarin, saya segera berganti pakaian dan buru-buru keluar rumah. anak saya minta dibelikan buku kumpulan soal tuk persiapan latihan di rumah menjelang UN masuk SMP yang akan dijalaninya. sudah jenuh belajar, inginnya latihan soal saja. sementara buku2 kumpulan soal yang ada, sudah habis semua..

maka sore itu saya mengawalinya dengan duduk sendiri di halte trans pakuan depan kompleks rumah. cukup lama menunggu, karena ketika saya sampai di halte itu, baru saja bis trans lewat. saya harus menunggu yang berikutnya.

matahari sore masih cukup membuat sedikit rasa gerah.

ketika bis tiba, saya mendapat tempat duduk di paling belakang. disamping seorang bapak yang sedang memangku anaknya, hanya berbekal mizone kosong. dari pakaiannya terlihat sangat-sangat sederhana. meski saya sendiri juga hanya berkaos abu-abu, jeans belel dan sepatu kets.

dan ketika bis itu akan melewati under pass satu-satunya di bogor, dibawah rel kreta jalan baru. sang ayah berkata,
– sebentar lagi lewat terowongan. ayo.. lihat.
dan sang anak… sedikit takjub, dengan suara pelan..
– bapaaaak, gelap yaa?!
– tuh terang lagi
– iyaaa…
matanya berbinar, seru.

ah, dalam apapun wajah dan rupanya, itukan sama aja dengan kalau mofa anak saya naik mobil bersama papinya dan seru lewat dibawah terowongan itu…
saya yang orang tua, dan mofa yang anak, sama saja dengan bapak itu yang juga orang tua dan anaknya yang anak. kita sama-sama ingin meberikan pengalaman yang terbaik untuk anak-anak kita
walau kita berbeda bentuk dan rupa..

saya menarik nafas panjang, entah untuk apa…
dada ini tiba-tiba sesak.

sampai di gramedia, saya pun segera mencari buku yang dimaksud. berharap tidak pulang kemaghriban. wah, ternyata buku sejenis sudah semua dimiliki oleh anak saya. maka saya mencari alternatif buku lain. yang ada ternyata yang terpisah permata pelajaran UN, dan memiliki pendalamannya. lalu saya pun mencari buku yang berisi materi yang anak saya sampe hari ini masih suka ketuker-tuker teorinya. lalu juga saya membeli buku untuk mofa, yang mau masuk SD. buku ringan-ringan aja. supaya doi semangat bersama mbaknya yang sedang suka terlihat sibuk latihan bersama buku-buku. toh sebagai anak yang mau masuk SD mofa nyaris tidak belajar apa-apa. lagian memangnya juga mau belajar apa? hehehe, biar mofa ikut seneng aja dibeliin buku..

saya agak memerdekakan diri dari begitu banyak isu tentang materi yang akan ditanyakan tuk masuk SD. ah, biarlah.. toh, kemampuan dasarnya sudah tercapai. saya masih enggan membebani anak TK dg macam-macam. maka saya lebih banyak membelikan buku latihan soal tuk mbak adhin, kakaknya mofa.

ketika membayar semua buku-buku itu di kasir. total 6 buku, saya merasa getir. inget begitu banyak anak indonesia yang ga seberuntung anak-anak saya. yang masih bisa beli buku, padahal buku-buku itu hanya tuk UN, tiga hari mendatang dan tiga hari saja..

ah, pastinya semua orang tua ingin juga tuk bisa mempersiapkan anak-anaknya memasuki jenjang pendidikan berikutnya, seperti saya.

maka lagi-lagi, kita semua sebenarnya sama saja, hanya beda dalam wajah dan rupa…

begitu selesai urusan buku, saya segera membelikan ole-ole panganan tuk anak-anak di rumah. lalu segera kembali ke pool transpakuan di dekat botani square-bogor, tuk kembali pulang dengan bis itu.

suasana bis di sore jam anak pulang sekolah dan orang pulang kerja, cukup ramai. saya pun berdiri di dalam bis. tidak sesak, tapi sudah tak dapat kursi. hari mulai gelap, mendung pula..

tepat sama-sama berdiri di seberang dekat pintu, ada seorang bapak dengan kaos kotor, sepertinya beliau pekerja kasar. nampaknya juga kenal dengan kondektur bis. mereka sempat seperti membicarakan ttg seseorang yang mereka berdua kenal. lalu menerima dering hp di sakunya. kondekturnya pun meninggalkannya tuk memeriksa karcis penumpang.

terdengar pembicaraan via hp itu, sang bapak bilang gini..
– maaf kakak. ayah tidak bawa apa-apa. lain kali aja ya. sampaikan pada adik, hari ini belum bisa bawa ole-ole. adik lagi apa?
hp itupun terputus..
lalu si bapak yang balik menelpon.
– kakak, ini ayah. maaf ya bilang ke adik. ayah ga bawa ole-ole. lain kali aja yaa.
lalu terputus..
terlihat ga enak deh. lalu datang si kondektur mendekatinya. bapak itu pun bilang gini..
– ah, barudak sukanya ingin ini-itu. padahal kerja kadang belum tentu cukup.

aduh…
saya inget sekotak panganan yang tengah ada ditangan saya. ingin deh memberikan kotak di tangan saya kepada bapak itu. saya masih bisa beli yang lain nanti tuk anak-anak saya. e.. beliau keburu turun…

hiks..
saya inget diri saya sendiri..
maka disepajang berdiri di atas bis itu, saya hanya bisa memandang ke jalan di luar sana.

pikiran melayang entah kemana..
rasa seolah terbang juga entah kemana…

malu karena telah hanya terlalu inget sama diri sendiri
padahal dalam diri sendiri ada rasa yang sama
dengan rasa sebagian atau bahkan semua manusia
karena sesungguhnya kita sama-sama manusia biasa
dalam apapun wajah dan rupa kita..

.

sampai di rumah, saya, anak-anak dan si mbak duduk di depan kotak panganan itu. isinya ada beberapa buah donat mini. model baru di outlet itu.
anak-anak terbiasa memilih beberapa buah tuk nanti papinya pulang. lalu sisanya untuk mereka dan si mbak. sayapun ditawari.

ketika makan bersama mengelilingi kotak panganan itu, saya ga bisa menahan dari bilang..
– banyak loh anak-anak yang juga ingin ole-ole makanan kek gini dari orangtuanya. tapi kadang orangtuanya sedang ga punya uang untuk beli apapun. kita masih bersyukur ya?
si mbak yang menjawab,
– iya. kita sih makanannya masih enak-enak loh. di kampung mana ada makanan kek gini..

mbak adhin dan mofa hanya bisa memandang bingung, dengan mulut penuh donat mungil itu..
kembali sibuk berbagi di antara mereka,
– mofa, menurut mofa mbak yang ini atau yang itu?
– aaah, mofa mau yg itu.. mbak yang ini aja.
begitu yang terdengar.

ah…

.

berikan selalu yang terbaik dari sisiMu ya Allah
cukupi kami akan yang terbaik untuk kami
dalam apapun wajah dan rupa kami
ketika Kau buat hidup ini tak serba sama
maka semoga kami tak lupa
bahwa hidup ini ga hanya untuk kami sendiri
tapi banyak sodara-sodara
yang sesungguhnya tetap satu rasa dengan kami

seandainya kami selalu ingat..

di sore yang singkat,
hari terasa padat dalam getar yang begitu dekat..

.

salam
anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

4 Tanggapan to “dalam rasa yang (ternyata) sama”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

jangan marah ya…
kalo menurut saya waktu adegan mau memberikan donat ke sibapak kayaknya mbak ga rela melepasnya, jadi ada keraguan, kalo sudah ragu ya biasanya ga jadi. batal deh amal solehnya… tapi ga apa membuat senang anak dirumah ketika menerima donat juga amal soleh kok… sama2 dapet pahala.
trima kasih

@mas muchlis
pernah sy ingin memberi sesuatu kpd orang yg ga sy kenal. sy malah di cegah oleh suami. katanya kita ga tau dia benar-benar membutuhkan atau tidak. bisa jadi nanti dia malah merasa diremehkan atau di rendahkan.
huaaah, waktu itu sy sedih banget. sebal ke suami. krn telah membuat sy frustasi. krn rasanya ingin memberi tok. ga mikir apa-apa. walhasil sepanjang jalan sy sibuk berharap semoga kalau bukan dari sy semoga ada orang yg berbaik hati dg sesuatu yg lebih baik pada orang itu. amin amin amin…

dan sebenarnya sy pribadi memang lebih suka memberi pada saat ga banyak orang. ingin private aja.
semata memang khawatir jadi meninggikan diri dan merendahkan orang lain. maka kemarin di bis, sy sibuk dg pikiran dan harapan2 semoga bapak itu mendapatkan rizki yg ga terduga-duga. atau anak2nya gembira pada hal lain yg lebih baik dsb-dsbnya. hehehe… sy mang suka gitu.

ga papa kok. santai aja. itu cuma liputan.
intinya sih kapan aja, di mana aja, bagaimana aja kalau bisa berbuat baik ya berbuatlah sebaik-baiknya.. selemah-lemah iman memang doa.๐Ÿ˜€

minadzulumaati ilannuur..menuju cahaya. tetep istiqomah di jalan Islam..

amin. makasih
kita sama-sama yaa..๐Ÿ™‚


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: