tantangan dari Ujian Nasional 2009

Posted on Mei 14, 2009. Filed under: islam indie |

lusuhnya-bendera-
(dibagi yaa…)

.

sudah banyak pakar menyoal warna suram pendidikan nasional kita.

saya bukan pakar ini-itu, saya hanya ingin berbagi pengalaman saja seputar ini. boleh yaa? hehehe, judulnya pakar berbagi pengalaman.

alkisah, anak sulung saya mengalami apa yang dinamakan mind block terhadap pelajaran matematika. setidaknya itu kesimpulan sementara saya saat itu, tepatnya di awal kelas 5 SD. saya menemukan bahwa anak saya tidak memiliki logika matematika yang memadai. sampai-sampai saya merasa agak fatal deh. coz buat saya matematika itu bukan sekedar ketrampilan berhitung, tapi logika.

melihat modul khusus dari sekolahnya –salah satu sekolah islam lumayan ngetop di kota kami– saya langsung merasa ada yang aneh. ditambah melihat buku paket pendukung modul itu, wah.. sederhananya buat saya sih, ngaclok-ngaclok. intinya saya ga puas. tapi sebagai beda generasi, saya harus mau tahu bagaimana sih sebenarnya pengajaran matematika di masa kini. maklum, kadang cara ortu beda sama cara anak sekarang.

kemudian saya juga bukan ortu yang maniak mengikutkan anak les ini itu. maka so far anak saya berkembang ala kadarnya. natural gitu deh.

walhasil saya mencoba mengkomunikasikan pada pihak sekolah. secara saya adalah ortu yang tidak aktif, saya ya hanya mencoba menyampaikan permasalahan sebagai masalah personal anak saya saja. ee… ternyata ada loh ibu-ibu yang sampai membawa kumpulan ulangan anaknya dan mengkonfirmasi nilai2 di ulangan dengan nilai dalam rapot. sedikit beda aja protes. duh, saya baru tau nih. sekolah swasta dengan bayaran yang tinggi memang membuat kompetisi menjadi –sebut saja– tidak adil. konon begitu komen ibu tsb.

waduh, saya baru mo sedikit menyampaikan kesulitan belajar anak saya, ternyata begini toh gayanya sekolah swasta… yang saya sih ga begitu peduli deh.

maka meski sudah saya sampaikan pada pihak sekolah, saya tetap sangat pesimis tuk bisa mengandalkan sekolah tuk membantu masalah belajar anak saya. saya harus mencari solusi sendiri.

huaaah, akhirnya saya mencarikan les matematika tuk anak saya.

pilihan saya jatuh pada math magic. secara saya hanya ingin anak saya bisa membuka mind blocknya, maka semoga dengan pendekatan matematika itu seru, like a magic, doi bisa menyukai matematika. di sana ada kalkulator kertas, aneka cara mudah berhitung dsb.

wuiih, secara ketrampilan berhitung sih memang membaik. kecepatan berhitung juga maju pesat. tapiiiii… tetap logikanya ga kebentuk.

maka kemudian saya mendesak pihak sekolah tuk bisa memberi guru yang asyik. secara kadang cara guru juga turut menentukan belajar anak. eee… di awal kelas 6 malah diberi guru yang konon di komplain banyak ortu. abis deh anak saya.
ga sampai di situ, di tengah akan menyambut ujian, semester dua kelas 6 guru tsb jadi PNS, sehingga digantikan mendadak. alhamdulillah penggantinya guru senior di bidang matematika.
dan guru senior itu sendiri bilang,
– bayangkan ibu dan bapak, saya harus kejar kemampuan matematika tuk target UN yang total hanya efektif belajar 2 bulan saja nih.

ember!
dan ternyata rata-rata matematika tuk seluruh anak kelas 6 SD itu, ga nembus angka 7! weeeiii, ini sih masalah bukan di muridnya. ini masalah pengajaran matematika secara keseluruhan -minimal- di sekolah itu..

walhasil saya masih harus mencari solusi tuk anak saya. kali ini saya cari guru private matematika. dapat dari tetangga yang anak-anaknya juga seumuran anak saya, bahkan satu sekolah.
nama guru private itu pak Fajar. beliau bukan guru dari sekolah mana-mana. hanya dari mahasiswa, beliau sudah menjadi guru private dan masih di tekuni sampai selulus kuliah, bahkan sekarang menjadi mata pencahariannya.

pertama menghubungi pak Fajar itu, saya langsung bilang kurleb begini
– pak, makasih kalau ternyata masih memiliki waktu tuk mengajari anak saya. so pasti, saya ingin anak saya bisa melewati UN dengan baik, tapi utamanya tolong dibenerin dong logika matematika anak saya. saya merasa selama sekolah kok logika matematikanya tidak terbangun dengan baik. saya bukan guru, tapi saya merasa ada yang salah. semoga pak fajar bisa menemukan permasalah anak saya deh. tolong di observasi dulu ya, carikan dimana kendalanya ?

e… dijawab..
– oo, emang begitu bu matematika zaman sekarang. beda sama zaman kita dulu. saya ngerti kok maksud ibu, itu kendala banyak anak sekarang terhadap matematika. saya sudah kenyang bu dengan masalah ini.
– oyaa???

waaah, pucuk di cinta ulam tiba nih… walau perih juga denger fakta yang disampaikannya..

makasih banget kalau lebih dipahami dari saya harus menjelaskan pajang lebar. maka anak saya les private matematika di hari…. Minggu!
duh, wiken nih. walhasil semua acara wikenan harus mengalah demi persiapan UN.

asal tahu saja nih, gara persoalan UN ini, saya dan papinya sempet bersitegang. sampai saya bilang ke anak saya yang intinya,
– masa sih hanya karena matematika harus rusak susu sebelanga?
hahahaha… sampai segitunyaaa… coz cuma di matematika masalah anak saya. di pelajaran lainnya, so far aman banget.

maka dengan tulisan ini juga, saya berterimakasih pada pak Fajar dan tentunya pada anak saya tercinta, yang telah bisa menata logika dan mengejar kemampuan matematika itu, hanya dalam waktu dua bulan saja. yang dari nilai kecil sampai bisa ajeg dg nilai di atas rata-rata. yang dari kaku hanya dibentuk soal tertentu sampai bisa masuk ke aneka variasi soal.

sehingga bismillah kemarin telah UN dan kita tunggu saja hasilnya. dalam waktu dekat anak saya akan mengikuti tes tuk masuk SMP negeri dengan sistem RSBI.

.

naaaah…
yuk kita perhatikan baik-baik pengalaman saya ini.

sebut saja saya dan suami adalah ortu dari kelompok menengah negeri ini, yang memiliki pengetahuan dan kemampuan finansial tuk bisa mengatasi persoalan pendidikan anaknya. dan saya tau persis, beberapa sesama ortu bahkan sampai mengikutkan anaknya ke bimbingan belajar –yang jutaan biayanya– hanya tuk UN kelulusan SD ini.

tapi coba bayangkan bagaimana dengan kelompok ortu yang tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan finansial tuk mengatasi persoalan pendidikan anak-anaknya?????
yang pastinya adalah kelompok terbesar dari bangsa dan negara ini..

atau melulu kita kembalikan persoalan pendidikan ini pada “pasar”?
menjadi liberalisasi pendidikan tanpa arah?
rakyat berjalan sendiri-sendiri?

maka si kaya bisa memilih sekolah dengan aneka kurikulum internasional yang bisa mengabaikan UN sebagai sistem pendidikan nasional yang resmi?? dan si miskin yang tak bisa menyekolahkan anaknya, lalu membiarkan anaknya hidup di jalanan dan survive dengan seadanya???

well, perbaiki deh..
jangan cuma mau jadi penguasa tapi ga mau tau masalah..

coz apalah arti negara tanpa rakyat?

.

catatan : kelompok menengah negeri ini mulai berkurang dengan perlahan tapi pasti loh dalam krisis global sekarang. coz phk dimana-mana.

apa mau negara ini bubar?

😉

pilihan saya pribadi : kembali ke sistem pendidikan nasional, kembali ke sekolah negeri. sebagai dorongan agar negara ini bisa menciptakan sistem terbaik tuk bangsanya dan wujud belajar mencintai Indonesia kita, apa adanya. ga ingin lari dari kenyataan.

saya selalu bilang sama anak-anak saya, kalau seluruh anak Indonesia itu adalah sodaramu. yuk, kita tetap bersama mereka..

.

salam
anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

3 Tanggapan to “tantangan dari Ujian Nasional 2009”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Hmm…🙂 salam

@dedekusn
salam kenal juga..

@iwal
indonesia harus punya sistem pendidikan nasionalnya tersendiri k’iwal. yang menjawab tantangan keberagaman dan ketersebarannya. mengingat negeri ini kepulauan. tapi jauh dari semua itu, kepedulian semua pihak sangat menentukan. maka di pergantian kepemimpinan ini, harusnya penghulu negeri ini bisa menguatkan komitmen kebersamaan kita dalam keberagaman yang ada. agar bisa mengikutsertakan semua elemen. bukan melulu asyik dg urusan dan kepentingannya sendiri-sendiri. soal berbagi kepentingan itu bisa di tata di urutan kesekian deh.

ok nanti saya ke sana… saya jarang bw nih. maaf.

ganti aja, ngga usah ada sekolah. cukup bikin test center macam toefl gitu lah. kalau ada yang siap ikut ujian, bisa ambil ujian kapan saja dan di mana saja. Lulus ujian dapat ijabsah dan bisa ikut ujian selanjutnya hehehe.
K Anis, lihat web baru saya dong. punakawan.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: