“Neo Pancasila”

Posted on Mei 17, 2009. Filed under: islam indie |

neo pancasila(baru dapat ole-ole ilmu dari negeri jauh dan izinkan saya belajar berpendapat yaa..)

.

dengan tidak mengurangi rasa hormat dalam kekaguman yang sarat pada semua sodara-sodara saya –sebangsa dan setanah air– yang telah menuntut ilmu ke seluruh penjuru arah mata angin bumi ini, yang kemudian membawa sejuta ole-ole nan cantik dan rupawan. terimakasih yaa..

saya mang gi adem ayem nih, gi ingin mengendap aja dari begitu banyaknya informasi dan teori yang hilir mudik…

begini..

saya merasa dan meyakini, bahwa negeri ini harus memiliki sistemnya tersendiri.

sepertinya ini dah harga mati deh. rasa ini juga bisa kita temui, ketika pak Karno dan para pendiri negeri ini, mengalami sendiri bagaimana harus berdiri di antara dua kekuatan dunia saat itu. beliau-beliau belajar menentukan sikap sendiri dengan melahirkan jati diri yang tergali dari kearifan lokal bumi ini –walau tentu tidak lepas juga dari pemikiran yang ada saat itu– yang kemudian kita kenal dengan nama : Pancasila.

dalam perkembangannya, berdiri diantara dua kekuatan yang ngilai, membuat beliau-beliau mengembangkan strategi demi keselamatan bangsa dan negara. yang menjadi sangat kondisional menurut perkembangan kondisi yang ada saat itu. catat ya : sangat kon-di-sio-nal. yang dalam sejarah, pak Karno mendekat ke blok timur demi bertahan dari tekanan blok barat yang luarbiasa. terlebih setelah sekian lama dijajah oleh salah satu dari negara blok barat yakni : Belanda.

saya pahami disini, bahwa disatu pihak harus merdeka dari penjajahan yang sudah terlalu lama dan disisi lain harus bisa tetap tegak dari hempasan angin. maka pilihan sederhananya adalah memiliki –sedikitnya– tempat tuk berpegangan. walau tempat tuk berpegang bukan selamanya berarti pegangan. cita-cita sejatinya adalah berdiri tegak di kaki sendiri. dan ini ada dalam UUD negeri ini.

kita bisa lihat deh, bagaimana beratnya resiko-resiko dari setiap pilihan saat itu. sangat rawan penyusupan, perpecahan dan bahkan rawan pengkhianatan.

duh, saya sedih nih nulis ini. pengen nangis, menyadari negeri ini ditegakkan oleh sebuah kekuatan hati yang luarbiasa, yang hanya dalam kebeningan kita bisa merasakannya.

maka Tuhan, tempatkanlah para pahlawan dan orangtua2 kami yang telah berjuang tuk negeri ini di tempat terbaikMu, sebagaimana mereka telah berusaha memberi yang terbaik untuk kami — anak cucu bangsa dan negaranya. amin.. hiks.

.

lanjut yaa..

lalu kita saksikan bagaimana ternyata, blok barat- lah yang menjadi pilihan kiblat dari bangsa ini setelah pak Karno jatuh. yang ditegakkan bahkan oleh kekuatan yang sangat represif. yang kita kenal dengan rezimnya Orde Baru. di sini Pancasila dimanipulasi sebagai stiker pemersatu tapi palsu. maka perlahan memiliki perlawanannya tersendiri. banyak sempalan pemikiran dalam tekanan yang ada saat itu.

di sini, kenalilah, bahwa bener tuh makna terdalam dari alinea pertama pembukaan UUD 45. bahwa penjajahan itu harus dihapuskan dari muka bumi. meski itu sekedar bernama penjajahan ideologi. krn itu adalah hak asasi manusia.

lalu bak balon yang mengelembung besar, ya meledaklah! yang kita kenal dengan peristiwa Reformasi 98.

maka kembali kita lihat, negeri ini ribut. ada yang maunya ini, ada yang maunya itu. sama aja dengan suasana ketika para pendahulu kita akan mendirikan negeri ini.

saya pernah membaca teks pidato pak Karno di sidang BPUPKI. saya kebayang bagaimana beliau berusaha meyakinkan semua pihak saat itu, yang notabene adalah sodara-sodara sebangsa dan setanah airnya juga, akan seperti apa sih negeri ini seharusnya. beliau berusaha tuk bisa merengkuh seluruh keberagaman Indonesia. bahkan kepada pihak yang mengusung Islampun, beliau juga berbicara loh.

yang intinya beliau juga orang islam dan negeri ini harus punya jati diri sendiri. maka beliau menawarkan pihak yang mengusung islam tuk sama-sama mengajukan kebaikan tuk negeri ini lewat tempat yang disediakan, dalam hal ini lewat parlemen.
luarbiasa…

saya terbayang suasananya deh. ah, betapa sulitnya ya berdiri di begitu banyak keinginan. saya dah tulis di tulisan saya sebelumnya di blog ini, yg berjudul “Kualinya Koalisi”, tentang adalah wajar memiliki keinginan, tinggal bagaimana menata kepentingan2 itu.
terbayang juga oleh saya, suasana ketika Muhammad harus berdiri di antara begitu banyak kepentingan beragama suku di arab saat itu.

hanya dia yang terpilih, yang bisa..

dan yang dibutuhkan adalah hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan..

wuiiih, subhanallah … negeri ini hebat!

.

lanjut lagi yaa..

sehingga –sebut saja– di era reformasi ini, kita mengalami jeda. kekosongan bentuk. atau kasarnya, ga ada sistem. semua hanya berdasar kebutuhan2 secara kondisional aja. maka ga karu-karuan mo dibawa kemana negeri ini. ini dikeluhkan banyak pihak toh? dari yang berilmu tinggi sampe yang ga berilmu ini itu. semua bertanya, mo kemana negeri ini???

maka wajar, kalau saat ini banyak pihak menawarkan bentuk. ada yang menawarkan islam, kerakyatan, sampai apa yang dituduh neolib. duh, dalam apapun istilahnya. semua tawaran bermaksud baik — walau masih mencerminkan kepentingannya sendiri-sendiri.

maka, mari yuk kita lihat negeri ini lagi dengan jernih.
apa sih yang sebenarnya dibutuhkan negeri ini?

.

– pertama,
secara alami, kita — manusia pada umumnya, dan manusia indonesia khususnya, bukanlah manusia yang bisa dijajah! kita lahir tuk merdeka. dan UUD 45 menjamin kemerdekaan manusia Indonesia.

maka apapun tawaran yang bersifat pemaksaan sampai pengkebirian hak-hak kemerdekaan kita, tentu akan mengalami perlawanan tersendiri dari jiwa kita. dalam gerak maupun dalam diam. coz ini alami. dan negeri ini tidak mengkhianatinya sedikitpun.

– kedua,
negara ini adalah negara kepulauan yang memiliki kekhasan dalam setiap wilayahnya. maka dia tetap membutuhkan keseragaman untuk identitas kebersamaan. kenapa? ya sebagai wujud kesatuannya. sebagai negara kepulauan negeri ini juga butuh pemerataan. agar aman dan sentosa terasa dari ujung ke ujungnya, ke seluruh penjurunya.

maka kemerdekaan manusia Indonesia harus tetap mau tuk di tata. bukan bebas tanpa aturan, juga tidak bisa hanya egois sendiri-sendiri aja. maka disini butuh wawasan NKRI itu.

.

sampai di sini, ada kemerdekaan yang diakui secara alami dan ada ketertataan yang juga dibutuhkan secara alami. sebagaimana kemerdekaan yang tetap memiliki batasannya, bukan bablas. sebagaimana keseragaman yang tetap memiliki keunikan pribadinya, bukan kekang.

negeri ini dirumuskan dalam kealamiannya.
ini sejauh yang saya rasakan..

.

– ketiga,
sebagai negeri yang terkenal menjadi jalur lalu lintasnya dunia dari dahulu kala, maka wajar pula kalau negeri ini menjadi tempat pertemuan begitu banyak hal. dari sekedar barang dagangan berupa benda-benda, sampai barang dagangan berupa : Ideologi.

maka apa yang diperlukan di kondisinya yang demikian? agar negeri ini ga terombang ambing diantara lalu lintas dan hilir mudiknya begitu banyak mau itu?

jati diri..
yang biarkanlah semua itu lalu, negeri ini teguh.

.

tapi coba lihat, alih-alih negeri ini teguh, mereka yang lalu lalang itu malah berlalu membawa pergi banyak dari negeri ini dan buang sampahnya di sini!

ember! mau sampai kapan kita kek gini?
hehehe…

.

maka….
di musim pergantian kepemimpinan ini, yang pertama harus diperkuat adalah komitmen kebersamaan kita di Indonesia, dari ujung ke ujungnya. harus ada jaminan tuk kebersamaan ke depan.

sederhananya berupa komitmen ideologi.
yang jangan menyimpan ganjalan.

seperti dengan tidak jelas dan super tidak tegasnya sikap pemerintah terhadap masalah keberagaman beragama dan berkeyakinan di beberapa kasus waktu lalu, trus dibiarkan berlarut hingga hari ini, yang berpotensi tuk terus menjadi api dalam sekam.

alih-alih bisa menjawab soal ekonomi yang memerlukan kebersamaan tinggi di tengah krisis global, malah melulu ga maju-maju deh. wong kenyamanan hakikinya aja tidak terjamin, bagaimana bisa saling bergotong royong? bagaimana bisa saling tulus berbagi?

.

maka sila pertama itu dimulai dari Ketuhanan Yang Maha Esa. basic yaa.. sebuah jaminan tuk kenyamanan hati dan jiwa manusianya. yang baru kemudian bisa menjadi manusia yang adil dan beradab. rasa ketuhanan memaksimalkan kemanusiaannya manusia indonesia. yang kemudian membuatnya bisa bersatu bersama siapa saja. dan yang dengan semangat bersatu, manusia indonesia bisa bermusyawarah tuk kepentingan bersama yang lebih besar dalam hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. dan terakhir dengan bisa menentukan kepentingan2 bersama yang lebih besar, bukan melulu kepentingan sendiri dan golongannya aja. yang kemudian… setelah semuaaaaaa itu, kehidupan sosial yang adil adalah bukan melulu mimpi.

sentosalah negeri ini…

.

wuiih, panjangggg..
padahal mo pergi nih.. hehehe…

terakhir..

saya pernah bermimpi diperlihatkan abunya pak Karno. dan saya merasa menangis ketika mimpi itu.

saya ga kenal pak Karno dengan baik, tidak sebaik generasi sebelum saya yang mengalami detik-detik bersama beliau. juga tidak sebaik penggemar beliau yang sangat fanatik dalam mencintai ketokohannya. saya ini bahkan adalah anak produk Orde Baru, yang saya tetap sangat bersyukur menikmati kehidupan kanak-kanak di masa Orde baru nan relatif aman-aman aja.

bukan untuk kembali ke masa yg sudah lalu, bukan tuk melulu menyalahkan strategi-strategi yang telah diambil oleh seorang Pak Karno, terlebih juga bukan untuk melulu menyalahkan Pak Harto dengan Orde Baru-nya. Pak Karno dan Pak Harto telah mencoba mengisi Pancasila dengan strategi-strategi juga mimpi-mimpinya, dalam kelebihan dan kekurangannya.

dan sudahlah, saya memilih memaafkan semuanya…

.

kini..
saya hanya ingin Indonesia lahir kembali
maka saya ingin bisa tuk mengisi Pancasila dengan sesuatu yang lebih bernas, belajar dari sejarah para pendahulunya.

saya : “Neo Pancasila”…

hahahaha…

.

kita lanjut lagi kapan-kapan yaa
mo pergi nih..

.

salam
anis

Iklan

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

3 Tanggapan to ““Neo Pancasila””

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Hm…., kalau saya, he, saya gak tau sy termasuk neo yang mana. Yang jelas asal bkn neorotic aja. Yang jelas lagi, saya menginkan Indonesia kita tercinta ini semakin baik, amin.

waduh mbak, neo pancasila kan kayak mau mengganti pancasila dengan sila2 baru 🙂

tapi uraiannya saya setuju, mbak.
bukan bermaksud menjadi tim sukses salah satu kandidat presiden, saya juga punya mimpi bangsa ini mampu berdiri di atas kaki sendiri sehingga ga gampang ‘dijajah’ bangsa lain.
dengan begitu kita ga perlu kiblat ke timur atau ke barat. tapi bangsa lain akan sibuk memperebutkan kita. jadi harga jual kita lebih tinggi.

mbak, sorry nih saya raji banget mondar-mandir bertamu, baca2 yang belum sempat saya baca. herannya, kalau ga ngasih komentar sebelum pergi kok rasanya ada yang kurang yah 🙂

ingat klo masih pake aturan bikinan manusia! pasti dan jlas pertolongan Allah akan terhambat… apakah tidak sadar makan minum hasil pemberian rizki dr Allah, benafas dgn oksigen yg diciptakan Allah tinggal di bumi Allah kalo menghendaki aturan selain dari Allah mengapa tidak pidah dari permukaan bumi Allah ini… ingat tinggalkan yg bukan islami..


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: