hanya karena tak terbiasa

Posted on Oktober 16, 2009. Filed under: islam indie |

2970930513_6845e86387_t duh.. duh.. duh..

 

 

 

pada dasarnya adalah kewajaran jika manusia itu butuh titik tumpu, butuh pegangan, butuh pijakan.

cerita yaa.. saya pernah bermimpi, blast hanya putih tanpa apa-apa. apakah itu ruang? apakah itu cahaya? apakah itu apa? tak ada batas, tak ada pijakan, tak ada apa-apa. mau tahu yang ada di pikiran saya dan bagaimana rasanya? huaaaaaah, saya merasa aneh dan mual.. secara terbiasa memiliki titik tumpu, pegangan atau pijakan yang membuat keseimbangan tertentu. maklum, terbiasa memiliki gravitasi.

 

pada peristiwa gempa yang menguncang Tasikmalaya beberapa waktu lalu, Bogor juga berguncang. Walah.. saya seperti deja vu. alih-alih lari keluar, saya malah jadi seperti mengingat-ingat. rasanya pernah mengalami ini deh. tapi dimana?? kalau tidak anak-anak melihat tetangga keluar berhamburan, saya mungkin biasa aja di dalam rumah.

barusan, sebelum menuliskan ini, gempa juga terjadi. telinga saya jadi berdengung. seperti jika kita di ketinggian. keseimbangan saya seperti terganggu. padahal gempa hanya sebentar kali ini, walau terasa cukup keras. katanya di ujung kulon. 6,4 SR.

mmm.. menarik nafas panjang nih…

 

sesungguhnya tidak ada yang saya takuti dari rangkaian gempa ini. termasuk jika dikabarkan akan terjadi lagi gempa yang lebih dahsyat dari gempa Padang baru lalu. bukan gempa yang saya khawatirkan. saya mengkhawatirkan korbannya. kalau gempanya sendiri, saya pikir itu bagian dari kehidupan.

 

sadar sebagai sesuatu yang hidup dalam sang Maha Hidup, maka wajar jika kapan saja, tanah berguncang ataupun langit goyang. bumi dan langit ini memang hidup kok.

kalau dibahasakan sebagai murka Tuhan. saya kira tidak… kita saja yang tidak terbiasa diajarkan merasakan kehidupan di luar diri kita. kita lebih dibiasakan tuk lebih mendahulukan diri sendiri, keluarga juga golongan kita. padahal lebih dari sekedar mendahulukan manusia di luar kita, peduli itu termasuk pada keseluruhan hidup ini..

saya bahkan pernah bermimpi, tertarik ke dalam pusaran angin yang berputar dan berwarna putih, nyaris seperti perak. setengah badan saya berada di dalamnya, sementara wajah dan tangan saya masih berada di luar. saya tidak terbawa berputar dengan pusaran itu, saya hanya sedang seperti berusaha memanggil kehidupan. rasanya tidak ada yang sakit di badan saya, hanya sedih melihat kehidupan yang mesti ditinggalkan..

 

maka kalau saja kita sejak dini biasa diajarkan tuk menghargai kehidupan…

mungkin kita menjadi lebih bisa mensikapi hidup dengan benar. akrab dengan sang Maha Hidup, dan mampu meminimalis korban. tapi tidak ada kata terlambat deh, semoga ini bisa kita ajarkan dan biasakan pada anak -anak kita.

tak pernah ada kata terlambat..

 

sungguh, bukan gempa yang saya takutkan. saya menghargai apapun kehidupan. saya sadar bahwa kita diliputi oleh kehidupan yang maha besar. saya hanya tidak kuat melihat penderitaan yang mungkin disebabkan oleh gempa, yang tidak pernah dibiasakan pada kita selama ini.

 

eeeittsss.., jangan mengganggap saya aneh dengan mimpi-mimpi itu yaa… saya pikir itu kebetulan saja. banyak orang yang juga bermimpi lebih seru dari saya kok. ya ga? saya sendiri baru menyadari arti mimpi-mimpi itu saat setelah terjadi hal-hal ini. tepatnya, saya lebih teringat rasanya daripada apa sih cerita di mimpinya itu sendiri.

 

semoga semua sodara saya yang mengalami gempa, sabar dengan kenyataan ini. semoga kita bisa mencari solusi dari melulu menangisi. amin.

 

anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: