jika Tuhan memang menyukai Keindahan (1)

Posted on Oktober 16, 2009. Filed under: islam indie |

507912199_4e36d1557a_t ho..ho..ho..

 

 

 

membaca banyak status teman-teman Facebook menyoal Miyabi, mau tak mau, membuat saya —akhirnya….— bertanya pada om Google. kata om Google, doi itu bintang porno asal Jepang yang akan main film di sini, di Indonesia. begitu banyak berita tentang doi dan saya hanya membaca selewat-selewat, sampai saya bingung, apa judul persis film yang akan diperankan Miyabi. Menangkap Miyabi? Miyabi jadi Santri? atau Miyabi enak seperti Supermi? hehehe… bingung sendiri.

ga sampe di berita tulis, saya coba minta gambarnya pada om Google, secara ga kenal selama ini. weeeiiiiitttsss… kaget! haduuuh-haduuuh.. nih anak dari planet mana???  masa yang kek gini dibilang enaknya kek supermi?  hushhh! ga tahan saya melihatnya, hanya sampe halaman ke dua langsung tutup deh.

tapi… saya jadi mikiiirrrr…
hehehe.. berlaku fungsi dasar sebagai keturunan adam yang diberi akal tuk berpikir toh?

mmm… mmm… mmm…

 
secara spontan, gambar-gambar demikian memang sangat merangsang. bukan mo bilang saya terangsang yaa.. saya cewek normal loh. tapi saya malu melihatnya dan jantung berdebar lebih keras aja. ini jujur.. reflek saya langsung mikir, kebayang yang melihat adalah laki-laki? kira-kira gimana yaa? atau jangan-jangan, lelaki malah biasa-biasa aja nih?? hehehe… lah, suami masih di kantor, masa’ mo ditanya soal Miyabi? :P

dan keknya hanya lelaki dari surga deh kalau biasa-biasa aja lihat beberapa pose Miyabi. berarti saya yang malu adalah yang normal. — loh?? 😛

 
so..? saya jadi merasa bahwa rangsang dari luar diri atas gambar berupa pose-pose Miyabi itu adalah suatu yang normal. mau menjadi terangsang atau malah mualpun, itu normal. saya ga menafikkannya. wong terasa toh? bahkan saya merasa bersyukur, bahwa Tuhan memberi kita indera tuk bisa menangkap rangsang demikian. karena so pasti, instrumen tubuh kita ini butuh asupannya tuk bisa berfungsi memainkan melodi tentang diri dan kehidupan kita. dari sekedar mata tuk melihat sampai sex tuk kesehatan lahir dan batin.

persoalannya, di dunia penuh pencitraan gini, dari sekedar audio, visual, audio visual sampai mixed media lainnya terhadap bentuk rangsangan-rangsangan luar demikian, banyak sekali. malah sangat tereksploitasi. seperti sexy divisualkan dengan berpakaian lebih terbuka. atau sexy identik dengan bentuk tubuh yang ditonjol-tonjolkan dst-dst. maka operasi plastik tuk membuat wanita (bahkan pria) menjadi seperti boneka, laku sekali. padahal boneka hanya boneka, mainannya anak-anak.. – di seri Barbie aja ada boneka lelakinya toh?😉

nah, ada yang menarik bahwa sex itu dari setelah rangsangan, ternyata butuh ketentraman ketika melakukannya. ini ritme namanya. tubuh kita, sebagaimana jam biologis, memiliki kebutuhan ritme tertentu pada hal2 tertentu juga. karena ya itu tadi, diri kita ini adalah kumpulan instrumen seperti sebuah orkestra besar. ok, improvivasi-improvisasi perlu. ok, sesekali memainkan musik-musik yang diluar kebiasaan, ini tuk melawan kemonotonan.
tapi ritme?  ini pola dan terbentuk dengan sendirinya. walau pola bisa berbeda-beda di setiap manusia, setiap usia dsb, tapi manusia cenderung memiliki pola pada umumnya atau pola rata-rata. ini alami, ini sehat dan ini kemudian dikenal dengan pola hidup sehat itu sendiri..

apalagi kalau kita dekati dengan bahwa kebutuhan ini ga sekedar tuk kebutuhan fisik. seperti makan, secara fisik untuk metabolisme tubuh. tapi secara psikis ya tuk mendapat rasa yg disebut kenyang itu. yang kemudian dengan rasa dan metabolisme yang baik, maka manusia secara lahir batin bisa optimal melakukan aktivitasnya.

itu sebabnya, disebutkan kalau dunia itu adalah ladangnya akhirat. di mata saya, ini ga menyoal sekedar dunia dan akhirat abis mati nanti itu.  ini termasuk pemenuhan secara lahir (dunia)  juga secara rasa di batin (akhirat) itu.
ga usah tunggu mati dulu deh tuk menjadikan dunia ini sebagai ladang akhirat. hidup sehat itu sendiri adalah cara tuk mencapai surga di kehidupan. ya ga?

kembali..

karenanya, sex —menurut saya— layak ditempatkan di tempat yang baik, di tempat yang tinggi juga yang lebih pribadi. karena ga cuma menyoal enak dan puas tapi juga nyaman. di sini mengapa Tuhan menawarkan pernikahan, sebagai “transaksi resmi” menyoal sex ini.
weeeeii.. makan aja harus beli bahannya, lalu masaknya, baru dinikmati toh? minum juga sama? maka sex juga ya harus diupayakan dengan baik. dan maka juga seperti makanan, jajan sembarangan suka bikin sakit perut, karena tidak terjamin kebersihannya. sex sembarangan juga disebut jajan, dan beresiko dari ketidaktentraman hidup sampai tidak terjamin kebersihan dan kelayakkannya.

see? klop deh sebetulnya apa-apa yg telah dinasehati oleh orang-orang tua kita dulu. yang sebut saja sebagai kearifan lokal tuk menuntun kehidupan kita, kalau saja kita cermati dengan teliti. ke sininya, banyak ulasan yang lebih ilmiah tentang kearifan lokal ini. di majalah-majalah modernpun sering dibahas, hanya saja dengan pendekatan/bahasa yang sesuai dengan kekinian kita. tapi intinya sama saja.

nah, semua di atas itu adalah ketika sex dilihat dari satu sisi. selain tuk kebutuhan fisik juga ternyata tuk kenyamanan dan kesehatan. sementara kita tahu, sex menyoal dua sisi, menyoal dua arah, dua anak manusia.
maka di sini, ada yang dikenal dengan cinta. halahhh..😛

sederhanakan, cinta adalah semangat menyayangi yang dengan rasa sayang itu menjadi ingin memberi yang terbaik. ingin melayani. maka sex itupun tidak lepas dari rasa sayang, rasa ingin melayani. 

yang sering dibilang bahwa kewajiban menikah adalah menafkahi lahir dan batin. dalam arti tidak sekedar melayani secara fisik, berupa nafkah materi tapi juga secara batin, termasuk ekspresi sayang dalam soal sex itu tadi.

saya tipe cewek yang meyakini, sentuhan sayang dan dorongan melayani dengan yang terbaik adalah seninya kehidupan. seperti menari, seperti melukis, seperti baca puisi, juga seperti bernyanyi. sangat layak tuk dinikmati. ga sekedar seperti buang sampah tok, atau sekedar menjalani kewajiban tok. sehingga di sini, saya mengapresiasi sekali ajakan agar wanita yang “berdandan” untuk suaminya. berdandan bukan semata kinclong ke salon gitu. tapi merawat sampai melayani suami. jangan diterjemahkan berdandan tuk suami hanya berarti dandan di rumah aja. pandai membawakan diri dan tahu bagaimana menempatkan suami juga bagian dari itu. saya meyakininya begitu.🙂

nah, setelah tahu bahwa sex adalah kebutuhan yang alami bagi instrumen sex itu sendiri dalam tubuh, butuh ketentraman ketika melakukannya, membentuk ritme dan sehat bagi pelakunya, sex juga seninya kehidupan, ekspresi sayang dan pelayanan yang terbaik. so pasti, sex melahirkan kesetiaan tersendiri. apalagi ketika ternyata sex itu membuahkan harapan-harapan baru, seperti pohon yang berbuah, maka manusia beranak pinak. waaaah.. sex itu luar biasa…

Subhanallah ya?? 

terasa sekali betapa tingginya Tuhan memperlakukan sex. rasanya ini perlakuan Tuhan yang paling kompleks dalam tatanan penciptaannya deh. yang membuat kehidupan ini terus berlangsung bahkan sampai hari ini. membuat dunia berwarna warni, seolah ga mau berhenti.  

maka agama, yang mengklaim diri sebagai ajaran dari Tuhan, digambarkan atau tepatnya ditafsirkan mengatur hal-hal ini dengan sangat rinci. padahal, sex, cinta dan setia itu semua alami, bukan semata karena aturan-aturan melulu. agama fitroh toh?

sampai di sini… saya pribadi sangat mengagumi Tuhan. sujud saya tuk kebesaranNya. sujud saya bahkan lebih lama tuk bahwa saya telah diperkenankan merasakan sendiri keindahannya yang satu ini.

 

lah, bagaimana dengan soal Miyabi?

 

bersambung…

.

 

anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “jika Tuhan memang menyukai Keindahan (1)”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

saya setuju… lanjut ya mbak…


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: