Jika Tuhan memang menyukai Keindahan (2)

Posted on Oktober 16, 2009. Filed under: islam indie |

3665045209_61197895ac_t

  yuk, lebih teliti..

 

 

 

dengan pikiran seperti yang saya urai sebelum ini, menjadi sangat alami, saya merasa bahwa hal-hal yang menyoal ekspresi sex itu hanya butuh di tata. bukan melulu ditolak, terlebih dengan kekerasan. ini sesuai pesan agama tuk kita menjadi kholifah. menjadi penata.

ketika sex itu dihargai sebagai keindahan juga karunia, maka sex layak dihargai dan tempatkan di tempat yang tinggi. sungguh, dari rangsangan –berupa gambar-gambar atau apapun– sampai pemenuhan sex itu sendiri, layak disimpan dan dilakukan di tempat yang lebih privat. ini kesadaran loh, bukan melulu aturan. agar apa? ya agar kehidupan kita semua menjadi lebih sehat, agar kita menjadi lebih bersyukur.

saya agak riskan membicarakan aturan, selama tidak ada kesadaran yang mendukung aturan itu sendiri. saya lebih suka bicara kesadaran deh, dari sekedar pasal demi pasal, ayat demi ayat. secara mendasar, saya sadar tuk tidak sedikit-sedikit main menafikkan kenyataan. sikap menafikkan kerap melahirkan prilaku penuh kemunafikkan. prilaku munafik, rasanya lebih ditentang oleh agama. gitu ga sih?

manusia sempurna itu bukan seperti malaikat. itu menyalahi kodrat. tapi manusia yang bisa menempatkan segala sesuatu sesuai tempatnya dan memenuhi segala sesuatu sesuai haknya.

semua hal dalam hidup ini, ada baik, ada buruk. ada yang hitam, ada yang putih. ga ada yang sempurna satu sisi saja. so, manusia diminta sempurna dengan menata ketidaksempurnaan itu. prilaku abu-abu adalah prilaku munafik, prilaku berstandar ganda. siang ini ekspresi sex seperti miyabi dihina-hina, malam hari malah dicari-cari dengan rakusnya.

saya pikir, menempatkan sex di ruang yang lebih privat, atau di jam tayang berbeda, atau klasifikasi jenis tayangan tertentu, atau diberi harga mahal demi pembatasan konsumsi, atau bahkan dilokalisasi atau pembatasan area, itu adalah prilaku menata. sampai di sini, saya sangat mengapresiasi.

ke depan, dengan lebih teredukasi, lebih tumbuh kesadaran, maka hal ini akan lebih baik dalam ekspresinya, baik perorangan maupun luas sebagai komunitas bernama bangsa. ini keniscayaan.. menata itu akan melahirkan ketertataan. kesadaran akan melahirkan kenyataan yang lebih baik.

persoalannya, yang sering terjadi adalah prilaku-prilaku sesaat. marah ya sesaat. menata ya sesaat. sholeh juga sesaat. penataan butuh konsistensi tinggi. butuh pembiasaan lama.

lah, lalu bagaimana dengan jargon agama dalam penataan soal ini?

sama saja. menurut hemat saya, agama itu disebut fitroh, karena dia tidak mengkhianati kealamian manusianya. ini tantangannya beragama. agama bukan sekedar kumpulan peraturan. tapi inspirasi, tentang manusia dengan diri dan Tuhannya. bahkan kalau kita mau cermati lebih teliti, agama adalah “proses” manusia menuju Tuhannya, menuju keadaan yang lebih baik. agama bukan taken for granted, bukan tinggal terima beres.

kalau agama hanya bisanya membangun tembok-tembok, main gebuk dan gembok, main hukum dan tuntun. maka agama bukan lagi proses. manusia akan sulit menerima mode begini, karena pada dasarnya manusia itu makhluk pembelajar. maka sering kita lihat, hanya saling tarik menarik aja yang ada. antara pemikiran yang lebih ingin berkembang dengan pemikiran yang seperti tembok-gembok itu. dan hasilnya, adalah saling meniadakan. kenyataan tetap tidak membaik, malah jauh memburuk dengan prilaku saling menafikkan itu. ga heran Indonesia itu jalan ditempat mulu, kalau ga mau dibilang mundur ke belakang, karena yang lain bergerak dan maju ke depan.

akan terlihat, si sholeh akan menafikkan kenyataan, si biasa akan menafikkan agama. dua-duanya menafikkan fitrohnya. karena agama tanpa kenyataan hanya angan. dan kenyataan tanpa agama hanya kecelakaan.

kondisi ini, saya amati terlalu lama terjadi di Indonesia kita tercinta ini. padahal sebagai manusia Indonesia– kita harus sangat bersyukur loh. kita hidup di negara yang terus mau berkembang. saya menangkap banyak keinginan baik tuk Indonesia. hanya saja, mana yang sesuai, itu yang harus kita teliti.

pertama sebagai Indonesia, kita memiliki cita-cita tersendiri sebagai bangsa dan negara. yang dengan kenyataan geografisnya, maka para pendiri negeri ini ingin Indonesia tidak ke kiri dan tidak ke kanan, tapi menjadi negeri berjati diri sendiri.

jujur, letak Indonesia yang stategis ini, kadang terbayang oleh saya setiap membaca surat an Nur yang beken tea. yang berupa cahaya tidak di kiri tidak di kanan. klop banget deh. negeri di pertengahan. jamrud khatulistiwa. yang berkilau bahkan sebelum di pantikkan api.

kalau cita-cita Indonesia itu negeri dengan manusia yang mandiri, menjadi diri sendiri dan berjati diri, sederhananya itu adalah manusia yang bisa memimpin dirinya sendiri. weeeeiii.. itu sangat sesuai dengan agama. menjadi  kholifah menimal tuk dirinya sendiri.

hehehe, maaf yaa, saya memang tidak pernah bisa menterjemahkan perintah menjadi kholifah itu adalah mendirikan kekholifahan. buat saya itu hanya romantisme masa lalu. prilaku yang hanya maunya taken for granted aja terhadap islam. padahal, bagaimana mungkin kamu mengatakan kamu beriman kalau kamu belum diuji?

di sini kita bisa menemukan bentuk baru untuk bagaimana kelak sesuatu yang disebut “islami” itu sesuai perkembangan zaman. yang sangat mungkin ga sekedar model seperti arab. Tuhan itu maha mencipta. maka kreativitas dan inovasi seharusnya adalah milik manusia yang mengaku beriman kepada Tuhan, memiliki sebagaian sifat Tuhan. lah? kenapa maunya hanya terima beres? itu ciri manusia yang malas.

hehehe.. maaf yaa, ini jujur menurut saya.. 
walah, jadi kemana-mana deh nulisnya… hehehe..

di kondisi negara kita yang sarat hasrat tuk perbaikan, maka semoga kita tahu betul bagaimana perbaikan itu akan kita mulai. cara berpikir kita menentukan bagaimana kelak kita menuju perbaikan itu.

termasuk tuk soal sex ini. jika kita meyakininya sebagai keindahan, semoga perbaikan menyoal penataan tuk soal sex ini juga tidak akan kehilangan keindahannya. ga sekedar boleh atau tidak boleh. tapi tempatkan pada tempatnya.

lah, Miyabi?

saya menghormati pelaku-pelaku hal demikian, selama mereka juga menghormati apa-apa yang menjadi bukan kawasannya. di negerinya, hal demikian konon sudah biasa dan orang-orang di sanapun punya cara dan aturan sendiri dalam menyikapinya. jadi ya, respek aja deh.

satu yang pasti, Miyabi itu memperlakukan kita sebagai pasar.

ini wajar. ini juga berlaku di mana saja dalam kehidupan, ketika menyoal hubungan sebagai dua kepentingan. ini yang seharusnya lebih kita sadari dari awal. maka bukan penolakkan secara fisik dengan demo bawa-bawa agama. itu tidak terlalu efektif, malah mencipta polemik.

menurut saya, jika memang sepakat sex itu indah dan perlu ditata, atur diri kita, terlebih sebagai pasar. mari menjadi subyek dalam kehidupan ini.

ya ga?

segitu aja yaa, semoga bisa dipahami inti yang dituju, dari melulu berpolemik. maaf tidak sempat diedit nih…😀

 

btw : Facebook saya lagi error nih. kok semua friends saya hilang?? walahhh.. masa’ FB tanpa teman gitu? ya sudahlah, manusia aja bisa error, palagi teknologi sebagai ciptaan manusia yaa? mohon maaf saja buat semua di sini yang juga menjadi friends di fb saya, gi error. ntar deh di cek lagi..

.

 

anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

4 Tanggapan to “Jika Tuhan memang menyukai Keindahan (2)”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

kalo error artinya sudah waktunya kembali
ke wordpress lagi mbak hahahahaha….
saya seneng bisa baca tulisan mbak lagi…
cuma nggak bisa komentar karena sudah
terwakili semua diatas🙂 Jadi komentar yang nggak begitu
nyambung aja…

Memang orang Indonesia itu suka telat,
padahal seperti Azumi kawashima, Sora Aoi,
dll sudah foto bugil di Bali sejak
2002..nah lo…kecolongan kan ?

Lah si Ohzawa ini sebenarnya di Jepun
juga udah mulai gak ngetop…karena udah
berumur diatas 20thn.
jadi dia pasti hepi banget karena di Indo
malah ngetop..kekekeke…

kalo saya kurang suka sama filmnya Ohzawa
karena nggak nyeni di mata saya.
Masih banyak yang lebih “bagus” hehehehe

Demikian komentar dari “pengamat film bokep”

hahaha sorry mbak, malem ini aku agak error…

hahahahaha

hehehe… mas Datyo, saya bingung dg siapa aja tuh yg dibicarakan. ga kenal… tapi makasih mas, setidaknya mas pasti tahu bagaimana seharusnya soal ini di tata, toh ini tetap bagian dari kehidupan kita yg nyata. kira-kira apa ide dari mas?

sungguh, buat saya ini bukan soal boleh atau tidak, tapi tolong ditata.🙂

ditata itu dengan apa mba?

benar, bahwa Islam itu mengakui fitrah. Dan fitrah manusia juga, untuk selalu diatur.

bukan begitu? bisa ga sih membayangkan, adanya kehidupan sosial tanpa adanya aturan? nah.. di sanalah agama juga datang membawa syariat.🙂

Saya kira semua pasti sepakat bahwa setiap hal ada aturannya. Agama itu sendiri memang sistem aturan yang timbul dari konsep ketuhanan. Adalah fitrah juga bhw manusia butuh diatur (walaupun kadang2 mengingkari diri sendiri)..termasuk juga bgm mengatur masalah Mi Yabi, Mi Sedaap, Mi dll. Kadang masalah (konflik) timbul disebabkan oleh ‘cara’ atau ‘seni’ mengaturnya, di mana ketika terdapat tingkat pemahaman yg berbeda2 potensi konflik bs timbul termasuk dalam memahami dan mengatur konsep ‘keindahan’ so..ketika Alloh menyukai keindahan (karena Dia Maha Indah), maka Dia pula memberikan rambu2 pula bagaimana memanfaatkan keindahan itu secara layak, elegant. Kita yang dikaruniai akal tentunya juga bisa memenej keindahan itu dengan elegant pula..


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: