trend

Posted on Oktober 28, 2009. Filed under: islam indie |

2506567114_43bcb74c67_t selingan…

*
kejadiannya sudah lama berselang. waktu itu, saya sedang naik angkutan umum. duduk tepat di depan saya, di pojok dalam angkutan umum itu, dua pelajar putri SMU. memang bukan SMU favorit di kota saya sih, tapi secara umum, penampilannya cantik dan segar khas anak SMU.
mereka sedang membicarakan film Harry Potter..!
wah, dalam hati, kebetulan saya juga sudah nonton loh.. hehehe..

— tapi.. tapi.. tapi..
— kok? kok? kok?
— apa saya salah ya?

katanya, cewek yg di Harry Potter itukan ceweknya Harry.
— maksudnya Hermione Granger ya?? bukan kok. yang saya tau di episode yang sedang tayang itu, pacarnya Harry tuh adiknya Ron. Ginny Weasley.
nah, cowok yang satunya lagi itu suka sama cewek itu.
— maksudnya, Ron Weasley?
iya, mereka kan jadi renggang persahabatannya karena cinta segitiga itu.
— hah?? kenapa ceritanya jadi seperti sinetron di tv-tv kita ya?

bla-bla-bla.. mereka bicara dengan serunya dan sangat jauh deh dari film yang sudah saya tonton.
walhasil saya jadi lebih teliti memperhatikan pembicaraan mereka. mm.. mereka memang tidak menyebut nama dari tokoh-tokoh di Harry Potter itu, hanya nama Harry saja sebagaimana judul filmnya. padahal secara umum, duo sahabat harry itu sangat familiar namanya.

sampai tiba-tiba.. kata temannya begini,
e, jadi kalau ntar lu ditanya ma si anu, lu taukan tentang Harry Potter.
ya tau dong.. masa ga tau sih??
iya, gua ikut lu aja yaa

kok?
mmm…

apakah itu pertanda bahwa kita harus selalu meng-up date trend yang sedang terjadi tanda kita bagian dari kehidupan ini?

*
di wilayah Seturan Yogjakarta, tempat kami menginap ketika berlibur merupakan daerah perkampusan. banyak sekali jenis kampus berdiri di sana. walhasil, di sana banyak kost-kostan mahasiswa dan banyak toko 24 jam semacam circle K gitu loh. pastinya tuk memenuhi denyut aktivitas mahasiswa.

duduk tiga orang mahasiswa di depan sebuah circle K, tepat di depan mobil kami parkir. suami turun membeli sesuatu tuk bekal ke Borobudur. hari masih terlalu pagi, karena acara kami padat hari itu. Borobudur, Kraton dan Parangtritis. saya pun membuka jendela mobil, menikmati udara Yogjakarta di waktu pagi…

terdengar diskusi yang seru dari ke tiga mahasiswa itu.
– jadi kita butuh nasionalisme. negara ini harus dibangkitkan kembali rasa nasionalismenya.
– ah, denger aku.. negara ini harus visioner. sebagai mahasiswa kita adalah..bla-bla-bla..
(wuiih, mereka sedang bicara nasionlisme nih. kerennn.. mahasiswa gitu loh)

tapi tiba-tiba..
– aku ingin bilang padamu, masih kerabatku, dia orangnya pak Karno. ibu Mega itu bukan anak kandung pak Karno. ibu Mega itu anak Temanggung.

(astaghfirullah, ga salah nih???)

sepertinya karena saya nampak tiba-tiba tertarik, seorang mahasiswa yang duduknya tepat menghadap mobil, menyadari kalau saya sempat mblalak karena kaget mendengar ucapan temannya yang membelakangi saya itu. maka dia berusaha menghentikan pembicaraan..
– kamu tahu baru sedikit…
– ah, itu benar. semua partai itu pembohong. kamu ga percaya padaku?
– bukan tidak percaya, tapi kita ini baru tahu sedikit.
– hei.. dengar aku. aku ini masih keturunan Habib. nasabku masih bertemu dengan rosul. ada dalam kitab suci.. bla-bla-bla..

(akhhhh… tercekik deh rasanya leher saya…buru-buru menghadap ke belakang ke arah anak-anak. haduh, suami kok lama banget sih. bingung mo ketawa atau mo apa, tapi rada geli.. apa mabuk ya mahasiswa itu? atau berdiskusi terlalu seru hingga malam dan sampai pagi lagi?)

mahasiswa yang satu lagi, yang selama ini diam, berkata arif bijaksana
– kita jangan terburu-buru mengambil kesimpulan. bukan tidak percaya, tapi bicara negara kita memang terlalu kompleks..

begitu suami saya masuk, duh ingin deh saya peluk dia dan sembunyikan kepala ke dadanya..
tapi tanpa begitupun, suami saya sudah bertanya,
– kenapa? kok seperti gi nahan2 gitu?
– anu.. masa tadi katanya bu Mega itu bukan anak pak Karno. tapi anak dari Temanggung…
hehehe.. suami saya kebetulan juga mendengarkan sayup-sayup dari dalam toko, diskusi seru ketiga mahasiswa yang nongkrong di depan toko itu. walau tidak jelas, tapi geli juga mendegarkan ceritanya dari saya.

haduuuh, jadi inget-inget diri sendiri nih
secara kita juga pernah jadi mahasiswa dan sok tau gitu
kalau dah diskusi serunya sampai ga mau pada ngalah
separah gitu juga ga ya?
hehehe…

*

begitulah..
apa ya yang bisa saya simpulkan dari peristiwa di atas? rasanya ga banyak dan malah hanya satu, bahwa mau tidak malu, e.. mau tidak mau.. saya juga bagian dari mereka.. bagian dari trend.

*istighfar*

.

anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “trend”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

hem hem hem…

salah satu budaya buruk kita kali ya, mba..

begitu mudah terbawa arus dan trend. T_T


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: