bewara : saya dan harian Republika

Posted on April 6, 2010. Filed under: islam indie |

hai-hai.. apa kabar semua? maaf, baru menyapa lagi.. dengan kejutan sebuah kisah kecil tentang memperjuangkan kejujuran dari dalam hati nih… dari hati saya sendiri… halahh.. hehehe..

selamat menikmati
semoga tetap menginspirasi

.

rasa terimakasih yang banyak saya haturkan kepada teman saya, Evidia Vie selaku humas, juga kepada mbak Nidia Zuraya, reporter Republika untuk wawancara ini. sebuah proses yang baru pertama kali saya alami, yang secara umum baik, terbuka, dan penuh kerjasama. sangat disayangkan bahwa pada pemuatannya ada sedikit kesimpulan yang diambil secara sepihak dan bertolak belakang dengan apa yang telah saya utarakan, yang bahkan telah saya garis bawahi. karenanya saya mengajukan hak jawab kepada pihak Republika untuk meluruskan “sedikit hal” dari artikel tersebut. hak jawab yang kabarnya akan dimuat dalam 2 hari ke depan.
terimakasih juga kepada bpk. Syahruddin, selaku yang bertanggungjawab atas pemuatan artikel tersebut, yang telah meminta maaf pada saya atas kekeliruannya.

semoga menjadi pembelajaran untuk kita semua dan kemajuan media pemberitaan di negeri kita, terlebih tuk harian Republika.

http://koran.republika.co.id/koran/153/107736/Luzie_Megawati_Terpikat_Keteladanan_Umar

dan ini hak jawab yang telah saya kirimkan, yang semoga bisa segera dimuat..
singkat dan padat karena dibatasi 1000 huruf aja..🙂

.

Menanggapi artikel Mualaf, Republika Ahad, 4 April 2010, maka saya hendak menyatakan bahwa paragraf terakhir pada tulisan tersebut bukan kalimat saya.

Di sana tertulis bahwa stigma negatif tentang islam tidak terbukti dan dinyatakan bak api jauh dari panggang. Padahal dalam wawancara, saya mengatakan bahwa saya justru berhadapan dengan stigma negatif tersebut, bahkan itulah yang sangat melelahkan dalam perjalanan keislaman saya. Sampai saya bisa menerima bahwa islam memiliki dinamika tersendiri, yang karenanya saya belajar mandiri di tengah polemik pemikiran dan kelompok-kelompok Islam yang ada.
Saya sudah menjawab semua pertanyaan dengan terbuka, sehingga jika ada hal yang perlu diedit atau disimpulkan, tentu tidak dengan menghilangkan apalagi bertentangan dengan yang sejujurnya saya alami.

Saya berislam bukan untuk pencitraan. Saya harap Republika berkenan meluruskan artikel itu. Sebagai media bernafas Islam tentu harus mampu mengedepankan kejujuran dalam setiap liputannya.

Luzie Megawati
Bogor Indonesia

akhirul kata : Merdeka!

btw, Luzie Megawati itu saya loh : anis😀

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

4 Tanggapan to “bewara : saya dan harian Republika”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

maaf ya, ga bisa ngelink, jadi di sini aja linknya.. hehehe..

http://koran.republika.co.id/koran/153/107736/Luzie_Megawati_Terpikat_Keteladanan_Umar

Setelah saya klik link di atas ternyata artikel Anda tidak muncul secara utuh.

Pada bagian bawah artikel muncul pesan sbb:

Berita koran ini telah melewati batas tayang. Untuk mengakses, silakan berlangganan.
Bagi Anda yg sudah berlangganan, silakan login disini.
Bagi Anda yg belum mendaftar berlangganan, silakan registrasi disini.

Mbak yang di Republika udah gak bisa kebaca penuh, gimana kalo dimuat disini aja. Penasaran karena belum baca tuntas…trims

Komentar saya sama dengan Mas Dat, artikelnya nggak bisa dibaca secara keseluruhan via online.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: