lengkapnya ada di sini

Posted on Mei 8, 2010. Filed under: islam indie |

Terima kasih tak terkira tuk mas Syukriy Abdullah  dari http://syukriy.wordpress.com  yang menemukan hasil lengkap wawancara saya dg Republika di situs lain. saya sendiri malah tidak menyadari kalau Republika online itu tidak bisa dibuka lengkap. apapun, alhamdulillah ada lengkapnya dan nikmati yuk di sini..

semoga tetap menginspirasi.. 🙂

.

Terpikat Keteladanan Umar

http://bataviase.co.id/node/155516

04 Apr 2010
RagamRepublika

.

la mengagumi khalifah kedua ini berkat sikapnya yang senantiasa memberi teladan pada yang lain.

Hiasan dinding bertuliskan kalimat “Tiada Tuhan Selain Allah yang terpampang di sebuah toko stationary di Kota Bandar Lampung ternyata menarik perhatian seorang gadis cilik. Saking seringnya melihat tulisan tersebut, bocah perempuan bernama lengkap Luzie Megawati ini mulai bertanya-tanya.

“Selama itu, saya belajar bahwa Tuhan Maha Esa. Lalu, mengapa bisa ada kata-kata demikian?” kata perempuan yang akrab disapa Anis ini kepada Republika.

Saat itu, ungkap Anis, dirinya baru duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar (SD). Dalam logika kanak-kanak seumur itu, diakui, masih agak sulit baginya untuk bisa memahami beragam cara melukiskan atau menyebut Tuhan dari agama Katolik yang dianutnya saat itu dan dari tradisi keluarganya yang dominan Kong Hu Cu.

Perempuan kelahiran 14 Januari 1972 ini memang berasal dari keluarga campuran berdarah Tionghoa dan nenek dari pihak ibu yang asli Jawa. Karena itu, tak mengherankan jika kehidupan agama keluarganya cenderung didominasi tradisi Kong Hu Cu. Namun, untuk urusan keyakinan, sejak kanak-kanak, ia memeluk Katolik.

“Tapi, Katoliknya tidak fanatik karena bercampur dengan tradisi keluarga. Saya ke gereja, ke kelenteng, ke wihara, dan juga terbiasa melihat tradisi Jawa kejawen, seperti bakar kemenyan dari pihak nenek.”

Dari seringnya melihat tulisan itu, mulai terjadi gesekan dalam diri Anis, yang pada akhirnya menimbulkan ketertarikan untuk mempelajari hal tersebut dari sumbernya. Sejak saat itu, ia mulai mencuri-curiwaktu berkunjung ke toko buku swalayan yang baru buka di kota tempat tinggalnya, hanya sekadar untuk membaca buku-buku mengenai keislaman.

Buku mengenai Islam yang pertama kali dibacanya berjudul 30 Kisah Teladan. Dari sekian banyak kisah yang terdapat dalam buku tersebut, kisah mengenai Khalifah Umar bin Khattab (khalifah kedua) yang menarik perhatiannya. Dalam buku tersebut, diceritakan bahwa Umar yang sekaligus merupakan sahabat Rasulullah SAW rela membawakan karung gandum untuk rakyatnya yang miskin. Kisah itu, menurut Anis, sangat menyentuh rasa kemanusiaannya dan sampai hari ini masih ia suka.

Buku lainnya yang juga menarik perhatiannya kala itu adalah buku Seratus Tokoh karya Michael H Hart yang menempatkan sosok Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh nomor satu. “Yang ada dalam kepala saya saat itu sederhana, kalau sahabatnya saja begitu, bagaimana

nabinya? Hingga semua itulah yang menggenapkan ketertarikan saya pada Islam,” ungkap ibu dua orang anak ini.

Kendati memiliki ketertarikan terhadap Islam, saat itu Anis mengaku belum serius untuk mempelajari Islam. “Saya memang tertarik saja dan mungkin karena saat itu usia masih sangat dini. Maka itu, tidak terlalu saya pikirkan. Saya berkembang sebagaimana remaja pada umumnya saat itu, yang tidak terlalu mendahulukan soalsoal agama,” paparnya.

.

Hijrah ke Bandung

Saat kenaikan kelas dua SMA, bersama seorang sepupunya, Anis memutuskan melanjutkan sekolah ke Bandung. Di Kota Kembang ini, ia mendaftar di SMA Negeri 5, sementara sepupunya memutuskan bersekolah di sebuah SMP Katolik. Kepindahannya ke Bandung saat itu karena didorong oleh cita-citanya untuk masuk perguruan tinggi negeri (PTN). Di sana, ia menyewa sebuah kamar di rumah seorang pemeluk Kristen.

Ketika duduk di bangku kelas 3 SMA, ia mendapatkan mimpi aneh. Dalam mimpi tersebut, istri dari Toto Prima Yulianto ini tengah membaca ayat. “Seperti bunyi orang mengaji, yang saya tidak tahu persis apakah itu. Lalu, tiba-tiba sekeliling saya menjadi terang sekali. Tidak ada kesan istimewa dari mimpi itu karena rasanya seperti orang ketindihan biasa,” . tuturnya.

Setelah mendapat mimpi seperti itu, keesokan paginya Anis memutuskan menceritakannya kepada teman sekolahnya. Namun, kalimat pertama yang terlontar dari mulutnya bukan mengenai mimpi yang dialaminya, melainkan

keinginannya untuk masuk Islam. “Saya ingin masuk Islam,” ujarnya.

Sontak, kalimat tersebut membuat temannya yang seorang Muslim itu kaget. Bahkan, sang teman menyebutnya gila saat itu. Kepada temannya ini, Anis kemudian minta dicarikan jalan untuk masuk Islam. Pilihan yang diberikan kepadanya saat itu ada dua. Pertama, ia disarankan masuk Islam melalui pengajian seorang ustaz di Kota Bandung. Kedua, di Masjid Salman ITB. “Saya pilih yang kedua, di ITB,” ujarnya.

Akhirnya, setelah ditanya kesungguhan dan disepakati waktunya, 16 April 1990, yang juga bertepatan dengan 20 Ramadhan 1410 H, bertempat di Masjid Salman ITB serta dibimbing dan disaksikan oleh pengurus masjid, beberapa teman sekolah, dan seorang teman dari kampung halaman yang juga menuntut ilmu di Bandung, Anis memutuskan masuk Islam.

“Semua terasa terjadi begitu saja, di luar kendali saya. Setelah pengucapan ikrar, dibacakan doa untuk keselamatan dan kemampuan saya menjalani hidup sebagai warga baru dari

sebuah agama, saya seperti tersadar bahwa saya baru saja membuat masalah yang besar dalam hidup saya. Rasanya lemas, tapi harus saya hadapi segala yang mungkin akan terjadi,” paparnya mengenang momen bersejarah dalam hidupnya itu.

.

Menuai badai

Semula, Anis menginginkan keputusannya memeluk Islam itu tidak diketahui keluarganya. Karena, secara usia, ia merasa belum siap menghadapi banyak masalah dan terlebih lagi ia masih ingin bersekolah. Namun, apa mau dikata, kabar keislamannya sampai juga ke telinga kedua orang tuanya.

Reaksi yang timbul kemudian tentunya sudah bisa diduga. Keluarganya marah besar. Oleh keluarganya, Anis dicap sebagai anak durhaka, bukan lagi bagian dari keluarga. Parahnya lagi, ia diboikot secara ekonomi dari keluarganya dan tidak saling bertegur sapa dengannya selama lima tahun. “Saya sungguh tidak memperkirakan bahwa pindah agama akan menuai badai begitu besarnya,” jelas Anis.

Dengan tegar, ia menghadapi semua itu. “Saya harus kuat dan saya ingin menunjukkan bahwa pilihan saya sudah benar.” Sejak saat itu, kehidupan Anis berubah. Ia kehilangan semua fasilitas yang biasa dinikmatinya dan masa-masa indah anak seusianya.

Dalam pandangan keluarganya, Islam adalah agama yang identik dengan masalah suka nikah dan suka perang. Karena itu, jika sudah dihadapkan kepada berbagai macam stigma negatif ini, ia kerap merasa seperti berada di sebuah persimpangan. Namun, setelah ia mempelajari Islam, ternyata gambaran itu laksana pungguk merindukan bulan atau jauh api dari panggang. Semuanya tak terbukti. Islam justru mengajarkan umatnya menjadi manusia yang berakhlak

mulia. ad sya

.

catt : bagian yg saya tebalkan di bawah tulisan itu bukan kalimat saya. itu kesimpulan sepihak dari pihak  Republika, yg bahkan sangat berbeda dengan hasil wawancara dengan saya. saya merasa sakit, karena itu menyalahi apa yg  sejujurnya saya alami dan yg telah saya sampaikan pada mereka.

sebuah pengalaman yg sangat tidak nyaman dengan  media, setidaknya itu yang saya rasakan..

anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: