sakti

Posted on Juni 7, 2010. Filed under: islam indie |

hai… sudah pernah sih ditulis di sini, tapi kali ini ingin lebih rinci aja..

selamat menikmati, semoga menginspirasi..


jika ada yg bisa saya dedikasikan pada negeri ini, halahh.. dari sedikit sekali tentang saya, mungkin ini termasuk yg berharga yg bisa saya beri, setidaknya menurut saya. karena dengannya saya banyak belajar mengenal diri saya sendiri. dan saya meyakini, negeri ini hanya akan berubah jika manusianya berubah. dan jika itu terjadi, maka tidak ada yang tidak mungkin. sebagaimana Tuhan tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sampai mereka merubahnya sendiri.

apakah itu? sederhana, dia adalah kisah si Kera Sakti, Sun Go Kong.

film berseri panjang di pita betamax, video zaman itu, memang sangat kuno. saya tidak tahu itu film buatan dari rumah film mana dan tahun berapa, tapi setting Tiongkok kuno sangat lekat. satu dar banyak versi film tentang legenda dari Cina yang terkenal itu. film panjang itu kita pinjem dari sebuah rental. seperti biasa, ibu saya yang paling suka film-film sarat filosofi demikian. dan saya yang paling betah nonton menemaninya, dibanding kakak saya yg laki-laki yg lebih suka bermain di luar rumah. menurut ibu saya, itulah perlambang kehidupan jiwa manusia di dunia ini. wah, kok bisa?

sering digambarkan, dalam film itu, para petani menanam sawah, sibuk bekerja atau bersama anak-anak, menatap penuh syukur ke atas langit. lalu di awan tampak dewa duduk-duduk menatap ramah dan tersenyum pada manusia yang bekerja di bumi. para dewa mengirim hujan agar tanaman subur dan kehidupan makmur. harmoni yang alami.

cerita menjadi seru karena ada Perjalanan ke Barat yang akan dilewati oleh biksu suci yg dikenal dg biksu Tong. kenapa ke barat? katanya sih itu perlambang dari “kembali”. sebagaimana matahari terbenam di barat, “kembali” digambarkan sebagai terbenamnya cahaya. bukankah kita berasal dari tidak ada, dan kembali pada tiada? seperti terbitnya matahari di timur lalu terbenam di barat?
jadi mau berapapun pergeseran bumi terhadap matahari, filosofinya matahari terbenam di barat adalah “kembali”. begitukah juga dengan arah menghadap semua peribadatan? menghadap ke barat adalah cermin menghadapkan diri kepada tempatnya “kembali”?

biksu Tong konon suci dan bersih hati. ini adalah lambangnya Nurani. sejak pertama dititipkannya pada kehidupan, Nurani ini sudah didampingi oleh Kuda berwarna putih yang setia yang konon adalah jasad ini. Kuda itu bukan kuda sembarangan. itu adalah Putra Naga. Naga dalam budaya Tiongkok adalah lambang kehormatan. maka jasad ini juga sebuah kehormatan yang sekiranya tidak boleh dikotori.

lalu didampingi oleh siluman Sapi, bernama Sha Wu Jing. ini lambang bahwa manusia diturunkan ke bumi memang untuk bekerja dan berkarya. Wu Jing digambarkan sangat rajin dan bertenaga kuat. keberadaan manusia adalah energi untuk mengisi kehidupan.

lalu didampingi oleh siluman Babi, bernama Chu Pha Jie.ini lambang nafsu manusia. malas, marah, rakus, lupa, sampai sex. huhuuuyy.. yg ini memang gampang-gampang susah dikendalikan.

dan yang utama, Nurani itu didampingi oleh Sun Go Kong. ini perlambang akal manusia. Sun Go Kong menjadi murid tertua atau kakak dari semua yang mendampingi Nurani itu. dari awal keberadaannya, Sun Go Kong sudah menguncang Khayangan.
kisah dikaruniakannya manusia dengan akal, yg membedakannya dg makhluk Tuhan lainnya, memang telah diabadikan dg dialog tersendiri antara Tuhan, malaikat dan iblis. karena begitu saktinya si “akal” ini.

digambarkan dengan kera, karena pikiran ini suka melompat kesana dan kemari. memimpin dan terus ingin memimpin. maka dia juga disebut raja kera. karena semakin pintar ia akan terdorong tuk semakin memimpin dan memimpin atau jadi raja diraja. ini kesombangannya pikiran.
dan bukan dewa kalau tidak memiliki antisipasinya. Biksu Tong diberi mantera tuk mengendalikan akal ini. yang jika dibacakan, Sun Go Kong akan kesakitan di kepalanya.

sederhananya, itulah manusia dan jeroannya. lalu perjalanannya ke barat itulah kehidupanya sehari-hari sampai kelak mati, akan menguji kekompakan juga harmonisasi ke empat itu dalam diri manusia.

selebihnya, itulah yang orang Jawa bilang Sedulur Papat Kalima Pancer. atau bahkan katanya itulah Pandawa lima itu. dalam sentuhan dan warna yang berbeda, intinya melukiskan manusia, dan jeroannya, dan romantika perjalanannya.

mari ambil beberapa contoh episode.

kenapa sih musuhnya adalah siluman ini itu yang sukanya menyerupai? konon katanya iblis memang tidak bisa berhadapan dengan nurani secara langsung. mereka sukanya menipu. maka berbohong itu disebut sebagai cikal bakal iblis. semakin suka berbohong semakin kuat iblis bercokol di sana. aneka bentuk kerusakan sampai bernama pembunuhan, sering diawali oleh kebohongan atau ada kebohongan. maka kejujuran memurnikan kembali nurani. selebihnya Tuhan menjaga mana yg akan dibuka mana yg tidak, selama jujur pada diri sendiri. Rasul yg mulia itu juga dijului al amin, sebuah kejujuran yg diakui sekitarnya saat itu.

tujuan siluman-siluman jahat itu memang untuk memakan daging Biksu Tong. konon dagingnya yg enak dan suci akan membuat siluman jahat itu abadi. akan membuat kejahatan bercokol dengan kuatnya di kehidupan.

wanita, pria, anak, emas, permata, kebendaan adalah godaan untuk Chu Pha Tjie. keputusasaan, kegagalan, ketiadaan daya adalah godaan untuk Sha Wu Jing. kesombongan, kehebatan, ilmu adalah godaan Sun Go Kong. sakit dan letih adalah godaan untuk Kuda sang putra Naga. kebaikan, kelemahan hati adalah godaan untuk Biksu Tong. keempat hal yang mendampingi Biksu Tong itu, yg bersama biksu Tong menjadi lima yang harus terus di tata dalam Perjalanan ke Barat itu.

episode yang paling seru adalah ketika Sun Go Kong ada kembarannya. semua ikut terkelabui. ilmu itu selalu ada tandingannya. A itu selalu ada A plus atau A minus. hanya biksu Tong yang bisa membacakan mantera untuk mengetahui siapa yang asli. dan ketika dibacakan SunGo Kong yg asli pasti kesakitan. kata ibu saya sih, berilmu itu bukan untuk menang. selama nurani masih bisa menjerit, pikiran itupun akan merasakan sakitnya. yang suka mentertawakan itu seperti Sun Go Kong palsu. merasa sudah berilmu dan hebat di atas yang lainnya.
kemenangan sesungguhnya sering menyakitkan. di satu sisi lega, lawan kalah tapi di lain sisi, sedih karena nurani bersifat welas asih. tak pernah ingin menyakiti.

atau ketika banyak episode ketika Biksu Tong tak tegaan. sementara Sun GoKong marah pada Biksu karena terlalu baiknya, lalu Biksu tertawan siluman. atau ada pula episode ketika Biksu Tong sendirian. dia tak bisa sendiri di muka bumi. dia butuh pendampingnya. maka di sana Biksu Tong pun tak berdaya. atau ada pula, episode Biksu Tong palsu mengelabui Sun Go Kong. Sun Go Kong konon punya mata menembus auranya siluman. bagaimanabisa, konon Sun GoKong itu, kalau dalah bahasa cinanya Sun Wu Kong, dimana WuKong itu adalah kekosongan atau suwung itu. pada saat pikiran bener-bener jernih, nuranipun terbedakan.

selebihnya semua itu berirama, kadang kala Sun Go Kong yang diuji. atau Chu Pha Tjie yang diuji dst-dstnya.

dan yang paling menarik ketika sampai ke Barat. digambarkan tangga yang tinggi yang menuju Sang Boddhisatva. di sana, hanya Biksu Tong yang boleh menaikinya. meninggalkan Sun Go Kong, Chu Pha Tjie, Sha Wu Jing, juga Kudanya. konon itulah saat “kembali” kita. saat kematian itu. Nurani kembali ke pada pemiliknya.
sebagaimana Gajah mati meninggalkan gading, Harimau mati meninggalkan belang dan Manusia mati meninggalkan nama baik, kita kembali dengan meninggalkanpikiran & perbuatan yg baik. meningalkan Sun Go Kong, Chu Pha Tjie, Sha Wu Jing, dan Kuda sang putra Naga yang baik, yg harmoni.

sekiranya dengan demikian, manusia bisa belajar menata dirinya sendiri. menata jeroan & perjalanan dalam kehidupannya atau memimpin dirinya sendiri, mewujudkan harmonisasi yg indah dari dalam jiwanya, tentu semu jika di dalam baik, akan terefleksikan dalam kehidupan luar dengan baik pula. Harmonisasi dalam diri akan mendorong harmonisasi di kehidupan.

konon manusia-manusia yang terpimpin yang akan menjadi pemimpin sejati. maka tak ada yg layak ditawarkan selain menjadi pemimpin bagi diri sendiri. yg dengannya akan melahirkan pemimpin dan bukan pengikut. sesuai kapasitas, sesuai keahlian masing-masing dan akan mudah saling melengkapi. pemimpian sejati tidak akan pernah berebut. sebagaimana para nabi bisa bersama tanpa pertengkaran. harmonisasi itupun terbentuk alami.. perbedaan bukan penghalang bagi diri yg terpimpin.

kenali dirimu maka kau akan mengenali TuhanMu.
dalam romantika hidup ini kita kenali dan harmonisasikan diri kita..
itulah awal berubah yang semoga lebih menjanjikan.

Sun Go Kong dan teman-temannya
Sedulur papat Kalimo Pancer
Pandawa Lima
danmasih banyak kisah-kisah tentang manusia, jeroan dan perjalanannya
dalam realitasnya tersendiri, mereka saling mengingatkan, menguatkan, dan berjalan bersama-sama.

tidak ada kesaktian yang paling sakti, selain ketika kita berhasil mengenali, memimpin dan harmonisasikan diri kita sendiri.
ga sulit kalau kita mau bersama-sama..

*blum diedit…😛

salam indie
anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “sakti”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Blog yg menginspirasi,baru dua tulisan yg saya baca,saya sudah jatuh cinta kepada anda

pernyataan yg sangat menyentuh :”Harmonisasi dalam diri akan mendorong harmonisasi di kehidupan.


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: