jika Tuhan tidak sempat

Posted on Juni 10, 2010. Filed under: Tak Berkategori |

cerita, cuma cerita…

menjadi muslim tidak dari lahir, membuat saya memiliki banyak penglihatan lain. saya sering bertemu dengan orang-orang yang berbuat hanya untuk berbuat.

dulu, ibu saya memiliki tukang loper koran langganan. maaf, kebetulan kakinya infalid, cacat karena polio. orangnya masih muda dan lajang. dia orang jawa, dia suka ikut ngemil dan minum di rumah ibu saya, yg kebetulan usaha catering. dia telah menjadiorang yangpaling saya nantikan, karena saya menanti majalah nina, hai, anita cemerlang, juga gadis langganan saya dan kakak. saya juga menunggu tempo dan femina langanan orang tua saya. tentu menunggu korannya setiap pagi.

loper koran itu sebenarnya hanya membantu kakaknya. kakaknya yang punya lapak koran. ibu saya kenal baik dengan kakaknya ini. seorang laki-laki separuh baya, bertubuh gemuk. kalau kata ibu saya, sejak zaman kakek, diasudah jadi berjualan koran. maka ibu saya kenal. tempatnya ada di jalan dari rumah saya menuju ruko tempat usaha kakek saya.

kalau majalah telat datang, saya suka ke lapak koran itu. maksudnya sih menanyakan kabarnya majalah saya, tapi saya malah sering diberi buku Teka Teki Silang. maka kadang saya menjawab bersama bapak tukang koran di lapak itu. menurut saya waktu itu, bapak itu hebat. pengetahuannya luas sekali. rasanya semua berita di koran dia tahu. hehehe, katanya sambil jaga lapak, dia membaca.

pernah suatu ketika, pertanyaan di buku TTS itu bertanya ttg surga. tujuh kotak, maka dijawab nirwana. saya pun bertanya,
– samakah surga dengan nirwana?
jawabnya santai,
– sama atau tidak sama, itu hanya hadiah.
– hadiah?
– iya, hadiah buat orang yang berbuat baik.
– kalau berbuat jahat maka masuk neraka ya?
– itu hukuman.
– kokada hadiah dan hukuman?
– buat kita semangat aja. seperti anis naik kelas dapet hadiah dari papa, atau kalau anis nakal di marah mama.
– cuma begitu?
– iya..
– tapi kadang sudah rangking satu tetep ga dibeliin hadiah sama papa.
haduh, waktu itu saya masih kelas 4 atau kelas 5 SD, diperumpamakan ala anak-anak maka sayapun berpikir sebagaimana anak-anak. tapi saya kaget dengan jawabannya.
katanya,
– bayangkan kalau suatu saat Tuhan sedang sibuk. Tuhan sedang ga sempat. seperti papa sibuk ga sempat beliin hadiah. atau bayangkan kalau papa sedang ada keperluan, ga cukup uang untuk beliin hadiah. anis ga papa?
– pengennya ya dikasih.
– walo ga harus sekarang?
– kalau dilamain kasihnya, ga pas bagi rapot, biasanya jadi lupa juga kalau dijanjiin hadiah.
– iya, kalau sudah jadi kebiasaan berbuat baik, nanti juga lupa sama surga.
katanya sambil tertawa..
saya masih bertanya,
– jadi lupa sama surga?
– iya.. hanya anak kecil yang mau hadiah teruskan?
– emang bapak ga mau surga?
e, jawabnya sambil ketawa,
– buat anak kecil seperti anis saja deh surganya…
???

wah, pas pulang ke rumah saya ceritakan pada ibu, tentang kata bapak tukang koran itu. ibu saya malah senang dan menimpali,
– makanya jangan cuma maunya hadiah melulu. belajar buat pinter bukan buat dapet hadiah.
dalam pikiran saya sih, ibu saya jadi dapet alasan tuk ga kasih hadiah deh..

maka pernah suatu ketika saya main lagi ke lapaknya, saya bertanya,.
– bapak, agama bapak apa?
– agama saya agamanya orang jawa.
wah, saya langsung inget ibu saya bakar kemenyan karena nenek saya dari ibu orang jawa.
– bapak bakar kemenyan ya?
dia tertawa. saya tanya lagi,
– bapak ga punya gereja atau masjid ya?
– agama saya agama orang jawa, cukup yakin saja. dan itu bisa dimana saja.
– oo…

suatu ketika, pernah juga ketika saya duduk di lapaknya, mobil teman karib saya lewat. maka saya bilang kepadanya,
– pak, teman saya itu punya banyak buku di rumahnya.
– anis suka ikut mobilnya.
– iya, itu mia teman saya. dia anak wakil gubernur.
– oya?
– iya. teman sekolah.
sayapun bercerita kalau saya suka tukeran buku, novel juga film dengan teman saya itu.
katanya,
– oh, jadi dimana anis bisa baca, disitu anis bisa hidup ya?
– iya, di sini saya juga bisa baca.
saya geli mendengar kata-katanya. saya kecil memang kutu buku. ibu saya sampai hafal di mana saya suka nongkrong. di toko buku swalayan di depan rumah saya atau di lapak koran miliknya. pembantu ibu saja sudah hafal dimana harus mencari saya. kalau ke rumah teman saya itu, saya past izin.

ketika saya pindah sekolah ke Bandung, sayapun meninggalkan semua tentang kampung halaman saya. ketika setiap libur semester saya kembali, kota saya telah tumbuh menjadi hutan ruko. saya sudah tidak pernah tahu kemana perginya semua tentang masa kecill saya itu. orangtua saya juga sudah pindah dari daerah itu.

hingga ketika saya memilih agama, dan selalu dijanjikan surga atau diancam dengan neraka, saya suka ingat pada bapak itu.
ingat jika Tuhan tidak sempat memberi hadiah maka tidak apa-apa
ingat jika sudah besar tidak ada hadiah juga tidak apa-apa
ingat jika sudah terbiasa maka tak ada surganya juga tak apa-apa
hanya herannya, setiap ingat kepadanya, saya tetap terbayang rasanya saya masih anak kecil yang duduk di lapaknya. ikutan jualan koran bersamanya. tetap merasa anak kecil yang kalau dapet ranking ingin hadiah dari papanya.
oya, juga ingat surga membaca yang pernah diberinya tuk anak kecil seperti saya, yang selalu terkenang dalam hati..

dan pernah sih saya bertanya pada ibu saya tentang agama bapak koran itu. jawab ibu saya,
– apanya agama orang jawa sih? dia itu orang islam.
– hah????

anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

16 Tanggapan to “jika Tuhan tidak sempat”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

nyemplung pertama di sini saya suka tulisannya🙂

@si Paijah : makasih…🙂

seneng bisa membaca tulisan mbak lagi…
kalau ada waktu mampir ke blog saya ya…

@Paijah : makasih.. sy main ke sana juga loh..🙂

@mbakOnter : makasih mbak… blog mbak Onter kereeen..🙂

Secara tidak sengaja saya menemukan blog anda, dari Pak Ulil, JIL.
Saya orang katolik, dibesarkan di tengah masyarakat plural orang Jawa yang harmonis, toleran. Dari tulisan-tulisan mbak Anis ini, Cik Anis hehehe Cina kan? LOL …. saya sangat paham dengan pola pikir yang anda utarakan. Saya punya banyak saudara yang jadi mualaf, tapi saya justru bersyukur karena kemualafan mereka, karena mereka akhirnya menyuguhkan pola pikir yang sungguh hebat seperti mbak Anis. Tulisan-tulisan anda sangat inspiratif, pembawa damai, dan layak dicontoh untuk memulai sebuah langkah sekecil apapun demi terwujudnyatanya indahnya kedamaian dalam perbedaan bangsa kita. Dibalik keprihatinan kita bersama akan tanda tanda retaknya hubungan persaudaraan sebangsa saat ini, blog ini menjadi oase yang melegakan, ternyata masih banyak orang yang bisa beriman fanatik tapi ke dalam diri, dan berlomba mencari kebaikan dan kebenaran. Jadi ingat waktu saya masih aktif di muda mudi kampung saya di Klaten, 20 tahunan yang lalu, saya yang Katolik ini pernah jadi MC untuk acara Halal Bihalal lho… dan yang hadir pun tidak hanya dari kalangan Islam saja, tapi ada wakil dari semua agama yang ada. jadilah saya kursus sebentar membaca Ass. Wr. Wb. dst ….
Rumah keluarga kami pun terbuka untuk acara halal bihalal.. dan alm. ibu saya jadi salah satu panitianya.. hebat kan? sebuah pertunjukan keimanan tingkat tinggi yang saya rasa saat ini sudah tidak ada (sangat jarang).
Saya sangat setuju dengan tulisan tentang surga ini. Acapkali kita melakukan sesuatu hanya untuk pamrih, termasuk dalam beribadah, dan mungkin hanya rutinitas. biar mendapatkan sesuatu, biar masuk surga dst… Saya rasa beriman adalah sebuah relasi yang eksklusif antara manusia dengan Sang Khalik, yang tahu adalah hanya diantara keduanya. Maka yang bisa menilai Ibadahnya (Imannya) baik atau buruk hanya Tuhan yang Maha Tahu, kita hanya bisa menjalani sejauh langkah-langkah kecil kita di dalam hidup peziarahan kita yang fana ini.
Dan sebaliknya ketika masa Pra Paskah tiba biasanya sebagai wujud sesal atas dosa, kami umat kecil Katolik di lingkungan kami melakukan tindakan nyata yang bisa dirasakan bersama tanpa memandang SARA. Misalnya dengan mengumpulkan uang selama masa Puasa lalu mendermakannya bagi pembangunan desa misalnya jembatan yang rusak dsb. yang dikelola bareng-bareng bersama umat lain (Islam).
Inilah sebuah gambaran bahwa sebelum masuknya paham2 fundamentalis yang justru mengkoyak hubungan dalam masyarakat, telah terjadi kearifan lokal tentang toleransi yang sungguh ber-nas.

salam damai.
lanang.

maaf tulisan saya agak kacau, mestinya begini…

Secara tidak sengaja saya menemukan blog anda, dari Pak Ulil, JIL.

Saya sangat setuju dengan tulisan tentang surga ini. Acapkali kita melakukan sesuatu hanya untuk pamrih, termasuk dalam beribadah, dan mungkin hanya rutinitas. biar mendapatkan sesuatu, biar masuk surga dst… Saya rasa beriman adalah sebuah relasi yang eksklusif antara manusia dengan Sang Khalik, yang tahu adalah hanya diantara keduanya. Maka yang bisa menilai Ibadahnya (Imannya) baik atau buruk hanya Tuhan yang Maha Tahu, kita hanya bisa menjalani sejauh langkah-langkah kecil kita di dalam hidup peziarahan kita yang fana ini.

Saya orang katolik, dibesarkan di tengah masyarakat plural orang Jawa yang harmonis, toleran. Dari tulisan-tulisan mbak Anis ini, Cik Anis hehehe Cina kan? LOL …. saya sangat paham dengan pola pikir yang anda utarakan. Saya punya banyak saudara yang jadi mualaf, tapi saya justru bersyukur karena kemualafan mereka, karena mereka akhirnya menyuguhkan pola pikir yang sungguh hebat seperti mbak Anis. Tulisan-tulisan anda sangat inspiratif, pembawa damai, dan layak dicontoh untuk memulai sebuah langkah sekecil apapun demi terwujudnyatanya indahnya kedamaian dalam perbedaan bangsa kita. Dibalik keprihatinan kita bersama akan tanda tanda retaknya hubungan persaudaraan sebangsa saat ini, blog ini menjadi oase yang melegakan, ternyata masih banyak orang yang bisa beriman fanatik tapi ke dalam diri, dan berlomba mencari kebaikan dan kebenaran. Jadi ingat waktu saya masih aktif di muda mudi kampung saya di Klaten, 20 tahunan yang lalu, saya yang Katolik ini pernah jadi MC untuk acara Halal Bihalal lho… dan yang hadir pun tidak hanya dari kalangan Islam saja, tapi ada wakil dari semua agama yang ada. jadilah saya kursus sebentar membaca Ass. Wr. Wb. dst ….
Rumah keluarga kami pun terbuka untuk acara halal bihalal.. dan alm. ibu saya jadi salah satu panitianya.. hebat kan?
Dan sebaliknya ketika masa Pra Paskah tiba biasanya sebagai wujud sesal atas dosa, kami umat kecil Katolik di lingkungan kami melakukan tindakan nyata yang bisa dirasakan bersama tanpa memandang SARA. Misalnya dengan mengumpulkan uang selama masa Puasa lalu mendermakannya bagi pembangunan desa misalnya jembatan yang rusak dsb. yang dikelola bareng-bareng bersama umat lain (Islam).
sebuah pertunjukan keimanan tingkat tinggi yang saya rasa saat ini sudah tidak ada (sangat jarang).

Inilah sebuah gambaran bahwa sebelum masuknya paham2 fundamentalis yang justru mengkoyak hubungan dalam masyarakat, telah terjadi kearifan lokal tentang toleransi yang sungguh ber-nas.

salam damai.
lanang.

Lanang
Juli 3, 2010
Balas

maaf, mas Lanang.. saya baru buka blog nih. sedang mencari-cari cara tuk kembali setelah lama ditinggalkan. hehehe.. kadang menulis jg ada stag-nya dan itu wajar kan? terimakasih tuk kehadiran dan komennya.

sebagai seorang yg pindah agama, mungkin saya juga memiliki koreksi tersendiri tuk agama sy sebelumnya, seperti lazimnya mualaf. tapi entah kenapa, saya tidak pernah bisa mengganggap ‘koreksi’ saya itu sbg kebenaran. itu subyektivitas saya saja. lahir dari keterbatasan sy mengenali agama saya sebelumnya. saya pindah agama diusia 18 tahun, masih muda kan? hehehe.

lalu agama yang saya pilih tuk saya jalani, juga bukan sesuatu yang mutlak benar dan bisa dipaksakan pada siapapun. saya sendiri masih harus banyak mengenali dan menjalani. namun disana, saya menjalaninya dengan iman. realitas agama yang saya pilih, terlebih saat ini, juga bukan realitas yang manis ditengah begitu banyak beda persepsi dan berpotensi pada perpecahan. di sini, saya menghabiskan banyak waktu untuk menerima realitas ini dengan seutuhnya, sepada adanya.
saya tidak beragama sebatas kata-kata toh? saya beragama karena saya menjalaninya. dan berbilang tahun saya jatuh bangun. sampai saya : rela.

semua pengalaman itu adalah pembelajaran yang luarbiasa untuk saya. semua yang saya tuliskan disini mungkin tak akan pernah cukup tuk lukiskan pembelajaran itu. pembelajaran yang membukakan sekat yg tak cuma pada pikiran juga membuka sekat hati, dan konon itu berbanding lurus dengan prilaku atau keluhuran budi pekerti.

dari awal saya memilih islam, saya juga tidak pernah bisa berdakwah, jika dakwah itu ditujukan tuk menjelek-jelekkan agama saya sebelumnya. hehehe.. entah kenapa. sampai rasanya, diguyonin teman, saya mungkin mualaf yang tak bisa beken spt banyak mualaf lainnya. sederhana, karena saya tidak memiliki sesuatu tuk dijual. takmemiliki sesuatu yg bisa dibangga-banggakan, selain apa adanya. tak ada yang sempurna yang saya temukan dalam keberagamaan saya. hanya rela tuk apa adanya saja.
yang luarbiasa, justru di kerelaan itu saya lebih bisa bersama siapa saja. semain rela, semakin bisa..🙂

maka kadang saya bertanya, harus setinggi apa saya mendaki tuk menemukan Tuhan, jika di kerendahan hati dalam kerelaan, saya malah bisa bersama semua dengan damai? ah, karenanya buatlah Tuhan tersenyum di manapun Dia ingin berada, lalu yang penting kita juga bahagia bisa bersama dalam beda-beda dan tertawa berbagi gembira.. gimana? hehehe..

saya percaya kita bisa bersama & kebhinnekaan ini adalah anugerah terindah. jangan matikan hati, tuk melihat keindahannya. dalam relativitas kehidupan, yg ditawarkan hanya penataan komposisi tuk kehidupan berjalan yg lebih baik. kebaikan tak akan pernah mampu menghapus kejahatan dari muka bumi, sebagimana kejahatan tak akan pernah mampu membumi hanguskan kebaikan. air akan selalu menemukan jalan tuk mengalir.

selamat sore…🙂

saya suka sekali baca komentar dari Mbak Anis
dan mas Lanang…

Mba Anis, saya mempunyai kerangka pikiran yang sama dengan anda, hanya saja saya tidak pandai menuliskan seperti diatas yang menurut saya luar biasa. Salam Kenal.

@mas Yoega : salam kenal juga. makasih sudah mampir ke sini..🙂
sy juga cuma mengenang-ngenang kok. seperti menceritakan kembali saja. ayo, coba mas Yoega keluarkan pikirannya.. di sini sy juga sedang belajar mengeluarkan pikiran. sama-sama belajar yuk. hehehe..🙂

very nice inspiring story🙂
sepertinya si loper koran bener2 “living” apa yg dmaksud dengan tawadu’ & berbuat ikhlas untuk kebaikan…
satu hal yg jarang terlihat (dan terjadi) nowadays…
Sadly yg banyak nampak sekarang adalah ke”aku”an & “self righteousness” yg dpaksakan.. xP
anyway, thank you for sharing…

Lampungnya mana mbak anis?lampung skrng macet.jalanan padat.btw tulisannya bagus

tulisan yang dalem banget. dahsyat …..

Suka dengan ceritanya yang sederhana namun punya pesan yang sangat mendalam🙂

Iya, ya, kalau Tuhan tidak sempat membalas amal kebaikan kita, apakah kita akan tetap berbuat baik? Kalau ternyata surga memang tidak ada, apakah kita akan tetap berbuat baik?

Akhirnya surga menjadi tidak penting, karena banyak orang yang mencari surga untuk mereka dan kelompoknya tapi malah menciptakan neraka bagi orang lain di dunia ini (saya meminjam istilahnya teman saya). Yang terpenting menjadikan hidup di dunia ini sudah seperti surga, dengan berbagi kebahagiaan dengan sesama makhluk.

Salam

sebenarnya, sebutan kafir itu memang dari quran. bukan pendapat pribadi. jadi, memang berbeda:

islam: isa adalah rasul allah, tidak disalib, tidak menebus dosa, bukan tuhan, bukan diperanakkan
kristen/katolik: isa adalah tuhan, salah 1 dari trinitas, mati di tiang salib u menebus dosa manusia, diperanakan tuhan

jadi, ya memang beda. seandainya kristen/katolik tetap mempercayai itu, itu urusan dia dh yme. tetapi, pesan itu tetap kita sampaikan. bukan berarti kita mentang-mentang sudah pasti ke surga bukan. klo islam tdk melaksanakan perintah quran, ya sama.

masih menurut quran, tidak ada surga baginya, & dianggap tidak beragama sama sekali. baca quran sendiri. Ini kan urusan pesan.

yang pertama: perjanjian lama, kemudian perjanjian baru & kini perjanjian terakhir (quran). itu perintah u menyampaikan. andaikan umat nasrani tidak mau, bukan urusan kita. kita tetap baik. tetap hormat. tidak mengganggu. tidak ribut. tidak berantem. tidak menghina. tidak menghina.
hanya pesannya tetap kita sampaikan, kalau mau. kenapa? karena yesuspun tidak pernah mengajarkan iru di perjanjian lama & baru. untuk belajar, bisa liat di you tube. ahmad deedat ato zakir naik.

apapun hasilnya, kita tetap hormat. ataupun anda gak setuju dengan ini, silahkan. pilihan.

yang pasti tuhan itu ada untuk umatnya dan siapapun itu..


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: