semoga Tuhan tidak seperti rumput yang bergoyang

Posted on Juli 29, 2010. Filed under: islam indie |

cerita cuma cerita..

masih jelas di ingatan saya, bagaimana mbak jamu langganan mengeluh. karena meski tergolong janda dan miskin, ia tetap tidak mendapat jatah tabung dan kompor gas gratis ketika program konversi itu sedang gencar-gencarnya disalurkan. katanya, yang dapat program konversi malah orang-orang yang tergolong makmur dibanding dirinya. bahkan ada yang rela membayar tuk dimasukkan ke dalam daftar orang yang layak dapat program itu.
saya sampai bertanya,
– gratis kok malah bayar?
jawabnya sederhana,
– iya bu. bayar dimuka untuk mancing yang gratis. itu biasa kok bu. katanya, kalau mau ikan yang besar ya harus mau umpan dengan ikan yang kecil.
ah, saya diam saja deh.
harga minyak tanah yang biasa dibuatnya tuk menggodok jamu, Rp 5000an/liter. itupun sudah mulai sulit didapat. saat itu, dia sudah menggunakan kayu bakar.suka ambil sisa-sisa kayu bekas bangunan dari komplek.
lah, si mbak jamu masih bisa bilang gini,
– pak SBY itu baik ya bu. gas gratis, sekolah gratis. cuma dimasa pak SBY aja katanya bu yang bisa begini..
ealah, polosnyaaa…
saya tidak bilang pada si mbak jamu, kalau gara-gara program konversi, LPG 12 kg yang biasa saya konsumsi jadi sulit dicari. saya sampai memiliki 5 nomor warung tuk mengejar keberadaan LPG 12 kg, dan saya pernah membayar100 ribu pertabung karena langka.

beberapa warung langganan itu turut menawarkan LPG 3 kg kepada saya. gantian saya yang polos bertanya,
– kok program konversi malah dijual?
kata mereka,
– lumayan bu, buat jaga-jaga kalau tabung yang 12 kg sedang langka. lumayan irit. 3 kg cuma 12 ribu. 12 kgnya berarti cuma Rp 48 ribu. sementara yang tabung 12 kg, Rp 80ribu. sudah banyak juga kok ibu-ibu komplek yang beli tabung 3kg.

mmm, memang irit sih, apalagi jika dibanding 12 kg yang sampai 100 ribu saat itu. mereka menawarkan harga awal tabung LPG 3kg Rp 125.000.
tapi entah kenapa, saya memilih tidak beli. saya dengarkan penawaran itu, tapi saya tidak pernah terpikir saja tuk membelinya. maka hingga hari ini, saya setia mengkonsumsi LPG 12kg.

lah, lain lagi dengan tetangga saya. kebetulan dia memiliki dua rumah. sebelum pindah satu komplek dengan saya, dia sudah menetap lama di Bogor. menurut ceritanya, dia dapat jatah kompor dan tabung gas 3kg gratis dari pak RT di kompleknya yang lama.
– hah? ga salah tuh?
tuk sekedar informasi, tetangga saya itu suaminya bekerja sebagai auditor perusahaan otomotif ternama di negeri kita. kendaraan pribadinya saja dua. usianya juga jauh lebih tua dari saya, yang kalau saya sih masih tergolong keluarga muda. halahh..
tetangga itu juga mengaku kebingungan kok bisa-bisanya dia dapat jatah program konversi.

saya jadi geli tapi juga mual. yang miskin berjuang setengah mati untuk memancing bahkan pakai umpan ikan kecil demi dapat ikan besar. lah, kepada yang sudah makmur, ikannya datang sendiri tanpa umpan dan tanpa dipancing.
tapi ya, itulah Indonesia..

sekarang, dengan kebocoran tabung gas 3 kg yang telah menelan banyak korban, semua pihak angkat tangan. tak ada yang merasa “bisa” atau tepatnya tidak ada yang “mau” bertanggungjawab atas pelaksanaan program itu. ibu pimpinan tertinggi Pertaminapun marah-marah merasa dibiarkan sendiri tuk kasus ini.
dalam hati, – rakyat lebih sendirian dan kesakitan ketika harus menjadi korban tabung gas itu, wahai Ibu pimpinan..

lalu kambing hitampun akhirnya ditemukan, dia bernama selang hitam.
oh, Tuhan.. memang selang tak bertulang.. tak mampu bicara tuk membela diri dari aneka tuduhan.
dan lihatlah, segera selang bisa diperoleh secara bersubsisi Rp 20 ribu.
selesaikah?

sebagian menyalahkan prilaku rakyat. untuk soal prilaku, saya merasa tidak tepat kalau selalu menyalahkan rakyat. ini program konversi secara besar-besaran dari prilaku menggunakan minyak tanah ke prilaku menggunakan kompor gas LPG.
dari beberapa pengalaman saya memiliki pembantu, diawal-awal kerja mereka sempat kesulitan menggunakan kompor gas. mereka takut memantik kompor, takut dengan bunyi kompor dan api yang menyala tiba-tiba. sangat berbeda, dengan biasanya mereka menggunakan api kecil tuk membakar sumbu kompor minyak, lalu menunggu perlahan sampai apinya rata. tanpa bunyi. tanpa banyak kekhawatiran. mereka merasa subyek dari kompor minyak tanahnya. sementara dengan kompor gas? mereka masih merasa asing. walau ujung-ujungnya, mereka akan berkata,
– wah.. mudah dan bersih ya menggunakan kompor gas dibanding kompor minyak tanah.
tapi mereka tetap butuh waktu tuk terbiasa.

tak cuma itu, saya juga kadang harus turun tangan sendiri tuk pemasangan ulang tabung jika habis. atau meminta tolong pengantar gas yang memasangkannya. itupun, saya memiliki dapur dengan tempat gas yang terlindung dari kompor juga dengan sirkulasi udara yang cukup baik. saya bahkan membeli regulator yang relatif mahal demi keamanan. padahal kata suami, itu tidak berpengaruh amat. tapi demi keamanan dan kenyamanan saya dan anak-anak yang di rumah, rela deh.
nah, bagaimana dengan mereka?
pernah saya lihat, tabung gas kecil itu diletakkan persis di samping kompor tanpa disekat apa-apa.
dimana edukasi atau supervisi penggunaannya pada rakyat sebagai pengiring program konversi itu?
pertanyaan ini seperti bertanya kepada rumput yang bergoyang.

lalu, di tengah banyak protes atas korban nyawa akibat teror tabung LPG 3kg, bergulir juga wacana ala konspirasi bahwa Pertamina sebagai perusahaan negara akan dilempar ke asing. kegagalan-kegagalan dari teror tabung gas sampai fuel pump dinilai sebagai upaya menjatuhkan perusahaan negara itu. nasionalisme kita seperti dipertaruhkan.

ealaaah rek.. di situ-situ yang buat dosa dengan salah dan asal bikin kebijakan, rakyat sudah jadi korban e… masih dipertanyakan rasa kebangsaannya.
haduh.. mbok lawannya Belanda aja deh, jadi jelas siapa musuhnya. ini mah musuhnya adalah kebodohan struktural, lalu diwariskan secara nasional juga diselenggarakan secara seksama dan dalam waktu sesingkat-singkatnya.

dan pagi ini, kenapa saya menulis ini, karena saya membaca harian Kompas, 26 Juli 2010, halaman 13. judulnya : Katub Tabung Gas Sumber Masalah. BPPT lakukan audit teknologi.
kesimpulannya BPPT,
secara teknis :
– kerusakan bukan hanya karena buruknya kualitas komponen melainkan juga akibat pemaksaan pengisian tabung pada kasus pengoplosan.
– kebocoran paling besar terjadi pada sistem katub, bukan pada selang.
secara non teknis:
– disparitas harga. selisih harga dari tabung 3kg (Rp 13.000) dengan tabung 12kg (Rp 78.000) sangat menggiurkan tuk spekulan melakukan pengoplosan sampai penggadaan tabung ilegal.
– perlu disusun prosedur untuk penanganan dan keamanan tabung gas dalam sistem distribusi hingga tingkat pengecer. jika perlu, pakai sertifikasi agen, pangkalan dan pengecer.

lagi-lagi saya geli, untuk menyimpulkan seperti ini saja mesti menunggu banyak korban berjatuhan lalu saling lempar sana-sini, bahkan teori ini itu. padahal dari kisah sederhana yang saya alami sebagaimana di atas, yang tentunya juga dialami oleh teman-teman saya, sepertinya sudah banyak pihak bisa mengambarkan penyebabnya seperti yang diurai BPPT. inipun rasanya juga belum tentu ditanggapi baik dan segera oleh Pertamina dan Pemerintah.

walhasil, jangan-jangan tunggu Indonesia ini tinggal sisa-sisa baru semua pihak terkait menyadari bahwa kesalahannya ini dan ini, lalu di sini dan di sini.
hehehe… better late than nothing.. but it’s too late…
jadi inget lagu Apologize dari One Republic feat Timberland

pagi ini saya cuma teringat
tidak untuk berdebat
tidak juga untuk menggugat
rasanya sudah terlalu pekat
Indonesia bertobat?
apa kata dunia???

terakhir saya bertemu si mbak jamu, dia sudah tidak produksi jamu godok yang digendong sendiri. sekarang dia bawa jamu pakai motor. keren sih, pangling juga melihatnya yang biasa berkain bawa gendongan jamu, sekarang terlihat lebih praktis dan naik motor. katanya, itu dagangan temannya, dia hanya sesekali menggantikan.
– biar tetap jadi tukang jamu, Bu. sebetulnya sih sudah gulung tikar. untung saya bisa bawa motor, jadi masih kepake walau cuma jualin punya orang lain. mau jadi pembantu rumah tangga, saya ndak bisa sepenuhnya, sesekali masih harus pulang ke Imogiri tuk nenggok ibu dan anak saya. ndak enak ke majikan kalau saya banyak izin.
– lah, tapi kok jarang kelihatan di sini?
– ya iya, Bu. sesekali saya juga nyambi-nyambi.
– nyambi apa?
dia tersenyum..
– pengennya sih bisa menikah lagi, bu..
– mmm… amiiiin.

saya tersenyum, tapi rasanya kok getir ya?
dalam hati,
– Tuhan, sampai kapan Kau tega membiarkan rakyat yang selalu berusaha kuat ini dizalimi? tidakkah Kau mau mengabulkan harapan dan cita-cita mereka tuk kehidupan yang lebih baik?

semoga Tuhan tidak seperti rumput yang bergoyang..

anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

3 Tanggapan to “semoga Tuhan tidak seperti rumput yang bergoyang”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

[…] cerita cuma cerita.. masih jelas di ingatan saya, bagaimana mbak jamu langganan mengeluh. karena meski tergolong janda dan miskin, ia tetap tidak mendapat jatah tabung dan kompor gas gratis ketika program konversi itu sedang gencar-gencarnya disalurkan. katanya, yang dapat program konversi malah orang-orang yang tergolong makmur dibanding dirinya. bahkan ada yang rela membayar tuk dimasukkan ke dalam daftar orang yang layak dapat program itu. say … Read More […]

Mengalir apa adanya, sceritanya detil dan sangat Indonesia”


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: